Denpasar (part 1) – Tragedi Zakat

Miris sekali hati saya melihat berita puluhan orang tewas terinjak-injak saat berlangsung pembagian zakat di Pasuruan. Lupa berapa tepatnya, 20an orang kalau tidak salah. Niat hati memperoleh uang Rp30.000,-, eh malah pulang tinggal nama. Sore tadi setibanya di Denpasar, saya masuk hotel dan menonton tv. Kebetulan melihat berita di TransTV, ada berita soal pembagian zakat yang berakhir rusuh di Pasuruan Jawa Timur. Ratusan orang (mungkin juga ribuan, ramai sekali soalnya) berdesak-desakan di rumah Hajah Saigon untuk menerima pembagian zakat. Bagi-bagi rejeki lah gampangnya. Geli juga saya mendengar penyiar berita menggunakan istilah “saudagar kaya” untuk si pembagi zakat.

Katanya sih pembagian zakat semacam ini sudah berlangsung beberapa tahun ke belakang. Tapi baru tahun ini, pengunjung yang datang jumlahnya makin banyak dan makin susah diatur. Padatnya kerumunan orang yang berdesakan (berebut cepat mungkin) memicu kerusuhan tersebut. Beberapa orang yang jatuh jadi terinjak-injak oleh kerumunan. Gila ya, kok orang jadi ganas begitu kalau sudah berurusan dengan uang. Ah benar-benar tragis…jadi terpacu untuk menuliskannya di blog ini. Dasar kurang kerjaan juga sih lu Ted,ย  jadi suka ikut campur urusan orang lain, hal begini saja dirasa perlu dimasukkan ke blog.

Ada beberapa hal yang terlintas di benak saya sejak lihat berita tadi :

  1. Manusia pada prinsipnya ganas, apalagi kalau sudah menyangkut urusan uang. Urusan injak orang bukan masalah, apalagi cuma dorong-dorongan. Tidak cuma urusan terima zakat, rebutan lahan parkir saja bisa jadi bacok-bacokan. Jadi hati-hatilah kalau sudah berurusan dengan uang.
  2. Rajin-rajinlah bagi-bagi rejeki, jangan tunggu buat momen 1 kali setahun. Kalau memang mau berbagi, buat donk tiap bulan….1 bulan 1 RT/RW, dijamin gak akan berdesak-desakan. Semakin banyak (atau dari dulu juga sudah banyak ya) orang miskin di negri kita ini.
  3. Jangan bagi-bagi rejeki untuk kerumunan orang banyak di saat bulan puasa. Yang ngantri ikutan puasa, gampanglah dia pingsan saat berpanas-panasan antri, kurang oksigen pula karena desak-desakan. Lain kali buatlah acara bagi-bagi di ruang yang luas dan berAC.
  4. Keserakahan manusia terlihat di sana. Tidak cukup 1 orang yang antri, beberapa anggota keluarga dibawa sekaligus dengan harapan amplop yang didapat bisa lebih banyak. Ngapain juga coba anak-anak kecil diajak serta ikut antri ambil zakat. Nenek-nenek renta juga tidak mau ketinggalan antri. Waduh…pantes banyak yang pingsan (bahkan tewas).

Ya sudahlah mau diapakan lagi, yang sudah meninggal ya tidak bisa hidup lagi. Beneran terpana saya melihat berita itu ๐Ÿ™

Balikpapan (part 2) – Soal Kuitansi Kosong

Ada yang membuat saya tersenyum waktu check-out dari hotel Sagita Kamis kemarin. Di meja resepsionis hotel ada pengumuman seperti gambar di samping ini. Pengumuman yang ditulis dalam 2 bahasa itu berbunyi seperti berikut : “Ma’af Kami Tidak Melayani Kwitansi Mark-Up & Kwitansi Kosong”.

Ada kemungkinan banyak juga tamu yang menginap di sana acap kali meminta diberikan kuitansi kosong. Atau kuitansi yang jumlahnya sudah diubah. Menginap dengan tarif Rp400.000,- tapi inginnya ditulis Rp500.000,- =)) Atau mungkin ada juga tamu yang lebih parah lagi malah minta kuitansi hotel yang belum diisi apa-apa, supaya lebih gampang mengarang bebasnya :-p

Ah jadi ingat akal-akalan supir di kantor saya yang dulu. Dia beberapa kali cerita pada saya memalsukan kuitansi hotel saat mengantar saya dinas ke Bandung. Modusnya dengan membeli kuitansi hotel pada petugas resepsionis di sana. Padahal dia menginap di mobil atau menginap di tempat temannya. Dengan demikian, dia bisa mengajukan klaim (reimburst) ke kantor. Kalau ada hotel yang sampai terang-terangan memajang pengumuman seperti gambar di atas, boleh lah saya menduga-duga bahwa hotel Sagita sering dikunjungi tamu yang “nakal”. Untung tiap kali saya pergi saya menginap di hotel dengan voucher yang disiapkan Dwidaya Travel, kalau tidak bisa-bisa saya dicurigai memalsukan kuitansi hotel :)) Eh tapi pernah juga sih pergi cari hotel sendiri, tapi saya masih punya rasa malu untuk minta petugas hotel “memodifikasi” kuitansi hotel saya :-p .

Balik lagi ke foto pengumuman di atas, ada setidaknya 3 kesalahan penulisan bahasa di sana. Pertama penulisan kata “maaf”, kenapa harus ditulis dengan tanda apostrof seperti itu? Kedua adalah penulisan kata “kuitansi” yang salah cetak atau mungkin salah kaprah, masih menggunakan huruf “w”.ย  Ketiga adalah penulisan frasa “kwitansi mark-up”, ini adalah bentuk kata benda. Memangnya ada ya kuitansiย  jenis mark up? Menurut saya harusnya lebih tepat menggunakan kata “pemalsuan kuitansi”. Tapi mungkin juga pihak hotel sengaja menulis demikian supaya terdengar lebih halus ๐Ÿ˜€

GFF Gold

Almost six month travelling Indonesia, here is the final result ๐Ÿ˜€ :

Garuda Frequent Flyer Gold member card. This morning I woke up and get the package from Garuda Indonesia laid down in front of my room. They finally sent me the GFF Gold Member. It’s mean that I can enter the Garuda Lounge on the many domestic airport in Indonesia…maybe it will be a nice waiting time ๐Ÿ˜€ Beside the member card, they also sent me two luggage sign card like this one :

Maybe one will be nice while I put on my suitcase and one on my backpack. So where the next trip? Bali maybe the next stop next week, see what I can report from Bali next week.

Balikpapan (part 1) – Hotel Sagita

Rabu siang saya berangkat ke Balikpapan. First trip to Balikpapan nih. Saya berangkat dengan Garuda jam 3 sore, terlambat setengah jam dari jadwal sebenarnya. Perjalanan diwarnai guncangan-guncangan karena begitu banyak awan tebal sepanjang jalan. Balikpapan sore kemarin hujan cukup deras. Pendaratan juga dilakukan di tengah hujan. Landasan pacu tergenang air, kelihatan derasnya air yang tersapu hembusan angin dari mesin jet pesawat saat pesawat mendarat di bandara Sepinggan. Mulus sih pendaratannya, pengeremannya pun halus walaupun landasan tergenang air. Turun dari pesawat hujan sudah sedikit reda, masih gerimis sedikit. Aneh juga bandara internasional kok belum punya belalai, penumpang harus berjalan kaki di bawah hujan menuju gedung terminal.

Dari bandara saya langsung menuju Telkomsel dengan naik taksi bandara. Saya cukup heran kok jalanan di Balikpapan kecil-kecil. Saya pikir karena daerah sekitar bandara saja, tunggu punya tunggu sampai ke Telkomsel ternyata tidak ketemu jalan besar :)) Sepanjang malam di Telkomsel membuat saya sulit ngeblog. Rupanya hujan sedang sering-seringnya turun di Balikpapan. Semalam saat pergi makan malam pun, hujan turun lagi. Selesai makan terpaksa berlari-lari kecil menuju Telkomsel di bawah hujan gerimis. Untung gak pusing kena air hujan.

Saya baru pulang dari Telkomsel sekitar pukul 4 lebih. Dari situ saya pergi ke Hotel Comfort Sagita Balikpapan. Aman, ternyata ada taksi yang beroperasi 24 jam di Balikpapan ๐Ÿ™‚ Begitu check-in saya langsung tahu kalau hotel ini nyaman untuk ditinggali. Benar saja begitu masuk kamar saya cukup puas melihat kondisi kamar yang cukup luas dan rapih. Silakan lihat sendiri review hotel dan kamarnya di komik berikut ini :

Akses internet gratis sampai ke kamar juga jadi nilai plus bagi hotel ini. Sayang di kamar saya sinyal wifi-nya benar-benar lemah. Biarpun cuma bintang 3 tapi saya puas dengan pelayanan hotel ini. Tadi saya minta late check-out jam 2 siang (waktu Balikpapan). Setelah check-out jam 2 siang tadi, saya masuk ke Chop Stick Restaurant yang ada di dekat lobi hotel. Pesan makan daging sapi lada hitam & iced capuccinno. Mantap sekali rasa daging sapinya, empuk plus ladanya benar-benar nendang. Di restaurant saya bisa akses internet. Pelayan di sana benar-benar responsif. Waktu saya tanya apa ada colokan listrik yang bisa saya pakai, dia bilang ada tapi jauh letaknya dari meja saya. Tidak lama si mbak pelayan balik lagi bawa extended power bar dan memasangkannya untuk saya. Wah benar-benar baik ๐Ÿ™‚ Poin plus lagi buat Hotel Sagita. Langsung tenang deh ngeblog & bikin komik review hotel ini. Next ke Balikpapan pasti saya minta balik lagi ke hotel ini…dengan catatan belum full book :-p

Doyan Atau Cuma Life Style?

Mungkin banyak juga orang yang pada dasarnya tidak suka kopi tapi jadi suka minum kopi sekadar memenuhi tuntutan gaya hidup. Bahasa kerennya life style. Ada juga cerita yang menggelikan dari teman saya (elo geli mungkin karena otak elo dah ngaco Ted). Ada teman saya ngakunya gak doyan kopi, tapi perginya ke Starbucks (ke Coffee Bean juga). Tahu kan Starbucks…itu loh warung kopi bermerek asal Amerika yang gelasnya seperti foto di samping ini.

Lah katanya gak doyan minum kopi, kenapa dia perginya ke warung kopi juga? “Tapi kan di Starbucks juga ada minuman lain selain kopi..ada green tea, ada chocolate?” dalih rekan saya yang lain. Ah kalau menurut saya sih (menurut saya loh ya)….itu namanya “dipaksa-paksain” doyan ngopi (atau at least doyan pergi ke warung kopi Amrik) biar keliatan gaya gitu ๐Ÿ˜€

Menyambung tulisan saya sebelumnya soal makan & kartu kredit, soal minum-minum kopi juga ada loh yang berbau-bau promo kartu kredit. Buy 1 Get Two promo ya namanya? Entah lah apa tepatnya…yang jelas kalau patungan dengan teman bisa minum kopi Starbucks dengan cukup bayar 20ribuanย  (tanpa promo seperti itu segelas kopi dijual sekitar 40ribuan rupiah). Nah sama seperti pendapat saya di atas, orang yang gak terlalu suka kopi pun bisa “memaksa diri” jadi suka kopi. Kok bisa? Lah itu kan ada promo…masa dah punya kartu kreditnya gak dimanfaatkan promonya. Tapi gak doyan kopi? Gak masalah…yang penting ngetrend, ngopinya aja di Starbucks. Orang mana tau sih kalau kopinya promo setengah harga ๐Ÿ˜€

Kalau saya ingin minum Starbucks sih, kenapa saya harus tunggu ada promo. Kalau memang lagi pengen dan isi dompet mencukupi, datang saja langsung beli kopinya. Lah jelas elo ngomong gitu Ted, kartu kredit elo kan cuma satu-satunya Ted…ya jelas gak pernah dapat promo macem-macem. Paling gak elo harus punya kartu kredit bejibun (kalau perlu disusun rapih dalam dompet khusus) supaya elo sering bisa makan di restoran berkelas yang ada promo makan murahnya (makan murah kalau bayar pake kartu kredit gitu maksudnya) …. Nanti kalau lu udah punya banyak kartu kredit, ntar juga elo gak akan bikin postingan nyindir-nyindir melulu kaya gini X( dasar kurang kerjaan bisanya ngurusin urusan orang lain terus. Lah suka-suka gua, blog-blog gua mau nulis apa, mau nyindir apa….

Ah lagian elo kok kurang kerjaan amat ya Ted, biarin deh mereka mau minum Starbucks kek, atau di mana kek…elo mah belum kelas Ted minum kopi di Starbucks. Kelas elo cuma minum kopi Kapal Api sachetan yang dijual di warung kopi, minumnya juga bareng temen-temen supir lu.


NOTE :
Ada dua Tedy sedang berdebat di dalam pikiran saya…yang satu penuh kritikan & sarkasme, yang lain berusaha menimpali seperti layaknya orang kebanyakan :)) Jujur ini tulisan paling ancur yang pernah saya muat di blog sejak awal saya ngeblog. Maafkan kalau kali ini bahasa yang saya pakai kacau balau seperti ini. Foto gelas Starbucks di atas di ambil di Koln, setelah kedinginan dan mencoba menghangatkan badan dengan minum segelas hot cappuccino di Starbucks yang ada di seberang Cologne Cathedral :-p