Libur-Libur Kerja

Kerja lagi di hari libur. Ini sudah kesekian kalinya saya pergi kerja di hari libur. Siang ini saya ada pekerjaan di Dirjen Perbendaharaan Negara – Departemen Keuangan Jakarta. Itu loh yang di Jalan Budi Utomo. Pekerjaan saya hari ini adalah menghubungkan banyak server ke switch. Tarik-tarik kabel gitu lah. Ada 6 server (5 Fujitsu Sparc Enterprise + 1 Fujitu Blade server), 2 SAN switch, 2 storage (Fujitsu Eternus 4000) yang harus saya “kabel-i”.

Sebenarnya semua server sudah punya kabel sendiri-sendiri. Karena sekarang letak panel berubah, terpaksa ganti semua kabelnya. Yang lebih membosankan, saya harus mengenali dulu mana saja kabel yang harus saya ganti. Maklum ini limpahan pekerjaan teman saya. Dulu teman saya yang menginstal semuanya. Jadi yang melelahkan campur membosankan adalah “beradaptasi” dulu dengan semua setting-an yang sudah ada. Setelah saya kenal semua environment-nya, baru lah kerja terasa lebih enak. Lelah tapi puas.

Besok saya balik lagi ke sana, tinggal set IP multipath di semua server. Padahal besok kan libur HarpitNas (hari kejepit nasional)…ya kerja lagi deh. Si Bos kemana ya? Enaknya jadi Bos, tinggal tunjuk anak buahnya. Tepatnya pilih & tunjuk anak buah yang selalu bisa bilang “OK Pak”.

Kemarin sore :
“Besok kamu masuk ya ke DepKeu…”

“Tapi besok saya mau pulang kampung Pak…”
“Gak bisa pulangnya Kamis sore aja?”
“Tapi saya sudah ada janji Pak…”
“Tapi ini harus sudah selesai sebelum Senin”

“OK lah kalo gitu Pak…”

Tadi malam :
“Lapor Pak kerjaannya diperpanjang sampai besok…”
“Kamu masih bisa kan besok datang lagi?”
“Bisa lah Pak…” ( udah gak kasih alasan lagi 😀 )
“Ok Thanks”

Anak buah gak jadi liburan? Ya gak masalah…namanya juga anak buah. Loh kok malah ngedumel….he..he..he…gak ngedumel kok cuma cerita. Saya iklas kok kerja di hari libur seperti ini ;)).

Ngomong-ngomong sepi ya Jakarta kalau libur begini. Pulang pergi kerja jadi lancar.

Who Am I

Postingan iseng :

Click to view my Personality Profile page

Mencoba mengenali bagaimana sih kepribadian saya ;)) Iseng buka http://mypersonality.info lalu ikut tes ini. Nah itu hasilnya. Ternyata benar, saya memang seorang yang linguis, pemerhati bahasa. Saya bisa sebel sekali kalau dengar orang bicara aneh : “secara” lah, “analisa” lah… Nah tapi kok saya termasuk visual ya? Padahal saya kayanya lebih ke auditory deh. Tapi kinestetik juga sih : buktinya kalau belajar sesuatu saya harus coba dulu. Percuma baca manual, lebih baik langsung praktek…gitu gampangnya.

Bagus juga nih tes…sekitar 80 pertanyaan di tes ini. Anda perlu coba juga…rekomendasi dari saya 😀

Minta Berapa? Seribu Saja

Saya buka kaca jendela taksi, saya tanya : “minta berapa?” Bocah tadi cengar-cengir bingung menjawab, dengan masih cengar-cengir akhirnya di jawab “terserah aja”. Saya jawab lagi “gak mau terserah sih, minta berapa?”. Eh dia ulangi lagi jawabannya, terserah lagi. Saya juga tidak mau kalah, saya ulangi lagi jawaban saya : “minta berapa?” Akhirnya dia bilang “seribu Om”. Saya rogoh saku kemeja, ambil selembar uang Rp1000,- dan saya berikan ke anak tadi. Wadow…langsung 4 orang anak lain berlarian ke arah taksi saya. “Om saya juga Om, saya juga Om…saya minta lima ribu Om….” ramai sekali jadinya. Langsung saya tutup kaca jendela. Traffic light tidak kunjung hijau, 4 orang anak tadi masih merapat di kaca jendela dan terus merengek…“saya aja Om saya aja Om…seribu aja Om.”

Ini cerita saya kemarin sore. Di Jalan Wahid Hasyim, saya mau pulang ke kantor dengan taksi. Di lampu merah (yang dekat Abuba Steak) seorang anak anak laki-laki, mungkin usia anak kelas 1 atau 2 SD, mendekati taksi saya lalu menadahkan tangan minta-minta. Menyebalkan memang melihat anak-anak jalanan dari kecil sudah belajar meminta-minta. Kemarin jiwa iseng saya muncul. Di saku kemeja saya ada uang seribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan, di dompet ada lima puluh ribuan. Keisengan kali ini sebenarnya terinspirasi cerita teman saya. Katanya mengapa pengemis susah kaya, karena dia tidak berani “mimpi” (Sepertinya saya tidak berkompeten untuk menulis tentang hal ini lagi, mungkin nanti tunggu teman saya saja yang menulis tentang hal ini). Ditanya minta berapa cuma berani minta Rp1000,-. Padahal emarin saya yang lagi iseng siap kalau dia minta lebih dari itu. Tapi ternyata teman saya benar, si anak tadi cuma berani minta Rp1000,-.

Pesan saya : hati-hati kalau mau memberi uang ke pengemis di seputaran Wahid Hasyim, bisa-bisa Anda dimintai Rp100.000 sama pengemis di sana =))