Makassar (part 6) - Pantai Losari
Tadi pagi sebelum berangkat ke Telkomsel, saya mampir dulu ke hotel Quality tempat Pak Nana & Opie menginap. Hotelnya persis di depan pantai Losari. Keluar hotel foto-foto dulu di depan tulisan “Pantai Losari” (mode narsis sudah di-switch ON
)
Sebenarnya saya bukan termasuk tipe orang yang gampang mengapresiasi sesuatu, termasuk pantai. Jadi saya kurang bisa menilai bagus tidaknya sebuah pantai. Trus kalau gak bagus ngapain difoto? Ya sekadar untuk kenang-kenangan saja, biar ada story-nya kalau saya pernah ke Pantai Losari Makassar. Mungkin bagus tidaknya sebuah pantai tergantung dengan siapa saya pergi ke pantai ![]()
Makassar (part 5) - Enaknya Kerja Di Luar Kantor
Kalau disuruh pilih mana yang lebih enak kerja di kantor terus atau pergi-pergi, sudah pasti saya akan pilih kerja di luar kantor (alias ditugaskan pergi-pergi terus). Memangnya apa enaknya tugas di luar kantor seperti sekarang ini? Banyak enaknya tugas di luar kantor seperti sekarang ini. Bangun tidur bisa siang, tadi pagi saja saya baru bangun jam 9.30. Ya iyalah wajar, semalam baru tidur jam 2.30….ngapain? Kerja? Gak sih…cuma ngobrol doank
Coba kalau di Jakarta, gak mungkin kan datang ke kantor jam 11 siang? Cari perkara namanya kalau datang kantor jam 11 siang.
Berhubung hari ini tidak ada yang bisa dikerjakan, kami semua bisa pulang “tenggo”, bahkan pulang sebelum “teng”
tadi kami keluar Telkomsel sekitar pukul 4.44 WITA. Ini adalah foto saya dan rekan-rekan NSN (Pak Nana, Paulus, & Mas Ofi) sepulang dari Telkomsel Panakukang Makassar. Sekitar pukul 5 sore, matahari Makassar masih terik sekali.
Jadi ceritanya tugas saya kali ini adalah memasang server Primepower 1500 milik Telkomsel bersama-sama dengan Pak Nana. Berhubung belum semua UPS datang, “terpaksa” nganggur beberapa waktu, server tidak bisa dinyalakan sebelum UPS terpasang. Loh kok “terpaksa” ? Terpaksa dalam tanda kutip itu dibaca = senang diberi liburan gratis ![]()
Pulang kerja bisa langsung main biliar. Pulang dari Telkomsel saya balik lagi ke Arena Pool & Cafe. Main biliar sejam lebih bareng Pak Nana & Paulus. Karena bukan hari libur dan hari masih cukup terang, di sana masih sepi. Hanya ada 3 meja yang dipakai main. Foto di atas hasil jepretan Pak Nana dengan kamera Nikon Coolpix saya. Murah main biliar di sana kalau masih sore seperti tadi, main 1 jam 15 menit plus Teh Botol, Capucinno, Coca Cola cuma habis Rp43500. Next time harus bawa cue stick sendiri kalau ke Makassar lagi.
** Tulisan yang memancing revisi kebijakan kantor terhadap karyawannya
**
Makassar (part 4) - Nyemir Sepatu
Ada-ada saja kelakuan rekan saya Rizki di kantor beberapa hari yang lalu. Saat semua orang pergi makan siang, dia sibuk menyemir sepatunya. Lihat hasil foto saya saat saya pulang makan siang :
Membawa semir botolan ke kantor mungkin ada gunanya. Tidak peduli apapun jabatannya di kantor, tidak ada salahnya kan sepatu selalu kinclong. Komik di atas hanya gurauan sarkastik saya terhadap Rizki. Menyemir sepatu sebelum datang interview kerja juga penting loh (ngomongin interview kerja itu hal yang sensitif di kantor
). Kalau saya biasanya menyemir sepatu di rumah, itu pun misalnya mau kondangan atau sepatu sudah benar-benar kotor. Hal lain yang memicu saya menyemir sepatu adalah kalau punya sepatu baru
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda selalu ngantor dengan sepatu mengkilat?
Makassar (part 3) - Sop Konro & Arena Biliar
Sabtu kemarin saya dan rekan saya Pak Nana lembur di Telkomsel Panakukang Makassar. Instalasi kabel LAN & kabel fiber Primepower 1500. Selesai kerja sekitar pukul setengah 8 malam. Lapar kami berdua naik becak ke Mal Panakukang. Lucu juga becak khas Makassar. Joknya tidak terlalu lebar seperti becak Cirebon.Saya pernah foto becak di Makassar waktu datang ke Makassar awal Juli lalu. Foto diambil dari depan hotel Singgasana dengan mode zoom, jadi tidak terlalu bagus hasilnya.
Saya dan Pak Nana sengaja ke Mal Panakukang karena ingin main biliar. Dapat informasi dari Pak Asep (Telkomsel), di Mal Panakukang ada tempat biliar. Sampai di mal kami sudah lapar jadi kami putuskan makan dulu baru main. Kami pilih makan sop konro di rumah makan Sop Saudara di food courtnya Mal Panakukang. Tampilan sop konronya seperti ini :
Rasanya : nothing special. Sebenarnya saya cari konro bakar, sayang adanya cuma sop konro. Tulang iganya doank yang gede, dagingnya sedikit. Ya cuma Rp21000,- sih jadi gak bisa berharap banyak. Selesai makan kami putar-putar Mal Panakukang, gila ramainya. Di Jakarta saya gak pernah menemukan mal yang sama ramainya (ya iyalah, ke mal aja jarang
) Lebih dari 30 menit putar-putar kami tidak kunjung menemukan tempat biliar yang dimaksud Pak Asep. Susah cari informasi di mal ini, tidak ada sekuriti yang gampang ditemui. Lelah putar-putar kami putuskan pulang saja cari tempat biliar di luar mal. Di pintu keluar ada sekuriti, langsung saya tanya di mana sih tempat biliar yang namanya “Score”…..halah ternyata sudah tutup (bangkrut?). Gelo, putar-putar cari tempat yang sudah tidak ada.
Ujung-ujungnya kami naik taksi ke tempat biliar. Diantarkan oleh supir taksi di jalan Ahmad Yani, di sana ada tempat biliar namanya Arena Pool Club. Cukup bagus meja biliar dan cue-nya. Karena weekend, sejam main di sana dikenakan tarif Rp27500,-. Katanya sih kalau hari biasa dan siang hari tarifnya cuma Rp13000,- (murah ya). Yang kurang dari Arena Pool Club adalah musiknya yang terlalu berisik. Susah ngobrol kalau kita sedang main di sana. Speaker yang tidak terlalu bagus tapi dipaksa disetel keras-keras. Ah…benar-benar tersiksa telinga saya. Niatnya sih hari ini saya balik lagi main di sana
. Tadi malam kami pulang ke hotel sekitar pukul 12 malam. Pegel euy dari pagi sampai tengah malam. Apalagi tadi siang instalasi di Telkomsel berasa seperti sauna, panas gara-gara AC di ruang server-nya juga baru diinstal.
Makassar (part 2) - Soal Minibar
Tadi waktu saya pertama masuk kamar 812 hotel Singgasana, yang saya cek pertama kali adalah kulkasnya. Sama seperti dua kali kedatangan saya sebelumnya, kulkasnya kosong melompong. Tadi saya diantar room boy, jadi langsung saya tanya : “kenapa sih tiap kali saya nginap di Singgasana selalu dapat kamar tanpa minibar?”
Menurut si room boy hotel Singgasana sering dikunjungi rombongan, satu kamar bisa diisi 3 orang. Belajar dari pengalaman banyak kasus 3 tamu saling tunjuk siapa yang mengambil minuman/makanan di minibar, manajemen mengambil keputusan mengosongkan isi minibar. Lucu…tidak standar. Lah kalau ada yang gak ngaku, pegang saja ketua rombongannya atau potong saja uang depositnya.
Lebih lucu lagi untuk apa donk 3x menginap di Singgasana saya selalu open card dulu waktu check in sebagai dana deposit? Tadi begitu saya komplain soal minibar, si room boy malah menyarankan silakan telepon saja room service kalau butuh makan/minum Pak. Yee..itu sih saya juga tau. Malas aja masa sekadar minum softdrink harus telepon room service.
Makassar (part 1) - Balik Lagi
Siang ini saya balik lagi ke Makassar. Rencana instalasi server baru di Telkomsel yang tadinya diundur sampai minggu depan, diubah kembali jadi akhir pekan ini. Ada-ada saja, masa akhir pekan kerja juga. Saya kali ini berangkat dengan Garuda pukul 12.50, harusnya sih pagi saya ke kantor dulu. Tapi kali ini saya gak berangkat ke kantor, jam 11 langsung berangkat dari rumah ke bandara. Hmm…kalau menurut bos saya hal semacam ini (gak ngantor dengan alasan langsung ke bandara) bisa membuat “preseden buruk”
. Tau kan artinya “preseden buruk”? Artinya lebih kurang = kelakuan yang salah yang lama-lama jadi suatu kebiasaan. Atau bisa juga memancing orang lain menganggap & berperilaku yang salah.
Tadi di bandara sebelum masuk ruang tunggu, saya mampir dulu di toko buku terminal 2 (apa ya lupa nama tokonya). Seperti biasa kalau masuk toko buku, ada saja godaan buku yang menggoda untuk dibeli. Akhirnya keluar bawa buku ini :
Buku tipis kecil ini karangannya Safir Senduk. Saya pernah melihat beberapa buku karangan Safir Senduk tapi dari dulu gak pernah beli buku-bukunya. Salah satu yang terkenal itu kalau gak salah “Karyawan Juga Bisa Kaya” (hmm..gak ingat pasti, maaf kalau salah. tapi kurang lebihnya seperti itu). Iseng juga saya beli buku “Mengatur Pengeluaran Secara Bijak” ini. Padahal tadi saya sudah bawa 3 buku sekaligus. Buku “Digital Fortress”-nya Dan Brown, Laskar Pelangi, dan The American yang saya beli minggu lalu. Tapi mungkin penting juga bagi saya belajar membaca buku-buku serius macam bukunya Safir itu, biar seimbang kan? Kebanyakan baca novel bisa-bisa otak saya jadi ngaco
. Novel Digital Fortress selesai saya baca di pesawat tadi sebelum mendarat di Makassar. Nanti saya tulis review-nya kalau sempat
.
Saya sampai di Makassar kira-kira pukul 16.20 waktu setempat (maju 1 jam dari Jakarta). Mendarat di tengah hujan gerimis, begitu keluar bandara eh panas lagi. Dari bandara saya dan Pak Nana (rekan dari Siemens) langsung menuju Telkomsel. Survey sebentar lokasi instalasi mesin Primepower 1500. Jam setengah 7 baru pulang, sebelum pulang ke hotel makan malam dulu. Lucu juga, jauh-jauh ke Makassar makan malamnya ayam goreng di warung tenda khas Lamongan
. Besok lah cari makan yang lebih berasa “Makassar”, konro bakar
. Hari ini ada kampanye pilkada di Makassar, efeknya di mana-mana macet. Macetnya tidak seperti Jakarta, macetnya Makassar itu semrawut. Golkar dan PDIP yang hari ini kampanye. Halah…bikin macet aja. Heran saya, kenapa sih orang harus keliling-keliling kota pakai motor & mobil untuk kampanye? Memangnya ngefek ya kalau keliling-keliling kota bikin macet jalan gitu terus orang akan pilih jagoan mereka?
**Ngetik postingan ini di lobi hotel Singgasana, di kamar tumben susah dapat sinyal WiFi
**
Calo Minta Maaf?
Kemarin ada yang mengirim email pada saya isinya seperti ini :
----- Forwarded Message ----
From: yunus azis <yunus_azis @yahoo.com></yunus_azis>
To: teddy_itb@yahoo.com
Cc: tedy_itb@yahoo.com
Sent: Wednesday, July 9, 2008 12:38:43 PM
Subject: Calo di AirportSaya membaca tulisan anda tentang kekesalan anda atas
pengalaman sulitnya mendapatkan tiket pada saat akhir
pekan. Bisa dibilang saya juga calo . Bedanya saya
tidak berkeliaran mencari lawan. Saya cuma orang yang
lebih sering berada dibelakang panggung. Saya mohon
maaf kalau "pekerjaan" saya telah merugikan banyak
orang. Juga buat Pak Teddy. Permohonan maaf saya ini
bukan mewakili seluruh calo. Kami memang tidak pny
organisasi. mhn maaf sekali lagi.
Rupanya si pengirim sudah membaca tulisan saya tentang percaloan di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Hmm…fiktif kah si pengirim email ini?
Speedy Dengan Speed Baru
Akhirnya malam ini Speedy saya hidup lagi, kali ini bangkit dari kubur dengan kecepatan yang dahsyat. Dengan teknologi baru (PPPoE), Speedy mencapai kecepatan 865 Kbps. Lihat hasil tes dari http://www.speedtest.net berikut ini :

Dari http://www.speakeasy.net/speedtest hasilnya pun kurang lebih sama :

Mantap kan? Kemarin siang saat saya di Makassar, saya ditelepon teknisi dari Telkom yang ingin memperbaiki koneksi Speedy saya. Ah daripada repot menunggu saya pulang, saya minta saja konfigurasinya. Tadi pulang dari kantor langsung saya coba. Ternyata masih bermasalah dengan autentikasinya. Untungnya ada Pak Win rekan saya, dia manajer network Telkom Jakarta Barat. Langsung Pak Win menghubungi anak buahnya, minta password saya diset ulang. Tidak sampai setengah jam, notebook saya sudah dapat IP baru dari Telkom. Wush…speed-nya langsung naik
. Thanks Pak Win untuk bantuannya malam ini.
Makassar (part 2) - Pulang
Pagi ini saya bangun kesiangan. Jam 9.40 waktu Makassar saya baru bangun, buru-buru bangun pergi ke bawah untuk breakfast. Karena yang saya tahu biasanya hotel menyediakan waktu breakfast sampai jam 10 pagi (kecuali Ibis Surabaya sampai jam 12). Selesai makan saya cukup heran, kenapa belum ada tanda-tanda pegawai hotel membereskan tempat makan pagi. Ternyata Singgasana hotel waktu makan paginya sampai jam 11 siang. Selesai makan saya baru tahu kalau ada perubahan rencana pekerjaan di Telkomsel Makassar. Jadi saya bisa pulang hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 10.20…penerbangan yang paling dekat jadwalnya adalah pukul 12.00 (waktu Makassar). Cepat-cepat saya balik ke kamar, mandi, beres-beres…langsung check out.
Dari hotel Singgasana saya naik taksi hotel menuju bandara Hasanuddin. Biarpun lewat tol, tolnya juga macet. Jadilah saya sepanjang jalan deg-degan takut ketinggalan pesawat. Di jalan saya sempat telepon ke call center-nya Garuda, saya tanya jadwal penerbangan Garuda dari Makassar ke Jakarta selain jam 12 siang ini. Ternyata ada jam 5 kurang seperempat sore hari. Ah cukup tenang…paling tidak kalau sampai terlambat naik pesawat yang jam 12, saya masih bisa dapat penerbangan sore jam 5 itu. Saya sampai di bandara pukul 11.35. Ah masih bisa bernafas lega, buru-buru datang ke counter Garuda minta print tiket. Waktu saya di counter Garuda, saya dengar pengumuman Garuda GA651 baru mendarat dari Jayapura. Makin lega, karena saya tahu pesawat saya menuju Jakarta adalah GA651 yang datang dari Jayapura. Counter check-in Garuda sudah sepi, tapi saya masih bisa check-in.
Selama ini saya selalu heran kalau ada orang yang datang di menit-menit terakhir boarding. Saya selalu heran apalagi pada orang-orang yang dipanggil namanya berkali-kali ketika hampir semua penumpang pesawat sudah masuk ke pesawat. Kali ini hampir saya yang melakukannya
Untungnya waktu masuk ke ruang tunggu, proses boarding masuk ke pesawat belum mulai. Yah tulisan ini sekaligus buat klarifikasi bahwa saya tadi sudah mandi dulu di hotel sebelum pulang ke Jakarta
Harusnya tadi saya gak usah mandi dulu ya, supaya bisa langsung pulang ke rumah dari bandara gak perlu ke kantor seperti sekarang ini ![]()
Makassar (part 1) - Boeing 737-900ER
Pagi ini saya berangkat lagi ke Makassar. Sabtu kemarin Dwidaya Travel mengirimkan tiket ke rumah atas permintaan Pak Rully bos saya. Dapatnya Lion Air lagi
… penerbangan jam 8.40 pagi. Tadi pagi di bandara sambil tunggu antiran check-in (yang antrinya panjang & lama), saya membuat daftar tentang hal-hal yang membuat saya sebel kalau disuruh pergi dengan Lion Air. Sambil ngopi di kafe, saya tuliskan beberapa hal tersebut di kertas biar gak lupa :
- Proses check-in lama, antriannya pun panjang. Entah karena penumpang Lion Air yang selalu membludak atau karena petugasnya lambat bekerja.
- Delay, seperti yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya Lion Air cukup populer dengan budaya delay-nya.
- Ruang tunggu terminal1A ramai sekali. Tidak jarang susah sekali mendapat tempat duduk di dalam ruang tunggu keberangkatan. Mirip-mirip terminal bis jadinya, atau mungkin mirip pasar?
- Susah cari makan. Gak ada Hoka-hoka Bento, gak ada Starbuck. (Yang ini sih dipas-pasin alasannya
) - Lion Air tidak memberikan penumpangnya minum apalagi makan secara cuma-cuma. Cukup menyiksa untuk penerbangan jarak jauh. Kalau naik Lion Air sebisa mungkin perut harus kenyang & cukup minum.
- Gak ada point reward
Kalau naik Garuda kan lumayan tuh dapat milleage untuk ditukar dengan terbang gratis (norak gak sih saya ini?
)
Tapi saya cukup terhibur pagi ini walaupun harus pergi dengan Lion Air. Hiburan pertama, boarding tepat sesuai schedule. Jam 8.20 kami semua dipersilakan masuk pesawat…sesuai jadwal yang tercetak di boarding pass. Hiburan kedua, penerbangan ke Makassar menggunakan pesawat baru Lion Air…Boeing 737-900 ER. Lumayan menghibur karena dapat kesempatan mencicipi terbang dengan pesawat baru kebanggaan Lion Air; dulu katanya Lion Air adalah maskapai yang pertama kali mengoperasikan pesawat baru keluaran Boeing tersebut.
Memang enak sih naik pesawat baru, gak kotor dan masih rapih interiornya. Dapat kursi lumayan belakang, 36A. Naik & turun pesawat ini cukup mulus (itu sih mungkin karena skill pilotnya kali ya?). Tapi cukup ngeri waktu pesawat direm, runway bandara Hasanuddin tidak terlalu panjang jadi sepertinya pilot ngerem sekuat-kuatnya. Sepanjang penerbangan ke Makassar, saya habiskan dengan membaca novelnya Dan Brown yang saya beli Sabtu lalu, Digital Fortress. Cukup menarik ceritanya, jadi bisa membunuh bosan di perjalanan. Sampai di Makassar tepat pukul 12.04 waktu setempat (lebih cepat 1 jam dari Jakarta). Hmm..tulisan macam ini bisa memicu keberangkatan berikutnya diberi Lion Air lagi nih ![]()


















