Mouseku Tewas

Sialan…dari tadi malam saya mendadak tidak bisa menggunakan mouse (tetikus) saya ini. Koneksi USB-nya putus-putus. Kadang kalau dicoba dicabut dan dicolokkan kembali, mouse tadi mau berfungsi lagi. Itupun hanya sebentar, kemudian eror lagi. Menyebalkan juga kerja gak pakai mouse (saya kan jadi susah kalau mau ngeblog & bikin komik :-p ) Mudah-mudahan sih masalahnya ada pada Windowsnya, saya masih berharap mouse itu baik-baik saja. Tapi sepertinya harapannya saya harus berhenti di situ; saya coba nyalakan Ubuntu di notebook pun tetap masalahnya sama, mouse-nya tidak bisa berfungsi.

Optical mouse itu bawaan Fujitsu Lifebook S7110 yang dipinjamkan kantor sejak Februari lalu. Mereknya Fujitsu juga. Kabelnya bisa digulung dan bisa ditarik bila diperlukan (sistem retractable katanya), dilengkapi juga dengan scroll button di bagian tengahnya. Hmm harus cepat-cepat beli mouse sendiri nih, karena jaminan susah kalau minta penggantian dari kantor. Dulu waktu saya terima Lifebook S7110 saja, hampir saya tidak diberi mouse. Untung dengan sedikit argumen, saya dapat mouse. Banyak hal yang lebih enak dikerjakan jika ada mouse dibandingkan bila harus pakai touch pad, misalnya bekerja dengan spreadsheet (Excel misalnya), copy paste dokumen, scrolling terminal console (Putty misalnya), atau membuat komik (loh kok balik lagi ke komik…ini kerja atau apa sih 8-} ).

Surabaya III (part 2) – Kapten, Saya Titip Toolkit Ya

Dulu saya pernah cerita tentang membawa toolkit (obeng dkk) di dalam tas ke dalam kabin pesawat. Sabtu kemarin (saat akan terbang ke Surabaya) saya “ketangkap” juga, saya disuruh mengeluarkan toolkit dari dalam tas saya. Kontan saja saya komplain : “lah Pak kemarin-kemarin kok gak pernah nangkap saya bawa toolkit?” Lucu jawabannya : “iya mungkin waktu itu terlewat dari pengamatan kami”. Waduh…kalau begitu petugas scanning kadang-kadang teliti, kadang-kadang lalai donk? Banyak kali masuk bandara Soekarno Hatta bawa toolkit saya gak pernah dilarang bawa toolkit masuk kabin. S

Saya disuruh balik lagi ke counter check in untuk memasukkan tas kecil berisi toolkit ke dalam bagasi. Saya diam saja tidak mau pergi. Tidak lama ada petugas lain yang kelihatannya lebih senior menengahi, sudah disuruh titipkan ke crew kabin aja…katanya begitu. Hmm, saya jadi berpikir mungkin karena petugas yang sore itu menggeledah saya masih mudah jadi mungkin masih taat aturan kali ya, alias idealis. Jadi detil sekali kerjanya. Kalau sudah senior mungkin sambil lalu saja kerjanya 😀

Akhirnya saya diantar oleh petugas yang tadi menggeledah tas saya ke pintu F5 (saya boarding lewat F5). Di sana saya dilayani oleh petugas lain, saya diminta memperlihatkan boarding pass dan menandatangani formulir macam begini :

Petugas tadi menjelaskan pada saya kalau barang saya aman dan setibanya di Surabaya saya tidak perlu menunggu lama untuk mengambilnya kembali. Katanya barang-barang tersebut dititipkan pada pilot & krunya. Jadi di Surabaya saya harus mengambilnya di loket Lost & Found (alias barang loket barang ketinggalan). Ini lebih cepat daripada harus memasukan tas saya ke dalam bagasi. Ini pelajaran bagi saya kalau pergi naik pesawat dengan membawa toolkit.

Lagian suruh siapa pergi bawa-bawa toolkit ;)) Lah saya kan cuma “tukang enjiner”, masa pergi kerja gak bawa toolkit.

Surabaya III (part 1) – Posh Pool and Lounge

Posh Pool and Lounge, tempat biliar ini ada di lantai 6 MEX Building di jalan Pregolan Surabaya. Bisa jadi tempat favorit nih kalau ke Surabaya lagi 🙂 mejanya Brunswick dengan laken super licin. Mantap deh main di sana. Cue stick-nya standar (agak keras tipnya) tapi masih lurus-lurus. Jauh lebih baik daripada main dengan fiber glass cue stick seperti di Nine Ball. Yang bikin mantap adalah paket main sepuasnya dari siang sampe tutup dengan hanya membayar Rp58000,-. Posh Pool & Lounge punya tempat yang cozy, dengan sofa di sisi tiap meja.

Saya tahu tempat ini gara-gara baca brosurnya 2 minggu lalu di hotel Garden. Baru tadi siang saya mampir ke sana. Pelayanannya juga ok, ramah-ramah pegawai di sana. Katanya ada fasilitas wifi gratis juga (tapi gak sempat coba sih). Tadi saya main dari jam 3 siang sampai sekitar jam 7 malam. Benar-benar puas. Note : next trip to Surabaya I must bring my cue stick. Kalau membaca brosurnya, tiap hari ada happy hours di Posh Pool & Lounge. Main bebas dengan tarif lebih murah. Kalau kita mau main dengan hitungan jam saja, per jamnya dikenakan tarif Rp38000,- (mahal kan jatuhnya) mending main sepuasnya bayar Rp58000,- sampai pingsan :-p

Menurut saya tempat ini highly recommeded tempat ini bagi para pecinta biliar. Sayang di Jakarta tidak ada tempat main seperti ini. Saya juga heran mengapa Posh berani mematok tarif murah seperti itu. Hanya harga promosi saja kah? Rasanya tidak karena tempat ini sudah buka selama setahun. Makanan dan minuman di tempat ini juga tidak terlalu mahal harganya, apa untung ya dengan tarif-tarif seperti itu? Jangan sampai cepat gulung tikar lah tempat bagus macam itu.

Ada satu hal yang selalu membuat saya heran : mengapa orang selalu heran kalau lihat orang main biliar sendirian seperti saya? *loh jadi yang heran siapa ya* Namanya juga latihan ya harus sendiri donk. Beberapa pegawai sempat bertanya mengapa saya main sendirian, mungkin saking herannya sampai bertanya begitu. Hmm…kalau mau cepat bisa ya harus latihan sendiri, kalau main terus dengan orang lain pasti lambat berkembangnya. Itu ajaran teman saya Ferry si bos cue pemilik IBProShop. Nanti kalau balik lagi ke Surabaya (atau kalau kembali ditanam di Surabaya), saya pasti balik lagi biliar di sana.

PS : to Budy
When you will go to Surabaya with me to play billiard there? Finally I found the place with low price to play as long as you want . Don’t too busy with your business lah…come on play billiard
with me @ Surabaya 😀

Berpanas-panas di Cengkareng

Kemarin siang saya disuruh berangkat lagi ke Surabaya. Jam 12 siang saya berangkat ke bandara. Pulang dulu ke rumah, ambil baju secukupnya, lalu segera ke bandara. Belum punya tiket jadi rencana go show lagi. Kejadian yang sama seperti Senin lalu terulang. Semua penerbangan sudah penuh, tidak ada counter yang menjual tiket ke Surabaya lagi untuk penerbangan Jumat sore kemarin. Pertama datang ke terminal 2F, Garuda dan Merpati sudah penuh; silakan kalau mau waiting list kata petugas di sana. Heu…kapok lah waiting list lagi, jaminan gak dapat tiket dan terbuang waktu percuma.

Dari pagi saya belum makan, siang pun belum sempat makan siang, berada di bandara yang padat penumpang membuat saya agak loss control. Emosi sudah mulai naik tuh 🙂 Ah untung saya segera sadar, pergilah saya makan dulu di Hoka-hoka Bento. Jam sudah menunjukan pukul 14.00. Habis makan, emosi saya sudah bisa terkontrol. Saya lalu pergi ke terminal 1, berharap masih ada maskapai yang menjual tiket ke Surabaya. Tapi rupanya Jumat sore adalah waktu padat-padatnya penerbangan ke Surabaya. Dari terminal 1A sampai 1B semua penerbangan dari Lion Air, Air Asia, Batavia Air, Sriwijaya Air…semuanya bilang sudah penuh.

Terminal 1 siang ini panas sekali, heran padahal tadi jam 12an Jakarta diguyur hujan cukup lebat. Gerah sekali rasanya berjalan di terminal 1. Seperti biasa, calo-calo berseliweran di depan saya. Damn you CALO….gara-gara elo semua gak ada tiket yang available. Semua calo menawarkan tiket ke Surabaya dengan nama orang lain, tiketnya tidak bisa di-issue dengan nama saya. Biasanya saya jumpai calo-calo tiket itu laki-laki, tapi kemarin siang rupanya ada juga ibu-ibu berkerudung yang jadi calo. Saya terus-menerus mengumpat karena calo-calo ini. Serba salah memang, di satu sisi kalau kondisinya seperti yang saya alami kemarin siang saya memang menyalahkan calo; tapi kalau sudah terdesak mau gak mau saya harus memanfaatkan “jasa” mereka. Eh cerita saya tadi belum selesai, saya tidak jadi berangkat akhirnya sore kemarin. Saya balik lagi ke kantor karena ada perubahan rencana.

Bagaimana aturan percaloan di Indonesia, di Jakarta khususnya. Mengapa begitu banyak calo yang berkeliaran di bandara. Biasanya isu penertiban calo hanya merebak menjelang libur panjang. Menjelang lebaran biasanya, kita dengan gampang mendengar berita kalau petugas menertibkan calo. Lah kenapa hari-hari biasa seperti ini calo tidak ditertibkan. Tidak sulit menemukan calo di bandara. Kalau petugas mau, lebih dari 10 orang bisa terjerat karena berprofesi sebagai calo. Nah yang saya tidak tahu, apakah berprofesi sebagai calo itu melanggar hukum atau tidak? Kalaupun tidak melanggar hukum, tetap saja menyebalkan.

Sekuriti bandara, petugas check in bandara pun bisa bertindak sebagai calo. Buktinya? Kemarin saya keluar dari counter Sriwijaya Air, langsung didekati sekuriti di sana dan dengan sok baik bilang bisa menolong saya menyediakan tiket. Nah repot kan kalau orang dalam sendiri sudah ikut-ikutan. Makanya saya tidak percaya dengan sistem waiting list yang digunakan untuk memfasilitasi penumpang yang belum dapat tiket. Teorinya waiting list diadakan untuk memberi kesempatan penumpang dadakan macam saya untuk mendapat tiket bila masih ada seat yang tersedia. Bull shit lah….bagaimana bisa ada seat kosong yang bisa dibeli dengan harga normal, kalau seat tersebut bisa dijual dengan harga melambung melalui calo? Kalau sistem percaloan masih banyak, mereka tentu akan “memprioritaskan” para calo yang dapat menjualkan tiket/seat tersisa dengan harga berlipat.

Ada salah satu bos saya dengan gampang bilang “go show aja…pasti dapat lah”; ini jawaban saya : “Pak, kalau kantor mau membayari tiket saya berapapun harganya sih, memang betul pasti dapat tiket…”. Lain kali kalau disuruh go show pikir-pikir dulu ah. Kasihan ya Bos saya punya anak buah rewel & banyak maunya seperti saya :-p ….tinggal tunggu saja kapan Bos saya bosan dengan kerewelan saya dan menghadiahi saya SP3 :)) (sensor ah…takut ntar memancing keributan di kantor)

Ada yang punya pengalaman dengan calo? Atau ada yang punya pengalaman dengan sistem waiting list untuk membeli tiket pesawat?

Sancta = Santa ??

Dulu waktu saya masih kerja di daerah Pasar Baru Jakarta, saya tiap hari lewat jalan Juanda. Di sana ada gedung sekolah Santa Maria. Dari dulu saya selalu heran mengapa sekolah ini memasang papan nama besar di depan gedungnya dengan tulisan “Sancta Maria”. Saya pikir mereka salah pasang 😀 atau kelebihan huruf “C”. Seperti ini tampilannya :

Foto di atas saya ambil kira-kira 1 minggu yang lalu. Tadi iseng mencari di Google, ternyata kata “Sancta” itu adalah bahasa Latin. Artinya ya “santa”, alias wanita kudus dalam kepercayaan Katholik. Untung belum sempat protes kenapa “Santa Maria” ditulis “Sancta Maria” 😀 Eh dulu saya SMA juga di Santa Maria loh…tapi bukan yang di Jalan Juanda Jakarta ini, tapi Santa Maria di Cirebon.

Oh ya, saya jadi ingat kalau sekolah-sekolah dari yayasan Katholik rata-rata menggunakan nama-nama orang kudus. Lihat saja Santa Ursula (di depan Pasar Baru), Santa Maria (di Jakarta, Bandung, Cirebon ada), Van Lith (ada di Yogya), Santo Thomas (kalau tidak salah di Lampung), Santo Aloysius (di Bandung), Santa Angela (di Bandung juga), Kolese de Britto (di Yogya), Santo Kristoforus (di Jakarta), Santo Carolus (di Surabaya), Santo Yosef (di Solo), Santo Albertus (di Malang), Santo Peter (di Jakarta), Santo Loyola (di Semarang)…..banyak kan?

**sebagian data nama sekolah di ambil dari sini**