Lunch With Eserv

Yesterday, I joined lunch at Everfresh restaurant. The lunch invitation came from Laurence who will leave Eservglobal Indonesia. She held the lunch as the farewell party, almost all Eservglobal’s employee (in Jakarta office of course) joined the lunch….who don’t likes free food 😀

Everfresh restaurant is a seafood restaurant located at Pejompongan street, nearby Karet Bivak cemetery (in the Tanah Abang district area). It’s only 3 km approximately from our office at Mega Kuningan. We went to the place around 11.45 AM. As usual when there is a crowd, I bring the camera :-p As photographer with no model yet, it quite be nice to have moment like this. At least I can release the shutter in order to prevent my EOS 1000D become dusty in the bag :))

Everfresh restaurant sell the fresh seafood, crabs, shrimps, a lot of fish varieties, eel, shellfish, you can also eat sushi and sashimi as well. I read the review in the Internet about Everfresh, we can buy the fresh fish. So after full eat the seafood, we can buy some raw fish and cook it at the home. The taste of the food at Everfresh is quite good, I can’t say it delicious. But the price is really reasonable. I couldn’t enjoy the lunch 100% because I prefered to take photos. But I always happy to take photograph of my coleagues. After the lunch, we gave Laurence a souvenir. We bought a digital photo frame with memory card inside, memory card filled by photos of everybody in the Eservglobal Indonesia. Most of the photos taken by me weeks ago. We hope it can be sweet memory for Laurence since she will leave Indonesia by the end of this month.

The above photo taken in front of Everfresh restaurant just before we left. When I was taking that photo, somebody had been left to the office (I think Lutfi and Dwi missed this shoot). To take the group photo like that, it is necessary to set the aperture as small as possible (with respect to the light meter as well). The small aperture will provide us the wide depth of field which can keep everybody in focus. I took that photo with aperature set to f/13…quiet small to let everybody’s face in focus. I didn’t need the external flash since the sun shone very bright that afternoon.

Again…using the 50mm fixed lens gave me another experience. Using the 50mm lens, pushed me to move back some meters in order to put everybody in the frame. That photo captured from the distance almost 3 meters away from the crowd. Thanks God we were on the yard, let me moving back far enough. I was reclining at the cars parked in the yard when I took that photo….no more space for me to retreat. The result is like that, Pak Imam (the man in left frame) couldn’t enter the frame 100%; also Sandro in the right frame. Sorry guys for the inconvienent. I need to change our photo spot to let you all in the frame. Or maybe I need to change the 50mm lens with the wider one…or buy Tokina ultrawide lens :)) Actually I brought the 18-55mm lens also, but I was too lazy to change the lens. Nevertheless I still love 50mm lens. The sharpness of 50mm lens makes me love it more and more. I don’t know how it will be after I bought the other lens. But compared to the kit lens 18-55mm, I choose 50mm definitely.

Blogging Dalam Kegelapan

Sudah jam 2 lewat saya masih belum bisa memejamkan mata. Ini gara-gara mati lampu dari tadi selepas pukul 1 dini hari. Bukan cuma mati lampu lokal karena listrik lokal kelebihan beban, tapi mati lampu di seluruh kompleks. Mati lampu membuat kamar jadi panas karena tentu AC tidak berfungsi. Yang lebih menyiksa bukan panasnya suhu kamar, tapi serbuan nyamuk yang ikut sibuk di kegelapan ini. Aneh mengapa mendadak jadi banyak nyamuk…dari tadi sebelum mati lampu rasanya tidak ada nyamuk di dalam kamar. Apa mungkin nyamuk-nyamuk ini masuk saat saya tadi keluar kamar memastikan padamnya listrik bukan gangguan lokal? Ah tapi sebelum saya keluar kamar pun nyamuk sudah bermunculan. Tangan & kaki sudah gatal kena gigitan nyamuk. Mata masih belum juga ngantuk.

Wahai PLN kenapa tidak tunggu saya tidur baru lakukan pemadaman listrik :(( at least saya sudah terlelap jadi tidak peduli dengan AC mati & nyamuk-nyamuk ini. Harga listrik yang relatif murah plus monopoli penjualan listrik, membuat masyarakat tak bisa komplain. PLN pun mungkin akan berujar : bayar murah kok mau enak, harga murah dilarang komplain =)) Sepi senyap sekarang. Suara motor di jalan raya bisa terdengar, kucing ribut, anjing tetangga yg berisik pun ikut terdengar. Tapi yang paling mendominasi adalah suara keypad ponsel saya 😀 Ternyata keras juga bunyi keypad Nokia E51 di tengah keheningan ini.

Ah alamat bangun kesiangan kalau begini ceritanya. Hmm iseng ngeblog dulu lewat GPRSnya Telkomsel, daripada bengong ga bisa tidur.

Nikahan Buchari

Minggu sore kemarin saya pergi ke acara resepsi pernikahan rekan saya Buchari Muslim. Buchari adalah rekan satu kantor ketika sama-sama masih bekerja di PT Fujitsu Indonesia. Acaranya diadakan di gedung BKKBN di dekat bandara Halim Perdanakusuma. Resepsi dimulai jam 7 malam. Saya berangkat bersama teman-teman Fujitsu lain. Tiba di tempat acara, tamu-tamu sudah berdatangan dan cukup sesak memenui auditorium tersebut.

Berangkat ke acara tersebut saya juga bawa kamera. Niat motret teman-teman dan tentu motret Buchari dengan pakaian adatnya :-p Ternyata fotografer resmi acara nikahan Buchari tidak hanya 1 orang saja. Seperti yang saya cerita di tulisan saya yang lalu, kali ini saya malah tidak sempat minta ijin motret kepada fotografer resmi acara tersebut. Sang fotografer begitu sibuknya memotret, tamu undangan dan keluarga yang perlu difoto demikian banyaknya. Ya sudah masa nunggu ijin terus-terusan sambil ga motret-motret, tetap ikuti etika saya motret Buchari dari jauh saja – tanpa lampu flash tentunya.

Cahaya di panggung cukup terang, jadi tanpa flash pun saya masih bisa mengambil foto pengantinnya. Cukup sulit memotret kedua mempelai sendiri karena tamu undangan yang naik ke panggung ingin bersalaman tidak kunjung habis. Beruntung saya bisa memotret Buchari & Runi berdua saja saat rehat sejenak, saat tidak ada tamu yang naik ke panggung untuk bersalaman. Terlihat sekali Buchari kelelahan (atau mungkin kepanasan) terus-menerus menerima ucapan selamat dari para tamu. Tapi sepanjang acara saya lihat raut muka Buchari ceria terus 🙂 Foto di samping ini saya ambil saat menunggu giliran difoto. Pembawa acara sibuk memanggil rekan-rekan dan keluarga untuk berfoto bersama pengantin. Salah satu grupnya yang dipanggil foto adalah rekan-rekan Buchari di Fujitsu. Rekan-rekan saya pun bergegas bergerak mendekati panggung, demikin juga dengan saya. Lah padahal saya kan bukan orang Fujitsu lagi; kok pede amat ikutan maju? 😀 Ah cuek deh ikut foto grupnya Fujitsu :-p

Ada banyak macam hidangan yang disajikan di acara resepsi, tapi semalam saya hanya makan satu menu saja : mie yogya. Begitu sudah pegang kamera saya jadi malas makan. Sebenarnya bukan malas makan, tapi saya bingung mau taruh kamera di mana. Biasanya saya tinggal menyandang DSLR di bahu, tapi dengan flash eksternal terpasang saya kesulitan menyandang kamera. Bobot flash eksternal membuat kamera selalu “ambruk” ke depan. Halah malu-maluin ya…perlu belajar cara menyandang kamera di bahu dengan flash terpasang :)) . Hmm…atau mungkin kameranya perlu dipasangi battery grip untuk menambah bobot dan stabilitas body kamera ;)) Daripada bolak-balik menaruh kamera ke dalam tas, ya sudah saya pegang saja terus kameranya. Ga perlu makan yang penting bisa ambil foto teman-teman yang lain. Foto-foto lainnya dari acara resepsi kemarin saya upload di Flickr.

Untuk Buchari & Runi : selamat berbahagia

Belajar Tensis Lagi

Dari dulu saya tidak pernah mengambil kursus bahasa Inggris. Saya kenal bahasa Inggris hanya di sekolah, sejak SMP saya dapat pelajaran bahasa Inggris. Salah satu pelajaran yang tidak saya suka…bingung ga ngerti. Meskipun nilai pelajaran bahasa Inggris saya bagus, paling tidak 8, kemampuan bahasa Inggris saya benar-benar pas-pasan. Jangankan untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, menulis dalam bahasa Inggris pun tidak bisa. Benar-benar nilai yang tidak realistis, hanya sebatas saya mampu mengerjakan soal ulangan bahasa Inggris.

Menginjak bangku kuliah saya terkondisikan mengerti bahasa Inggris lebih jauh lagi. Mau tidak mau saya harus melatih kemampuan membaca teks bahasa Inggris karena buku-buku kuliah hampir semuanya dalam bahasa Inggris. Buku kuliah teknik elektro dalam bahasa Indonesia malah sulit dipahami karena keterbatasan penerjemahan. Ya sudah mau tidak mau saya harus belajar artikel bahasa Inggris. Buku teknik yang ditulis dalam bahasa Inggris menurut saya lebih mudah untuk dipahami. Jangan bandingkan dengan koran berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post, rumit…pusing saya baca koran berbahasa Inggris 😀 Saya juga pernah beli novel Sherlock Holmes dalam bahasa Inggris, sampai sekarang saya hanya baca 1 bab saja….selebihnya buku novel itu jadi tatakan harddisk PC saya 😀 Iseng saja beli novel luar negri karena tertarik dengan kualitas kertasnya yang super ringan, bukunya ringan sekali.

Waktu wawancara kerja pertama kali di Jakarta Agustus 2006 lalu, saya masih ingat mantan bos saya dulu bilang : kamu harus meningkatkan kemampuan bahasa Inggrismu 🙂 Ya pertama kali interview ditanya dalam bahasa Inggris, saya 100% gagap. Untungnya interview pertama itu sebagian besar dilakukan dalam Bahasa Indonesia. Hanya 1 sesi saja mantan bos saya itu menguji kemampuan bahasa Inggris saya. Jelek bahasa Inggrisnya pun bisa tembus diterima kerja. Interview berikutnya sekitar April 2007 hampir separuhnya dilakukan dalam bahasa Inggris. Halah….untung saya sudah lebih pede bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Kuncinya cuma pede saja…modal nekat, kalimat berantakan tak masalah, yang penting keyword-nya sudah bisa ditangkap oleh lawan bicara :)) Saat interview di Fujitsu, semua yang mewawancarai saya adalah orang Indonesia. Interview terakhir di kantor saya sekarang dilakukan dalam bahasa Inggris semua. Bos saya orang Perancis, mau tidak mau harus ngomong dalam bahasa Inggris…lah masa mau ngomong bahasa Perancis :-p Belakangan saya makin sering menggunakan bahasa Inggris, yang paling sering dipakai adalah bahasa Inggris tulisan…menulis email terutama. Makin banyak pula kesempatan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris karena tidak sedikit rekan kantor yang berkebangsaan asing. Sudah fasih berbahasa Inggris? Ya belum sih…karena terpaksa saja jadi bisa.

Beberapa kali saya juga mencoba menulis postingan di blog dalam bahasa Inggris….ya itung-itung latihan menulis lah. Bukan gaya-gayaan sok kebarat-baratan. Beberapa hari yang lalu teman saya, Jennifer, sempat mengoreksi beberapa kesalahan dalam postingan yang saya buat dalam bahasa Inggris. Banyak untungnya punya teman yang fasih beberapa bahasa sekaligus, seperti kamus online saja 😀 Kalau lihat kamus sudah tidak menemukan clue, tinggal tanya Jennifer via Yahoo Messenger (kalau ybs. online juga tentunya). Kesalahan yang terbanyak adalah soal tenses. Ya salah satu kelemahan saya dalam bahasa Inggris adalah soal Tenses. Rasa-rasanya belajar Tenses secara langsung dengan Jennifer lebih bisa dipahami daripada beberapa tahun dapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Saya jadi lebih paham bedanya penggunaan was/were, has/have, verbs 3. Dari obrolan panjang lebar saya diberi 4 rumus dewa soal Tenses, berikut kutipan hasil chat dengan Jennifer :

(10:43:07 PM) Jennifer: semua yg pake continues pasti ada to be nya
(10:43:18 PM) Jennifer: semua yg pake perfect pasti ada has have nya
(10:43:47 PM) Jennifer: kl ada to be, berarti V ing
(10:43:54 PM) Jennifer: kl ada has have berarti V3

(10:48:51 PM) Tedy: was + V-ing berarti waktu itu melakukan sesuatu
(10:49:03 PM) Jennifer: yap, sedang melakukan
(10:49:09 PM) Tedy: kl was + V3 berarti waktu itu DI-apa-KAN 😀
(10:49:26 PM) Jennifer: betul, pasif

Ah benar-benar menyenangkan belajar seperti ini, langsung mengena rasanya…lebih ngeh saya memahaminya. Mungkin karena hal-hal semacam itu kerap kali saya gunakan saat menulis dalam bahasa Inggris. Belajar sesuatu yang memang kita butuhkan rasanya lebih cepat dipahami daripada sekadar belajar sesuatu karena kewajiban. Buktinya soal Tenses itu kan sebenarnya kan sudah pernah saya dapat di bangku SMP/SMA, tapi mengapa saya masih kesulitan menggunakannya? Jawabannya adalah karena dulu saya belajar sekadar memenuhi kewajiban, tidak untuk diterapkan/digunakan sehari-hari. Seiring sejalan saya merasa perlu tahu dan paham soal Tenses. Tadinya saya pikir cukup untuk tahu banyak vocabulary (kosa kata Inggris) tapi ternyata sehari-hari dalam penulisan email misalnya, Tenses penting juga diperhatikan.

Beberapa minggu lalu saya sempat dapat hasil fotokopi ‘Effective Guide to “O” Level English‘ (seperti Anda lihat di foto). Buku yang bagus juga sebagai sumber referensi saya mengulang materi soal Tenses dalam Bahasa Inggris. Waktunya belajar sungguh-sungguh lagi soal Tenses dan penggunaannya. Paling tidak membuat saya menulis lebih baik lagi, syukur-syukur kalau bisa menggunakannya secara tepat dalam percakapan. Kemarin saya sudah mulai baca buku itu, bab 1-nya ternyata berisi soal Tenses…tepat seperti apa yang ingin saya pelajari 😀 Selain Tenses, saya juga sepertinya perlu menambah lagi kosa kata irregullar verbs…kadang bingung menentukan bentuk lampau dari kata kerja tertentu. Yang lebih sulit dilatih sebenarnya bukan soal Tenses, yang lebih sulit dilatih adalah kemampuan percakapan dalam bahasa Inggris (conversation). Kadang saya masih sering terbalik-balik menggunakan “she” untuk menyebut laki-laki dan malah menyebut “he” untuk perempuan =)) Tahu tapi sulit ngomongnya; otak & lidah gak sinkron :))

Ledakan di Ritz Carlton

Beberapa saat setelah bangun tidur tadi sekitar jam 8, saya terima SMS dari bos saya :

It looks like there was a bomb very close to the office. Better everybody works from home today for the one who can.

Langsung saya nyalakan TV dan mencari Metro TV. Saat itu Metro TV masih menyiarkan Headline News, tidak lama kemudian ada Breaking News yang memberitakan ledakan di hotel Ritz Carton. Halah halah….bom lagi? 🙁

Di samping ini foto yang saya terima dari rekan saya Deny yang berada di dekat lokasi kejadian. Kantor saya di Plasa Mutiara letaknya persis di depan hotel Ritz Carlton. Deny tadi pagi sudah datang di kantor saat kejadian…hmm karyawan yang rajin padahal jam kantor baru mulai jam 9 pagi 😀 Deny yang segera keluar kantor, kasihan juga dia karena tidak bisa pulang. Motornya diparkir di parkiran gedung dan parkiran gedung adalah salah satu titik yang mengalami ledakan. Katanya tidak ada orang yang diperbolehkan mendekat. Foto di atas adalah foto gedung Ritz Carlton (halaman depan restoran Airlangga). Terlihat kaca-kaca sudah pecah berantakan.

Dari laporan pandangan mata Deny, katanya ada 2 titik terjadinya ledakan dan mengalami kerusakan parah. Satu di hotel Ritz Carton (di lokasi restoran Airlangga), dan satu lagi di hotel JW Marriot (sebelah gedung kantor saya). Belum jelas apa penyebab ledakan ini. Semua rekan kantor saya diminta tidak datang ke kantor. Hanya Deny yang masih berada di dekat lokasi karena tidak bisa pulang 🙁 Naik taksi aja deh Mas Deny….