Modem Speedyku Tewas

Sudah 10 hari akses Speedy di kamar saya bermasalah. Status modem selalu “ADSL Link Down”. Beberapa kali lapor ke 147 juga tidak ada hasil. Saya ngotot kalau modem saya baik-baik saya, karena kemungkinan yang paling masuk akal adalah ada gangguan di sisi Telkom. Lah wong modemnya tidak diapa-apakan masa bisa berubah sendiri jadi ngaco? Kemarin petugas Speedy dari Telkom datang ke kos saya memeriksa sambungan telepon dan internet.

Saat itu saya sedang di kantor, orang di rumah yang menelepon saya membiarkan petugas tadi bicara dengan saya. Dia melaporkan kalau modem saya mati total. Halah…apa lagi ini ceritanya. Selasa malam modem saya masih berfungsi, hanya saja koneksi ADSL yang mati…kok sekarang jadi modemnya yang mati total. Petugas tadi mungkin merasa saya menuduh dia macam-macam. Padahal saya tidak niat menyalahkan dia. Yang saya ingin tegaskan adalah saya sudah coba dengan beberapa modem pinjaman dan faktanya tetap ADSL Link Down. Apa 3 modem yang saya coba semuanya rusak dalam waktu bersamaan?

Hari ini terpaksa berinternet dengan Telkomet Instan lagi. Tumben juga hari ini koneksinya stabil dan cukup powerfull untuk membuka beberapa web yang berat aksesnya…..salah satunya bisa membuka Outlook Web Access kantor yang super lambat.

Harus segera cari modem baru nih.

Butuh Atau Gaya Doank?

Tulisan ini sengaja saya beri judul yang mirip dengan tulisan saya sebelumnya “Doyan Atau Cuma Life Style”. Ini sekaligus menjawab pernyataan rekan saya, katanya saya ganti ponsel untuk gaya doank.

Minggu 14 September lalu saya akhirnya memutuskan membeli ponsel baru. Tadinya budget yang ada adalah budget untuk membeli kamera DSLR D60…ternyata kurang budget-nya :(( Jadi beli ponsel aja lah. Pilihan jatuh pada Nokia E51. Berangkat ke Roxy Square dengan rekan saya, susah juga mencari Nokia E51 ini. Rupanya E51 termasuk ponsel favorit, jarang toko yang punya stok E51. Untung masih ada toko yang bisa menyediakan Nokia E51. Tawar menawar tidak berlangsung lama, yang lama justru menunggu yang punya toko mengambil stok ponselnya. Saya tinggal belanja dulu ke Superindo daripada bengong duduk-duduk di counter hape.

Dari dulu saya selalu sayang mengeluarkan uang banyak untuk membeli ponsel. Saya pikir untuk apa ponsel mahal-mahal, toh hanya untuk SMS dan telepon saja. Kan yang penting pulsanya ada terus. Buat apa ponsel mahal-mahal, canggih-canggih tapi pulsa di kisaran ribuan rupiah saja :-p Selain itu kok rasanya saya kurang pantas berponsel mahal. Malu sama slip gaji kayaknya kalau pakai ponsel mahal :)) Sebelum beli ponsel pun saya sempat bertanya sama beberapa teman dekat : “pantes gak sih saya pake ponsel mahal?”

Dari dulu saya selalu pakai ponsel murah, yang harganya berkisar setengah jutaan. Ponsel pertama yang saya beli adalah Siemens A35, saya beli tahun 2001. Tidak lama saya tukar tambah Siemens A35 saya dengan Siemens M35. Saya masih ingat Siemens M35 yang dulu saya pakai, bodynya dilapisi karet dengan warna kuning & biru yang mencolok. Tahun 2002 saya ganti lagi tukar tambah dengan Siemens C35. Ponsel ini cukup lama saya pakai selama kuliah. Siemens C35 warna hitam dengan antena di kiri atasnya. Ponsel ini berakhir umurnya tahun 2004. Saya ingat momen ganti ponsel ini karena waktu itu bertepatan dengan awal masa kerja praktek saya di RS Hasan Sadikin Bandung. Siemens C35 ini istirahatkan dan berganti dengan Nokia 2100. Sekian lama pakai Siemens, akhirnya saya beralih juga pakai Nokia. Sekitar bulan April 2005 saya tambah 1 ponsel lagi, Nokia 6585 CDMA. Saya beli Nokia CDMA ini untuk berinternet. Awal-awal 2005, internet dengan CDMA sedang mulai ngetrend.

Ponsel kelima saya beli pertengahan tahun 2005. Saya ingat beli Motorola C380 setelah dapat honor mengajar training komputer untuk para dokter se-Kotamadya Bandung di Lab Biomedika ITB. Motorola C380 itu saya beli di BEC (Bandung Electronic Centre). Ah, Motorola ini juga cukup lama melayani saya. Sampai saat saya kerja di Jakarta ponsel ini masih saya pakai. Berakhir nasibnya saat saya lempar ke tembok 😀 pecah berantakan….tes ketahanan dan terbukti Motorola C380 kalah lawan tembok =)) Sementara saya istirahat pakai GSM, saya pakai Nokia 6585 saya saja. Sampai kemudian akhir tahun 2007 saya beli ponsel Nokia 1600. Murah meriah, Rp450ribuan. Kenapa balik lagi pakai GSM? Cape juga pakai CDMA untuk urusan kerja. Kalau saya pergi-pergi saya harus mengaktifkan nomor CDMA di kota lain. Ah repot, jadi saya putuskan untuk membeli lagi ponsel GSM. Cari yang benar-benar murah dan hanya bisa telepon & SMS.

Saat orang mengidam-idamkan ponsel canggih, berkamera, bisa MMS, berlayar warna, bisa putar musik, bisa nonton video, dll….saya enjoy aja (loh kok kaya iklan?) menggunakan ponsel murahan. Ah itu sih elo aja yang miskin ga sanggup beli ponsel mahal :-p Ya mungkin juga benar begitu, saya lebih memilih membeli barang lain daripada sekadar membeli ponsel. Saya lebih memilih membeli stik biliar, kamera digital, dll. Gampangnya, ponsel canggih bukan salah satu barang yang saya idam-idamkan. Balik lagi seperti yang saya tulis di atas, lebih baik ponsel jelek tapi pulsa banyak (gak takut kehabisan pulsa) daripada ponsel mewah tapi krisis pulsa terus 😀 .

Lalu mengapa akhirnya saya perlu ponsel yang lebih “canggih” daripada ponsel Nokia 1600 saya? Paling tidak ada 3 alasan dan “gaya” tidak termasuk di dalamnya :

  • Saya perlu HP dengan phonebook lebih besar
  • Saya perlu HP yang bisa menyimpan banyak SMS
  • Saya perlu HP yang bisa dipakai sebagai modem 3G/HSDPA. Ini penting karena belakangan saya sering pergi ke luar kota dan tak jarang kesulitan memperoleh akses internet.

Terus kenapa akhirnya saya memutuskan membeli Nokia E51? Selain 3 kemampuan di atas, E51 dilengkapi dengan wireless network adapter. Dengan fitur wifi ini, saya bisa memanfaatkan E51 untuk browsing saat dapat hotspot gratis bila tidak memungkinkan menggunakan notebook untuk berinternet (alasan yang dicari-cari ya 😀 ). Fitur-fitur lain ( kamera, musik/video player, radio) bagi saya bukan hal yang prinsip. Dulu saya selalu geli kalau ada orang yang bilang : “pengen punya henpon yang ada kameranya” (beli kamera digital aja donk, geus puguh hasilnya bagus); geli juga kalau dengar orang bilang : “pengen punya henpon yang bisa nyetel MP3” (beli MP3 player atau iPod donk geus puguh bagus suaranya.)

Apa yang aneh dari Nokia E51 ini?

  • Di phonebook, saya bisa menuliskan nama orang terpisah antara nama depan & nama belakangnya. Tampilan phonebook (Contact) pun bisa diatur untuk menampilkan nama depan dulu baru diikuti oleh nama belakang. Tapi anehnya saat menerima SMS, nama yang muncul justru dalam urutan terbalik (nama belakang ditaruh di depan :-/ ).
  • Sejak dibeli satu minggu lalu, ponsel ini sudah beberapa kali gagal menampilkan menu utama. Ketika tombol menu utama ditekan, tampilan menu tidak muncul. Alih-alih menampilkan menu utama, layar tetap menampilkan nama provider dan lain-lain (persis seperti saat ponsel tidak digunakan).
  • Baterenya sepertinya kurang bertenaga. Kalau ponsel ini dipakai untuk memutar lagu, mendengarkan radio, apalagi dipakai berinternet dengan wifi, baterenya cepat sekali kosong.
  • Tombol Delete yang diletakkan di bawah tombol navigasi, kadang-kadang tidak sengaja tertekan saat saya akan menekan tombol navigasi bawah. Tapi memang dedicated delete button ini banyak juga manfaatnya, lebih mudah menghapus huruf saat sms, menghapus sms, menghapus menu, dll.
  • Saat digunakan untuk memotret, saya tidak bisa mematikan suara shutter. Jadi tidak mungkin memotret secara diam-diam 😀 Utak-atik sampai sekarang belum menemukan di mana menu untuk mematikan shutter sound itu. Ah bukan kendala berarti, toh saya tidak suka memotret dengan kamera ponsel ini. Heran juga dengan orang yang memasukkan fitur kamera ponsel saat memilih ponsel…kamera ponsel mana sih yang bagus hasil fotonya :-/
  • Susah juga kalau mau menyisipkan nomor kontak orang ke dalam SMS. Saya harus masuk ke Contact lalu melakukan Copy dan Paste, atau ada cara lain yang lebih cerdas? Lebih sederhana Nokia 1600 saya, ada menu Insert Number..bisa comot langsung nomor kontak orang dari dalam phonebook. Ah itu sih dasar lu aja gaptek pake ponsel canggih.

Jadi gaya doank atau memang kebutuhan? Hmm…sepertinya sih kebutuhan. Paling tidak berponsel mahal juga diimbangi dengan pulsa yang cukup (ya iyalah elo kan pake Halo tagihannya bayarnya di belakang X-( )

Buka Bareng NSN

Ini adalah liputan yang agak basi, tertunda penulisannya. Jumat 19 September lalu kantor saya mengadakan buka puasa bersama dengan rekan-rekan dari Nokia Siemens Network. Buka puasa ini diadakan bagi semua member tim support IN & HLRi Telkomsel. Acara ini diadakan di rumah makan ayam goreng Mbok Berek di Pancoran. Acara ini dimulai sekitar pukul 5 sore, tidak ada aturan protokoler sih memang karena peserta buka bareng ini pun datang tidak bersamaan. Ada yang datang terlambat karena terjebak macet. Jakarta hari Jumat sore memang biangnya macet. Beberapa rekan saya juga terlambat datang karena terjebak macet dari kantor saya di Sudirman sampai ke Pancoran.

Rumah makan Mbok Berek ini benar-benar dipadati pengunjung yang mengadakan acara buka puasa bersama. Beberapa kelompok dalam jumlah besar memenuhi rumah makan ini. Pendingin ruangan yang ada tidak sanggup mendinginkan ruangan yang sudah dipenuhi oleh banyak orang. Banyak orang, termasuk saya, yang merasa gerah berada dalam rumah makan ini. Ventilasi udara yang tidak cukup juga menambah panas dan menyebabkan asap rokok terperangkap memenuhi ruangan.

Bagi saya ayam goreng Mbok Berek biasa saja rasanya. Agak mirip ayam goreng Suharti. Menu yang kemarin disajikan antara lain : kolak pisang sebagai tajil bagi mereka yang berpuasa (saya juga dapat sih 😀 ), ayam goreng, ati ampela goreng, gudeg kering, tahu tempe goreng, ikan gurami goreng, plus buah-buahan untuk hidangan pencuci mulut.

Acara buka bersama rekan-rekan NSN ini bagi saya pribadi adalah kesempatan untuk mengenal rekan-rekan NSN yang selama ini sering kali berhubungan hanya lewat telepon tidak pernah kopi darat. Beberapa dari rekan NSN sudah saya kenal dan pernah bertemu muka, ada Pak Nana, Pak Irsal, Richard, Mas Deddy, Danang, Denny. Seperti biasa, saat ada acara kumpul-kumpul seperti ini saya sibuk memotret. Kamera Nikon L14 saya tidak cukup powerfull untuk memotret dalam situasi kurang pencahayaan, apalagi asap rokok di mana-mana membuat gambar yang dihasilkan sedikit kabur seperti memotret di tengah cuaca berkabut. Berikut hasil foto-foto saya yang saya rangkum dalam komik (maaf tidak semua yang hadir bisa masuk fotonya dalam komik ini 😀 ) :

Selain komik review di atas saya juga buat komik lucu-lucuan yang banyak memuat imajinasi & humor saya 😀 . Salah satunya adalah komik di bawah ini :

Kesempatan buka puasa bareng ini juga berhasil mengumpulkan semua tim UNIX support Fujitsu. Hari-hari biasaya rekan-rekan engineer Fujitsu selalu sibuk bepergian ke daerah. Tapi untungnya saat acara buka puasa bareng ini rekan-rekan 1 tim beserta para manager bisa datang semuanya. Tidak dilewatkan kesempatan memotret full team ini. Ah lagi-lagi kamera saya tidak bagus memotret. Ini hasil foto bersama tim Fujitsu :

Hmm..missing 1 person actually, Maya our admin 🙁 She was going home early.

Surabaya (part 3) – Menu Hotel Garden

Sejak April 2008, saya lebih dari 5 kali menginap di hotel Garden Surabaya. Review tentang hotel Garden sendiri perah saya tuliskan di sini. Tiap kali menginap saya hampir dapat dipastikan pesan makan lewat room service. Kemarin terpikir di benak saya untuk membuat liputan kuliner kecil tentang makanan-makanan yang pernah saya coba di hotel Garden ini. Berikut review-nya dalam komik :

Ada setidaknya 6 jenis makanan yang pernah saya coba :

  1. Rawon komplit
    Tidak ada yang spesial dari rawon ini. Dagingnya sih memang cukup empuk, tapi rasanya biasa saja. Tidak bisa dibandingkan dengan rawon setan yang terkenal itu.
  2. Nasi goreng kambing
    Nasi goreng kambing disajikan dengan tampilan yang cukup menarik. Nasinya ditutupi dengan telur dadar, dilengkapi pula dengan emping, sambal, dan sedikit salad & acar. Daging kambing yang ada dalam nasi goreng ini memang boleh dibilang cukup banyak. Karena saya senang makanan yang asin, bagi saya nasi goreng kambing ini terlalu hambar. Cukup lah untuk mengganjal perut, meskipun tidak terlalu spesial.
  3. Sate kambing
    Sate kambing di hotel Garden terbuat dari kambing sporty. Kambingnya rajin fitnes sampai-sampai ototnya kencang, cukup alot maksudnya :-p Masih bisa dimakan sih tapi untuk Anda yang sudah “terbatas” giginya, tentu akan menyiksa makan sate kambing di sini.
  4. Sapi masak kaylan
    Menu sapi masak kaylan ini salah satu menu favorit saya. Dagingnya empuk dengan porsi yang cukup banyak. Sayur kaylan yang dipakai juga lembut. Menu ini layak untuk direkomendasikan.
  5. Sapi masak merica hitam
    Selain sapi masak kaylan, saya juga beberapa kali mencoba makan sapi lada hitam. Sapi lada hitam di hotel Garden dagingnya besar-besar. Cukup empuk tapi bagi saya rasanya masih kalah dengan sapi lada hitam di tempat lain (misalnya yang pernah saya coba di hotel Sagita Balikpapan & hotel Wisata Palembang).
  6. Tenderloin steak
    Tenderloin steak yang saya coba Senin sore kemarin benar-benar luar biasa. Luar biasa keras maksudnya. Untuk steak seharga Rp100.000,- steak ini tidak pantas dicoba. Di buku menu dituliskan kalau daging yang digunakan adalah daging sapi impor dari Australia. Asumsi saya daging impor lebih empuk daripada daging lokal (belajar dari pengalaman makan steak di Abuba). Steak ini cukup bagus untuk melatih rahang Anda.

Selalu ada orang yang terheran-heran mengapa saya mau menghabiskan uang untuk makan di hotel. Makan di hotel memang lebih mahal dibandingkan dengan makan di tempat lain. Bagi saya urusan makan itu nomor 1, mahal/murah yang penting enak dan saya suka. Saya juga heran kalau ada orang yang mau menghabiskan uang banyak untuk beli pakaian, memburu gadget teranyar tapi sayang membelanjakan uangnya untuk makanan. Saya sendiri lebih memilih mengutamakan urusan makanan daripada membeli barang-barang lain. Jujur memang saya termasuk orang yang boros tapi untuk makanan saya rela-rela aja tuh membelanjakan uang untuk beli makanan mahal. Biar pakaian seadanya, handphone butut, gak pernah jalan-jalan ke mal, tapi makan enak cukup kenyang :-p (aneh katanya mau review makanan kok malah curhat)

Surabaya (part 2) – Boeing 737-800 NG

Tadi perjalanan ke Surabaya saya tempuh dengan menumpang pesawat barunya Garuda, Boeing 737-800 NG. NG itu singkatan dari New Generation. Pesawat ini merupakan armada baru Garuda. Tadi salah satu pramugari Garuda tanpa saya minta bercerita pada saya kalau pesawat ini biasa dipakai untuk penerbangan Jakarta Beijing. Karena penerbangan ke Surabaya hari ini begitu padat penumpangnya, maka dipinjamlah pesawat baru ini.

Dari luar mudah pesawat barunya Garuda ini mudah dikenali dengan adanya lekukan pada ujung kedua sayapnya. Di bagian lekukan itu diberi gambar logo Garuda. Lekukan di ujung sayap itu membuatnya sepintas mirip pesawat-pesawat besutan Airbus. Lihat foto ujung sayap Boeing 737-800 ER ini :

Pesawat ini menggunakan susunan kursi sama seperti pesawat 737 lainnya, di kelas bisnis 2 kursi di kanan/kiri sementara di kelas ekonomi ada 3 kursi di tiap sisi. Kursi di kelas ekonomi sampai nomor 29. Bedanya dengan pesawat Boeing 737 seri 300,400,500, ruang kaki di tiap kursi kelas ekonomi lebih luas sedikit. Entah cuma sugesti saya atau memang lebih luas, tapi rasa-rasanya sih memang lebih luas. Masih kalah besar sih dengan Boeing 737-900 ER-nya Lion Air.

Terbang dengan pesawat baru seharusnya lebih mulus dan nyaman, tapi tidak kali ini. Cuaca memang sedang tidak bersahabat, perjalanan kali ini juga diwarnai banyak guncangan akibat turbulensi udara. Langit di atas Surabaya juga dipenuhi awan tebal. Pantas kemarin ada berita pesawat China Airlines yang dihantam turbulensi kuat hingga banyak penumpang yang luka-luka. Eh Anda sudah tahu kan berita itu? Kemarin pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan CI-687 dari Taipei menuju Bali mengalami turbulensi kuat dan mendarat dengan keras di bandara Ngurah Rai Bali. Pesawat jenis Boeing 747-400 itu memang tidak mengalami kerusakan teknis tapi kasihan juga penumpang-penumpang yang terluka akibat sedang tidak menggunakan sabuk keselamatan saat turbulensi terjadi.