Biliar di Hasyim Ashyari

Semalam saya pergi main biliar di Kemakmuran Biliar. Tempatnya di Jalan Hasyim Asyari (entah mana yang benar penulisannya Hasyim Asyari atau Hasyim Ashari?) . Baru pertama kali saya main di tempat ini. Itu juga atas ajakan beberapa rekan Indo Bilyar (tepatnya atas ajakan Ferry “bos cue” Danuarta). Biasanya kami main di Batavia Sport (jalan Panjang). Berhubung ingin mencari suasana baru, kami pindahan sementara main di Kemakmuran.

Yang spesial dari tempat ini adalah mejanya yang bagus, kain laken mejanya super licin, dan ban pinggir meja benar-benar berfungsi. Perlu sedikit penyesuaian bermain di meja yang licin seperti ini. Kelebihan tenaga bisa membuat bola menggelinding jauh tidak seperti yang diinginkan. Selain itu lubang di meja ini relatif lebih kecil, cocok sekali untuk latihan biliar.

Yang kurang spesial dari tempat ini adalah akustik ruangan yang kurang bagus. Keramaian orang di sekitar 12 meja tidak teredam dengan baik. Suasana jadi terasa hingar bingar. Orang auditori seperti saya cukup terganggu dengan suasana ramai seperti ini. Tapi setelah jam 12, ketika pengunjung lain satu per satu pulang, musik berubah jadi menyenangkan bagi saya. Yang diputar lagu-lagu jazzy..ada Michael Bubble 🙂 Yang senang main biliar di tempat bermusik kencang (macam di Roxy Pool House) pasti kurang senang karena katanya lagu jazzy bikin ngantuk.

Oh ya saya baru tahu ternyata dulunya jalan Hasyim Asyari itu bernama jalan Kemakmuran. Pantas tempat ini disebut orang sebagai KONI Kemakmuran. Katanya di tempat ini juga ada tempat khusus untuk Pelatnas biliar. Namun setelah POBSI pindah ke Senayan tempat ini jadi tidak terlalu difungsikan sebagai Pelatnas. Tempatnya kalau tidak salah dekat Gereja Bunda Hati Kudus. Tempat ini juga tidak terlalu jauh dari pertigaan jalan Gajah Mada.

Semalam saya dan rekan-rekan berhenti main dan pulang ketika jam sudah menunjukkan setengah 3 pagi 🙂 Tapi masih banyak juga orang yang bermain di sana (sepertinya anggota klub biliar yang ada di sana). Konon yang sering main di Kemakmuran Biliar itu, banyak juga yang sering main sampai pagi..sampai tukang bubur di depan mulai berjualan =)) Gila…pantas jago-jago mainnya, semalam suntuk latihan…

Kiriman CD

Kemarin saya menerima kiriman CD Ubuntu 7.10 yang saya pesan lewat http://shipit.ubuntu.com. Ada CD Ubuntu 7.10 for PC dan Ubuntu 7.10 for 64bit PC, plus stiker-stiker Ubuntu. Ini kali ketiga saya mendapat kiriman CD Ubuntu.

Saya baru mencoba menjalankan Live CDnya saja. Mau menginstal Ubuntu 7.10 ini sayang belum punya DVD repositorinya. Entah apakah DVD repository Ubuntu 7.04bisa dipakai juga dengan 7.10…rasa-rasanya sih tidak bisa. Ada yang bisa bantu saya bagaimana memanfaatkan DVD repositori Ubuntu 7.04 untuk diinstal di Ubuntu 7.10? Karena pasti DVD repositori Ubuntu 7.10 pasti memiliki paket-paket yang ada sudah ada di dalam DVD repositori versi 7.04nya.

Fitur yang saya lihat baru ada di Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon ini adalah pengenalan yang baik terhadap partisi berformat NTFS. Dulu saya selalu menginstal paket ntfs-3g setelah menginstal Ubuntu 7.04 supaya partisi Windows dan USB flash drive saya dikenali dan bisa ditulisi (read write mode). Ubuntu 7.04 secara default hanya mengijinkan mode read only untuk partisi-partisi berformat NTFS. Namun yang masih saya sayangkan dari Ubuntu adalah keengganan para pengembangnya untuk memasukkan codec untuk file-file multimedia seperti MP3, MPEG, AVI, dll. Terbentur masalah hak kekayaan intelektual? Atau malas dianggap sebagai pembajak…mengingat banyak sekali MP3 bertebaran di Internat adalah hasil bajakan dari CD musik original?

Tiga minggu yang lalu saya juga mendapat kiriman DVD OpenSolaris. Ini pun baru saya coba versi Live CDnya saja. Berat rasanya menjalankan OpenSolaris di PC pribadi saya.Belum ada keinginan untuk menginstal OpenSolaris secara permanen ke dalam komputer. Enak juga mendapat kiriman-kiriman macam ini 🙂 Gratis…

Ambulans vs. Macet

Kemarin sore saat pulang kantor saya lewat di samping hotel Shangrila. Di tengah-tengah kemacetan jalan menuju Pejompongan, ada ambulans di tengah kemacetan jalan. Sirine ambulans itu terus meraung-raung. Tepat di samping pintu masuk Shangrila hotel, ambulans tadi tak berkutik melawan antrian kendaraan yang memang tiap sore memacetkan jalan…eh tahukah Anda kalau jalan di samping hotel Shangrila ternyata bernama Jalan Jendral Sudirman juga. Gara-gara mau menulis postingan ini saya mencari tahu dulu lewat Google 🙂

Melihat ambulans itu terjebat di tengah kemacetan, pikiran saya jadi mereka-reka siapa yang dibawa di dalam mobil ambulans itu. Apa jadinya kalau yang dibawa dalam mobil ambulans itu orang yang sedang sekarat butuh di bawa secepatnya ke rumah sakit. Gila kan? Bisakah Anda bayangkan kalau orang yang dibawa oleh ambulans itu adalah korban kecelakaan yang butuh dibawa ke rumah sakit secepatnya? Atau orang yang baru terkena serangan jantung dan berkejaran dengan waktu untuk memperoleh pertolongan medis secepatnya? Bisa-bisa “lewat” nyawanya kalau perjalanan mobil ambulans dihadang kemacetan Jakarta yang makin menggila.

Selain ambulans saya juga pernah melihat mobil pemadam kebakaran yang terhadang kemacetan di dekat pasar Tanah Abang. Ini juga ironis. Perjalanan mobil pemadam yang harusnya sesegera mungkin tiba di lokasi kebakaran malah jadi lama perjalanannya.Terjebak di tengah kemacetan sambil tak bisa berbuat apa-apa. Jangan heran kalau mendengar berita kebakaran di Jakarta pasti pemadam kebakaran datang terlambat. Apalagi kalau lokasi kebakaran berada di daerah padat penduduk yang akses jalannya sempit, macet.

Bagi ambulans dan pemadam kebakaran yang dilengkapi sirine, di Jakarta sepertinya sirine tidak berfungsi. Tapi ada juga kemungkinan unsur iseng dari pengemudi mobil maupun pemadam kebakaran. Mereka mungkin saja tidak dalam tugas dan iseng membunyikan sirine berharap supaya diberi kemudahan akses jalan cari kesempatan di tengah kesempitan gitu lah…:-p .Sirine yang seharusnya bisa menjadi sinyal pembuka jalan, meminta pengguna jalan lain mengalah juga tidak ada artinya. Tidak menutup kemungkinan ada pengguna jalan lainnya ada yang tergerak hatinya untuk memberi jalan bagi mereka, tapi apa mau di kata mereka sendiri terjebak di tengah kemacetan…mau beringsut ke mana? Ke atas?

Kira-kira bagaimana ya solusi yang tepat untuk kondisi di atas? Menyediakan jalur darurat untuk kendaraan semacam ambulans dan pemadam kebakaran? Ah sepertinya tidak akan berguna. Lihat saja di jalan tol dalam kota Jakarta, jalur paling kiri katanya dipakai untuk keadaan darurat. Jalur paling kiri (bahu jalan) katanya dipakai untuk mobil derek atau jalur bagi petugas Jasa Marga bila ada keadaan darurat. Faktanya? Dipakai juga oleh pengguna jalan tol.

Mungkin solusi yang paling bagus adalah mengganti mobil ambulans dan mobil pemadan kebakaran dengan helikopter =)) Dijamin bebas macet kan. Eh tunggu dulu..kalau mobil pemadan kebakaran diganti dengan helikopter dimana mendaratnya kalau tempat kebakarannya pemukiman padat penduduk? 🙁 Susah juga ya…ya sudah lah serahkan saja pada ahlinya ;))