Plastik Pembungkus Payung

title
Pagi ini Jakarta diguyur hujan gerimis, udara terasa sejuk. Petugas cleaning service di Menara Rajawali berbaik hati menyediakan plastik pembungkus payung. Mereka bersiaga di lobi gedung menyambut orang-orang yang datang sambil berpayung. Sepertinya ini inisiatif dari manajemen gedung untuk menjaga gedung dari ceceran air dari payung yang baru dipakai pengunjung. Bagi petugas cleaning service mungkin cara seperti ini membantu meringankan pekerjaan mereka daripada harus mengepel terus-menerus.

Bingkisan Cokelat Dari Focus Nusantara

Hari Minggu kemarin saya mampir ke toko kamera Focus Nusantara untuk membeli filter lensa. Saat selesai melakukan pembayaran di kasir saya diberi bingkisan oleh pegawainya. Katanya coklat Imlek. Rupanya Focus Nusantara ini menyambut Imlek (a.k.a Chinese New Year) dengan berbagi bingkisan coklat. Yang menarik adalah bentuk bungkus coklatnya. Bentuknya unik dengan nuansa Imlek & karena tahun baru Cina 2014 adalah tahun Kuda maka bungkusannya pun dibuat dengan hiasan kuda.

Awalnya bagian belakang ini saya lihat sekilas seperti hiasan bunga saja. Setelah sampai di rumah saya baru sadar kalau bagian belakang ini adalah bentuk kepala kuda yang disusun sedemikian rupa. Susunannya ini kalau dilihat sepintas menyerupai bunga.

Setelah dibuka barulah nampak bentuk aslinya, ada 6 bentuk kepala kuda seperti ini :

Karena bentuk kemasannya yang unik, jadi tidak perlu lagi lem atau selotip untuk membungkus isinya. Dan ternyata isinya adalah 2 buah cokelat Silver Queen Chuncky Mini. Menurut saya jauh lebih menarik kemasannya daripada coklatnya 🙂 Di bagian dalam kemasan ini terdapat gambar 12 shio lengkap dengan tahun-tahunnya.

Anda bisa cek apa shio Anda dengan melihat daftar tahun itu…sudah ketemu apa shio Anda? 🙂

Membeli Tiket Dengan Poin GFF

Minggu lalu saya ingin membeli tiket pesawat ke Yogyakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan rekan saya. Ternyata harga tiket Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Yogyakarta untuk bulan April nanti cukup mahal, sekitar 1,7 juta rupiah. Untung saya ingat kalau saya masih punya poin Garuda Frequent Flyer (GFF). Setelah saya cek ternyata saya masih punya poin sekitar 11000. Langsung saya telepon call center Garuda, ternyata poin saya cukup untuk ditukar tiket 1x terbang dari Jakarta ke Yogyakarta (atau sebaliknya). Tiket Jakarta-Yogyakarta bisa didapat dengan menukarkan 8000 GFF poin. Lumayan saya bisa berhemat dengan hanya membayar tiket pulangnya saja. Petugas call center Garuda membantu saya untuk booking tiket Jakarta Yogyakarta sekaligus redeem poin GFF saya tadi. Saya diberi nomor bookingnya & ternyata saya tetap harus datang ke kantor cabang Garuda untuk membayar pajak & mendapatkan tiketnya.

Tadi sore saya mengunjungi kantor Garuda Indonesia Gallery di Senayan City (ada di lantai 2). Di sana loket untuk pemegang kartu GFF dibedakan dengan layanan regular. Saya perlu menunggu sekitar 4 nomor antrian, lebih kurang 20 menit saya menunggu giliran dipanggil.

Proses mengambil tiket ini cukup cepat, saya tinggal memberitahukan nomor booking yang sudah saya dapat via telepon minggu lalu. Saat menukar tiket ini saya perlu menyerahkan kartu GFF & KTP. Katanya kartu GFF perlu digesek untuk memotong poinnya.

Saya juga perlu membayar Rp45.000,- untuk pajaknya. Sangat murah untuk ukuran tiket pesawat Jakarta-Yogyakarta yang normalnya sekitar Rp700ribu sekali jalan.

Ternyata belum ada kepastian apakah saya harus berangkat dari Bandara Soekarno Hatta atau dari Halim Perdanakusuma. Bagi yang belum tahu sejak 10 Januari 2014 lalu, Garuda Indonesia memindahkan beberapa penerbangannya ke Halim. Yang saya baca di Internet, salah satu penerbangan yang pindah ke Halim adalah jurusan Yogyakarta. Tapi si Mbak yang melayani saya tadi belum bisa memastikan apakah penerbangan saya ke Yogyakarta berangkat dari Halim atau masih seperti sekarang di Cengkareng. Katanya mungkin saya akan dihubungi kembali bila nanti penerbangannya pindah ke Halim.

Ini kali kedua saya menukarkan GFF poin, tahun 2008 lalu saya menukarkan GFF poin dengan 2 tiket pulang pergi ke Singapore. Menukarkan GFF poin ke penerbangan luar negri pajaknya lebih besar, sekitar USD$98. Periode 2008 lalu saya memang sering sekali bepergian dengan Garuda, poin saya cukup banyak saat itu. Saking seringnya menggunakan Garuda, saya pernah mendapat GFF Gold. Kalau tidak salah GFF Gold bisa didapatkan bila poin GFFnya sudah mencapai 30000.

Bila Anda tertarik dengan poin Garuda Frequent Flyer, Anda bisa baca info lengkapnya di websitenya GFF.

Catatan Banjir 2014

Tidak terasa sudah setahun berlalu sejak Jakarta terkepung banjir. Beberapa hari ini hal yang sama berulang, Jakarta diguyur hujan terus menerus. Rekan saya yang tinggal di daerah Kelapa Gading menceritakan banyak genangan air yang cukup dalam di sana. Salah satu rekan saya juga terjebak di kantornya di Kelapa Gading tidak bisa pulang karena depan kantornya sudah tergenangi air & tidak bisa dilewati mobil.

Tadi sore saya keluar memutari Tomang, Cideng, Tanah Abang, Pejompongan, Senayan, lalu kembali lagi ke Tomang lewat Slipi. Semuanya terlihat kering & tidak terlihat ada genangan air.Di Slipi lalu lintasnya padat mulai Slipi Jaya. Ternyata ini efek dari penutupan jalan layang Tomang yang menuju ke Taman Anggrek. Rupanya seputaran Mal Citraland & Trisakti masih tergenang banjir. Di perempatan Tomang ada papan bertuliskan Grogol banjir seperti ini :

Persis seperti tahun lalu, kendaraan dari arah Mal Taman Anggrek diperbolehkan melawan arah menuju perempatan Tomang.

Sepanjang hari ini gerimis kecil baru turun 1x tadi siang. Sepertinya sekarang mitos banjir 5 tahunan di Jakarta sudah terpatahkan. Tidak hanya Jakarta yang kebanjiran, daerah lain seperti Pamanukan, Indramayu juga mengalami banjir. Bahkan yang mengejutkan Manado mengalami banjir yang cukup parah. Saudara saya mengabarkan bahwa 3 hari Manado banjir tanpa ada aliran listrik, telepon pun tidak bisa digunakan.

Semoga curah hujan kembali normal & banjir ini segera berlalu.

2014-01-07 Macet Casablanca

Kemarin pagi saya terjebak macet di fly over Pejompongan dari Tanah Abang menuju Casablanka. Sejak naik fly over sampai turun lagi itu memakan waktu 45 menit, luar biasa merayap. Saya lihat ada 3 yang menyebabkan efek kemacetan sampai sejauh itu. Satu adalah penyempitan di depan London School, plus mobil yang keluar masuk ke sana. Lalu arus lalu lintas dari jalan tikus samping London School. Yang terakhir adalah kendaraan yang berputar balik di depan CityWalk. Walaupun ada polisi juga tidak terlalu banyak membantu, karena memang volume kendaraan yang memang sangat banyak.

U Turn Citywalk Tanah Abang photo 2014-01-08 08.30.38_zpskcfplfpv.png

Saking macetnya saya liat 1 mobil & beberapa motor nekat putar balik melompati pembatas jalan. Rupanya adanya JLNT (Jalan Layang Non Tol) yang baru diresmikan itu menambah kepadatan di putaran balik CityWalk tadi. Ketika saya berhasil menembus macet itu & naik ke JLNT, jalur menuju Kampung Melayu itu benar-benar sepi. Yang banyak malah motor, sepanjang jalan saya tidak bertemu mobil lainnya. Di arah sebaliknya kemacetan mulai dari ujung JLNT. Kabarnya kalau sore yang terjadi sebaliknya, yang macet adalah jalur menuju Kampung Melayu.

Saat sore hari sekitar pukul setengah 4 saya pulang memilih lewat bawah (depan Mal Ambassador), tidak seperti dulu sekarang terlihat lancar. Tidak ada antrian lagi di putaran balik CityWalk. Pelajarannya, pagi hari sekitar pukul 8–10 adalah puncak macet daerah situ. Sebisa mungkin harus berangkat lebih pagi jika ingin lancar melewati Tanah Abang – Casablanca.