Tendean Biliar Sambung Hang Out Biliar

Sabtu kemarin Jakarta sudah cerah kembali. Setelah sehari sebelumnya diguyur hujan selama lebih kurang 12 jam, Jakarta disemarakkan dengan banjir di beberapa wilayah. Sabtu 2 Februari 2008 air sepertinya sudah surut, meskipun menurut kabar dari beberapa teman masih ada daerah yang digenangi air.

Lalu lintas di seputaran Jakarta cukup lancar Sabtu kemarin. Sabtu siang saya pergi menghadiri acara gathering (kumpul-kumpul) para anggota Indobiliar. Indobiliar sendiri adalah kumpulan para pehobi dan maniak biliar :D. Acara gathering ini rutin diadakan 3 bulan sekali. Tempatnya pun berpindah-pindah dari satu pool house ke pool house yang lain. Gathering kali ini sebenarnya merupakan gathering pengganti akhir tahun 2007 kemarin. Banyaknya libur dan kesibukan para panitianya membuat acara ini mundur sampai tanggal 2 kemarin.

Kali ini gathering diadakan di Tendean Biliar. Pool house ini berada di lantai 2 gedung Tendean Plasa. Lokasinya lihat di sini. Tempatnya ternyata cukup cozy bisa untuk nyantai. Meja biliar yang lokasinya berada dekat dengan tembok, dilengkapi dengan sofa yang nyaman. Pelayanan para waiter/waitress cukup ramah, cepat pula pelayanannya. Ah sayang saya lupa bertanya berapa tarif per jam untuk main biliar di tempat ini. Soalnya kemarin yang booking meja adalah Indobilyar, saya cuma bayar Rp35000,- untuk biaya gathering.

Saya baru 2 kali ikut acara gathering-nya Indobiliar. Gathering sendiri diisi dengan kompetisi kecil. Semua peserta dikelompokan ke dalam grup-grup kecil beranggotakan 4-5 orang. Nanti tiap anggota grup bertanding dengan sistem setengah kompetisi (tiap pemain bermain melawan tiap anggota dalam grup tersebut). Saya cuma menang 1 kali, so tidak bisa lolos ke putaran berikutnya. Putaran berikutnya adalah tahap 16 besar, ini langsung menggunakan sistem gugur. Begitu pun dengan putaran-putaran selanjutnya sampai final.

Kemarin setelah penyisihan grup selesai, saya segera pulang tidak mengikuti acara sampai selesai. Biasanya sih ada acara foto bersama setelah acara selesai. Tulisan ini saya sebenarnya mau saya tulis kemarin tapi karena setelah gathering saya langsung ke Bandung jadi baru sekarang baru menuliskan cerita ini. Nah tadi malam saya berangkat ke Bandung jam setengah 9, sampai Bandung jam 10 malam. Perjalanan lewat jalan tol Cipularang sangat lancar, rekan saya yang mengemudikan mobil bisa memacu mobilnya cukup kencang. Niat saya ke Bandung sebenarnya cuma 1…meladeni tantangan teman saya Fendi untuk bertanding biliar. Sudah cukup lama Fendi tidak bertanding lawan saya. Dulu saya selalu kalah, mendengar saya lebih sering berlatih Fendi penasaran.

Jadi tadi malam kami pergi ke HangOut biliar di Giant Pasteur. Letaknya tidak jauh setelah keluar dari pintu tol Pasteur. Ah tempat ini pun cukup nyaman. Saya sudah pernah main di sini sebelumnya. Skor akhir lawan Fendi adalah 12-7 untuk kemenangan saya 😀 . Gila mencari kemenangan 12 memang tidak mudah. Saya yang sudah memimpin sampai 7-2 dikejar Fendi sampai akhirnya dia kalah dengan poin 7. Biasanya saya dan rekan-rekan di Indobiliar selalu mencari kemenangan 7. Fendi yang ngotot mencari kemenangan 12. Mata saya yang sudah pedes…nguantuk, makin lama makin ngaco pukulannya. Tapi untungnya saya masih bisa menang melawan Fendi :-p

Kami pulang saat HangOut tutup. Kami benar-benar menjadi pengunjung terakhir yang meninggalkan tempat ini. Jam sudah menunjukkan waktu pukul 1.40 pagi saat kami berjalan ke parkiran. Badan saya sudah pegal-pegal, mata ini sudah mengantuk sekali.

Ok nanti saya sambung lagi cerita saya dari Bandung.

(diposting saat mampir ke kos saya dulu….numpang internetan😀 )

Sharing Internet Over WLAN

Eksperimen pagi ini sebelum berangkat kerja, sambil menunggu hujan reda.

Notebook saya terhubung ke modem Speedy dengan menggunakan kabel LAN. Saya menggunakan pengaturan IP dinamik untuk koneksi Speedy ini. Eksperimennya adalah menghubungkan notebook teman saya via Wireless LAN. Saya buat koneksi AdHoc antara notebook saya dengan notebook teman saya. Ini pernah saya bahas di tulisan saya yang judulnya Bertukar Data dengan Wireless LAN. Wireless LAN interface di notebook saya, saya beri IP 192.168.0.1. Menurut Windows, untuk dapat menggunakan Internet Connection Sharing IP yang digunakan harus 192.168.0.*.

Yang perlu diatur adalah menyalakan opsi Internet Connection Sharing di koneksi LAN saya (koneksi wireline yang dipakai Speedy). Lalu saya harus menyalakan DHCP server supaya notebook teman saya dapat memperoleh IP dinamik dari komputer saya. Selain DHCP server saya juga harus mengaktifkan DNS servis. Lihat contoh berikut ini :

internet connection sharing

Nah beres…teman saya sekarang bisa internetan dari Speedy saya. Tugas saya sekarang tinggal menyiapkan bon tagihan pemakaian internet teman saya =))

Banjir Lagi Gak Ya?

Halah…pagi-pagi sudah deras sekali hujannya. Bulan Februari baru tanggal 1, hujan sudah sederas ini dari semalam. Jadi ingat tahun lalu, Februari awal Jakarta direndam banjir. Akankah banjir kembali menyergap Jakarta?

Beberapa titik di sekitar tempat saya tinggal sudah digenangi air. Bahkan sudah ada yang airnya setinggi dada…..(setinggi dada ayam maksudnya =)) ) Got di depan rumah sudah rata airnya dengan jalanan. Hmmm…saatnya mengambil jatah cuti? ;))

Update :

Jam 9.20 saya masih di rumah 😀 Di depan air mulai masuk ke teras, ini iseng motret jalanan dari teras. Got sudah tidak kelihatan. Makin ke jalan besar, genangannya makin dalam.

banjir

Masih tidak bisa telepon BlueBird. Terperangkap gak bisa ke kantor (terperangkap atau sengaja memerangkapkan diri? =)) )

Jam 10.40 saya tetap masih di rumah. Air mulai masuk teras…:(

banjir 2

Jam 12.10 hujan tidak berhenti sama sekali sejak tadi pagi (sekitar pukul 6 mulainya). Ritme hujan naik turun, tetap saja tidak berhenti. Daerah Kelapa Gading katanya sudah naik banjirnya. Teman saya sudah siap-siap beres-beres rumah.

4 Solaris in 5.3 Hours

Hari ini saya menginstal Solaris 9 ke 4 buah server Fujitsu Primepower 450. Klien kantor saya kali ini adalah PT Datacraft. Sebenarnya itu server yang akan dibeli oleh PT Icon+ ke PT Datacraft. Jadi saya perlu instal dulu sebelum dikirimkan ke end user.Setelah beres-beres dan persiapan hardware-nya, saya mulai instalasi sekitar pukul setenga h 12 siang. Dengan bermodalkan 1 DVD Solaris 9 dan 6 CD patch Solaris saya instal server pertama. Yang paling lama adalah proses patching, sampai saya selesai makan siang pun belum selesai. Server pertama ini selesai diinstal sekitar pukul 2 siang. Setelah itu saya buat image dari sistem ini dengan bantuan flar. Flar adalah fitur di Solaris untuk membuat image dari sistem dalam bentuk flash archive. Caranya cukup mudah, dengan perintah berikut ini :

bash-3.00# flarcreate -n solaris9 -s -c -R / -x /export/home/fsi /export/home/fsi/solaris9.flar

Image hasilnya dinamai solaris9.flar dan diletakkan di dalam /export/home/fsi. Lihat screenshot di bawah ini saat saya buat image.

flar create

Ketiga server sisanya saya instal dengan menggunakan image tersebut. Server pertama tadi dijadikan FTP (file transfer protocol) server, server lain tinggal mengakses image yang saya buat lewat protokol FTP. Lihat gambarnya berikut ini :

install via ftp

Jauh lebih cepat. Tiap server cuma butuh waktu 40 menit; bandingkan dengan server pertama yang butuh waktu hampir 2 jam untuk instalasi Solaris lengkap dengan patch-nya. Jadi total 5 jam lebih 20 menit semua server sudah terinstal. Pulang siang deh =))

So, thanks for something called flar and FTP ^:)^

NFS Server di Linux & Solaris

NFS (network file system) adalah sebuah protokol berbagi pakai berkas melalui jaringan. Cara menggunakan direktori yang dibagi pakai lewat jaringan di lingkungan Unix adalah seperti berikut ini :

Di Solaris

bash-3.00# mount -F nfs -o  172.16.208.112:/srv/ftp/pwsupport /tedy2

Di Linux

pwsupport:~ # mount -t nfs 172.16.209.120:/export/home/mps /data

Dua perintah di atas adalah cara mounting NFS direktori ke dalam local computer. Dalam hal ini, komputer yang melakukan mounting sebuah NFS direktori dikenal sebagai NFS client.

Nah sekarang bagaiman cara mengkonfigurasi NFS server?

Di Linux (kemarin saya coba di OpenSUSE 10.3), semua direktori yang akan dishare didaftarkan di dalam file /etc/exports. Contoh isi file /etc/exports adalah seperti berikut ini :\

pwsupport:~ # more /etc/exports
/srv/ftp/pwsupport    172.16.209.120(rw,sync,no_subtree_check,no_root_squash)
/home/data  172.16.209.116(ro,sync)

Keterangan untuk contoh di atas :

  • Bagian depan adalah nama direktori yang akan dishare ke jaringan (/srv/ftp/pwsupport).
  • Bagian selanjutnya adalah nama/alamat IP komputer yang diijinkan mengakses direktori tersebut (dalam contoh ini hanya client dengan IP 172.16.209.120). Dengan kata lain menentukan NFS client mana yang boleh menggunakan direktori tadi.
  • Bagian berikutnya adalah beberapa opsi saat membagi pakai direktori.
    • Opsi rw artinya NFS client boleh mengganti isi direktori/menaruh sesuatu di dalamnya. Jika kita membagi pakai suatu direktori tanpa mengijinkan NFS client ganti opsi ini dengan opsi ro.
    • Opsi sync artinya direktori yang dibagi pakai tersebut disinkronisasi terus (NFS client bisa melihat perubahan yang dilakukan orang lain pada direktori tersebut).
    • Opsi no_subtree_check membuat NFS client bisa mengakses direktori-direktori di bawah / di dalam direktori yang dibagi tadi.
    • Opsi no_root_squash memungkinkan NFS client untuk masuk ke dalam direktori yang telah dimount oleh NFS client. Saat saya belum menambahkan opsi ini, saya sukses mengakses NFS direktori ini tapi saya tidak bisa masuk ke dalamnya. Lihat tampilan eror yang muncul :
      bash-3.00# mount -F nfs -o  172.16.208.112:/srv/ftp/pwsupport /tedy2
      bash-3.00# df -h
      ....................
      ....................
      172.16.208.112:/srv/ftp/pwsupport                       9.8G      3.4G     6.0G       36%       /tedy2
      
      bash-3.00# cd /tedy2
       bash: cd: /tedy2: Permission denied
      

Setelah mendaftarkan direktori yang akan dibagi pakai ke dalam file /etc/exports, kita perlu merestart servis NFS server. Di OpenSUSE caranya adalah seperti berikut ini (ingat untuk mereset servis kita perlu root akses):

pwsupport:~ # service nfs restart
Shutting down NFS client services:                                    done
Starting NFS client services: sm-notify                               done

Ok, tadi cara konfigurasi di Linux. Di Solaris beda caranya, saya coba di Solaris 10. Untuk mengatur direktori supaya bisa diakses oleh komputer lain menggunakan protokol NFS, semua direktori yang akan dishare didaftarkan ke dalam file /etc/dfs/dfstab. Isi file ini adalah seperti berikut :

bash-3.00# more /etc/dfs/dfstab
share -F nfs -o rw=app-server,anon=0 -d "share veritas" /export/home/fsi/VERITAS
share -F nfs -o anon=0 -d "tedy share" /export/home/mps
share -F nfs -o rw=172.16.209.122,anon=0 -d "share emulex" /export/home/fsi/emlx_drv

Keterangan contoh di atas :

  • Bagian yang paling belakang adalah direktori yang akan dibagi pakai lewat protokol NFS.
  • Bagian yang ditandai dengan tanda “-o” adalah nama/alamat IP komputer yang boleh mengakses NFS direktori tersebut. Jika kita ingin semua komputer bisa menggunakan NFS direktori maka gunakan anon=0
  • Beberapa opsi yang bisa digunakan adalah :
    • Opsi rw berarti NFS client boleh “menulis” ke dalam NFS direktori tersebut. Pilihan lain adalah opsi ro (read only). By default, tanpa mendefinisikan opsi ini, Solaris akan membagi pakai direktori dalam mode read only. Opsi dituliskan setelah perintah -o.
    • Kita bisa memberi keterangan direktori yang dishare tersebut dengan opsi -d diikuti dengan keterangan (diketikdalam tanda kutip).

Setelah mendaftarkan semua direktori ke dalam file /etc/dfs/dfstab kita harus mereset servis NFS server terlebih dulu, di Solaris 10 caranya adalah seperti berikut ini :

bash-3.00# svcadm restart svc:/network/nfs/server

Sementara di Solaris 9 caranya adalah seperti ini :

bash-3.00# /etc/init.d/nfs.server restart

Nah kurang lebihnya seperti itu cara bodoh-bodohan melakukan sharing direktori via NFS protokol baik di Linux maupun di Solaris….semoga berguna.