Pecel, Hujan, & Macet

Apa hubungannya pecel, hujan, dan macet? Ketiganya memang tidak ada hubungannya, kecuali kalau hujan Jakarta pasti tambah macet šŸ™‚ . Ini cuma cerita tentang kegiatan saya siang ini. Siang ini saya pergi ke Serpong untuk instal sesuatu di mesin Fujitsu Primepower 1500 milik salah satu client kantor saya. Mungkin cerita tentang instalasi ini bukan hal yang menarik untuk dituliskan.

Mungkin lebih menarik kalau saya menuliskan pengalaman saya makan pecel madiun di daerah Serpong. Atas rekomendasi rekan saya, kami makan siang di rumah makan Pecel Madiun. Tempatnya di Jl. Ciater Barat Raya Rawabuntu BSD, Serpong – Tangerang.

Tempatnya asik sekali untuk duduk-duduk melepas lelah sambil makan. Dari jalan raya, tidak nampak keramaian rumah makan, keramaian pengunjung pun tidak tampak. Tahu kenapa? Karena parkiran mobilnya berada di dalam kompleks rumah makan itu. Rumah makan ini cukup luas, parkiran mobil yang cukup padat mungkin bisa dijadikan indikator bahwa rumah makan ini cukup terkenal. Kompleks ini ditanami banyak pohon, dari pohon rambutan, pohon jeruk, pohon lamtoro, dll. Tanah lapang dengan rumput tertata rapi di tengah kompleks. Kita bisa memilih dimana kita akan makan, bisa makan di bangun utama rumah makan, bisa di tengah-tengah lapangan di bawah tenda-tenda, atau di pendopo-pendopo (pendopo atau bungalow ya namanya :D) di tengah lapangan…asri sekali pemandangan di tempat ini. Ada pendopo yang dilengkapi dengan meja dan kursi, ada juga pendopo yang cuma dilengkapi dengan meja (silakan duduk lesehan). Tadi saya memilih duduk di bawah tenda, cukup teduh karena tepat di bawah pohon rambutan.

Menunya standar saja sebenarnya nasi pecel, empal daging, paru goreng, tahu/tempe bacem, dll. Harganya memang tidak mahal, sepiring nasi pecel (nasi, pecel sayur, peyek kacang) cuma Rp10.000,- (sayang nasinya terlalu sedikit šŸ™ ). Rasanya cukup enak…layak direkomendasikan. Walaupun siang ini pengunjung yang makan cukup ramai tapi suasananya tetap terasa “sepi”, cocok untuk meeting atau sekadar ngobrol sambil makan siang. Mungkin ini pengaruh dari luasnya tanah lapang sehingga suara dari pengunjung lain cepat terbawa angin,..he..he.. šŸ˜€ Tapi sayang jauh euy dari Jakarta.

Pulang dari Serpong sekitar pukul 13.00 lalu lintas tol Jakarta Merak padat apalagi mendekati Slipi…wuih, macet…..Saat sampai di Kebon Jeruk hujan mulai turun. Di radio diberitakan Jakarta dilanda hujan badai, pohon tumbang dimana-mana. Memang betul macet…begitu keluar di Tomang, Slipi menuju Semanggi benar-benar padat…belum lagi di Slipi sudah dibangun jalur busway. Tadi saya juga melihat di dekat Jakarta Design Centre ada juga pohon tumbang entah ada korban atau tidak. Mudah-mudahan tidak ada korban.

Nah begitu kira-kira ceritanya….jelas kan hubungannya sekarang antara pecel, hujan, & macet. Pulang makan pecel, kena macet gara-gara hujan =))

Meng-copy Audio CD

Di milis Detikinet kemarin ada yang menanyakan bagaimana caranya menyalin sebuah cd audio ke dalam harddisk tanpa menjadikannya sebagai file MP3. Saat saya baca email tersebut ternyata belum ada yang menanggapi, jadi saya jawab saja. Si penanya ternyata sudah pernah menggunakan Nero untuk menyalin cd audio ke cd lain, masalahnya dia tidak tahu bagaimana membuat copy-nya ke dalam harddisk. Untuk membuat copy dari sebuah cd audio (atau cd apapun), caranya adalah dengan membuat image dari cd tersebut. Nero pun sebenarnya sudah dilengkapi dengan kemampuan ini. Caranya cukup mudah, Anda tinggal mengganti recorder yang digunakan dengan Image Recorder. Lihat tampilan Nero berikut ini :

Setelah Anda memilih Burn, Nero akan meminta Anda menentukan di folder mana Anda akan menyimpan image cd yang akan dibuat. Jika Anda menggunakan Nero, image hasil akan memiliki ekstensi *.nrg. Untuk menggunakan kembali image hasil ini, Anda perlu menginstal program virtual cd emulator semacam Daemon Tools. Sebenarnya selain Nero banyak program di Windows yang bisa dipakai untuk membuat image cd, misalnya CloneCD, WinISO, Alcohol.

Di Linux (di Solaris juga pernah saya coba), caranya relatif lebih sederhana tanpa perlu tools lain lagi. Caranya dengan menggunakan perintah dd. Formatnya seperti ini :

# dd if=/dev/cdrom0 of=/home/image_cd.iso

Yang perlu diperhatikan adalah penamaan optical device (CD-ROM) yang dikenali oleh sistem operasi. Di GNU/Linux biasanya CD-ROM diberi nama /dev/cdrom0. Sementara di Solaris biasanya CD-ROM diberi nama /vol/dev/dsk/c2t0d0. Anda perlu menentukan nama dan lokasi tempat image hasilnya setelah perintah of=; jangan lupa untuk memberi ekstensi *.iso setelah nama image.

Untuk menggunakan kembali image cd yang sudah dibuat tadi caranya adalah dengan mount image cd tersebut ke suatu direktori. Hal ini cukup berbeda caranya antara GNU/Linux dan Solaris, berikut uraiannya.

Kalau Anda menggunakan GNU/Linux, caranya lebih mudah :

# sudo mount -o loop /home/image_name.iso /mount_point

Dengan cara demikian, kita seolah-olah memiliki virtual CD-ROM dengan alamat di direktori /mount_point. Untuk “mengeluarkan”/melepas virtual CD-ROM tadi caranya cukup dengan perintah :

# umount /mount_point

Di Solaris Anda langkahnya adalah :

# lofiadm -a /home/image_name.iso
# mount -F hsfs -o ro /dev/lofi/1 /mount_point

Perintah lofiadm membuat virtual device dari image cd tersebut terlebih dulu. Alamat virtual device tersebut ada di /dev/lofi/1. Angka di dalam /dev/lofi akan bertambah tiap kali kita membuat virtual device. Jadi pastikan Anda tahu berapa nomor lofi yang diatur oleh Solaris. Berbeda dengan GNU/Linux, di Solaris virtual device inilah yang akan di-mount ke dalam sistem. Untuk melepas virtual CD-ROM ini caranya adalah dengan perintah berikut :

# umount /mount_point
# lofiadm -d /dev/lofi/1

Perintah lofiadm -d berguna untuk menghapus virtual device yang sudah dibuat tadi.

Nah kurang lebih begitu caranya untuk menyalin cd audio ke dalam harddisk Anda tanpa perlu mengubahnya menjadi file MP3. Jangan lupa, ini tidak hanya untuk cd audio tapi untuk segala macam CD (selain celana dalam tentunya….. =)) ).

Body Mass Index

Setelah makan siang saya tidak sengaja membaca artikel di salah satu majalah tentang masalah kegemukan. Di situ cara menghitung BMI (body mass index). Body Mass Index biasa digunakan untuk mengukur keidealan berat badan seseorang. Rumusnya sederhana : berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (kg)….(hmm WordPress ini belum punya LaTeX jadi susah mau tulis persamaan matematika). Kalau sudah dapat angkanya, tinggal lihatĀ daftarĀ berikutĀ iniĀ :

  • < 18,5 : underweight
  • 18,6Ā –Ā 24.9Ā : normalĀ 
  • 25Ā –Ā 29.9Ā :Ā overweight
  • >Ā 30Ā : obese

Jadi penasaran langsung saya ambil ponsel, mau hitung BMI saya. Tinggi saya 160cm, berat saya 66kg jadi BMi saya 25,7. Hore saya masuk kategori overweight =)) .

Instal Ubuntu Lagi

Seminggu kemarin saya benar-benar berhenti ngeblog. Banyak ide di kepala saya tapi malas menuliskannya ke blog, padahal sudah ada beberapa topik yang saya tulis draft-nya di komputer saya. Mungkin karena sibuk sampai-sampai rasanya malas memposting dokumen saat sampai di rumah. Seminggu kemarin saya berkutat dengan banyak flowchart dan dokumen di kantor…mungkin karena ini juga saya bosan berada di depan laptop :-p .

Sabtu lalu aktivitas saya di rumah adalah menginstal ulang Ubuntu di PC saya. Entah ini sudah jadi instalasi keberapa selama saya mengenal Ubuntu šŸ˜€ . Saya memang cepat bosan, jadi sedikit-sedikit instal ulang. Tidak hanya instal ulang Windows, sekarang juga setelah jadi pengguna GNU/Linux saya pun sering menginstal ulang walau frekuensinya jauh lebih jarang dibandingkan waktu saya menggunakan Windows. Rasanya “segar” sekali PC saya setelah Ubuntunya diinstal ulang…(gila gak sih saya :)) ) Mula-mula saya pindahkan dulu semua data ke dalam harddisk external, baru kemudian saya instal ulang Ubuntunya.

Padahal rencananya saya akan instal ulang PC setelah dapat CD Ubuntu 7.10 tapi belum dapat juga sih. Jadi sementara saya instal ulang saja dengan Ubuntu 7.04. Hmm… lihat deh screenshot desktop saya sekarang :

ubuntu reinstall

Selain bosanan, saya juga mungkin bisa dikategorikan “distro freak“, selalu ingin mencoba menggunakan distro Linux yang baru saya kenal. Jangan heran kalau notebook saya berulang kali diinstal berbagai macam distro Linux. Walaupun sebenarnya saya tahu ujung-ujungnya ya begitu-begitu saja desktopnya tapi bagi saya ini adalah hiburan yang menyenangkan. Untuk hobi saya yang satu ini sebenarnya saya bisa saja menggunakan VMWare untuk mencoba-coba berbagai distro. Tapi saya kurang sreg saja menggunakan tools yang satu ini. Saya lebih senang menyediakan sebuah partisi kosong di harddisk notebook untuk jadi tempat testing macam-macam distro.

Rata-rata yang saya coba adalah distro yang menyediakan menu grafis untuk instalasinya. Begitu-begitu saja sih instalasinya, tinggal Next, Next, setting ini itu, Next lagi, instal dan Finish. Ada satu distro yang belum saya coba yang katanya susah dan ribet untuk diinstal…Gentoo. Nanti lah kalau ada waktu senggang panjang saya coba, itu pun kalau sudah dapat source-nya.

Calibri di Ubuntu Linux

Microsoft Windows Vista sekarang punya beberapa font baru yang dijadikan default font-nya. Dua yang paling gampang saya ingat adalah Calibri dan Cambria. Calibri adalah jenis sans serif (font yang tidak punya kait) sementara Cambria adalah jenis font serif (dengan kait).

Tadi iseng mencari di Google bagaimana cara menginstal kedua macam font baru Windows Vista tersebut ke dalam GNU/Linux. Pas sekali saya menemukan link yang tepat, lihat di sini. Nah berikut ini adalah rangkuman langkah-langkah instalasinya di Ubuntu saya :

  1. Download dulu file PowerPointViewer.exe dari webnya Microsoft (di sini) untuk mendapat source font Calibri dkk.
  2. Instal package cabextract untuk membaca file *.cab (cabinet file Microsoft). Caranya dengan perintah :
    # sudo apt-get install cabextract
  3. Jalankan cabextract pada file PowerPointViewer.exe yang sudah didapat. Perintahnya adalah :
    # cabextract PowerPointViewer.exe
    # cabextract ppviewer.cab
  4. Dari perintah sebelumnya kita sudah bisa mendapat beberapa source font berupa file dengan ekstensi TTF. Pindahkan semua file tersebut ke dalam /usr/share/fonts/TTF dengan perintah berikut :
    # sudo mkdir /usr/share/fonts/TTF
    # sudo cp *TTF /usr/share/fonts/TTF
  5. Lalu jalankan perintah-perintah berikut ini :
    # sudo xset fp+ /usr/share/fonts/TTF
    # sudo xset fp rehash
    # sudo mkfontdir
    # sudo mkfontscale
    # sudo fc-cache -f -vv

Nah gampang kan….sekarang saya bisa membuka dokumen yang dibuat dengan Microsoft Office 2007 dengan Ubuntu saya tanpa harus kehilangan font-font terbarunya Microsoft tadi.