Bandeng Presto

Selain lunpia, Semarang juga terkenal dengan oleh-oleh bandeng prestonya. Ikan bandeng yang sudah dimasak dalam panci presto tulangnya jadi lembut sekali dan bisa dimakan. Sepanjang jalan Pandanaran Semarang, banyak penjual bandeng presto. Salah satu gerai yang menjual bandeng presto menggunakan merek “Presto”. Toko ini terletak di pertigaan jalan Pandanaraan dan jalan MH Thamrin. Letaknya di hook belokan menuju jalan MH Thamrin.

Dalam perjalanan ke Semarang kemarin saya sempat mampir ke sana. Banyak sekali perubahan di gerai Presto, sekarang nampak lebih modern. Papan nama pun terlihat mencolok. Sekarang Presto punya area parkir sendiri di depan tokonya, tidak luas tapi cukup menampung 5-6 mobil. Gerai bandeng Presto juga menjual berbagai oleh-oleh khas Semarang.

Oh ya, gerai Presto ini lokasinya berada di seberang Menara Suara Merdeka. Saat saya datang susah sekali mencari tempat parkir karena banyaknya pengunjung. Tidak heran memang mengingat arus lalu lintas di Jalan Pandanaran sedang padat-padatnya.

Suasana dalam toko benar-benar sibuk. Sepintas seperti menunggu antrian obat di apotik karena pegawainya beberapa kali memanggil nama pembeli saat pesanannya sudah siap. Soal rasa tiap-tiap orang punya selera masing-masing. Ada juga yang bilang katanya bandeng presto yang enak adalah merek Juwana. Tapi saya sendiri lebih cocok dengan rasa Bandeng Presto, yang asli merek Presto. Hmmm sayangnya saya lupa foto ikan bandengnya :-).

Kelenteng Tay Kak Sie Semarang

Semarang terkenal memiliki banyak Kelenteng sebagai tempat beribadah umat Budha & Konghucu. Dalam perjalanan ke Semarang kemarin saya sempat mampir ke salah satu kelenteng, namanya Kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng tua ini ada di Gang Lombok, meskipun untuk menuju ke kelenteng ini harus melalui sebuah gang yang cukup sempit tapi halaman depan Kelenteng Tay Kak Sie ini cukup luas. Terdapat area parkir mobil yang cukup luas. Saya tidak masuk ke dalam bangunan Kelenteng, saya hanya melihat-lihat di halaman depan Kelenteng saja. Di tengah-tengah halaman Kelenteng terdapat sebuah patung besar Laksamana Cheng Ho.

Bangunan kecil berwarna merah di depan Kelenteng Tay Kak Sie ini adalah panggung tempat pertunjukan wayang potehi. Sayang tidak ada pertunjukan wayang di siang hari.

Pada foto di atas terlihat bangunan tinggi seperti tugu dibalut kain merah. Itu sebenarnya adalah lilin berukuran raksasa. Lilin itu merupakan donasi dari umat Budha. Lilin itu dibiarkan menyala sepanjang hari. Sepertinya lilin tersebut sengaja ditutup dengan kain untuk melindungi nyala api dari angin yang cukup kencang di Semarang. Sementara itu di bawah pohon besar yang nampak pada foto di atas terdapat sebuah patung Budha.

Katanya pohon tersebut adalah pohon Bodhi. Sepintas batang pohon ini dililit oleh akar yang besar-besar.

Selain patung Laksamana Cheng Ho & patung Budha, di halaman Kelenteng Tay Kak Sie ini terdapat 2 patung dewa lainnya. Dua patung tadi berdiri menjaga gerbang masuk Kelenteng.

Di samping Kelenteng Tay Kak Sie ini mengalir sebuah sungai. Sungai ini yang membatasi Gang Lombok dari gang lainnya. Bukan sungai yang bersih, tapi saya lihat tidak banyak tumpukan sampah di sana.

Uniknya ada sebuah replika kapal layar di sungai tadi. Kabarnya kapal ini adalah replika kapal yang dipakai oleh Laksamana Cheng Ho ketika datang ke pulau Jawa.

Sebenarnya saya tidak sengaja mampir ke Kelenteng ini, secara kebetulan saja karena saya sedang menunggu antrian pesan lunpia Gang Lombok. Tapi ini jadi pengalaman yang menarik, lain kali mungkin saya bisa mencoba untuk masuk ke Kelentengnya & mungkin bisa menyempatkan waktu mengunjungi Kelenteng terkenal lainnya di Semarang.

Lunpia Gang Lombok

Saat mengujungi Semarang kemarin, saya sempat mampir ke Gang Lombok untuk membeli lunpia (bahasa Inggrisnya = springroll). Katanya lunpia Gang Lombok ini sangat terkenal sebagai oleh-oleh dari kota Semarang. Meskipun terkenal, tempat berjualannya terbilang sederhana. Bangunan tua di kawasan Pecinan Semarang. Dari luar yang nampak tumpukan besek (kotak dari anyaman bambu) untuk bungkus lunpia. Harga lunpianya pun tidak bisa dibilang murah, Rp12000,- per lunpia. Tersedia lunpia basah dan lunpia goreng.

Yang sangat mengherankan bagi saya adalah antriannya yang luar biasa. Entah apa karena ini musim liburan atau bukan. Tapi katanya memang lunpia Gang Lombok ini ramai tiap harinya. Cara mereka berjualan masih sangat tradisional, tidak ada sistem antrian yang jelas. Semua pembeli harus mengantri tanpa bisa meninggalkan tempat karena tidak diberi kartu tunggu. Meninggalkan tempat berarti resiko diserobot pembeli yang lain. Lunpia ini dibuat saat itu juga, isi lunpia pun dimasak di tempat yang sama. Pembeli harus menunggu lunpia dibuat saat itu juga. Ada sekitar satu jam saya menunggu di sana sampai akhirnya saya menyerah dan meninggalkan tempat. Akhirnya saya minta tolong supir saudara saya untuk menunggu di sana.

Ini tampilkan kemasan lunpia Gang Lombok. Satu besek ini berisi 10 lunpia basah. Di dalamnya juga disertakan 2 bungkus saus, sausnya terbuat dari tepung aci yang sangat kental. Ada juga bungkusan acar mentimun & cabai rawit.

Lunpia basahnya sendiri seperti ini :

Lunpia ini berisi campuran telur, rebung, daging ayam & udang. Saya sempat mencicipi lunpia ini setelah digoreng. Menurut saya rasanya standar saja. Mungkin karena saya bukan pecinta lunpia jadi saya tidak tahu standar lunpia yang enak.

Panasnya Kota Semarang

Libur lebaran kemarin saya pulang ke kampung halaman di Cirebon. Seperti biasa cuaca di Cirebon masih panas terik. Panasnya jauh melebihi panas siang hari di Jakarta. Dari Cirebon saya lanjutkan perjalanan ke Semarang. Yang saya kaget ternyata cuaca di Semarang jauh lebih panas daripada Cirebon. Meskipun sama-sama merupakan kota di tepi pantai, Semarang jauh lebih panas dan matahari terasa lebih terik & menyengat. Di siang hari yang panas langit cukup bagus karena tampak biru cerah.

Airport Tax Masih Ada

Saat pergi ke Surabaya bulan lalu saya baru tahu kalau saya tidak perlu lagi membayar pajak bandara (airport tax). Saya baru tahu setelah saya menyodorkan uang ke petugas check-in Garuda di terminal 2F bandara Soekarno-Hatta. Si Mbak petugas menjelaskan sekarang tidak perlu lagi membayar airport tax di counter check-in. Katanya biaya pajak bandara tadi sudah termasuk ke dalam harga tiket pesawat. Sayangnya saya tidak bertanya apakah aturan tadi hanya berlaku di terminal 2F atau hanya berlaku untuk penumpang Garuda saja.

Ternyata hal yang sama juga saya alami dalam perjalanan pulang dari bandara Juanda Surabaya. Dulu saya ingat sekali bila pulang dengan Garuda dari Juanda, saya harus membayar airport tax di lantai 2. Lokasi loketnya persis di sebelah konter imigrasi. Sekarang loket itu sudah tidak ada penjaganya. Tidak ada tulisan soal airport tax pula. Saya tarik kesimpulan rupanya ada peningkatan layanan di terminal domestik bandara.

Tapi rupanya kesimpulan saya terlalu dini. Saat berangkat ke Singapura akhir bulan lalu saya masih harus membayar airport tax saat melakukan check-in.

Sayang juga saya lupa bertanya kenapa ada beda perlakuan untuk terminal keberangkatan internasional. Memang tulisan ini bukan untuk komplen karena toh ada atau tidak airport tax semua biaya perjalanan ditanggung oleh kantor. Ini hanya sebatas hasil pengamatan dan catatan perjalanan saja.