Beberapa hari lalu saya lihat di sebuah gedung perkantoran di Senayan, seorang Bapak terburu-buru masuk lift. Dia hampir menabrak seseorang yang akan keluar lift. Orang yang hampir ditabraknya sepertinya orang Jepang, saya bisa menebak karena gara-gara hampir tertabrak dia mengomel-omel kecil dalam bahasa Jepang. Bukan berarti saya ngerti apa yang diomelkannya, tapi saya mencoba mengira-ngira dari mimik muka dan lirikannya yang kesal (pada si Bapak yang hampir menabraknya). Saya pun mungkin akan kesal bisa ada di situasi seperti itu.
Sering saya memperhatikan tidak sedikit orang yang terburu-buru masuk ke dalam lift sesaat setelah pintu lift membuka. Tidak menjadi soal kalau liftnya memang kosong. Tapi rasanya kurang pas bila ada orang di dalam lift yang hendak keluar di lantai tersebut. Saya sendiri biasanya akan menunggu sampai semua orang yang keluar dari dalam lift, baru kemudian masuk ke dalam lift tersebut.
Perilaku orang menunggu lift juga kadang bisa bikin sebal orang yang akan keluar lift. Salah satunya adalah berdiri (kadang bergerombol) tepat di depan lift sehingga acap kali menghalangi orang yang akan keluar dari lift. Mbok ya beri ruang sedikit supaya orang dari dalam lift bisa keluar dengan lancar. Mungkin karena mereka takut tidak dalam tempat di dalam lift, sehingga sebisa mungkin berusaha jadi yang pertama masuk…orang yang keluar jadi terhalang jalannya, itu bukan urusannya.
Dulu rekan saya pernah cerita katanya hal seperti itu memang sudah kultur masyarakat Indonesia. Katanya lagi, lain halnya dengan orang Amerika yang cenderung memilih untuk menjaga jarak dengan orang lain (jarak dalam arti harafiah). Dipikir-pikir ada benarnya juga dalam hubungannya dengan soal menunggu lift, bule cenderung untuk memberi ruang terlebih dulu bagi orang dari dalam lift untuk keluar sebelum dia sendiri masuk menggunakan lift. Rasanya tidak rugi dan tidak ada salahnya kalau hal demikian ditiru. Siapa yang tidak senang ketertiban kan?