Makassar (part 2) – Hotel Sahid Jaya Makassar

Sejak tiba di Makassar saya tidak sempat mengupdate blog ini. Liputan tentang hotel pun telat saya buat, baru Sabtu malam saya buat liputan tentang hotel Sahid Jaya. Kunjungan ke Makassar kali ini, saya menginap di hotel Sahid Jaya. Tadinya saya minta hotel Singgasana (supaya dapat internet gratis), tapi ternyata Singgasana penuh dan jadilah saya menginap di hotel Sahid Jaya. Yah hitung-hitung mendapat pengalaman baru menginap di hotel lain.

Berikut komik review singkat hotel Sahid Jaya Makassar :

Boleh percaya boleh tidak, selama 3 hari menginap saya sudah bertemu kecoak 5 kali di kamar. Di komik tertulis 3 kecoak, itu masih pakai data statistik kecoak yang lama :-p Tidak lupa saya ambil fotonya, memang susah mengambil foto kecoak yang lari-lari. Mungkin sama halnya dengan Hotel Sahid Surabaya yang pernah saya buat review-nya beberapa bulan lalu, Hotel Sahid Jaya Makassar ini relatif tua sehingga wajar kalau saya menangkap kesan “bulukan” di kamarnya. Hmm…agak susah mendeskripsikan kata “bulukan”; sulit juga mendeskripsikan nuansa tidak fresh yang saya dapat waktu saya masuk kamar. Dari luar memang Sahid Jaya ini terkesan cukup megah, lihat fotonya :

Foto di atas adalah foto yang diambil oleh Rachmat rekan saya Minggu siang (Mat pinjam ya fotonya:-p ). Oh ya saya lupa cerita kalau keberangkatan saya kali ini ke Makassar bersama dengan Rachmat. Kali ini saya membantu Rachmat yang akan melakukan instalasi di Telkomsel.

Hotel Sahid Jaya ini menyediakan fasilitas hotspot (wireless internet) gratis ada di lobi (katanya sih menjangkau lantai 2). Berhubung saya dapat kamar di lantai 5, saya praktis tidak bisa mencoba fasilitas internet gratis tadi selama di kamar. Saya baru sempat mencoba hotspot-nya saat duduk di restoran. Lumayan sajalah ada fasilitas internet gratis walaupun lambat sekali aksesnya. Nah saya juga punya cerita soal restorannya hotel Sahid. Restorannya diberi nama Tanjung Bira Cafe, seperti ini ceritanya : Pelayanan restorannya jangan ditanya, sangat tidak profesional. Jadi ceritanya setelah check out hari Minggu siang, saya pergi ke restorannya untuk makan siang (karena Minggu pagi saya tidak breakfast). Restorannya adalah tempat yang sama yang dipakai untuk sarapan pagi. Pelayanannya di sini super lama. Saya pesan sirloin steak plus iced capuccino. Dari pesan sampai iced capuccino datang butuh waktu hampir 15 menit. Dari waktu saya memesan sampai steak datang butuh waktu hampir 30 menit.

Ketidakprofesionalan pertama, si mbak pelayan datang cuma membawa piring berisi steak dan tempat saos. Dibawa begitu saja dengan tangan tanpa nampan. Hmm…kok kesannya tidak profesional ya. Lucunya lagi dia datang mengantarkan steak tanpa membawa pisau garpu. Ok lah tanpa garpu, karena mungkin dia pikir sudah ada sendok garpu di setiap meja. Lah terus memangnya saya harus makan steak menggunakan sendok dan garpu? Saya diamkan saja dulu, saya pikir si mbak akan kembali lagi membawakan pisau. Tunggu punya tunggu ternyata dia tak kunjung balik lagi. Saya panggil mbak pelayan yang lain minta diambilkan pisau. Cuma minta diambilkan pisau saja lamanya bukan main. Heran, ambil pisau butuh waktu berapa lama sih? Apa dia perlu mengasah dulu pisaunya sampai butuh waktu yang lama? Ok, pisau datang saya siap makan. Tampilan steak di atas piringnya sih memang terlihat ok, tapi soal kualitas steak terbalik 180 derajat dari tampilannya. Ini foto steaknya :

Sirloin steak-nya keras. Ketidakprofesionalan lainnya adalah saat membayar. Saat saya minta bill, ada 2 mbak pelayan di dekat kasir. Saya minta bill kok malah cekikikan (cekikikan = ketawa-ketawa kecil sambil becanda)….benci banget liat orang cekikikan X( . Menyiapkan bill saja lama, eh si mbak datang bukannya membawa bill malah bertanya : “bapak mau bayar cash atau pakai credit card?” Halah…segera saya sodorkan credit card saya. Ini juga makan waktu lama. Tinggal gesek saja kok pakai lama, mereka akhirnya memanggil seorang pria berjas (mungkin manajer restoran) minta bantuan. Entah mereka yang bego tidak bisa mengoperasikan mesin credit card atau karena sebab lain. Ah untung sudah agak kenyang jadi saya tidak terlalu emosi. Saat saya konfirmasi, rupanya ada masalah dengan mesin kartu kredit.

Kapok deh balik lagi ke restoran ini, balik ke hotel ini juga kayaknya saya kapok.

7 thoughts on “Makassar (part 2) – Hotel Sahid Jaya Makassar

  1. Wah ati-ati kalo credit card dibawa agak lama, banyak pemalsuan dan ‘pencurian data’ credit card lho.. Sorry bukannya nakut2in nih.. 🙂
    Cuma aku sih sedikit paranoid kali, jadi kalo tiap kalo pakai credit card, aku mesti ikutin orangnya dan liatin bener credit cardku ga di ‘apa2’ in ama mereka.

  2. Hi Ted, belum pernah dapat pengalaman buruk dengan kartu kredit sih, cuma banyak temen ama sodara yg pernah ngalamin. Selama hampir 10 tahun aku pakai Citi Bank sih cukup puas, 2 taun lalu dompet ilang di Sydney berikut semua kartu, langsung lapor dan minta ganti, seminggu kemudian sampe di Bandung (pas mudik) kartu kredit pengganti udah menanti di rumah, jadi service citi bank menurut pengalamanku sih cukup ok.

  3. dear Ted : be good personal man
    touch but, dont touch \
    what man kind you are…..?????
    techno for good or bad you choose…….
    think what i say about….
    find you answer for, than send me……
    reality of technology can we find together for…….???
    play for …….

  4. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Di Sudut Losari

Leave a Reply