Ujung Pandang (part 2) – Hotel Singgasana (full review)

Kembali ke Jakarta, salah satu yang saya lakukan adalah membuat komik & menulis review tentang hotel Singgasana ini. Sebelum baca review lengkapnya, silakan lihat dulu komiknya di bawah ini (1 gambar bicara 1000 kata kan?) :

Yang buat saya cukup kaget adalah harga sewa kamar hotel ini. Kemarin malam sewaktu check-in saya lihat-lihat brosur room rate yang ada di meja resepsionis. Kaget juga melihat harga kamar paling rendah adalah USD $80. Yang buat saya kaget sebenarnya bukan karena mahalnya harga kamar, tapi kok saya dikasih gitu loh…ada angin apa kantor kasih saya menginap di hotel semahal ini? Atau bisa jadi juga sih kalau Dwidaya Travel langganan kantor saya punya special rate 😀 (nah loh, dikasih hotel jelek komplain, dikasih yang mahal bingung sendiri =)) ) Eh ternyata di Surabaya pun ada hotel Singgasana, tapi kok saya gak pernah disuruh menginap di Singgasana ya kalau ke Surabaya. Mungkin alasannya adalah : “kalau ada yang lebih murah ngapain juga pakai yang mahal” =))

Saya diberi kamar di lantai 9, begitu masuk kamar saya langsung tahu bahwa kamar ini enak untuk ditempati. Jendela kamar lebar menghadap ke luar, menyajikan pemandangan malam kota Makassar. Pemandangan pagi hari pun cukup menarik, dari jauh pantainya terlihat. Entah apakah itu yang disebut-sebut orang sebagai Pantai Losari. Berhubung waktu kunjungan yang super singkat, jadi saya gak ke mana-mana. Boro-boro lihat pantai, niat makan konro bakar saja gak sempat. Ok balik lagi soal kamar, kamarnya cukup luas, bersih, cukup lengkap fasilitasnya. Yang mengesalkan, waktu saya cek minibarnya. Kulkas kecil di dalam lemari itu kosong melompong. Halah…kenapa sih kalau kamar hotel dengan tarif paling murah sering mengosongkan minibarnya? Apa mereka pikir orang-orang yang memilih kamar termurah itu gak mampu beli minuman yang ada dalam minibar? Coca Cola sekaleng Rp16000 aja saya minum kok.

Saya cek kamar mandinya pun ok, cuma mungkin shower-nya saja pagi tadi saya coba kurang mantap semprotannya. Nilai plus lain yang paling penting bagi saya adalah hotspot gratisan 😀 Seperti yang sudah saya cerita di postingan sebelumnya, pagi tadi saya iseng menemukan bahwa di kamar saya juga terjangkau oleh jaringan internet wireless hotel Singgasana ini. Apa lagi ya yang bisa ditulis tentang hotel ini? Tinggal di hotel cuma hitungan jam jadi susah juga buat review-nya. Oh ya soal makan pagi, makan pagi yang disajikan cukup lengkap. Dari roti, aneka kue, nasi goreng (standar hotel banget 🙂 ), jus, kopi….mungkin ini hal yang biasa ada di hotel-hotel cuma berhubung saya kehabisan bahan tulisan review ya saya tulis saja sekalian :))

Lokasi hotel Singgasana ini tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sok tahu ya saya, padahal tau juga gak mana pusat kotanya :)) ya maksudnya gak jauh dari pertokoan gitu lah. Dari hotel menuju bandara Hasanuddin saya naik taksi, cukup jauh sampai memakan waktu 45 menit lebih. Mungkin pengaruh juga karena banyak jalan yang sedang diperbaiki. Dari kemarin malam saya sering sekali melihat perbaikan jalan di Makassar. Mungkin Gubernur/Walikota Makassar sedang giat-giatnya bikin proyek yang wah, berhubung mau Pilkada. Kok tahu Makassar bakal menggelar Pilkada? Ya saya kan lihat di mana-mana ada baliho, poster bergambar calon peserta Pilkada yang foto & tagline-nya narsis semua.

Ok lah itu saja review saya tentang hotel Singgasana Makassar. Thanks buat Dwidaya Travel (Mba’ Julie?) yang sudah rekomendasiin hotel ini untuk saya 😀

5 thoughts on “Ujung Pandang (part 2) – Hotel Singgasana (full review)

  1. Singgasana hotel adalah ex Hilton jadi wajar kalau room & servicenya bagus pan Sutowo family dah dapet ilmu selama 30 tahun dari Hilton family.

  2. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Makassar (part 2) - Soal Minibar

  3. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Standby Surabaya (part 2) - Hotel Singgasana Surabaya

Leave a Reply