Dropbox Untuk Menyimpan Foto-Foto Website

Dropbox sebagai aplikasi cloud storage ternyata bisa juga dipakai sebagai sarana hosting foto yang akan ditampilkan di website. Biasanya saya upload foto langsung ke dalam WordPress, atau menyimpannya di Picasa sebelum ditampilkan dalam sebuah artikel. Kemarin saya coba untuk meletakkan foto di dalam folder (baca: direktori) Dropbox/Public. Hanya foto-foto yang diletakkan dalam direktori Public yang bisa digunakan untuk keperluan web (istilahnya embeeded image)

Kita harus punya direktori Public terlebih dahulu di dalam direktori Dropbox kita. Direktori Public ini dibuat secara otomatis oleh Dropbox untuk semua pengguna lama (seperti saya). Pengguna Dropbox yang baru membuat akunnya setelah 1 Agustus 2012 tidak lagi mendapatkan direktori Public secara otomatis. Untuk pengguna baru yang ingin mengaktifkan Public direktorinya, mereka perlu mengakses URL : www.dropbox.com/enable_public_folder seperti contoh di bawah ini

enable-dropbox-public

Nanti Dropbox akan meminta verifikasi email terlebih dahulu. Setelah kita terima email verifikasinya silakan klik link yang ada di email tersebut :

verify-dropbox

Setelah verifikasi lengkap kita akan mendapati tampilan seperti ini :

verify-dropbox-2

Setelah itu untuk membuat direktori Public, cukup kunjungi kembali halaman www.dropbox.com/enable_public_folder, Dropbox akan otomatis membuatkan direktori Public untuk Anda. Direktori tersebut akan berisi 1 file teks petujuk pemakaian direktori Public.

new-public-folder-dropbox

Nah dengan begitu setiap foto yang disimpan dalam direktori Dropbox/Public ini akan bisa disisipkan ke dalam website/blog selama kita punya Public Link-nya. Ada dua cara mendapatkan public link. Pertama dengan klik kanan pada nama file-nya di Windows Explorer  (di Windows) atau Finder (di Mac). Lalu pilih Dropbox & Copy Public Link, lihat contoh di bawah ini :

embeed-foto-dropbox-public

Cara kedua adalah dengan mengunjungi website Dropbox lalu memilih file yang akan di-copy public link-nya. Lihat contoh di gambar berikut ini :

copy-publiclink-dropbox

Lalu klik Copy public link, tampilannya seperti berikut ini :

copy-publiclink-dropbox-2

Nah link tersebut sekarang bisa ditampilkan di web/blog lain. Misalnya saya ingin menggunakan gambar tadi di WordPress. Cukup dengan menu Add media lalu pilih Insert from URL seperti contoh gambar berikut ini :

Gambar di bawah ini (courtesy of Fotografer.net) adalah contoh gambar yang saya letakkan pada direktori Dropbox/Public :

Dengan cara ini kita tidak perlu repot lagi meng-upload foto terlebih dulu sebelum bisa menampilkannya dalam website.

USB Ethernet Adapter

20130228-232115.jpg

Saya hampir lupa pernah membeli USB Ethernet adapter ini. Tadinya saya membeli USB Ethernet ini untuk dipasangkan pada Macbook Air. Meskipun saya sudah punya Thunderbolt Ethernet, saya tidak bisa menggunakannya bila pada saat yang bersamaan saya sedang menggunakan monitor external. Akhirnya dulu saya putuskan untuk beli lagi Ethernet adapter tapi yang menggunakan koneksi USB. Saya beli USB Ethernet di Kaskus, kalau tidak salah harganya Rp100.000,-. Sayangnya begitu barang datang, adapter ini tidak bisa dipakai di Macbook saya. Adapter ini tidak dikenali sebagai Ethernet port.

Nah tadi saya baru ingat adapter ini, saya langsung terpikir untuk mencobanya pada Raspberry Pi. Wow, ternyata Raspberry Pi langsung mengenalinya sebagai Ethernet port.

Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  289.862161] usb 1-1.3: new full-speed USB device number 4 using dwc_otg
Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  289.963491] usb 1-1.3: New USB device found, idVendor=0fe6, idProduct=9700
Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  289.963524] usb 1-1.3: New USB device strings: Mfr=0, Product=2, SerialNumber=0
Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  289.963543] usb 1-1.3: Product: USB 2.0 10/100M Ethernet Adaptor
Feb 28 21:21:42 raspberrypi mtp-probe: checking bus 1, device 4: "/sys/devices/platform/bcm2708_usb/usb1/1-1/1-1.3"
Feb 28 21:21:42 raspberrypi mtp-probe: bus: 1, device: 4 was not an MTP device
Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  290.489580] dm9601 1-1.3:1.0: eth1: register 'dm9601' at usb-bcm2708_usb-1.3, Davicom DM9601 USB Ethernet, 00:e0:4c:53:44:58
Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  290.491772] usbcore: registered new interface driver dm9601
Feb 28 21:21:42 raspberrypi kernel: [  290.720167] dm9601 1-1.3:1.0: eth1: link up, 100Mbps, full-duplex, lpa 0xFFFF

^C
root@raspberrypi:~# ifconfig eth1
eth1      Link encap:Ethernet  HWaddr 00:e0:4c:53:44:58  
          UP BROADCAST MULTICAST  MTU:1500  Metric:1
          RX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
          TX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
          collisions:0 txqueuelen:1000 
          RX bytes:0 (0.0 B)  TX bytes:0 (0.0 B)

root@raspberrypi:~#

Untung jadi tidak sia-sia membeli adapter ini. Rasanya dengan port Ethernet tambahan ini saya bisa melanjutkan testing bandwidth controller.

Fing IP Scanner

20130227-103307.jpg

Kalau sebelumnya saya pernah tulis cara scanning IP dengan nmap, kali ini saya menemukan aplikasi yang sama di iPhone. Aplikasi ini namanya Fing. Aplikasi ini berguna untuk scanning semua IP yang aktif dalam satu jaringan. Syaratnya tentu jaringan tersebut harus punya koneksi Wi-Fi supaya iPhone bisa tersambung dengan jaringan.

Mengembalikan Gnome Classic Ubuntu 12.10

Dari awal muncul sampai versi 11.04, Ubuntu selalu tampil dengan default Gnome Desktop Environment. Sejak Ubuntu versi 11.10, Ubuntu mengubah total desain default desktop environment-nya menggunakan Unity. Tampilan Unity seperti di bawah ini :

20130226-233241.jpg

Menurut saya agak-agak mencontoh tampilan Mac OSX, dengan menu toolbar (bagian yang ada File, Edit, View, dst) yang menjadi satu untuk semua aplikasi. Entah mengapa saya (dan banyak pengguna Ubuntu lainnya) benci dengan tampilan ini. Merepotkan, masih tidak stabil & malah mengganggu produktivitas. Masih jauh dari sempurna untuk dapat menyamai tampilan Mac OSX.

Sekarang hal pertama yang saya lakukan bila menginstal Ubuntu versi baru adalah menambah Gnome klasik. Meskipun ini pun masih berbeda dengan Gnome klasik yang sudah lama dikenal. Cara menginstal Gnome klasik di Ubuntu 12.10 adalah dengan menginstall paket gnome-panel.

ttirtawi@x220:~$ sudo apt-get update
ttirtawi@x220:~$ sudo apt-get install gnome-panel

Setelah terinstal, saya tinggal logout & login kembali dengan memilih Gnome Classic sebagai pilihan desktop environment. Di halaman login, ada menu logo Ubuntu yang bila diklik akan menampilkan pilihan desktop environment yang bisa dipakai. Seperti 2 gambar di bawah ini :

20130226-232538.jpg

20130226-232600.jpg

Tampilan Gnome klasik hasil bawaan gnome-panel seperti gambar di bawah ini, jauh lebih mudah digunakan daripada Unity.

20130226-233218.jpg

Saya sendiri masih lebih suka Gnome klasik bawaan Debian seperti ini :

20130226-235402.jpg

Simple, tanpa aneka menu grafis, dan relatif lebih ringan pula.