Instal Ubuntu Lagi

Seminggu kemarin saya benar-benar berhenti ngeblog. Banyak ide di kepala saya tapi malas menuliskannya ke blog, padahal sudah ada beberapa topik yang saya tulis draft-nya di komputer saya. Mungkin karena sibuk sampai-sampai rasanya malas memposting dokumen saat sampai di rumah. Seminggu kemarin saya berkutat dengan banyak flowchart dan dokumen di kantor…mungkin karena ini juga saya bosan berada di depan laptop :-p .

Sabtu lalu aktivitas saya di rumah adalah menginstal ulang Ubuntu di PC saya. Entah ini sudah jadi instalasi keberapa selama saya mengenal Ubuntu ๐Ÿ˜€ . Saya memang cepat bosan, jadi sedikit-sedikit instal ulang. Tidak hanya instal ulang Windows, sekarang juga setelah jadi pengguna GNU/Linux saya pun sering menginstal ulang walau frekuensinya jauh lebih jarang dibandingkan waktu saya menggunakan Windows. Rasanya “segar” sekali PC saya setelah Ubuntunya diinstal ulang…(gila gak sih saya :)) ) Mula-mula saya pindahkan dulu semua data ke dalam harddisk external, baru kemudian saya instal ulang Ubuntunya.

Padahal rencananya saya akan instal ulang PC setelah dapat CD Ubuntu 7.10 tapi belum dapat juga sih. Jadi sementara saya instal ulang saja dengan Ubuntu 7.04. Hmm… lihat deh screenshot desktop saya sekarang :

ubuntu reinstall

Selain bosanan, saya juga mungkin bisa dikategorikan “distro freak“, selalu ingin mencoba menggunakan distro Linux yang baru saya kenal. Jangan heran kalau notebook saya berulang kali diinstal berbagai macam distro Linux. Walaupun sebenarnya saya tahu ujung-ujungnya ya begitu-begitu saja desktopnya tapi bagi saya ini adalah hiburan yang menyenangkan. Untuk hobi saya yang satu ini sebenarnya saya bisa saja menggunakan VMWare untuk mencoba-coba berbagai distro. Tapi saya kurang sreg saja menggunakan tools yang satu ini. Saya lebih senang menyediakan sebuah partisi kosong di harddisk notebook untuk jadi tempat testing macam-macam distro.

Rata-rata yang saya coba adalah distro yang menyediakan menu grafis untuk instalasinya. Begitu-begitu saja sih instalasinya, tinggal Next, Next, setting ini itu, Next lagi, instal dan Finish. Ada satu distro yang belum saya coba yang katanya susah dan ribet untuk diinstal…Gentoo. Nanti lah kalau ada waktu senggang panjang saya coba, itu pun kalau sudah dapat source-nya.

Calibri di Ubuntu Linux

Microsoft Windows Vista sekarang punya beberapa font baru yang dijadikan default font-nya. Dua yang paling gampang saya ingat adalah Calibri dan Cambria. Calibri adalah jenis sans serif (font yang tidak punya kait) sementara Cambria adalah jenis font serif (dengan kait).

Tadi iseng mencari di Google bagaimana cara menginstal kedua macam font baru Windows Vista tersebut ke dalam GNU/Linux. Pas sekali saya menemukan link yang tepat, lihat di sini. Nah berikut ini adalah rangkuman langkah-langkah instalasinya di Ubuntu saya :

  1. Download dulu file PowerPointViewer.exe dari webnya Microsoft (di sini) untuk mendapat source font Calibri dkk.
  2. Instal package cabextract untuk membaca file *.cab (cabinet file Microsoft). Caranya dengan perintah :
    # sudo apt-get install cabextract
  3. Jalankan cabextract pada file PowerPointViewer.exe yang sudah didapat. Perintahnya adalah :
    # cabextract PowerPointViewer.exe
    # cabextract ppviewer.cab
  4. Dari perintah sebelumnya kita sudah bisa mendapat beberapa source font berupa file dengan ekstensi TTF. Pindahkan semua file tersebut ke dalam /usr/share/fonts/TTF dengan perintah berikut :
    # sudo mkdir /usr/share/fonts/TTF
    # sudo cp *TTF /usr/share/fonts/TTF
  5. Lalu jalankan perintah-perintah berikut ini :
    # sudo xset fp+ /usr/share/fonts/TTF
    # sudo xset fp rehash
    # sudo mkfontdir
    # sudo mkfontscale
    # sudo fc-cache -f -vv

Nah gampang kan….sekarang saya bisa membuka dokumen yang dibuat dengan Microsoft Office 2007 dengan Ubuntu saya tanpa harus kehilangan font-font terbarunya Microsoft tadi.

Memutar Layar

rotasi kanan

Tampilan gambar di atas bukan karena keisengan saya meng-upload gambar secara terbalik. Gambar di atas memang betul hasil tangkapan layar Ubuntu di PC saya. Tadinya layar di komputer saya seperti ini tampilannya :

GNU/Linux memang dilengkapi dengan fitur rotasi tampilan desktop seperti di atas. Saya juga baru tahu fitur ini gara-gara baca postingannya Pak Andika :-p. Di Ubuntu saya perintahnya seperti ini :

# xrandr -o right
# xrandr -o left
# xrandr -o inverted
# xrandr -o normal

Opsi -o itu untuk mengatur arah rotasi layar. Nah gambar yang pertama itu hasil perintah # xrandr -o right. Malam ini iseng saya kumat lagi, saya putar-putar lagi tampilan layar desktop Ubuntu saya. Masih belum habis kekaguman saya pada fitur ini…terkesan ndeso? Biarin yang penting keren…bisakah Windows Anda seperti ini? :-p (loh kok malah ngompor-ngomporin yang pakai Windows =)) … maaf maaf saya juga masih sering pakai Windows kok ๐Ÿ˜€ )

Bagus juga nih untuk iseng pamer di PC kantor. Sebelum meninggalkan komputer balik dulu layarnya 180 derajat dengan perintah # xrandr -o right biarkan orang lain terbingung-bingung (bingung liat PC kok terbalik tampilannya & bingung mau iseng ngintip isi desktop orang =)) )

Ubuntu 7.10 – Gutsy Gibbon

Ubuntu sudah merilis versi terbarunya, Ubuntu 7.10 dengan nama kode Gutsy Gibbon. Lihat cuplikan tampilan webnya ini :

ubuntu gutsy gibbon

Baru saja saya kirim permintaan CD gratisnya di http://shipit.ubuntu.com ๐Ÿ˜€ Saya penasaran dengan penamaan versi 7.10 ini, apa sih artinya Gutsy Gibbon?

Menurut Cambridge Dictionary terjemahan kata perkatanya adalah :

gutsy (adjective) = brave and determined
gib
bon = a small long-armed ape which lives in trees in the forests of S Asia

Terjemahan bodoh-bodohannya mungkin seperti ini : monyet kecil berlengan panjang yang berani dan diperhitungkan ๐Ÿ˜€ Kalau menurut Wiki Gibbon itu artinya….baca sendiri ya di sini :-p Saya pun melihat-lihat di Google mencari tahu seperti apa sih wujud monyet yang dimaksud (gak puas dengan gambar yang ada di Wiki), saya dapat banyak sekali gambar; salah satunya adalah ini :

monyet gibbon

(gambar dipinjam dari sini).

Di Indonesia jenis monyet ini apa ya namanya? Kukang?

Open Office Vs. Microsoft Office

Salah satu hal yang membuat saya masih menggunakan Windows saat bekerja adalah perubahan format layout dalam dokumen. Coba lihat contoh tampilan dokumen berikut ini. Gambar ini adalah screenshot ketika dokumen dibuat dengan menggunakan Microsoft Word :

microsoft word

Semua terlihat bagus; layout, tipografi, margin terlihat sudah sempurna. Bandingkan dengan gambar ini :

openoffice

Ini adalah tampilan dokumen yang sama ketika saya buka dengan menggunakan Open Office Writer. Semuanya jadi berantakan.

Ketika saya membuat dokumen dengan menggunakan Microsoft Word lalu kemudian membukanya dengan menggunakan Open Office, saya selalu mendapati format dokumen (layout-nya) berubah. Tentu saja hal ini merepotkan. Memang isi dokumen itu sendiri tidak berubah, hanya mata saya ini jadi sebal melihat layout dokumen yang jadi berantakan. Hal yang sama juga ketika saya membuat dokumen dengan menggunakan Open Office lalu membukanya dengan Microsoft Word. Ini berlaku juga untuk spreadsheet…pasti ada perubahan layout dan pengaturan halaman saat harus berpindah editor antara Open Office Calc dan Microsoft Excel.

Di kantor hal tadi bertambah repot ketika orang lain jadi uring-uringan melihat dokumen yang saya buat terlihat kacau formatnya. Maklum hampir semua orang di kantor menggunakan Windows di komputernya. Bayangkan, tiap kali saya menulis dokumen ngotot dengan menggunakan Open Office, mereka yang menerima dokumen dari saya dan membukanya dengan menggunakan Microsoft Office; mereka pasti merasa sebal sekali melihat dokumen saya terlihat kacau. Padahal tadinya saya sudah mengatur dokumen sebagus mungkin, serapih mungkinโ€ฆada daya ketika dibuka dengan menggunakan Microsoft Office, semuanya jadi berantakan lagi. Memang semua data dan konten dokumen masih bisa dibaca dan dimengerti. Tapi sungguh suatu hal yang menyebalkan melihat layout, susunan, dan kadang tipografi jadi berubah saat berpindah sistem operasi.

Mungkin ada yang punya pengalaman yang sama? Apa Anda tahu bagaimana mengatasi masalah ini? Tolong beritahu saya bagaimana cara menyelesaikan kekurangserasian antara Open Office dan Microsoft Office ini.