Palembang (part 2) – Batal Pulang

Biasanya kalau saya ditugaskan pergi keluar kota oleh kantor, saya dibekali tiket pesawat pergi pulang. Dengan begitu saya jadi merasa tenang karena sudah punya tiket pulang. Hari Selasa kemarin saya disuruh bos berangkat ke Palembang tapi hanya dibekali tiket berangkat saja. Penyebabnya adalah rencana keberangkatan saya tiba-tiba dan akibatnya travel agent yang biasa mengurusi tiket tidak bisa mendapatkan tiket pesawat Palembang Jakarta.

Hari ini saya harusnya sudah bisa santai pulang di Jakarta. Tadi siang setelah keluar dari hotel saya langsung menuju bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang. Semua penerbangan hari ini sudah penuh. Memang sih saya pun sudah tahu hal ini karena kemarin saya cek semua website penerbangan dan semua jadwal penerbangan sudah full booking.

Tadi saya setengah gambling berangkat ke bandara. Yang tersedia adalah tiket Garuda untuk penerbangan Jumat besok. Halah….untung hotel Sandjaja tempat saya menginap masih tersedia kamarnya untuk malam ini. Niatnya di bandara selain mencari tiket saya juga ingin menukar uang di money changer, tapi tempatnya tutup. Ya sudah pulang lagi dari bandara dan kembali ke hotel Sandjaja. Seratus sepuluh ribu rupiah melayang ke dompet supir taksi.



(Foto di atas adalah gambar baliho selamat datang di jalan keluar bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang)

Semua orang ingin liburan…eh saya malah terdampar di Palembang 🙁 . Batal deh rencana pulang ke Cirebon akhir pekan ini. Kabarnya jalan tol dalam kota Jakarta sampai tol Cikampek dan Jagorawi juga padat sekali. Rekan saya katanya masuk ke tol dalam kota Jakarta sekitar pukul 9 pagi menuju Cirebon dan baru sampai ke Bekasi pada pukul 12 siang…..gila kan padatnya. Fenomena umum tiap kali ada libur akhir pekan yang cukup panjang. Hmmm…ngapain ya di Palembang?

Palembang (part 1)

Pagi ini saya berangkat ke Palembang. Hampir saja kesiangan, untung Pak Manus (pengurus tempat saya tinggal) sudah bangun dan segera membangunkan saya. Semalam saya sudah pesan BlueBird untuk jam 4.30 pagi ini. Tadi waktu taksinya datang saya dibangunkan Manus. Tadi malam saya main biliar dulu di Roxy Pool House sampai jam 12 lebih, so alarm handphone pun tidak terdengar saking lelapnya tidur :-p

Bergegas saya mandi, beres-beres dan langsung berangkat ke bandara. Pagi ini bandara Soekarno Hatta ramai sekali. Saya sampai di bandara sekitar pukul 5.20. Padat sekali antrian masuk ke lobi check in begitu pula di tiap counter check in.

Saking padatnya penerbangan pagi ini, pesawat pun harus antri menuju landasan pacu. Saya masuk pesawat pukul 5.50 dan baru bisa take off pukul 6.20. Di belakang pesawat saya saya lihat ada 5 pesawat (4 Garuda dan 1 Merpati) yang antri untuk menggunakan runway. Gila juga nih satu runway dipakai beramai-ramai, di jam sibuk seperti sekarang pasti butuh waktu untuk mengantri. Saya sempatkan mengambil foto pesawat Garuda yang sedang mengatri, saat mengambil foto ini Garuda 110 yang saya tumpangi sudah siap take off.

Anda bisa bayangkan kan betapa padatnya penerbangan pagi ini. Perjalanan ke Palembang cukup singkat, cuma 46 menit mengudara. Saya tiba di bandara Mahmud Badarudin II pukul 7.16 menit. Palembang adalah kota kedua di pulau Sumatera yang saya kunjungi (dulu pernah 2x ke Pekanbaru).

Dari bandara saya naik taksi bandara menuju hotel Sandjaja. Saya sempat heran waktu memesan taksi di counternya Primkopau, petugas di sana berlogat Jawa. Lebih heran lagi supir taksinya pun orang Jawa. Logat Jawanya kental sekali meskipun dia berbahasa Indonesia. Info dari supir taksi tadi, rupanya di Palembang banyak penduduknya berasal dari pulau Jawa. Katanya hampir 50% penduduk Palembang adalah suku Jawa, 30% warga keturunan Tionghoa, dan sisanya adalah penduduk lokal. Entah data statistik dari mana angka 50% dan 20% itu.

Jarak dari bandara ke hotel Sandjaja menurut saya tidak begitu jauh, masih lebih jauh jarak bandara Soekarno Hatta Jakarta ke tempat saya di Tomang. Tapi argo taksi naik begitu cepat. Saya cukup heran, ketika naik di bandara argo masih menunjukkan angka empat ribuan. Terkejut saya saat tidak sengaja melihat argo meter saat taksi keluar dari area bandara. Argo sudah menunjukan angka dua puluh dua ribuan. Hmmm…argo kuda nih taksi. Sampai hotel Sandjaja di jalan Rivai argo meter sudah melebihi Rp53000.

Menurut Edi si supir taksi, hotel Sandjaja tadinya adalah hotel terbaik di kota Palembang. Setelah muncul hotel lain seperti Novotel pamornya turun. Kamar yang saya tempati cukup luas, lihat nih fotonya.

Rupanya bangunan hotel ini sudah cukup tua dan lorong-lorongnya pun terkesan sedikit kotor. Tapi sepertinya sih kamar ini cukup nyaman untuk dinikmati. Di hotel ini akses internet 24 jam cuma Rp20000,-; murah sekali. Gak ada yang lebih enak daripada akses internet murah (eh gratis sebenarnya yang paling enak :)) ).

Jerman (part 17) – Pulang

Sejak terakhir menulis postingan tanggal 11 lalu saya belum sempat mengupdate blog ini lagi. Saya tuliskan sedikit aktivitas saya selama beberapa hari puasa ngeblog.

Tanggal 12 Maret lalu adalah hari terakhir training di Fujitsu Siemens. Rabu malam kami bertiga meninggalkan Paderborn Jerman menuju Paris. Dengan kereta malam dari Paderborn kami menempuh perjalanan hampir 14 jam menuju Paris. Pertama kami bertiga naik kereta menuju Bielfied sekitar pukul 9.13 malam.

Dari Bielfied kami naik kereta malam menuju Bruxelles (dibaca Brusell). Kereta ini berangkat pukul 00.10 dini hari (tanggal 13). Kereta ini adalah kereta malam, 1 kabin berisi tiga tempat tidur susun. Sempit sekali kabinnya. Nanti saya upload foto-fotonya 🙂 (sudah jadi kumpulan foto-fotonya 😀 ).

Sampai di Bruxelles kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun Paris Nord Perancis Marne La Ches Perancis. Dengan menggunakan TGV (kereta cepatnya Perancis) jurusan Paris Nord kami menuju stasiun Marne La Vallee. Dari stasiun ini kami berangkat lagi dengan TGV menuju stasiun Lyon Part Dieu. Dari Lyon kami menggunakan kereta SNCF ke Saint Etienne. Tanggal 13 Maret tujuan utama kami di Perancis bukan Paris tapi St.Etienne. Di kota itu ada tantenya Manggar. Kami bertiga menginap di sana semalam sampai tanggal 14. Di kota St.Etienne kami diajak tantenya Manggar keliling kota melihat beberapa kastil.

Tanggal 14 pagi sekitar pukul 10.10 kami berangkat menuju Paris dengan menggunakan TGV lagi. Sampai di Paris Gare De Lyon sekitar pukul 1 siang. Ada saja cerita menarik dalam perjalanan ini, salah satunya insiden kehilangan dompet yang dialami Pak Rully. Hampir 1 jam kami berada di Gare De Lyon Paris menemani Pak Rully mencari dompetnya yang hilang. Setelah hampir 1 jam, akhirnya kami tahu kalau dompet Pak Rully tertinggal di rumah tantenya Manggar di St.Etienne

Kami bertiga menginap di hotel Le Meridien Paris. Setelah menaruh bagasi dan beristirahat sebentar di hotel, kami segera berjalan keliling kota Paris. Karena hanya punya 1 hari di Paris, tujuan utama kami hanya 1 : menara Eifel. Sepanjang sore hari kami putar-putar di sekitar Eifel. Malamnya kami bertiga berjalan kaki menuju monumen Arc de Triomphe.

Sabtu tanggal 15 kami meninggalkan Perancis dengan pesawat Malaysia Airlines (MH021). Dari bandara Charles De Gaul pesawat berangkat pukul 12 siang waktu Paris. Sampai di Kuala Lumpur hari Minggu 16 Maret sekitar pukul 7 pagi. Tulisan ini saya ketik di ruang tunggunya KL International Airport. Sebentar lagi saya akan berangkat ke Jakarta. Nanti saya lengkapi semua liputan jalan-jalan saya kalau sudah sampai ke Jakarta.

Thanks to KL Airport untuk fasilitas internet gratisnya 🙂

Jerman (part 16) – Tentang Angkutan Umum

Banyak hal baru yang saya saksikan & rasakan selama di Jerman. Sebagian tidak membuat saya kagum (sebel mungkin) dan sebagian lain mampu membuat saya kagum. Contoh yang menyebalkan bagi saya adalah rasa makanan yang aneh. Rasa makanan yang tidak seenak tampilan/penyajiannya. Ada juga hal yang membuat saya cukup kagum adalah masalah transportasi dan angkutan umum. Ambil contoh kereta api dan bis. Dua angkutan inilah yang saya gunakan selama di Jerman.

Ini contoh tiket bis di Paderborn. Tiket bis yang ada di foto ini adalah tiket ganda (1 tiket bisa untuk 4 kali pakai), untuk rute dari dekat hotel saya sampai ke halte depan gedung Fujitsu Siemens.

Tiket seperti di atas bisa dibeli di supir taksinya, bisa juga dibeli di mesin tiket yang ada di hampir setiap halte bis. Ini contoh mesin tiket di dekat hotel tempat kami menginap :

Tiap kali menggunakan tiket ini, supir akan melubangi tiketnya tiap kali kita naik. Selain dengan membeli tiket, kita juga bisa langsung membayar kepada supir. Tiap kali membayar atau menunjukan tiket kita akan diberi bukti pembayaran seperti ini (pada tanda bukti pembayaran ini dicantumkan tanggal & nama halte tujuan) :

Saya dan Pak Rully sempat heran juga mengapa kebanyakan orang Jerman masuk lewat pintu tengah bis dan tidak membayar apa-apa. Di sini semua bis memiliki minimal 2 pintu penumpang (ada juga yang 3 pintu), satu dekat supir, satu di tengah badan bis. Kami bertiga berpikir mungkin karena orang Paderborn punya tiket berlangganan yang bisa dipakai berkali-kali. Keheranan kami tidak serta merta selesai, berlanjut pada pertanyaan bagaimana si sopir tahu mereka punya tiket atau tidak? Kami sempat mereka-reka, mungkin ada sensor khusus di tiap pintu yang bisa mendeteksi tiket khusus, atau si sopir memantau lewat kamera khusus. Analisis kami memang terlalu jauh dan cenderung mengada-ada.

Tadi malam saya bertanya pada Donny teman saya yang kuliah di Stutgart, saya tanya mengapa banyak orang Jerman lalu lalang naik turun bis tanpa membayar pada supirnya. Menurut Donny, di sini ada tiket berlangganan/bulanan ada juga tiket semesteran bagi mahasiswa. Jadi bayar sekian euro untuk banyak kali pakai.

Kemudian saya bertanya lagi bagaimana cara sopir bis tahu penumpangnya punya tiket atau tidak. Jawabannya simpel saja : si sopir tidak akan pernah tahu penumpangnya membawa tiket atau tidak. Jadi mungkin saja ada orang yang tidak punya tiket bis naik lewat pintu tengah/belakang dan dengan cuek duduk manis sampai tujuan. Itu bisa saja terjadi, tapi menurut Donny itulah salah satu kelebihan masyarakat Jerman. Kesadaran hukum mereka sudah cukup tinggi, terlepas dari fakta bahwa ada denda 40 euro bagi penumpang bis/kereta api.

Di kereta api (baik yang dalam kota maupun yang antar kota), pemeriksaan tiket lebih sering dilakukan. Kemarin dalam perjalanan menuju Hannover, kami sama sekali tidak menemui petugas pemeriksa tiket. Jadi memang ada kemungkinan tiket tidak diperiksa, meskipun pada perjalanan kereta api frekuensi pemeriksaan tiket jauh lebih sering dilakukan daripada pada perjalanan dengan menggunakan bis. Saya tahu sebagian dari Anda mungkin akan berpikir : “wah enak donk bisa pergi-pergi gak bayar”. Nah itu…. kembali lagi ke masalah bagaimana kesadaran dan ketaatan hukum masyarakatnya. Mungkin ini adalah contoh yang bagus untuk ditiru dan dikembangkan di Indonesia.

Jerman (part 15) – Tentang Anjing

Anjing rupanya memiliki kelas tersendiri dalam masyarakat Jerman. Di beberapa kesempatan (kalau tidak boleh disebut sering) saya melihat orang di mana-mana membawa anjingnya berjalan-jalan. Di taman, di objek wisata, di stasiun, di kereta api, di pusat perbelanjaan. Gila kan kalau dipikir-pikir. Coba saja Anda di Jakarta misalnya tuntun Doberman ke dalam mal. Pasti diusir satpam atau paling tidak dipelototi pengunjung lain 😀 .

Dari mulai anjing kecil seperti jenis Tekkel sampai anjing ras besar seperti Dalmantians, Pitbull, German sheperd; dari mulai membawa 1 anjing sampai yang membawa 3 anjing sekaligus semua saya lihat di Jerman. Bahkan di kereta maupun bis disediakan tiket khusus bagi orang yang membawa serta anjingnya dalam perjalanan. Di kereta ada gerbong khusus yang memperbolehkan penumpang mengajak serta anjingnya.

Ini salah satu tangkapan kamera saya di Dusseldorf; wanita cantik, modis, jalan-jalan eh masih aja sempat-sempatnya menuntun anjing.

Beberapa kali saya dan Manggar terkejut melihat anjing besar masuk mal. “Gila nih orang ke mal bawa anjing…gede lagi.” Kurang lebih seperti itu yang terlintas dalam pikiran saya melihat orang berjalan-jalan ke mal dengan menuntun binatang peliharaannya tersebut. Kemarin di Hannover misalnya, setidaknya kami melihat 3 kali anjing masuk Galeri Kauphof . Yang paling besar adalah anjing Dalmatians yang sempat mengagetkan saya. Anjingnya sih diam saja, saya saja yang kaget sendiri. Saya dan Manggar bahkan sempat berpikiran sama kalau melihat anjing besar melintas di pusat keramaian; “anjing atau babi tuh gede banget” :))

Tapi orang di sini memang lebih bertanggung jawab. Mereka yang membawa anjing ke ruang publik punya rasa tanggung jawab atas kebersihan tempat yang mereka kunjungi. Mereka tak segan memungut “kotoran” anjing mereka dengan memakai tisue untuk kemudian dibuang ke tempat sampah. Saya sempat melihat sendiri orang melakukan hal tersebut. Saya yang bukan penggemar anjing benar-benar heran melihat fenomena seperti itu. Kok niat-niatnya ya orang membawa anjing ke tempat umum. Kalau sekadar mengajak anjing jalan-jalan di taman saya bisa mengerti. Tapi kalau sudah masuk ke mal/pusat perbelanjaan itu benar-benar di luar pengertian saya.

Mungkin benar apa yang salah satu rekan saya katakan, anjing mendapat kehormatan tersendiri di mata orang bule. Bahkan katanya dalam bahasa Inggris menyebut anjing sebagai pihak ketiga tidak menggunakan “it” tapi menggunakan “she” (kalau anjingnya betina) atau “he” (kalau jantan). Berbahagialah anjing-anjing yang dipelihara oleh orang bule; diperlakukan lebih baik dan diberi kesempatan menikmati pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat wisata ;))