Berapa Gajimu?

Ini fenomena umum di lingkungan kerja. Gaji adalah hal yang tabu dibicarakan. Entah ini awalnya bagaimana sampai timbul norma seperti ini. Waktu pertama kali kerja saya jujur saja menjawab berapa besar gaji saya waktu teman saya tanya. Tiba-tiba seorang teman nyeletuk, “wah elo jangan bilang-bilang gaji lo berapa.”

Tapi memang selalu saja ada orang yang usil ingin tahu berapa gaji temannya. Termasuk teman-teman saya di SMA. Kalau bertemu banyak di antara mereka yang bertanya, “gaji lu berapa sekarang?” Saya sendiri kadang risih kalau ditanya hal ini. Kenapa ya orang mudah mengukur segalanya dari materi? Apa sih untungnya kalau tahu gaji temannya berapa besar? Apa itu sebagai tolak ukur/patokan mana yang lebih sukses, diriku atau dirinya? Gak senang ya lihat teman lebih sukses?

Mungkin karena banyak orang usil seperti teman-teman saya ini kali ya sampai muncul norma yang “mengharamkan” membeberkan gaji antar sesama teman (apalagi yang 1 kantor). Atau jangan-jangan itu sebagai langkah antisipasi untuk mencegah orang jadi pinjam uang :-p Biasanya kan kalau gajinya besar jadi gak enak kalau menolak, mau bohong “wah gua lagi gak ada duit” takut ditodong statement “kan gaji lu gede masa gak ada duit?” =))

Ditulis karena terinspirasi teman saya yang tiba-tiba menelepon kegirangan gara-gara merasa sudah bisa menebak berapa gaji saya.

Sore Lebih Panjang

Sudah seminggu ini saya perhatikan Jakarta sorenya lebih panjang. Entah ini benar atau cuma perasaan saya saja. Jam 6 sore sampai hampir setengah 7 malam langit masih cerah. Jam 6 masih terasa cerah seperti jam 5 sore, jam setengah 7 baru terasa sorenya (mungkin rasa jam setengah 6an lah). Beberapa orang yang saya tanya juga mengiyakan kalau sore hari Jakarta sekarang rasanya lebih panjang. Lebih lama gelapnya gitu loh.

Sore ini pun sama. Tadi saya pulang ke rumah sekitar pukul 18.10 tapi kok masih cerah. Kalau tidak lihat jam mungkin saya akan menebak waktu baru pukul 17.00. Apa ya penjelasan logisnya? Apa gara-gara sudah seminggu ini tidak ada hujan di sore hari? Atau matahari sedang berada di titik terdekat dengan bumi?

Apa Anda merasakannya juga?

Kalau di Surabaya yang saya rasakan di sana pagi lebih cepat terang dan sore lebih cepat gelap. Tapi kalau itu sih saya punya analisis sendiri. Menurut saya itu karena Surabaya lebih cocok masuk ke Waktu Indonesia Bagian Tengah, jadi jam terasa lebih cepat beberapa menit. Surabaya harusnya lebih dekat ke Bali daripada ke Jakarta. Jadi lebih bisa dimaklumi kalau lebih cepat terang dan lebih cepat malam.

Tentang Simpati PeDe

Sejak awal bulan ini saya jadi pengguna Telkomsel. Sudah cukup lama juga saya tidak punya ponsel GSM. Dengan banyak pertimbangan akhirnya saya kembali menggunakan layanan GSM disamping Telkom Flexi yang sudah lama saya pakai. Kadang CDMA tidak bisa diandalkan, apalagi kalau sering bepergian. Terakhir saya pulang ke Cirebon, 10 hari Flexi Combo saya tidak bisa aktif. Praktis 10 hari itu saya kehilangan layanan. Jadi di Cirebon juga saya beli ponsel GSM plus kartunya. Saya pilih Telkomsel PeDe.

Simpati PeDe katanya tarifnya Rp0.5/detik, setelah 1 menit telepon ke sesama Telkomsel (Halo, Simpati, Kartu AS). Jika menelepon kurang dari 1 menit dikenakan tarif Rp25/detik. Untuk menelepon ke operator lain (termasuk ke PSTN) tarifnya flat Rp25/detik. Dari kemarin saya heran mengapa kalau saya menelepon ke nomor Kartu Halo selama lebih dari 1 menit, tetap saja pulsa saya terpotong lebih dari Rp1500,-. Loh katanya setelah 1 menit tarifnya jadi setengah rupiah per detik?

Ah rupanya saya yang salah konsep. Barusan saya bertanya ke customer service-nya Telkomsel (telepon ke 116) tentang hal ini. Saya baru ngerti sekarang. Tarif Rp0.5/detik itu adalah hitungan dimulai dari detik ke 61. Jadi misalnya saya menelepon ke nomor kartu AS selama 1,5 menit; maka tarif yang harus saya bayar adalah :

(60 detik x Rp25,-) + (30 detik x Rp0.5,-) = Rp1515,-

Entah ini karena iklan yang menyesatkan atau karena begonya saya sampai salah konsep begini. Sebenarnya saya bukan tertarik menggunakan Telkomsel karena tawaran murah ini. Memang saya pilih Telkomsel karena sudah terbukti kualitasnya. Tapi kan penasaran juga ada promo kok gak jelas.

Telkomsel Simpati sekarang menyediakan 2 pilihan, ada yang Simpati Ekstra ada Simpati PeDe. Simpati Ekstra teleponnya hitungan per setengah menit. Juga dapat bonus pulsa/bonus sms…katanya sms 6 kali dapat bonus 6. Pengguna Simpati PeDe tidak dapat bonus pulsa/sms tapi teleponnya hitungan detik. Kalau sering sms saya sarankan pakai Simpati Ekstra, kalau sering telepon lebih baik pilih Simpati PeDe. Dua layanan ini dapat dimanfaatkan oleh semua pengguna Simpati. Jadi yang sudah pakai Simpti PeDe bisa pindah ke layanan Ekstra, caranya silakan telepon ke *880# lalu ikuti petunjuk yang disediakan. Begitu pun sebaliknya, pengguna Ekstra bisa pindah ke layanan PeDe.

Loh kok malah ngiklanin Simpati? Kalau dibaca orang Telkomsel, saya dapat bonus pulsa gak ya? :-p