Soal Kamera Analog

FM2 #1Tiap kali saya bawa kamera analog (kamera film), pasti ada saja orang yang bertanya kenapa saya masih pakai kamera film di jaman digital. Sering saya bawa 2 kamera, satu Canon 1000D dan satunya kamera Nikon FM2. Mungkin ada 2 alasan kenapa saya putuskan untuk membeli sebuah kamera analog.

Alasan pertama adalah ingin tahu sebenarnya bagaimana hasil foto hitam putih yang sebenarnya. Banyak yang bilang foto hitam putih (B/W) dari kamera digital tidak bisa menyamai bagusnya hasil dari kamera analog dengan film B/W. Katanya gradasi dan tonal foto hitam putih yang dihasilkan kamera digital masih kalah jauh dibandingkan hasil dari film B/W.

Alasan kedua adalah saya ingin belajar disiplin motret. Disiplin maksudnya tidak asal jepret. Saya mungkin sama seperti pengguna DSLR lain yang baru tahap belajar, seringkali menggampangkan proses pengambilan gambar. Jepret jepret lalu intip hasilnya di LCD. Tidak salah memang karena memang untuk itulah LCD dibuat. Tidak jarang pulang foto-foto, memory card penuh dengan foto tapi hanya sedikit dari foto-foto tersebut yang benar-benar bagus. Tapi saya ingin bisa motret dengan benar, intip viewfinder, semua setting sudah benar (exposure, speed, aperture, komposisi) baru kemudian eksekusi menekan tombol rana.

Saya ingat banyak fotografer senior Indonesia memberi nasihat, buatlah foto itu benar saat masih di kamera…get it right on the camera. Bukan memotret untuk kemudian diperbaiki di komputer. Dengan kamera analog (dengan film terpasang maksudnya :D ), saya merasakan deg-degannya memotret. Maksudnya tegangĀ  takut fotonya gagal. Saya jadi ekstra hati-hati sebelum memotret, saya lihat lagi komposisinya apakah sudah benar, saya cek lagi shutter speed-nya apakah sudah tepat tidak akan blur, saya cek lagi apakah subjek sudah benar-benar fokus.

Kamera Nikon FM2 ini saya beli tahun lalu seharga 1,2juta dari seorang kolektor kamera antik di daerah Pejaten Jakarta Selatan. Nikon FM2 ini mungkin sudah berumur sama seperti saya, kalau tidak salah Nikon FM2 ini buatan tahun 1982-1983. Semuanya masih manual, pengaturan kecepatan (shutter speed), ISO film, aperture/diafragma, fokus semuanya dilakukan dengan manual. Demikian juga dengan tuas untuk memajukan film dari satu frame ke frame berikutnya. Tiap kali selesai jepret, saya harus tarik tuas ini untuk siap memotret kembali. Klasik ;)) Waktu beli kamera ini, saya tidak punya lensa Nikon. Jadi setelah beli Nikon FM2 ini saya beli lensa Nikon AF-D 50mm f/1.8. Cukup satu lensa normal untuk tahap coba-coba.

Gara-gara beli kamera ini saya jadi punya pengalaman pertama memasang film ke dalam sebuah kamera. Untungnya pertama kali test memotret dengan menggunakan kamera ini, semua filmnya (37 frame) berhasil merekam gambar. Tidak ada film yang terbakar karena salah motret :D Tujuan awal beli kamera ini untuk mencoba film hitam putih malah belum tercapai. Kendalanya adalah saya masih belum menemukan tempat cuci cetak film B/W. Tidak semua lab foto masih menyediakan jasa pencucian film B/W. Film B/W yang sebenarnya diproses dengan cairan kimia & diproses secara manual, bukan dengan mesin. Beda lama waktu mengocok film di dalam cairan kimia, beda pula hasil foto yang dihasilkan. Beda orang yang mencuci film, beda pula hasilnya. Pokoknya banyak aspek yang mempengaruhi. Katanya paling pas adalah motret sendiri, cuci sendiri, cetak sendiri.

Meskipun demikian saya sudah coba film B/W yang berkategori C41. Tahun lalu saya coba beli film Kodak BW400CN. Film ini kata penggemar fotografi hitam putih disebut sebagai film B/W “banci”. Mengapa disebut banci, karena film ini diproses menggunakan mesin cuci cetak film warna. Jadi saya dengan mudah bisa bawa film ini ke lab foto seperti Adorama, selama lab tersebut masih punya mesin cuci cetak film warna maka film Kodak BW400CN bisa diproses di sana. Hasilnya memang jauh berbeda dengan film B/W yang asli, hitamnya masih tidak maksimal masih ada warna kehijauan di hasilnya. Berikut contoh satu foto hasil film Kodak BW400CN (cuci cetak di Adorama Menteng), hasilnya saya scan dengan scanner biasa :

Hasil scan saya olah lagi di Photoshop (hayah tetap saja balik lagi ke komputer =)) ). Ya saya kurang suka dengan tone kehijauan yang dihasilkan….masa foto hitam putih terkesan kehijauan. Jadi untuk menghilangkan tone kehijauan itu, saya pakai Photoshop sekaligus untuk mengangkat sedikit kontrasnya.

Saya sudah beli film B/W merek Lucky (ISO 100) tapi belum pernah saya pakai. Nanti kalau sudah menemukan tempat cuci cetak film B/W baru saya berani coba. Alternatif lain adalah belajar mencuci film B/W sendiri, dengan kata lain belajar teknologi kamar gelap. Hmmm tantangan tersendiri sih, perlu usaha ekstra keras. Salah satu kenalan saya fotografer yang masih memotret dengan film pernah bilang pada saya untuk memikirkan kembali niat saya itu. Katanya lebih baik waktu & dana yang ada dipakai untuk mendalami fotografi digital saja. Jangan setengah-setengah katanya kalau ingin terjun belajar cuci cetak foto hitam putih. Hmmm nasihat yang sangat masuk akal, tapi tentu tidak ada salahnya mulai mencoba belajar sesuatu yang baru bukan?

18 thoughts on “Soal Kamera Analog

    • sedikit menjawab sejauh saya tahu saja ya om, yang jelas beda ialah sensornya, analog menggunakan rol film, kalo digital ya menggunakan sensor digital, spesifikasi fitur kamera analog menjadi dasar kamera digital, misalnya diafragma, speed, asa (analog) kalo digital lebih dikenal iso.. dan lainya masih banyak lagi fitur digital yang tidak dipunyai analog yang tidak mungkin saya sebut satu per satu..
      dan yang pasti feel / rasa / sensasi menggunakan analog sangat terasa daripada digital, karena setiap frame jepretnya sangat berharga dan tidak bisa dilihat langsung hasilnya..

  1. saya juga punya Kamera analog,tapi lebih Tua dari punya mas nya.Yashica FX-7 tahun 1976..ini punya bapak saya hehe, mang lebih sulit untuk memotret dngn kamera ini,apalagi saya awalnya menyentuh kamera digital,yg fokusnya di auto dan sekarang make analog harus puter2 fokusnya,.hehehe saya pernah pake B/W hasilnya bener2 jadul,hanya ada 5 foto yg saat di cuci hitam di bawahnya malah ada yg setengah nya hitam.tidak tahu kenapa.mungkin settingan saya salah kali ya,jadi kebakar.walaupun check exposurenya udah pas. barangkali mas nya pernah terjadi demikian,bisa ngasih info ke saya kenapa seperti itu.hehehe salam jepret mas.

    • pake Flash ga tuh waktu ambil foto? soalnya penyetelan dial shutterspeed dengan pemakaian Flash maksimal 1/125 detik (bisa diliat di ilustrasi tampak atas kamera analog di Blog ini, disitu angka 125 pada speed dial dicat merah).. mungkin kecepatan shutter-nya lebih dari 1/125, seperti 1/250, 1/500, dst..

    • sori, lupa nambahin.. jadi kesimpulannya, kecepatan lampu Flash nyala, masih lebih lambat dari kecepatan shutternya, jadi cuma sebagian aja deh yang kena kilatan lampu

  2. wah, ulasan yang menarik mas, saya punya Ricoh A-50, dan dari dulu belum berani pakenya, tp sekarang keangkat deh niat untuk coba ASLR, wish me luck, haha

  3. saya pake fujica, film pernah coba pake lucky 100, memang tempat cuci menjadi kendala saat memakai film BW. apalagi saya punya pengalaman pahit, waktu di cuci, terjadi kesalahan proses sehingga filmnya tidak terproses dengan baik, jadi ada loreng2 gitu. Orangnya memang minta maaf, tapi kan tetep aja gambarnya ilang, tdk ada back up atau di proses ulang. Dalam hati saya pikir, untung masih pake lucky 100 yg memang buat coba2. Saya sempet hunting film BW waktu ke luar, dan masih saya simpen karena blm nemu tempat yg meyakinkan buat proses BW. Namun betul sekali, feeling analog memang luar biasa, terlepas dari semua keterbatasannya..

  4. mohon bantuannya..skripsi saya tetang kamera analog.saya kesulitan mencari definisi kamera analog.bisa share daftar pustakanya ga ya?thank’s

  5. Saya juga baru beli Pentax K1000 ini juga masih coba-coba :D Sebelumnya pake analog tapi toycam: disderi, fisheye. Pernah coba pake Lucky tapi kesusahan cuci nya karena ngga semua toko bisa cuci film BW. Coba pake redscale juga;)

    • itu sering terjadi kok kak ,

      biasanya mekanik di dalam mulai aus karena pemakaian yang terburu-buru ( namanya juga barang lawas makenya juga harus hati – hati ) , setiap kita ngokang maka tirai akan ikut ketarik , terkadang ritme pengokangan yang tergesa gesa akan mengakibatkan kerusakan di dalam gear(gearnya kecil kecil bener dan jelimet kalaw dak ada daya ingat kuat jangan coba bongkar deh di jamin gag bisa masangnya, soalnya semua setingan pake korelasi, mending anter ke tukang servis di Pasbar, biayanya juga gag mahal kok ),

      ngokang nya harus full jangan setengah setengah heheheheh :P (kalaw setengah-setengah belom mentok, shutter dan tirainya belom balik makanya kongannya nyangkut )

      kesimpulannya kokangan kakak nyangkut karena ada gear yang tidak berfungsi dengan baik ato pergeseran dari kedudukannya. (mending diservis makin lama maka makin parah dan akan sulit diperbaiki )

      buat TS Nya :

      analog itu soal proces, kalaw soal hasil bw dan digital kan ada Nix yang dah ada pengaplikasian Zone systemnya Om ansel adam

      BW analog jelimet kudu paham Zs, ngolah develop, pemaham karakter film, Ciri khas gear (tiap gear dan lens yang dipakai akan menghasilkan karakter yang berbeda, karena dipengarui dengan coating di lensa dan Indek exposure bawaan tiap body), dan perlu memiliki kesabaran penuh yang penuh intuisi sebelum jepret, soalnya gag bisa buru buru makanya orang bilang analog bw punya nilai ” extra “, extra capek , extra mumet , extra biaya , extra pemikiran hahahahahah

      soalnya tiap film beda rasa, beda racikan, beda IE ( index exposure), dan beda aturannya hahaha, dan terpenting kenalan dulu ma Om Ansels Adam

      klw gag suka proses dan cuman pengen hasil analok adalah kutukan bagi anda :D
      emang gag salah buat mencoba tapi apakah cuman hasil yang kita pengen ?

      kalw pengen coba analog mending pahamin dulu ini kata om Ansel

      ” Expose for shadow, Develop For Highlight ” ==> jadi jawaban om soal apa perlu belajar nyuci terjawab dari petuah Om AA

      hahahahha semoga bermanfaat ya om , itu bukan pendapat saya tapi itu saya kutip dari perkataan orang orang yang dah makan asam garam di analog.

      yang keringet nya bau fixer dan develop ,,, “beda BW analog dan Digital cuman soal proces dan perlakuan , digital begitu di jepret sering dilupakan, analog gag akan lupa walaw hasilnya jelek, lah wong bikinnya capek kenapa mesti dibuang kalaw perlu dicetak pake enlarger dipajang biar tamu yang datang kerumah tau ini hasil cucian saya lo :D

  6. sama nih, saya juga mulai foto dengan analog karena ingin belajar disiplin dan saya rasa juga untuk belajar dasar fotografi ada baiknya dimulai dari analog :) kamera saya Canon canonet QL17, saya suka karena ukurannya kecil dan simple

  7. maaf mau tanya om2,tempat jual film lucky BW di jakarta mana ya??karena mau beli dengan partai besar nih tapi gak tau tempatnya…makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>