Makassar (part 1) – Balik Lagi

Siang ini saya balik lagi ke Makassar. Rencana instalasi server baru di Telkomsel yang tadinya diundur sampai minggu depan, diubah kembali jadi akhir pekan ini. Ada-ada saja, masa akhir pekan kerja juga. Saya kali ini berangkat dengan Garuda pukul 12.50, harusnya sih pagi saya ke kantor dulu. Tapi kali ini saya gak berangkat ke kantor, jam 11 langsung berangkat dari rumah ke bandara. Hmm…kalau menurut bos saya hal semacam ini (gak ngantor dengan alasan langsung ke bandara) bisa membuat “preseden buruk” :-p . Tau kan artinya “preseden buruk”? Artinya lebih kurang = kelakuan yang salah yang lama-lama jadi suatu kebiasaan. Atau bisa juga memancing orang lain menganggap & berperilaku yang salah.

Tadi di bandara sebelum masuk ruang tunggu, saya mampir dulu di toko buku terminal 2 (apa ya lupa nama tokonya). Seperti biasa kalau masuk toko buku, ada saja godaan buku yang menggoda untuk dibeli. Akhirnya keluar bawa buku ini :

Buku tipis kecil ini karangannya Safir Senduk. Saya pernah melihat beberapa buku karangan Safir Senduk tapi dari dulu gak pernah beli buku-bukunya. Salah satu yang terkenal itu kalau gak salah “Karyawan Juga Bisa Kaya” (hmm..gak ingat pasti, maaf kalau salah. tapi kurang lebihnya seperti itu). Iseng juga saya beli buku “Mengatur Pengeluaran Secara Bijak” ini. Padahal tadi saya sudah bawa 3 buku sekaligus. Buku “Digital Fortress”-nya Dan Brown, Laskar Pelangi, dan The American yang saya beli minggu lalu. Tapi mungkin penting juga bagi saya belajar membaca buku-buku serius macam bukunya Safir itu, biar seimbang kan? Kebanyakan baca novel bisa-bisa otak saya jadi ngaco :-p . Novel Digital Fortress selesai saya baca di pesawat tadi sebelum mendarat di Makassar. Nanti saya tulis review-nya kalau sempat πŸ˜€ .

Saya sampai di Makassar kira-kira pukul 16.20 waktu setempat (maju 1 jam dari Jakarta). Mendarat di tengah hujan gerimis, begitu keluar bandara eh panas lagi. Dari bandara saya dan Pak Nana (rekan dari Siemens) langsung menuju Telkomsel. Survey sebentar lokasi instalasi mesin Primepower 1500. Jam setengah 7 baru pulang, sebelum pulang ke hotel makan malam dulu. Lucu juga, jauh-jauh ke Makassar makan malamnya ayam goreng di warung tenda khas Lamongan :)) . Besok lah cari makan yang lebih berasa “Makassar”, konro bakar πŸ˜€ . Hari ini ada kampanye pilkada di Makassar, efeknya di mana-mana macet. Macetnya tidak seperti Jakarta, macetnya Makassar itu semrawut. Golkar dan PDIP yang hari ini kampanye. Halah…bikin macet aja. Heran saya, kenapa sih orang harus keliling-keliling kota pakai motor & mobil untuk kampanye? Memangnya ngefek ya kalau keliling-keliling kota bikin macet jalan gitu terus orang akan pilih jagoan mereka?

**Ngetik postingan ini di lobi hotel Singgasana, di kamar tumben susah dapat sinyal WiFi πŸ™ **

Leave a Reply