Makassar (part 8) – Saung Sunda

Ah akhirnya pulang juga ke Jakarta. Tadi saya pulang dengan penerbangan Garuda terakhir jam 18.40. Ngomongin pulang ke Jakarta kok judulnya Saung Sunda?

Terus gambarnya juga kok gambar makanan? Hmm…sebenarnya saya mau tulis tentang warung kecil di seberang Telkomsel Panakukang Makassar. Warung itu namanya Saung Sunda. Beberapa hari bekerja di Telkomsel, saya jadi sering makan siang di sana. Menunya terbatas, gak jauh-jauh dari tipikal masakan Sunda : nasi timbel. Yang enak tuh ati ampela goreng & tempe bacemnya…lebih enak lagi sambalnya. Mantap sambalnya apalagi kalau dicampur dengan kecap. Ayam bakarnya malah gak enak. Dibakarnya bohong-bohongan, tidak pakai bara api…tapi cuma dipanaskan di atas pelat yang ditaruh di atas kompor gas. Saung Sunda ini tempatnya kecil, 7 orang masuk ke dalam warung sudah pasti sempit. Makanan di sana murah juga loh, makanan di atas plus Fanta cuma Rp13.000,-

Tadi siang saya mampir lagi ke sana sekitar pukul 2.30. Makan siang yang terlambat dan masih pakai mode katrok, jauh-jauh ke Makassar makannya makanan Sunda :)) Eh tapi masakan Sunda, rumah makan Padang, dan warung Lamongan memang tempat-tempat makan yang sama-sama merakyat, di mana-mana di Indonesia mudah kita jumpai (fenomena unik kan?). Jam 4 saya berangkat ke bandara Hasanuddin, seperti biasa lalu lintas Makassar semrawut membuat perjalanan terasa lama. Sebelum jam 5 sore saya sudah sampai di bandara…masih lama sampai waktu boarding. Jadi baca “Laskar Pelangi” deh.

2 thoughts on “Makassar (part 8) – Saung Sunda

Leave a Reply