Man Pages

Salah satu yang saya suka bekerja di lingkungan Unix/Linux adalah adanya manual untuk setiap perintah. Anda yang terbiasa bekerja di lingkungan Unix/Linux pasti terbiasa, familiar sekali dengan man. Man adalah perintah untuk menampilkan manual/dokumentasi dari setiap perintah yang ada.

Beda sekali kalau bekerja di lingkungan Windows. Memang di lingkungan Windows hampir semuanya tinggal klik-klik, semua ada GUInya (graphical user interface-nya), kalaupun butuh bantuan ada menu Help. Coba saja gunakan help di lingkungan command promptnya Windows; susah, tidak lengkap & kurang informatif. Menurut saya man pages di lingkungan Unix lebih informatif, lebih detail dalam mendokumentasikan setiap perintah yang disediakan. Lihat contohnya seperti berikut ini :

manpages

Contoh sederhana saat saya lupa bagaimana sih menggunakan perintah find. find adalah perintah untuk mencari file dengan kata kunci pencarian tertentu. Banyak perintah memerlukan beberapa argumen untuk dapat bekerja, termasuk perintah find. Misalnya kita ingin mencari file dengan nama bootparams. Perintah yang digunakan seharusnya adalah seperti berikut ini :

# find / -name "bootparams" -print

Bagian yang dicetak merah adalah argumen. Argumen ini perlu ditambahkan supaya perintah find dapat bekerja. Nah repot kan kalau tahu perintahnya tapi lupa apa saja argumen yang dibutuhkan. Dengan bantuan man pages kita bisa lihat (atau sekadar mengingat kembali) bagaimana menggunakan perintah find dengan tepat. Kita tinggal menggunakan perintah :

# man find

Dengan perintah di atas, sistem akan menampilkan halaman manual dari perintah find. Lengkap mulai dari definisi & fungsi perintah tersebut, cara menggunakan perintah, argumen-argumen yang dibutuhkan, opsi-opsi yang disediakan, sampai contoh cara penggunaan. Hampir semua perintah punya man pages sendiri. Jadi tidak ada alasan orang sulit mempelajari Unix/Linux, bahan belajarnya sudah ada semua kok…tinggal masalahnya mau apa tidak baca man pages. Tapi kadang kalau sedang buru-buru saya lebih senang bertanya pada yang lebih ahli 😀 , mungkin karena saya orang auditori juga kali ya.

(Ditulis buru-buru ditunggu teman mau pergi biliar :-p )

WordPress 3GB

Gila ini info gila…WordPress sekarang menyediakan kapasitas 3 Gigabyte untuk tiap user blognya. Tadi sempat baca di Planet Terasi ada yang menulis tentang ini. Dan benar setelah saya cek di blog saya yang lama, kapasitas penyimpanan data di WordPress.com sudah naik jadi 3GB. Lihat hasil capture-nya :

wordpress 3gb

Nyesel? Mungkin. Blog ini cuma ditaruh di hosting berbayar dengan kapasitas 100MB :(( Ya sudahlah mau apa lagi…tinggal masalahnya bisa rajin ngeblog gak. Bulan ini saja saya sudah bolong beberapa hari, padahal awalnya saya niatkan 1 hari 1 tulisan di blog ini. Paling jatah kosong di WordPress.com ini saya pakai untuk taruh file-file saja. Jadi di blog ini tinggal tulis link-nya…irit kan? 😀

Yang saya heran dari layanan gratisan mulai dari email (Yahoo, Gmail) & sekarang layanan blog gratisan…dari mana ya dananya? Iklan? Apa iya sih segede itu pemasukan dari iklan? Hebat ya kalau benar-benar mengandalkan iklan.

OpenSUSE 10.3 as File Server

Last week I received one PC to set up as a file server. I choose OpenSUSE 10.3 as operating system. There are 2 reasons why I choose OpenSUSE :

  1. I’ve tried it before and it was success.
  2. I thinks it’s easy to configure.

That PC is belong to my friend who has a small medium company. He needs to prepare a file server because his company growing rapidly right now. And file server is one of the several things that he must to prepare to support his business. May be next month I will help him to configure proxy and internet gateway. To play as a file server I use the Samba services in OpenSUSE. For some of you, Samba is a network protocol that provide file sharing between Unix (Linux also) operating system and Windows operating system. So that both of the operating system can change the informations over the IP network.

Here is what I was do to set a cricket PC (in Indonesian = “PC Jangkrik” / PC rakitan =)) ) as a file server :

  1. Install OpenSUSE to the PC, just easy with a nice graphical menu and sophisticated menu.
  2. In the software/package selections, I give mark in file server choice.
  3. When OpenSUSE has been installed in the PC, I create a directory called “data” with this command :
    file-server:/etc/samba # mkdir /home/data
  4. The next step is edit /etc/samba/smb.conf file so that the file contain this configurations (using root account):
    file-server:/etc/samba # more /etc/samba/smb.conf
    # Global Parameters
    workgroup = home
    netbios name = Samba
    encrypt password = yes
    
    [data]
    path = /home/data
    read only = no
    browseable = yes
    valid users = tedy, edi
  5. After that restart the samba services using this command :
    file-server:/etc/samba # /etc/init.d/smb restart
  6. The next step is add some valid user to access the Samba file server using this command :
    file-server:/etc/samba # smbpasswd -a edi
  7. I turn off the firewall using yast (I think the firewall in OpenSUSE blocked the Windows client to access Samba directory). This one is another issue to fix next time, how to enable firewall in OpenSUSE without disturb Samba services.

It was done. I check to access the server using my Windows notebook (using cross cable). First I change IP address so that my notebook has the same network IP address. To access the Samba directory, I use Run menu in Windows Start Menu and type "\\172.168.1.1\data" and it’s works. One dialog box appear, I must complete username & password verifications to enter Samba directory.

Manager IT Kebakaran Jenggot

Hari ini saya ditanya manajer saya di kantor, apa yang kamu download beberapa hari belakangan. Saya juga diminta membuat daftar server-server apa saja yang saya manage di kantor. Rupanya manager IT di kantor saya kelabakan karena membaca report bandwidth usage yang meningkat di kantor beberapa hari belakangan. Dia kirim email ke semua manager untuk menelusuri siapa yang mengakses Internet untuk mendownload file dalam kapasitas besar.

Di tulisan sebelumnya saya cerita tentang penggunaan wget untuk mendownload file. Saya pakai server Linux di kantor untuk mendownload image CDnya FreeBSD. Ada 4 CD yang saya download, dengan total sekitar 1,2GB. Untung yang diambil CDnya FreeBSD, kalau saya download “yang aneh-aneh” apa gak gempar seisi kantor? 😀

Aneh juga nih manajer IT, katanya boleh download asal di luar jam kantor. Lah saya kan download malam. Saya tinggal proses download-nya dengan wget, saya lihat log hasil download-nya dan proses download sudah selesai sekitar jam 4 pagi. Apanya yang membebani bandwidth kantor. Aya-aya wae. Memangnya kantor berlangganan internet pakai kuota seperti saya langganan Speedy, takut kehabisan kuota? 😀 Takut mengganggu aktivitas kerja? Lah siapa sih yang kerja malam-malam di kantor? Nyamuk?

Saya kan turut membantu kantor supaya resource yang ada tidak terbuang sia-sia. Ada bandwidth internet nganggur semalaman kan lebih baik dimanfaatkan, daripada terbuang percuma tidak ada yang pakai =)) <mode ngeles, cari kambing hitam ;)) > Sebenarnya judul tulisan ini kurang pas…kebakaran jenggot. Manager IT di kantor saya kan perempuan, jadi kebakaran apa ya yang pas :-p (Eh kebakaran jenggot kan sudah istilah umum kan untuk “kelabakan”?)

Kamu Punya Esia Gak?

Judul di atas adalah pertanyaan yang sering ditanyakan orang pada saya saat mau menelepon saya. Statusnya yang punya kepentingan adalah dia, bukan saya. Lantas kenapa kalau saya tidak punya Esia? Tidak jadi telepon saya…ya sudah bukan urusan saya itu. Gila, dia yang butuh kok saya yang harus punya Esia? Teman saya yang seorang pengusaha agrobisnis pun punya cerita yang sama. Rekannya yang punya kepentingan bisnis dengannya (dengan orang tuanya tepatnya) bertanya apakah ada nomor Esia yang bisa dihubungi. Ya ampun, dah jadi pengusaha besar kok masih mikirin telepon murah urusan uang ribuan rupiah.

Saya tahu Esia memang murah (meskipun sekarang operator lain pun tak kalah murahnya. Mungkin karena Esia menjadi operator pertama yang berani menawarkan tarif murah (jauh lebih murah dari kompetitornya). Akibatnya sudah kepalang banyak orang yang pakai Esia dan brand image bahwa Esia adalah telepon murah sudah demikian kuat.

Saya sendiri memilih menggunakan Telkom Flexi. Dari dulu saya tidak pernah punya keinginan untuk menggunakan Esia. Seringkali nomor Esia susah untuk dihubungi. Promo-promo yang ditawarkan (Rp50/menit lalu jadi Rp1000/jam) juga banyak bohongnya. Lah bagaimana mau jadi seribu, wong belum sampai 1 jam sudah call dropped alias putus koneksi. Saya tahu dari cerita beberapa teman pengguna Esia. Ada anekdot katanya Esia cocok untuk orang yang lagi pacaran :-p …halah….mungkin benar juga sih, biar telepon sampai kuping panas ya murah. Ya mungkin karena saya tidak pacaran juga jadi saya tidak jadi pengguna Esia =)).

Di luar kejelekannya, saya harus mengakui kehebatan Esia menjaring pasar. Orang “dipaksa” tetap bertahan dengan layanannya yang pas-pasan. Bahkan dengan cara pemasaran seperti itu, Bakrie Telecom sukses “mencuci otak” para pengguna Esia, sampai-sampai mereka selalu latah “kamu punya Esia gak?”  Dengan efek-efek tadi pun sukses memaksa seorang blogger menulis tentang Esia…ya saya ini yang sebal kalau ditanya “kamu punya Esia gak?” =)) .