Standby Surabaya (part 4) – Toshiba Portege M600

Ini tulisan yang belum sempat saya publikasikan dari beberapa minggu lalu. Menyambung tulisan tentang Masalah Instalasi Windows XP, saya mengalami kejadian yang serupa saat mencoba menginstal Windows XP di notebook Toshiba Portege M600. Tanggal 9 September lalu, saya dimintai tolong oleh Pak Win (rekan kos saya) untuk mengganti Windows Vista yang sudah terinstal di Portege M600nya. Pak Win juga mengalami kesulitan menggunakan Windows Vista, katanya lebih familiar dengan Windows XP.

Ketika saya coba boot notebook dengan CD instalasi Windows XP, muncul pesan error “Setup did not find any hard disk drives installed in your computer”. Sama seperti error yang muncul saat saya menginstal Windows XP di Lenovo 3000 N200 dan Fujitsu Lifebook S6410 (silakan baca tulisan saya sebelumnya supaya lebih jelas). Di dua tipe notebook itu saya harus mematikan fitur AHCI (SATA Compatibility), makanya saya tenang-tenang saja menghadapi error begini. Eh ternyata Toshiba Portege M600 ini tidak menyediakan pengaturan AHCI di BIOS-nya.

Langsung tanya Google tentang masalah instalasi Windows XP di Portege M600. Untung sudah banyak yang menulis tentang topik ini. Saya pilih salah satu tulisan untuk diikuti langkah-langkahnya, tulisan ini berasal dari blog http://amphie09.blogspot.com. Singkatnya saya harus menyusupkan driver SATA ke dalam CD instalasi Windows XP…bahasa kerennya “remastering CD” 😀 . Seperti yang saya baca di blog tadi, saya download dulu program nLite untuk mengubah CD instalasi Windows XP. Saya download juga driver SATA di sini. Proses berikutnya tidak terlalu susah, nLite cukup mudah digunakan. Hasilnya adalah sebuah image CD Windows XP. Lalu saya burn file image itu ke sebuah CD. Nah CD inilah yang akhirnya bisa saya gunakan untuk menginstal XP di Portege M600 ini.

Aneh juga mengapa Toshiba tidak menambahkan pengaturan SATA controller di BIOS notebook-nya. Apakah Toshiba yakin semua orang akan menggunakan Windows Vista yang sudah pre-installed di dalam notebook-nya.

Standby Surabaya (part 3) – Temennya Mana?

Liburan gratis kali ini di Surabaya, sudah saya niatkan untuk main biliar sepuasnya. Seperti sekarang ini, saya masih duduk-duduk di Posh Pool & Lounge. Tempat biliar ini selalu jadi tempat favorit saya di Surabaya. Pernah saya tulis reviewnya di blog ini. Tadi malam juga saya datang ke sini.


Tiap kali datang ke sini sendiri, hampir semua petugas yang ketemu saya pasti bertanya “Temennya mana? Kok main sendiri?” Bosan juga ditanya seperti itu. Namanya juga mau latihan, sadar diri main masih jelek jadi harus banyak-banyak latihan sendiri kan?

Eh di sini ada hotspot gratis loh 😀 Selesai latihan, coba browsing dulu sekalian ngeblog.

*** Updated 5 Oktober 2008 : insert the photo ***

Standby Surabaya (part 2) – Hotel Singgasana Surabaya

Sore tadi saya tiba di bandara Juanda Surabaya pukul 14.30. Lama menunggu bagasi saya keluar membuat saya baru meninggalkan bandara pukul 3 lebih 5 menit. Dari bandara saya naik taksi menuju hotel Singgasana yang ada di Jalan Gunung Sari. Surabaya sore ini cuacanya benar-benar cerah, cenderung terik malah. Saya sudah dipesankan hotel selama 11 hari ke depan. Hotel Singgasana ini masih 1 grup dengan hotel Singgasana Makassar. Tapi hotel Singgasana Surabaya ini konsepnya berbeda dengan yang ada di Makassar. Di Surabaya, hotel Singgasana berkonsep back to nature. Nuansanya kok jadi seperti di hotel Safari Garden Puncakeh tapi hotel ini menurut saya lebih bagus daripada Safari Garden.

Lobi hotel ini luas dengan nuansa budaya Jawa yang kuat. Seperangkat gamelan diletakan di dekat meja resepsionis, entah cuma pajangan atau sesekali dipakai untuk bermusik. Konsep budaya Jawa lainnya yang nampak adalah ukiran-ukiran di atap, oh ya atapnya bebentuk joglo dengan kayu-kayu kerangka atap yang dibiarkan terlihat. Lobi hotel Singgasana ini hampir seluruhnya bernuansa coklat karena banyak penggunaan kayu, mulai dari kerangka atap, kayu pelapis tembok (eh atau memang tidak ada temboknya ya 😀 ). First short impression for me : nice & comfort hotel.

Selesai check-in saya langsung diantar oleh bellboy ke kamar. Kamar-kamar hotel ini dibangun dengan konsep bungalow/cottage dikelilingi taman yang kelihatan menghijau di mana-mana. Di tengah-tengah taman ada kolam renang yang kelihatannya cukup besar. Karena saya tidak bisa berenang, fasilitas kolam renang tersebut tidak menarik perhatian saya 😀 Karena semua kamar berada di lantai 1 (sepertinya tidak ada kamar berlantai 2), dapat dipastikan hotel ini menempati lahan yang cukup luas. Jarak dari lobi menuju kamar saya cukup jauh. Mungkin karena nuansa hijau, campur gemericik air dari air mancur buatan membuat saya tidak terlalu mempermasalahkan jarak yang cukup jauh dari lobi ke kamar. Tiap bangunan terdiri atas 4 kamar terpisah. Kalau dilihat dari jauh, tiap bangunan seolah-oleh memiliki atap sendiri-sendiri.

Masuk ke kamar saya cukup puas melihat sepintas kondisi kamar. Seolah-olah ada ruangan lain di dalam kamar. Begitu masuk kamar, di sebelah kanan ada kusen pintu (tidak ada daun pintunya) saya pikir itu adalah kamar mandinya. Ternyata kalau kita masuk situ ada pintu kamar mandi. Nah ruangan di antara kusen tak berpintu dan pintu kamar mandi, diletakan wastafel. Itu sepintas tentang ruangan di sisi kanan. Dari pintu utama kamar, kalau kita bergerak lurus baru ada ruangan utama kamar. Ruangan itu juga seolah-oleh berpintu lagi, padahal cuma kusen doank. Nah di dalamnya lantainya berlapis parket (lapisan kayu). Beda dengan ruangan wastafel dan kamar mandi yang menggunakan keramik. Ruangan kamar terlihat luas, ada 4 barang yang mendominasi ruangan : sebuah kursi malas dari rotan plus meja bundar kecil, meja tulis plus kursi rotan juga, rak tv, dan tentu saja spring bed-nya. Di tengah ruangan diletakan sebuah permadani (permadani atau sajadah ya…tapi kalau sajadah kok gede banget). Jendela kamarnya besar-besar, langsung menghadap ke taman. Cahaya matahari sore tadi masuk lewat jendela-jendela tadi. Susah juga mendeskripsikan kamarnya, lihat komiknya saja ya :

Di hotel ini ada fasilitas internet. Tiap hari tamu bisa memperoleh voucher internet gratis selama 1 jam. Kalau ingin berinternet lebih lama, kita bisa membeli voucher internet seharga Rp30.000,-/2 jam. Jangkauan sinyal wifi cukup kuat di kamar saya, walupun katanya sinyal paling bagus di lobi dan di dekat kolam renang. Televisnya pun dilengkapi dengan siaran tv kabel yang lengkap. Tidak seperti di hotel Singgasana Makassar, minibar kamar ini lengkap isinya 🙂

Kelemahan yang saya rasa ada di kamar mandinya. Selang shower air pendek sekali, tidak bisa digantungkan di atas (padahal di atas ada gantungan shower). Jadi kalau mandi mau tidak mau 1 tangan harus memegang shower-nya. Kelemahan lain letak hotel Singgasana cukup jauh dari pusat kota Surabaya. Ah kalau ini sih tidak terlalu menjadi soal buat saya, toh bisa telepon pesan taksi. Oh ya…di hotel ini juga ada pangkalan taksi Blue Bird jadi tidak usah telepon, tinggal minta dipanggilkan saja oleh door man di lobi.

Hmm..overall saya bisa bilang hotel ini nyaman, highly recommended. Soal makan di hotel ini akan saya bahas dalam tulisan terpisah.