SUNWexplo

Pagi ini Jakarta masih seperti kemarin-kemarin, mendung tebal. Bahkan pagi ini sekitar pukul 7 langit Jakarta sepertinya lebih gelap dari kemarin. Jalanan memang masih relatif lebih lancar. Jam 9 saya keluar meninggalkan kantor pergi ke Toyota. Baru sampai Tanah Abang (memutar menghindari 3in1) hujan sudah turun. Masuk tol dalam kota hujan tambah menggila, deras sekali. Hampir semua kendaraan melambatkan lajunya.

Genangan air di beberapa titik di jalan tol dalam kota arah Tj.Priok membuat kendaraan lebih melambat lagi. Derasnya hujan membuat jarak pandang jadi sedikit berkurang. Waduh ngeri juga kalau terus-terusan begini. Bukan ngeri hujannya tapi ngeri kalau Jakarta banjir lagi. Apalagi Toyota ada di Sunter, kawasan yang dari dulu jadi langganan banjir. Mudah-mudahan hujan cepat reda dan Sunter kali ini aman dari banjir.

Ke Toyota siang ini sebenarnya cuma mau mengambil log dari server SUN milik Toyota. Ternyata untuk mengumpulkan log butuh waktu cukup lama. Salah satu perintah yang saya jalankan adalah :

# /opt/SUNWexplo/bin/expoler

Expoler adalah alat bantu untuk mengumpulkan log detail dari server ke dalam sebuah file *.tar (sudah terkompres). Dengan menggunakan expoler kita bisa melakukan analisis terhadap server. Misalnya kita bisa melihat berapa banyak disk yang dimiliki server, apa error message yang dimunculkan oleh Solaris, bagaimana konfigurasi IP yang dipakai, dsb. Tanpa opsi macam-macam, perintah expoler akan menghasilkan file di dalam direktori /opt/SUNWexplo/output. Saya pribadi tidak terlalu familiar dengan SUNWexplo karena kebanyakan saya bersentuhan dengan server Fujitsu. Fujitsu punya tools tersendiri yang sama fungsinya dengan SUNWexplo, namanya fjsnap.

Rupanya expoler butuh waktu lama (hitungan jam) jika server memiliki banyak disk (apalagi dengan kapasitas yang besar). Entah benar atau salah kesimpulan saya ini. Tapi sepertinya benar, sudah 2 jam saya jalankan expoler tapi belum selesai-selesai juga. Saya pertama menjalakan pukul 10.54; sekarang sudah pukul 12.52 belum selesai juga. Mudah-mudahan hal ini adalah sesuatu yang wajar. Kalau tidak, bisa panjang juga cerita mengumpulkan log kali ini.

Lapar euy…cari makan dulu kalau begitu.

Dual Boot Solaris 10 & Windows XP

Tadi sepulang kerja saya mencoba menginstal Solaris 10 (versi x86) ke dalam notebook saya. Sebenarnya dulu saya pernah mencoba menginstal Solaris 10 versi PC ini (lihat tulisan saya di sini). Tapi dulu saya instal ke dalam sebuah harddisk kosong. Sejak saat itu saya belum pernah mencoba instalasi ke dalam harddisk yang sudah terisi sistem operasi lain.

Solaris 10 versi x86 (versi PC gitu lah) harus diinstal pada partisi primer. Jadi terpaksa saya korbankan partisi Linux saya. Di notebook tadinya terinstal Windows XP dan Ubuntu Linux. Windows XP saya pakai sehari-hari di kantor. Karena penasaran untuk mencoba bagaimana dual boot antara Windows dan Solaris maka Ubuntu yang saya korbankan. Saya ubah dulu partisi yang tadi dipakai Ubuntu menjadi primary partitions (dengan bantuan Partition Magic). Alhasil setelah restart, GRUB error dan saya jadi tidak bisa masuk ke dalam Windows. Padahal tadi saya masih di kantor. Ah terpaksa saya boot melalui CD Windows XP, masuk menu Recovery, lalu jalankan perintah fixmbr. Sukses masuk ke Windows, saya pun pulang ke rumah.

Sampai di rumah saya instal deh Solaris 10-nya. Cukup lama juga instalasinya, sayang tidak ingat untuk menghitung berapa lama waktu instalasinya. Solaris 10 terpasang mulus dengan GRUB sebagai boot loader-nya. Lewat GRUB saya bisa memilih untuk masuk ke dalam Solaris 10 atau masuk ke dalam Windows XP.

Berikut adalah tampilan layar Solaris 10 dengan Java Desktop Environment.

solaris10x86.jpg

Belum sempat mencoba konfigurasi macam-macam. Besok lagi deh main-mainnnya….

Yang “di atas”

Mengapa orang sering menyebut Tuhan/Allah dengan sebutan “yang di atas”? Anda pasti pernah dengan beberapa contoh kalimat berikut ini :

  • Kita serahkan lah sama yang di atas, mudah-mudahan semuanya lancar
  • Ya itu kan sudah kehendak yang di atas
    (biasanya ini keluar kalau ada yang mati lalu orang diminta komentarnya)

Apa sih susahnya menyebut “Tuhan” atau “Allah” atau apalah sebutan yang sesuai dengan kepercayaan Anda? Salah satu teman pernah berseloroh (selorohan yang sinis & lucu) tentang hal ini. Tiap kali mendengar lawan bicaranya menggunakan istilah “yang di atas”, teman saya akan mendongak ke atas. Sambil mendongak, teman saya akan sok bego bertanya sendiri : “siapa yang di atas? cicak atau lampu neon?” =))

Sinis, konyol, tapi cukup mengena selorohan teman saya itu. Mengingatkan pada kita mengapa harus “malu”, segan, dan mengganti sebutan Tuhan dengan “yang di atas”. Apa takut dituduh terlalu religius?