Tiga Novel Bulan Ini

Selama bulan Maret ini saya membaca 3 buah novel. Semua sudah selesai saya baca sepanjang bulan ini. Ketiga buku novel tersebut adalah :

  1. God’s Spy
  2. Gajah Mada : Perang Bubat
  3. Gajah Mada : Madakaripura Hamukti Moksa

Awalnya ketiga buku ini saya beli untuk bekal perjalanan ke Jerman awal bulan ini. Saya yang lebih senang menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca, merasa perlu membawa buku banyak sebelum berangkat ke Jerman. Saya tahu bakal ada banyak perjalanan panjang selama training awal Maret kemarin makanya belanja buku di Gramedia jadi hal wajib yang perlu dilakukan. Nyatanya hanya 2 buku yang dapat saya selesaikan baca di Jerman.

Buku pertama yang saya baca adalah God’s Spy. Saya baca novel ini selama 1 minggu. Kemudian saya beralih ke buku Gajah Mada : Perang Bubat. Buku ini baru saya selesaikan baca selama penerbangan pulang ke Indonesia. Setelah menyelesaikan membaca Perang Bubat, saya lanjut membaca buku ketiga Gajah Mada : Madakaripura Hamukti Moksa. Buku ini tidak dapat saya selesaikan sebelum sampai ke Indonesia. Buku ketiga ini baru selesai kemarin. Di Jakarta, beberapa hari ini saya hanya membaca novel selama perjalanan di mobil (entah itu mobil kantor atau di dalam taksi). Buku ketiga paling lama saya baca, sempat juga saya bawa ke Palembang dan Batam tapi tidak banyak saya baca (banyak tidur di pesawat). Saya selesaikan kemarin di mobil saat pergi ke client.

Berikut adalah review singkat tentang ketiga buku novel tersebut :

  1. God’s Spy
    Seperti ini gambar sampul depan novel terjemahan ini :

    God’s Spy (GS) ini bercerita tentang pembunuhan berantai yang memakan korban beberapa petinggi gereja Katolik Roma. Berlatar belakang kejadian seputar kematian Paus Yohanes Paulus II, tokoh utama dalam novel ini Paola Dicanti harus bekerja kerasa menemukan pelaku pembunuhan berantai yang berusaha menggagalkan konklaf (acara pemilihan Paus baru). Paola adalah seorang ahli psikologi kriminalitas. Paska wafatnya pemimpin tertinggi umat Katolik (Yohanus Paulus II), beberapa kardinal yang akan menghadiri konklaf mati terbunuh secara mengenaskan. Tubuhnya dicabik-cabik dengan kejam, pembunuhnya pun selalu meninggalkan pesan-pesan aneh.

    Kuat dugaan bahwa tersangka pelaku pembunuhan adalah pastor gereja Katolik yang sakit jiwa. Tersangkanya adalah Victor Karosky. Dia adalah seorang pastor dari Amerika yang terlibat skandal penyimpangan perilaku seksual. Dia diduga dan terbukti melakukan beberapa aksi sodomi kepada beberapa orang pemuda gereja. Menyambung hal ini, cerita juga membahas tentang adanya sebuah lembaga pemulihan yang didirikan di Amerika oleh gereja Katolik untuk merehabilitasi para pastornya yang mengalami penyimpangan seksual. Buku ini dengan sangat “berani” menggambarkan bagian-bagian buruk dalam gereja Katolik Roma. Bagaimana seorang pastor yang telah melakukan sodomi pada anak laki-laki yang bertugas sebagai Putra Altar, bagaimana gereja Katolik mencoba membungkam kasus-kasus semacam itu dengan dalih menjaga kekudusan nama gereja.

    Cerita ini mengambil Roma dan Vatikan sebagai latar belakang. Vatikan yang merupakan negara kota dibahas tuntas detil lokasinya di dalam novel ini. Tokoh utama Paola Dicanti dibantu oleh seorang pastor militer dari Amerika yaitu Anthony Fowler dalam memecahkan kasus ini. Mereka berkejaran dengan si pembunuh. Banyak korban yang sudah jatuh selama pengejaran, termasuk inspektur polisi rekan kerja Paola sendiri. Mereka harus bisa menemukan si pembunuh sebelum konklaf digelar untuk memilih Paus yang baru. Cerita yang menegangkan dan sangat menarik bagi saya.

  2. Gajah Mada – Perang Bubat
    Berikut adalah gambar sampul depan buku novel karya Langit Kresna Hariadi ini :


    Buku ini adalah buku novel keempat dalam seri Gajah Mada karangan Langit Kresna Hariadi. Cerita yang diangkat dalam episode kali ini adalah latar belakang masalah yang memicu terjadinya Perang Bubat antara bala tentara kerajaan Majapahit melawan tentara kerajaan Sunda Galuh. Pada buku ini diceritakan yang memegang tampuk pemerintahan Majapahit adalah Hayam Wuruk, patih Majapahit masih dipegang oleh Sang Legenda Gajah Mada. Gajah Mada yang sudah mengucapkan Sumpah Palapa masih penasaran karena masih ada 1 negara yang belum berada dalam kekuasaan Majapahit. Adalah kerajaan Sunda Galuh di bagian barat pulau Jawa yang belum tunduk pada kekuasaan Majapahit, padahal pada saat itu hampir semua negara di Nusantara sudah tunduk dalam kekuasaan Majapahit.Diceritakan Hayam Wuruk yang sudah beranjak dewasa ingin mencari permaisuri, sudah banyak calon yang ditawarkan belum menyentuh hati Hayam Wuruk. Ironisnya di saat Gajah Mada bernafsu ingin segera menaklukan Sunda Galuh, Hayam Wuruk malah jatuh cinta pada putri Prabu Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka. Konon Dyah Pitaloka digambarkan sangat cantik. Dua kepentingan besar bertikai di dalam kerajaan Majapahit; ada kubu yang mendukung Mahapatih Gajah Mada untuk segera menggilas Sunda Galuh, ada pula kubu yang menginginkan Sunda Galuh bisa ditaklukan secara halus dengan pernikahan Hayam Wuruk dengan putri pertama Prabu Sunda Galuh. Singkat cerita lamaran pun dikirimkan dari Majapahit ke Sunda Galuh.

    Tidak mudah bagi Sang Prabu Sunda Galuh untuk menerima lamaran dari Majapahit. Menerima lamaran Majapahit sama saja dengan menyerah terjajah di bawah kekuasaan Majapahit. Untuk menyelamatkan harga diri kerajaan Sunda Galuh, Sang Prabu rela turun dari tahkta dan mengangat putrinya menjadi ratu memimpin kerajaan Sunda Galuh. Diharapkan dengan naiknya Dyah Pitaloka sebagai ratu, perkawinannya dengan Hayam Wuruk akan mencegah Sunda Galuh menjadi negara terjajah melainkan akan membawa Sunda Galuh sejajar dengan Majapahit. Kisah bertambah makin rumit ketika ternyata Dyah Pitaloka sudah memiliki kekasih gelap. Demi negaranya, Dyah Pitaloka menerima lamaran Hayam Wuruk.

    Rombongan Sunda Galuh berangkat ke Majapahit memenuhi undangan untuk menggelar pesta pernikahan di Majapahit. Adanya pihak-pihak kecil yang ingin mengail di air keruh dalam kerajaan Majapahit, kedatangan rombongan dari Sunda Galuh malah berujung petaka. Ada pihak yang mengadu domba bala tentara Majapahit dengan rombongan Sunda Galuh. Pihak Majapahit diberi kabar bohong bahwa kedatangan rombongan Sunda Galuh akan datang mundur dari jadwal semula. Akibatnya tidak ada penyambutan sama sekali saat rombongan Sunda Galuh datang. Inilah yang memicu perang di lapangan Bubat antara bala tentara Majapahit melawan rombongan Sunda Galuh. Semua orang dalam rombongan tersebut habis terbantai, termasuk mantan Prabu, permaisurinya, dan juga calon mempelai Dyah Pitaloka.Dyah Pitaloka memilih bunuh diri. Pihak yang mengadu domba mengatasnamakan Gajah Mada sebagai pencetus ide pembantaian ini. Padahal saat itu Gajah Mada sedang bermeditasi selama beberapa hari sehingga tidak tahu sama sekali tentang pembantaian di lapangan Bubat.

  3. Gajah Mada – Madakaripura Hamukti Moksa
    Berikut adalah gambar sampul depan buku novel karya Langit Kresna Hariadi ini :


    Novel ini menceritakan kejadian-kejadian paska Perang Bubat. Hayam Wuruk dan para kerabat istana yang begitu terpukul dengan terjadinya Perang Bubat menyalahkan Gajah Mada. Gajah Mada dianggap sebagai pihak yang paling berpengaruh atas terjadinya Perang Bubat. Perlu diketahui bahwa leluhur Majapahit masih ada hubungan kekerabatan dengan orang-orang Sunda Galuh, sehingga perasaan persaudaraan itu pun makin menyulut api kebencian kepada Gajah Mada. Pelik masalah yang dihadapi Gajah Mada, hasil kerja kerasnya mengembangkan Majapahit menjadi negara besar dengan banyak negara bawahan menjadi sia-sia. Hayam Wuruk memutuskan untuk mencopot Gajah Mada dari jabatan Mahapatih. Secara hukum yang berlaku di Majapahit, harusnya Gajah Mada dihukum gantung atas kesalahan yang telah dilakukannya. Tapi jasa-jasa Gajah Mada membangun Majapahit menjadi negara besar membuatnya lepas dari tali gantungan. Gajah Mada memilih untuk mengasingkan diri jauh dari kotaraja Majapahit.Paralel dengan kisah penyepian Gajah Mada, terjadi juga ketegangan dalam pasukan khusus Bhayangkara. Pasukan khusus ini mengidentifikasi adanya niatan balas dendam dari Sunda Galuh. Tidak jelas bagaimana cara orang-orang Sunda Galuh akan membalas dendam. Sebab tidaklah mungkin Sunda Galuh menyerbu Majapahit, ibarat semut melawan gajah kalau sampai mereka nekat. Cara yang paling mungkin adalah melakukan gerilya atau mengirim mata-mata untuk membunuh petinggi Majapahit. Sasaran utama niat balas dendam Sunda Galuh adalah Gajah Mada. Tapi karena Gajah Mada sudah pergi meninggalkan Majapahit, sasaran berikut yang paling mungkin menjadi target Sunda Galuh adalah Sang Prabu Hayam Wuruk.

    Kosongnya jabatan Mahapatih sepeninggal Gajah Mada mengakibatkan terancamnya keutuhan dan kesatuan negara-negara bawahan Majapahit. Tidak ada lagi tokoh yang ditakuti sehingga banyak negara kecil bawahan Majapahit mulai berulah. Beberapa daerah sudah tidak mau lagi datang memberi upeti, ancaman pemberontakan mulai muncul di beberapa tempat. Hal inilah juga yang mulai dikhawatirkan oleh para petinggi militer Majapahit, termasuk para mantan anggota Bhayangkara. Mereka bersepakat untuk mengusulkan pada Hayam Wuruk untuk memanggil kembali Gajah Mada memangku kembali jabatan Mahapatih.

    Ironis sekali akhir kisah novel ini, penyusup yang berniat membunuh Gajah Mada ternyata menggunakan cara yang paling halus sedunia. Orang-orang Sunda Galuh yang menyamar menjadi rombongan pertunjukan seni tayub memanfaatkan salah satu anggota pasukan Bhayangkara. Tokoh Gajah Sagara, anak dari Gajah Enggon (Bhayangkara senior seangkatan Gajah Mada), yang di akhir cerita malah berniat membunuh Gajah Mada. Gajah Sagara mengawini salah seorang penari tayub yang ternyata adalah penyusup dari Sunda Galuh. Rupanya bujuk rayu dari istrinya yang mendorong Gajah Sagara membunuh Gajah Mada. Di akhir cerita diketahui ternyata istri Gajah Sagara adalah mantan emban/pembantu Dyah Pitaloka, putri Sunda Galuh yang mati saat Perang Bubat. Sial baginya penjagaan pasukan Bhayangkara yang begitu ketat mengagalkan aksinya, dia pun harus tewas mengenaskan.

    Ironis karena sebelum menikahi penari tayub tadi, Gajah Sagara dan pasukan Bhayangkara sudah mencurigai rombongan tayub tadi sebagai penyusup dari Sunda Galuh. Penyelidikan yang tidak kunjung membuahkan hasil membuat Gajah Sagara terlena dan malah memperistri salah satu penari tayub (karena merasa dia bukan lagi ancaman penyusup). Kisah ini berakhir dengan kematian Gajah Mada yang entah kemana jasadnya, hilang/moksa dibawa angin lesus.

Hmm..menulis review 3 buku ini sungguh menguras energi 😀 . Saatnya membeli novel lain lagi, buat bekal bacaan di perjalanan.

10 thoughts on “Tiga Novel Bulan Ini

  1. @ Fendi : God’s Spy itu fiksi, di Gramedia Rp 56500,-. Gajah Mada Perang Bubat harganya Rp68700,-; Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa harganya Rp79900,-

  2. hhmm….skandal,konspirasi,historis, kayaknya novelnya yang bakal lu beli gak jauh-jauh dari itu 😀

    ./me, masih belum baca-baca buku baru lagi (belum beli-red), lagi nunggu “mesin kecil” yang bisa dibawa jalan-jalan sambil baca koleksi e-book gw 😀

  3. @ jesie : iya gua seneng sih cerita-cerita model begitu Jes 😀
    halah ntar dah punya eeePC sih kayanya u gak akan baca ebook…palingan ngeblog :))

  4. #5 ralat

    baru aja semalam beliin istri buku Laskar Pelangi Andrea Hirata…but kayaknya gw malah gak bakalan baca, gara-gara pernah baca kritikan tentang karya AH…mudah2an pikiran gw masih terbuka 😀

  5. novel gajah mada 4 dan 5 bisa di pinjem tidak pak…\
    mau beli tidak punya duit….(maklum)
    saya sudah selesai baca gajah mada 1,2,dan 3 lagi nyari ebooknya gajah mada 4 perang bubat dan gajah mada 5 madakaripura moksa…
    kalau bisa trimakasih sekali …nanti ongkos kirimnya saya ganti….

Leave a Reply