Kemarin malam saya berangkat ke Banjarmasin. Selasa sore dari kantor saya pulang dulu ambil beberapa kaos lalu berangkat dengan Garuda jam 7 malam. Sampai di Banjarmasin pukul 10 malam waktu Banjarmasin (lebih cepat 1 jam dari Banjarmasin). Sial, tidak ada taksi yang cukup untuk para penumpang di bandara. Sekitar 10 menitan menunggu, rata-rata taksi hanya mau membawa penumpang untuk daerah Banjar Baru yang letaknya tidak terlalu jauh dari bandara. Alasannya karena banyak pesawat yang delay, jadi tidak ada taksi yang standby. Halah…basi banget alasannya. So what kalau pesawat delay, kaya gak tahu gaya maskapai nasional saja. Ujung-ujungnya saya disuruh naik taksi bersama dengan 1 orang penumpang lain yang akan menuju Banjarmasin juga. Hmm, mafia juga nih taksi Kojantas bandara. Mau simpel, sekali angkut 2 tarif didapat…brengsek.
Lain kali saya gak akan mau disuruh berangkat dengan penerbangan malam ke Banjarmasin. Dari Jakarta Garuda hanya terbang 3x dalam sehari. Yang pertama jam 7 pagi, yang kedua setengah 3 sore, yang terakhir jam 7 malam. Tentu kantor tidak mau rugi menyuruh berangkat saya jam 7 pagi, toh saya kerja di Banjarmasin tengah malam. Kalau bisa disuruh kerja dulu di kantor seharian, jadi efisien gitu kan.
Kali ini tumben saya diberi hotel bagus, saya diberi voucher menginap di Hotel Arum Kalimantan. Mungkin karena ada bagian general affair di kantor yang cuti (jadi di-bypass kewenangannya menentukan hotel untuk saya ***sambil ngelirik Bu Wawa :-p ***). Katanya ini hotel bintang 4 di Banjarmasin. Lihat gambar-gambar kamar saya di hotel ini :
Sampai di hotel sudah setengah 11 malam. Check in, masuk kamar, foto-foto, telepon sana sini, jam 11.30 saya berangkat lagi ke Telkomsel. Malam tadi pekerjaan saya meng-upgrade HCP (hardware control program) mesin Primepower 1500-nya Telkomsel. HCP itu boleh disamakan dengan firmware mesin. Pulang sudah jam 6 pagi. Sampai hotel sarapan dulu lalu tidur seharian. Tidak tidur 24 jam memaksa saya istirahat seharian tadi. Loh kok malah curhat, tadi saya kan mau posting tentang hotel Arum.
Ok sekarang bicara soal hotel. Hotel Arum ini dibangun tahun 1990 dan mulai beroperasi tahun 1991…ini menurut hasil ngobrol-ngobrol dengan chief security hotel yang tadi malam merangkap jadi sopir taksi mengantar saya ke Telkomsel 🙂 . Memang dari luar layak kalau hotel ini menyandang bintang 4. Gedung bertingkat, cukup mencolok di tengah kota Banjarmasin. Letaknya di jalan Lambung Mangkurat, di seberang KFC dan di seberang hotel Grand Mentari. Tarif kamar saya kalau tidak salah Rp480.000,- (tumben kan over buget, engineer kok mahal amat hotelnya).
Anda sudah lihat kan foto-foto kamar tadi? Nah bicara soal kamar sekarang. Yang saya suka dari kamarnya adalah ACnya yang super dingin (kayanya kali ini kamar saya di Jakarta kalah dingin :-p ) dan kasurnya yang super empuk. Kebalikan dengan hotel Sahid Imara di Paletembang. Hampir semua perabotan di kamar ini berbahan dasar rotan. Bisa dibilang artistik (artistik atau ngirit memang tipis bedanya). Overall, rasanya kurang worthed membayar sebesar itu untuk hotel dengan kamar seperti itu (meskipun bukan saya yang bayar). Hari ini saya menjumpai beberapa semut, di meja dan di dekat telepon….cari-cari kelemahan seperti biasa. Karpet lantai terkesan sudah dekil, salah pilih warna sih; biru muda jadi mudah terlihat kotor dan dekil. Saya bisa maklum dengan segala keterbatasan yang saya jumpai di kamar; pertama karena ini Kalimantan, yang kedua karena hotel ini sudah cukup tua.
Tentang makan paginya, hotel ini cukup lengkap dan enak makanannya. Dari roti seperti gaya sarapan orang barat, sampai nasi gorang gaya sarapan orang Endonesah. Ada enak dan gak-nya menginap di hotel mahal. Enaknya ya itu tadi, fasilitas cukup OK. Gak enaknya : menu makanannya mahal-mahal :D. Seret juga tenggorokan makan nasi gorang ikan asin seharga Rp53000 walaupun sudah minum Coca Cola sekaleng dengan harga Rp16000,- :))
Sekarang soal internet. Tidak ada akses internet gratis di hotel ini. Di kamar bisa pakai Telkomnet Instan. Di lobi dan coffee shop ada wireless dengan biaya Rp25000/jam (seperti yang saya pakai sekarang) atau Rp100000/24jam. Hmm, bego juga saya; biaya duduk dan beli minum di coffee shop-nya lebih mahal daripada bayar akses internetnya. Tak apalah, namanya juga liburan gratis..puas-puasin donk (mode menghibur diri is ON).
