Surabaya (part 1) – Mati Lampu Di Bandara

Siang ini saya berangkat ke Surabaya setelah semalam diberi perintah oleh minijer saya untuk mengganti tape library di Telkomsel Surabaya. Hari Minggu berangkat kerja…mantap kan? Memangnya kamu sedang tugas standby, kok kamu yang berangkat? Tidak sedang standby sih, tapi kan saya kelakuannya seperti anak kecil, jadi paling gampang diatur-atur….disuruh berangkat kapanpun jadi lah :-/ Tadi sampai di bandara Soekarno Hatta pukul 12 kurang sedikit. Saat sedang check-in tiba-tiba listrik padam sekitar 1 detik, lampu tidak mati karena rupanya generator listrik langsung mem-backup listrik di bandara. Sayangnya komputer semua counter check-in tidak dilengkapi dengan UPS. Akibatnya saya yang tinggal menunggu petugas mem-print boarding pass, jadi terhambat proses check in-nya. Tunggu punya tunggu komputer di sana lama sekali booting-nya. Setelah menyala pun ternyata ada gangguan di sistem check-in. Terpaksa saya dibuatkan boarding pass manual….ditulis tangan tuh πŸ™ Halah, malu-maluin aja ya….mbok ya komputernya dilengkapi dengan UPS gitu loh. Masa komputer dengan fungsi critical seperti itu tidak di-backup power-nya dengan UPS?

**wifi gratis lagi di Garuda lounge nih :-p **

Soal Tidur

Kapan Anda bisa menikmati saat-saat tidur yang lelap/pulas? Saya sering sekali mendapat tidur yang nyenyak saat berada di perjalanan. Nah di postingan ini saya akan bercerita sedikit tentang saat-saat saya tidur selama di perjalanan.

Salah satu saat tidur yang benar-benar saya nikmati adalah tidur di dalam taksi. Di Jakarta saya sering bepergian dengan menggunakan taksi. Perjalanan di dalam kota tentu hanya butuh waktu sebentar, kalau macet itu lain lagi ceritanya. Di dalam taksi saya sering mendapat tidur yang benar-benar nyenyak. Memang kalau bepergian di siang hari saya kadang membaca buku, tapi kalau otak sedang lelah, mata ngantuk, saya lebih memilih untuk tidur. Mungkin karena alam bawah sadar saya tahu kalau perjalanannya singkat, sehingga pikiran bawah sadar saya yang memerintahkan otak dan badan untuk benar-benar menikmati kesempatan tidur yang sebentar itu. Perjalanan dari/ke bandara misalnya, bisa jadi saat-saat tidur yang menyenangkan bagi saya. Perjalanan yang normalnya 40 menit dari tempat saya ke bandara, bisa jadi waktu yang cukup untuk sekadar memejamkan mata πŸ˜€ Beberapa kali saya tidur di taksi menuju bandara Soekarno Hatta dan bangun setelah si supir bertanya : “Pak, terminal berapa?”. Biasanya supir bertanya setelah masuk gerbang tol bandara, setelah lewat patung Soekarno Hatta.

Kalau perjalanan saya pulang ke rumah lewat Slipi, saya biasanya dibangunkan supir saat hampir perempatan Tomang. Itu karena si supir bingung harus pilih jalur yang mana di perempatan Tomang. Memang bagi yang tidak biasa melintas perempatan Tomang dari arah Slipi, perempatan tadi cukup membingungkan. Ada jalur yang lurus menuju Taman Anggrek, ada jalur yang dipakai untuk putar balik menuju Slipi lagi, ada juga 2 jalur yang menuju Tomang. Dua jalur itu yang kadang membingungkan karena dipisahkan oleh tiang jalan layang menuju Tangerang. Loh kok malah ngomongin jalur jalan, tadi kan lagi cerita tentang tidur :-/

Tadi soreΒ  misalnya, saya baru saja pulang dari Plasa Semanggi sekitar pukul 19.00 setelah main biliar dari jam 2 siang. Lagi-lagi saya bisa tidur dengan nyenyak sekali di taksi. Saya baru terbangun ketika taksi sudah berada di dekat perempatan Tomang. Itu pun karena supir taksi bertanya, “Pak, lurus atau belok kanan?” Ah kalau saja supir taksi tadi tidak bertanya macam itu, saya bisa dapat tidur yang sedikit lebih lama. Mungkin enak kalau punya supir pribadi, sepanjang jalan bisa tidur dan baru dibangunkan setelah sampai rumah. Ah ngimpi kamu, cuma engineer kok mau pakai supir pribadi….lagian mana mobilnya? Tidurnya di taksi tadi kok sampai di rumah masih ngimpi ya :))

Tidak hanya perjalanan dengan taksi saja, perjalanan di pesawat, kereta api, bus juga bisa menciptakan suasana yang nyaman bagi saya untuk tidur sejenak. Saya sering sekali tidur di perjalanan antar kota. Di pesawat saya sering tidur begitu pesawat take off. Rasanya enak sekali bisa terlelap sampai nanti terbangun gara-gara pramugari membagikan makanan (kalau naik Garuda loh ya, kalau naik yang lain mah tidur terus lah wong gak dibagiin makanan). Waktu tidur yang pendek tapi lelapnya benar-benar sempurna.

Di kereta api juga sama, kalau saya pulang ke Cirebon dengan kereta api biasanya saya baru bisa tidur selepas stasiun Jatinegara. Itu karena di stasiun Jatinegara, kereta hampir dapat dipastikan berhenti di sana mengangkut penumpang yang naik di Jatinegara. Nah selepas Jatinegara barulah tenang tidak ada lagi penumpang yang naik ke kereta. Bagaimana dengan perjalanan dengan bus? Hmm ini dulu sering sekali saya lakukan saat masih kuliah di Bandung. Dari Bandung saya biasanya pulang naik bus patas. Dulu saya masih ingat, biasanya mulai tertidur saat bus melewati Jatinangor dan terbangun saat masuk Sumedang. Itu juga karena bus cenderung banyak mengerem ketika masuk jalanan kota. Kalau pergi numpang mobil teman biasanya saya tidak pernah tidur, paling tidak menemani yang punya mobil ngobrol πŸ˜€

Ada tidur yang memang saya niatkan sejak awal perjalanan, ada juga yang terjadi tanpa sengaja. Nah paling kesal kalau sudah meniatkan untuk tidur, tapi ada gangguan sepanjang jalan. Mulai dari supir taksi yang sok akrab membuka percakapan, penumpang sekitar yang ngobrol terus-terusan dengan suara kencang, penumpang sebelah yang ajak saya berbincang-bincang, supir yang suka menginjak pedal rem mendadak, sampai anak kecil yang menangis sepanjang jalan. Jadi memang paling enak adalah tidur-tidur yang tidak saya rencanakan, tiba-tiba ngantuk, merem sebentar, lesssss langsung tidur….. I-)

Bagaimana dengan Anda? Sering mendapat kesempatan tidur yang tidak terduga-duga?

Denpasar (part 4) – Free Wifi

Β Jam setengah 12 lebih sedikit, saya sudah sampai di Ngurah Rai Airport Bali. Setelah check-in saya diberi kupon masuk Garuda Executive Lounge. Bagi saya bukan lounge-nya yang menyenangkan, tapi x-banner besar di depan Garuda Executive Lounge “Enjoy Our Free Wi-Fi” :))

Ah memang enak dapat akses internet gratis seperti ini. Untuk login saya diberi WEP key oleh resepsionis lounge. Cukup kencang internetnya, paling tidak masih bisa buka webmail kantor yang super berat & lambat diakses.

Denpasar (part 3) – Tentang CHECK OUT

Ini cerita tentang hotel Puri Ayu lagi. Pagi ini saya baru tidur pukul 4.30 waktu Denpasar. Tidak bisa tidur nyenyak,jam 8.30an saya sudah terbangun. Jam 10 resepsionis sudah menelepon dan mengabarkan kalau waktu check out hotel jam 11 siang. Halah..kok aneh, biasanya jam 12 siang. Untung mood sedang bagus, saya iyakan saja. Jam 11 tepat langsung check out & menuliskan postingan ini. Gak gampang ya ngeblog pake ponsel.

Denpasar (part 2) – Hotel Puri Ayu

Senin sore saya tiba di Denpasar sekitar pukul 4 sore. Berangkat dari Jakarta dengan Garuda pukul 13.10, tumben on time flight-nya. Panas terik sinar matahari langsung menyambut saya ketika keluar dari gedung terminal bandara Ngurah Rai Bali. Ini salah satu hal yang tidak saya suka dari Bali, puanas & teriknya matahari. Dari Ngurah Rai Airport saya langsung menuju hotel Puri Ayu di Jl. Jend Sudirman 14A Denpasar. Kabarnya hotel ini baru beroperasi bulan Mei lalu. Tidak ada yang spesial saat masuk ke hotel ini. Check-in, masuk kamar, langsung foto-foto supaya bisa buat review-nya seperti di bawah ini :

Kamar mandi yang ada di kamar saya kurang deras aliran airnya. Ternyata hanya disediakan sabun, shampo, dan shower cap. Tidak disediakan sikat gigi πŸ™ untung kemarin saya bawa sendiri sikat gigi. Padahal biasanya kalau pergi keluar kota saya tidak membawa sikat gigi & alat mandi lainnya.

Di hotel ini fasilitas internet di kamar tersedia dengan sambungan kabel UTP. Ini mirip seperti di hotel Sandjaja Palembang. Di saat hotel-hotel lainnya melengkapi layanannya dengan wireless internet, hotel Puri Ayu memilih untuk menggunakan sambungan kabel. Memang ada kelebihan sambungan internet lewat kabel, lebih reliable tentunya. Untung saya bawa kabel UTP sendiri. Repot juga kalau semua tamu tidak bawa kabel masing-masing, bisa-bisa pihak hotel kehabisan stok kabel. Fasilitas internet dihargai Rp10.000,- per jam. Setelah saya coba, layanannya tidak cukup kencang tapi masih bisa ditolerir sih. Sebelum browsing, saya harus login dulu di halaman web lokal. Setelah login, saya tidak boleh logoff…brengsek. Saya kehilangan 55 menit waktu browsing, karena kemarin sore saya logoff saat baru browsing 5 menit. Niat saya ingin irit-irit eh malah habis vouchernya. Pihak hotel juga tidak memberitahu saya kalau penggunaan voucher ini harus terus-menerus sampai habis waktu 1 jam. Hmm…harus cepat-cepat mengaktifkan Telkomsel Flash nih supaya tidak repot kalau pergi-pergi keluar kota macam ini.

Tadi siang sekitar pukul 12 sempat kaget juga cleaning service langsung masuk kamar tanpa permisi (tanpa pencet bel maksudnya). Saya yang baru tidur sekitar pukul 5 pagi jadi bangun karenanya. Petugas cleaning service tadi sedang membuka tirai jendela dan cukup kaget begitu tahu saya masih tidur. Mungkin saat masuk dia tidak lihat saya di balik selimut Langsung minta maaf dengan bahasa Inggris (bahasa Inggrisnya Bali πŸ˜€ susah diceritakan lucunya ) : “I’m sorry, can I cleaning the room now Sir?” begitu katanya. Berhubung baru bangun tidur, bahasa Inggris saya tidak keluar jadi saya jawab saja “Nanti aja Mas” :)) Kenapa dia tidak pencet bel dulu ya? Atau jangan-jangan dari tadi sudah membunyikan bel tapi saya terlalu lelap ya? Pintu kamar ini tidak dilengkapi dengan kunci slot atau semacamnya; hanya ada kunci biasa, jadi tidak heran dengan kunci cadangan si mas tadi bisa langsung masuk ke kamar saya.

Ok sekarang cerita soal makanan di hotel. Saya baru sarapan pukul 4 sore, pesan udang saus tiram, sup asparagus, plus minum Coca Cola. Sup asparagusnya sih cukup enak, sayang udang saus tiramnya parah. Udangnya benar-benar tidak fresh, dagingnya hancur dengan mudah. Berikut fotonya :

Ya maklum juga sih udang saus tiram harga Rp20.000,- kok mau enak. Seperti pernah saya katakan di tulisan-tulisan sebelumnya, menginap di hotel biasa-biasa itu enak karena harga makanannya murah-murah.