Hari Minggu ini sampai pukul 9 malam ini, Metro TV tidak menayangkan acara Republik Mimpi (RM). Apa kah memang benar ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpa salah satu pemain acara R, Jarwo Kwat? Katanya tokoh yang memerankan wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut terlibat kasus penipuan, membayar seseorang dengan cek kosong (kalau tidak salah nilainya sekitar 100 juta rupiah).
Minggu lalu saya masih melihat acara RM, Efendi Gazali (motornya RM) menyatakan kalau sampai benar Jarwo bersalah dalam kasus cek kosong tersebut, Republik Mimpi akan berhenti tayang. Apakah kalau sekarang RM tidak tayang, berarti kita bisa menyimpulkan bahwa Jarwo memang bersalah? Kalaupun benar Jarwo memang bersalah, saya masih salut dengan acara ini. Mengapa salut? Sudah salah ya mundur. Di Indonesia? Gak mungkin banget. Tapi kalau RM bubar karena salah satu tokohnya tersandung kasus kriminal, mengapa RM yang harus bubar? Ganti saja tokoh wapres dengan tokoh lain. Ini mungkin lebih membawa pesan bagi masyarakat, bagaimana seorang pejabat (walaupun cuma di negeri dongeng) bisa berjiwa besar, mundur demi nama baik dan kelangsungan pemerintahan yang bersih.
Ada apa sebenarnya dengan kasus ini? Kejadian ini tentu mengundang orang untuk berspekulasi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin menjegal RM. Masuk akal memang kalau ada pihak-pihak yang ingin menjegal acara ini. Republik Mimpi dari awal penayangannya sudah “berseberangan” dengan pemerintah. Mulai dari tokoh-tokohnya yang merupakah parodi dari pada tokoh di Indonesia, sampai sindiran-sindirannya yang tajam menyinggung banyak hal di Indonesia. Saya yang jadi salah satu penonton setia acara ini tentu akan merasa kehilangan jika sampai RM tidak ditayangkan lagi.
Di tengah tayangan sinetron dan berbagai acara gak mutu di televisi kita, RM bisa menjadi pilihan tontonan yang cukup menarik untuk diikuti. Kritiknya kepada berbagai kebijakan pemerintah saya sah-sah saja kalau ditayangkan. Dengan begitu RM kan bisa jadi kontrol sosial bagi pemerintah. Masalah tersinggung atau tidak itu urusan personal. Tapi yang jelas ada beberapa hal yang sudah disampaikan RM yang merupakan suara rakyat sendiri. Saya masih ingat bagaimana mereka mengunjungi tempat pengungsian korban lumpur Lapindo. Tentu bukan porsi saya untuk menjudge bahwa RM itu benar-benar “suci” tapi setidaknya mengapa pemerintah tidak belajar dari bermacam hal (kritikan) yang sudah diangkat dan disampaikan oleh mereka?
Apa ini tandanya bangsa Indonesia (pemerintah khususnya) masih belum siap dengan kritik tajam? Tidak siap diledek dengan parodi politik macam ala Republik Mimpi? Mungkin ini adalah salah satu bentuk ad hominem menyerang pihak/orang tertentu ke hal-hal pribadi karena merasa sudah tersudutkan dalam perdebatan/argumen-argumen yang memang benar adanya. Sudah bawaan lahir manusia yang tidak pernah mau kalah, tidak pernah mau ditolak, sehingga kadang saat kita “diserang” pandangan/opininya yang muncul kita malah “menyerang” balik ke urusan pribadi – keluar dari topik utama perdebatan.
Ah semoga saja Metro TV sebagai penayang acara ini berpikir ulang dan kembali menayangkan kembali acara ini. Indonesia butuh tayangan yang mendidik, jangan sampai tayangan yang baik ini malah dihapuskan.