Lapor Pajak

Belakangan topik soal pajak cukup ramai dibicarakan orang (paling tidak di lingkungan saya). Tahun lalu kantor lama saya mengadakan pembuatan NPWP secara massal. Tiap karyawan cukup menyerahkan fotokopi KTP, kantor yang mengurusi pembuatan NPWP-nya. Mungkin Anda juga masih ingat sekitar akhir tahun lalu di televisi sering ditayangkan iklan soal NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Slogan iklannya saya lupa detailnya, tapi salah satunya menggunakan jargon “apa kata dunia?” Salah satu kewajiban pemilik NPWP adalah menyerahkan laporan pajak tiap tahun. Laporan tersebut dikenal sebagai SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan).

Senin kemarin saya menyerahkan laporan pajak tahunan lewat drop box di Mal Ambasador. Awalnya saya pikir drop box itu semacam kotak khusus laiknya kotak pos. Tapi ternyata yang dimaksud drop box adalah petugas pajak yang duduk di meja melayani masyarakat yang ingin menyerahkan laporan pajak tahunannya. Proses pelaporan pajak yang saya alami tidak terlalu sulit. Saya cukup mengisi formulir 1770SS dan menyertakan fotokopi formulir 1721A1. Formulir 1721A1 itu berasal dari kantor lama saya. Karena selama tahun 2008 saya bekerja di Fujitsu, maka formulir 1721A1 adalah laporan pajak yang dikeluarkan oleh Fujitsu. Isinya adalah laporan berapa besar pajak yang sudah dibayarkan oleh kantor. Perhitungan pajaknya sendiri cukup rumit dan saya sampai sekarang belum mengerti bagaimana penghitungannya. Yang jelas gaji saya selama bekerja sudah dipotong pajak, potongan pajak itulah yang dibayarkan oleh kantor. Kedua formulir tadi saya masukkan ke dalam amplop coklat lalu dibubuhi nama, nomor NPWP, nomor telepon, dan status pembayaran pajak.

Antrian orang yang akan menyerahkan laporan pajaknya kemarin cukup panjang. Setidaknya 20 menit saya harus antri untuk sampai ke meja petugas pajak. Setelah amplop diserahkan, petugas akan menempelkan tanda terima SPT. Pada tanda terima SPT tersebut ada bagian yang disiapkan untuk disobek dan diserahkan kepada pelapor pajak. Nah bagian tersebut (seperti terlihat di foto) saya simpan sebagai bukti kalau saya sudah melaporkan pajak untuk tahun pajak 2008.  Katanya hari ini tanggal 31 Maret 2009 adalah batas akhir penyerahaan laporan pajak tahunan. Mulai besok keterlambatan penyerahan laporan pajak dikenakan sanksi denda sebesar Rp100.000,-. So….saya yakin Anda sudah lapor pajak kan? 😀

Soal Tagihan Elektronik

Tadi di meja ruang TV ada beberapa amplop tagihan telepon rekan saya berserakan begitu saja. Ada yang menarik di amplop-amplop itu, informasi soal tagihan telepon via email. Indosat menawarkan bentuk tagihan dalam bentuk email. Hmm…menarik. Sepertinya baru Indosat yang menawarkan layanan seperti ini (CMIWW).

Yang sudah saya ikuti adalah programnya tagihan elektroniknya Citibank. Sejak saya pakai kartu kredit Citibank tahun lalu, praktis saya tidak pernah menerima amplop tagihan Citibank lagi. Tiap bulan Citibank mengirimi saya email berisi tagihan dalam format PDF. Canggih juga file PDF-nya, dilengkapi dengan password. Dengan bentuk PDF seperti itu saya lebih mudah mendokumentasikannya. Kapan pun saya perlu memeriksa tagihan, saya tinggal buka komputer atau cukup memeriksa email.

Bagi saya pribadi memang lebih enak memperoleh tagihan dalam bentuk email. Lebih mudah mengarsipkannya. Di kamar saya ada setumpuk berkas tagihan, mulai dari tagihan Telkom, Speedy, Kartu Halo, sampai amplop-amplop tagihan Indovision. Dulu saya pernah memotret satu-satu dokumen tagihan macam itu, supaya saya punya berkas digitalnya. Tapi itu cuma sebentar, keburu malas dan lupa.

Telkom Speedy juga sebenarnya menyediakan versi digital dari tagihannya. Sayangnya tidak secanggih apa yang sudah dilakukan oleh Citibank. Tagihan online Speedy disimpan dalam webnya Speedy. Tiap kali saya ingin tahu berapa tagihan Speedy saya, saya harus login dulu baru kemudian bisa memeriksa tagihan. Ah cara seperti ini butuh langkah proaktif dari pelanggan. Bagaimana kalau lupa memeriksa. Lain ceritanya kalau tagihan dikirimkan ke email….seolah-olah ada yang mengingatkan. Tagihan dalam bentuk digital mungkin sulit mengalahkan dominasi tagihan dalam format cetak.Banyak alasannya,salah satunya mungkin karena tidak semua orang selalu aktif di depan komputer (tambahan lagi akses internet belum menyentuh semua lapisan masyarakat). Tapi paling tidak dengan adanya layanan digital seperti itu memberikan pilihan bagi orang-orang seperti saya.

Bulan lalu misalnya, saya sempat protes ke Telkomsel karena tagihan saya tidak datang selama 2 bulan. Karena tagihan kartu Halo saya secara otomatis dibayar oleh Citibank, saya lupa kalau 2 bulan terakhir tidak terima berkas tagihan dari Telkomsel. Tahun lalu tagihan selalu dikirimkan ke kantor. Berhubung mulai tahun 2009 saya pindah kantor akhir Desember lalu saya minta Telkomsel mengirimkan tagihannya ke rumah saja. Februari lalu saya sempat kaget melihat jumlah pemakaian kartu Halo saya melejit. Yang membuat saya kaget adalah seingat saya pemakaian telepon saya bulan Januari tidak sebesar itu. Praktis saya jadi ingin tahu detail pemakaian telepon saya di bulan Januari. Ah di situ saya baru ingat kalau saya belum terima berkas tagihan Telkomsel bulan Januari & Februari.

Langsung saya lapor ke customer care-nya Telkomsel (telepon ke 111). Saya ceritakan masalahnya, saya juga sempat minta mereka memeriksa alamat rumah yang sudah saya berikan. Ternyata benar tidak ada yang salah dengan alamat saya. Laporan saya diterima dengan baik dan Telkomsel menjanjikan akan mengirim ulang tagihannya. Keesokan harinya ada yang menelpon saya mengaku dari Telkomsel. Si mbak mengklarifikasi soal mengapa tagihan saya tidak datang selama 2 bulan terakhir. Alasan yang diberikan adalah “Bapak memberikan alamat yang salah”…….wah kontan ini menyulut emosi saya. Bukan karena merasa disalahkan tapi saya emosi karena kalau toh alamat saya salah, mengapa Telkomsel tidak menelepon saya? Entah saya tidak tahu siapa sebenarnya yang mengirimkan tagihan tersebut, Telkomsel sendiri atau pihak kurir-nya Telkomsel. Sebagai customer tentu saya emosi mengapa saya tidak diberi tahu kalau alamat pengiriman tagihan salah. Salah kode pos saja sih….ini juga saya heran, kok bisa-bisanya saya salah memberikan kode pos. Jangan-jangan kalau saya tidak butuh melihat detail tagihan sampai besok-besok tagihan saya tetap tidak datang.

Masalah selesai saat dua tagihan saya (yang sudah basi) datang. Di situ saya baru tahu ternyata pemakaian telepon saya di Singapura bulan Desember lalu baru ditagihkan di bulan Februari. Pantas tagihan Februari jadi melonjak. Hmm enaknya kalau tagihan telepon bisa dikirimkan ke email saya. Sudah saatnya para provider/operator atau apapun itu yang rutin mengirimkan berkas tagihan mulai memikirkan pengiriman berkas tagihan secara elektronik. Menghemat kertas, lebih jauh katanya bisa ikut berpartisipasi mencegah pemanasan global. Bayangkan berapa banyak kertas yang dipakai untuk keperluan cetak tagihan. Ah tapi bagi saya tidak usah bicara muluk-muluk soal global warming, yang jelas tagihan elektronik (paperless) lebih mudah disimpan & didokumentasikan.

Mangkatnya Pak Harto

Setelah sudah hampir sebulan media kita dipenuhi oleh berita sakitnya mantan Presiden Soeharto, hari ini Pak Harto akhirnya meninggal dunia. Menurut Detik.com, Pak Harto meninggal dunia hari ini 27 Januari 2008 pukul 13.10. Saya baru bangun tidur sore ini pukul 6, mendengar berita ini di tv. Semua media memberitakan hal yang sama.

Lepas dari segala kontroversi tentang dirinya, saya mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya mantan Presiden Soeharto.

Minta Berapa? Seribu Saja

Saya buka kaca jendela taksi, saya tanya : “minta berapa?” Bocah tadi cengar-cengir bingung menjawab, dengan masih cengar-cengir akhirnya di jawab “terserah aja”. Saya jawab lagi “gak mau terserah sih, minta berapa?”. Eh dia ulangi lagi jawabannya, terserah lagi. Saya juga tidak mau kalah, saya ulangi lagi jawaban saya : “minta berapa?” Akhirnya dia bilang “seribu Om”. Saya rogoh saku kemeja, ambil selembar uang Rp1000,- dan saya berikan ke anak tadi. Wadow…langsung 4 orang anak lain berlarian ke arah taksi saya. “Om saya juga Om, saya juga Om…saya minta lima ribu Om….” ramai sekali jadinya. Langsung saya tutup kaca jendela. Traffic light tidak kunjung hijau, 4 orang anak tadi masih merapat di kaca jendela dan terus merengek…“saya aja Om saya aja Om…seribu aja Om.”

Ini cerita saya kemarin sore. Di Jalan Wahid Hasyim, saya mau pulang ke kantor dengan taksi. Di lampu merah (yang dekat Abuba Steak) seorang anak anak laki-laki, mungkin usia anak kelas 1 atau 2 SD, mendekati taksi saya lalu menadahkan tangan minta-minta. Menyebalkan memang melihat anak-anak jalanan dari kecil sudah belajar meminta-minta. Kemarin jiwa iseng saya muncul. Di saku kemeja saya ada uang seribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan, di dompet ada lima puluh ribuan. Keisengan kali ini sebenarnya terinspirasi cerita teman saya. Katanya mengapa pengemis susah kaya, karena dia tidak berani “mimpi” (Sepertinya saya tidak berkompeten untuk menulis tentang hal ini lagi, mungkin nanti tunggu teman saya saja yang menulis tentang hal ini). Ditanya minta berapa cuma berani minta Rp1000,-. Padahal emarin saya yang lagi iseng siap kalau dia minta lebih dari itu. Tapi ternyata teman saya benar, si anak tadi cuma berani minta Rp1000,-.

Pesan saya : hati-hati kalau mau memberi uang ke pengemis di seputaran Wahid Hasyim, bisa-bisa Anda dimintai Rp100.000 sama pengemis di sana =))

Paling Berani Ya Indonesia

Kemarin katanya ada helikopter jatuh di Pekanbaru. Saya tidak terlalu kaget membaca hal ini di Detik.com sora kemarin. Yang membuat saya tertarik adalah berita Detik.com (yang saya baca malam tadi) kalau ternyata helikopter yang jatuh itu sudah berumur 49 tahun. Gila….berani sekali ya tentara kita.

Memang kita perlu berbangga sebagai bangsa Indonesia. Menurut saya rakyat Indonesia adalah manusia-manusia yang berani sekali (berani sekali entah apa sama dengan pemberani). Berani sekali mendekati nekat. Mau bukti, coba Anda pikirkan hal-hal berikut :

  1. Helikopter 49 tahun masih berani diterbangkan. Berani kan? Berani tanggung resiko jatuh.
  2. Pesawat-pesawat milik beberapa maskapai penerbangan lokal (low cost airline) masih berani mengoperasikan pesawat yang umurnya sudah uzur (katanya banyak sekali yang sudah berumur lebih dari 10 tahun). Tidak heran kalau ada resiko penutup sayap lepas, atau hidrolik ngadat.
  3. Lihat bus, metromini, kereta-kereta komuter di Jakarta. Lihat beraninya penumpang bergelayut di pintu bus, bahkan ada juga yang berani naik ke atap gerbong kereta. Atau lihat saja kepadatan penumpang kereta api menjelang mudik lebaran. Berani lagi kan?
  4. Ingat kan kasus kebakaran di bawah jalan tol dalam kota di wilayah Jembatan Tiga Jakarta Barat. Salah satu bukti lain keberanian pendatang, bawah jalan tol pun berani ditempati, dihuni layaknya pemukiman resmi. Lebih berani lagi saat diusir malah berdemo…
  5. Perhatikan perempatan-perempatan jalan di Jakarta. Perhatikan para pengamen dan anak jalanan. Anak-anak umur 3-4 tahun (bahkan tidak sedikit yang menggendong bayi) sudah berkeliaran di sana. Satu bukti lagi, keberanian orang tuanya melepas anak-anaknya ke jalanan…
  6. ….
  7. ….
  8. ….
  9. ….
  10. ….

Ah mentok juga…tapi saya yakin masih banyak keberanian-keberanian rakyat Indonesia yang belum terlintas di pikiran saya sekarang. Nanti mungkin akan bertambah lagi daftarnya.

Ada yang mau menambahkan?