Berpanas-panas di Cengkareng

Kemarin siang saya disuruh berangkat lagi ke Surabaya. Jam 12 siang saya berangkat ke bandara. Pulang dulu ke rumah, ambil baju secukupnya, lalu segera ke bandara. Belum punya tiket jadi rencana go show lagi. Kejadian yang sama seperti Senin lalu terulang. Semua penerbangan sudah penuh, tidak ada counter yang menjual tiket ke Surabaya lagi untuk penerbangan Jumat sore kemarin. Pertama datang ke terminal 2F, Garuda dan Merpati sudah penuh; silakan kalau mau waiting list kata petugas di sana. Heu…kapok lah waiting list lagi, jaminan gak dapat tiket dan terbuang waktu percuma.

Dari pagi saya belum makan, siang pun belum sempat makan siang, berada di bandara yang padat penumpang membuat saya agak loss control. Emosi sudah mulai naik tuh 🙂 Ah untung saya segera sadar, pergilah saya makan dulu di Hoka-hoka Bento. Jam sudah menunjukan pukul 14.00. Habis makan, emosi saya sudah bisa terkontrol. Saya lalu pergi ke terminal 1, berharap masih ada maskapai yang menjual tiket ke Surabaya. Tapi rupanya Jumat sore adalah waktu padat-padatnya penerbangan ke Surabaya. Dari terminal 1A sampai 1B semua penerbangan dari Lion Air, Air Asia, Batavia Air, Sriwijaya Air…semuanya bilang sudah penuh.

Terminal 1 siang ini panas sekali, heran padahal tadi jam 12an Jakarta diguyur hujan cukup lebat. Gerah sekali rasanya berjalan di terminal 1. Seperti biasa, calo-calo berseliweran di depan saya. Damn you CALO….gara-gara elo semua gak ada tiket yang available. Semua calo menawarkan tiket ke Surabaya dengan nama orang lain, tiketnya tidak bisa di-issue dengan nama saya. Biasanya saya jumpai calo-calo tiket itu laki-laki, tapi kemarin siang rupanya ada juga ibu-ibu berkerudung yang jadi calo. Saya terus-menerus mengumpat karena calo-calo ini. Serba salah memang, di satu sisi kalau kondisinya seperti yang saya alami kemarin siang saya memang menyalahkan calo; tapi kalau sudah terdesak mau gak mau saya harus memanfaatkan “jasa” mereka. Eh cerita saya tadi belum selesai, saya tidak jadi berangkat akhirnya sore kemarin. Saya balik lagi ke kantor karena ada perubahan rencana.

Bagaimana aturan percaloan di Indonesia, di Jakarta khususnya. Mengapa begitu banyak calo yang berkeliaran di bandara. Biasanya isu penertiban calo hanya merebak menjelang libur panjang. Menjelang lebaran biasanya, kita dengan gampang mendengar berita kalau petugas menertibkan calo. Lah kenapa hari-hari biasa seperti ini calo tidak ditertibkan. Tidak sulit menemukan calo di bandara. Kalau petugas mau, lebih dari 10 orang bisa terjerat karena berprofesi sebagai calo. Nah yang saya tidak tahu, apakah berprofesi sebagai calo itu melanggar hukum atau tidak? Kalaupun tidak melanggar hukum, tetap saja menyebalkan.

Sekuriti bandara, petugas check in bandara pun bisa bertindak sebagai calo. Buktinya? Kemarin saya keluar dari counter Sriwijaya Air, langsung didekati sekuriti di sana dan dengan sok baik bilang bisa menolong saya menyediakan tiket. Nah repot kan kalau orang dalam sendiri sudah ikut-ikutan. Makanya saya tidak percaya dengan sistem waiting list yang digunakan untuk memfasilitasi penumpang yang belum dapat tiket. Teorinya waiting list diadakan untuk memberi kesempatan penumpang dadakan macam saya untuk mendapat tiket bila masih ada seat yang tersedia. Bull shit lah….bagaimana bisa ada seat kosong yang bisa dibeli dengan harga normal, kalau seat tersebut bisa dijual dengan harga melambung melalui calo? Kalau sistem percaloan masih banyak, mereka tentu akan “memprioritaskan” para calo yang dapat menjualkan tiket/seat tersisa dengan harga berlipat.

Ada salah satu bos saya dengan gampang bilang “go show aja…pasti dapat lah”; ini jawaban saya : “Pak, kalau kantor mau membayari tiket saya berapapun harganya sih, memang betul pasti dapat tiket…”. Lain kali kalau disuruh go show pikir-pikir dulu ah. Kasihan ya Bos saya punya anak buah rewel & banyak maunya seperti saya :-p ….tinggal tunggu saja kapan Bos saya bosan dengan kerewelan saya dan menghadiahi saya SP3 :)) (sensor ah…takut ntar memancing keributan di kantor)

Ada yang punya pengalaman dengan calo? Atau ada yang punya pengalaman dengan sistem waiting list untuk membeli tiket pesawat?

2 thoughts on “Berpanas-panas di Cengkareng

  1. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Calo Minta Maaf?

  2. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Surabaya (part 2) - Executive Class

Leave a Reply