Monthly Archives: March 2009
Count The Balls
Count The Balls adalah judul foto saya ini :
Foto di atas adalah salah satu koleksi foto-foto saat liburan ke Singapura Desember lalu. Aslinya foto tersebut tidak terlalu menarik, terlalu luas tanpa POI (point of interest). Foto aslinya seperti ini :
Foto aslinya tidak mampu bercerita seperti apa yang saya pikirkan waktu itu. Bandingkan foto asli itu dengan foto pertama, menurut saya foto pertama sudah mampu bercerita. Orang sepintas akan mengerti mengapa judul fotonya adalah “Count The Balls”.
Saat sedang duduk-duduk di Marina Bay, saya lihat 2 anak itu bermain-main di dekat pagar pembatas. Tak lama mereka nungging seperti itu, entah melihat apa ke bawah sana. Mungkin mengagumi bola-bola yang sedemikian banyak di air. Di latar belakang ada banyak bola-bola putih di air (itu laut atau sungai ya…lupa nanya waktu itu). Bola-bola itu katanya dipasang untuk acara malam tahun baru 2009. Posisi saya duduk dengan kedua anak itu cukup jauh. Sayang lensa saya terlalu pendek, zoom sudah maksimum tapi tidak mampu mengisolasi gambar pada kedua anak itu saja. Senin lalu saya iseng mencoba cropping foto aslinya. Cropping/pemotongan gambar saya pilih untuk menonjolkan POI di kedua anak tersebut, dan supaya fotonya bisa bercerita (atau paling tidak bisa seirama dengan judulnya).
Jadi kesimpulannya : foto yang kurang jelas Point of Interest-nya bisa diakali dengan cropping (memotong gambar) pada bagian objek yang ingin ditonjolkan saja. Kesimpulan kedua : belilah lensa tele segera =)) (supaya lain kali bisa mengambil foto momen-momen langka dari kejauhan).
Blade On the Heart
Anda yang membaca tulisan ini dan mengerti bahasa Mandarin pasti tahu apa arti karakter/huruf di samping ini. Jadi ceritanya kemarin rekan saya Joni memberi nasihat yang bagus untuk saya. Dia bilang ada 1 huruf China yang cocok untuk saya…huruf persis yang ada pada gambar di samping ini. Huruf itu adalah huruf ren katanya dibaca “jen“, bingung juga bagaimana menulis huruf ‘e’ dengan ‘topi’ di atasnya. Dalam bahasa Mandarin kalau tidak salah ada 4 macam suara (satu tulisan dengan 4 cara pengucapan, masing-masing punya arti sendiri). Secara literal, huruf ‘ren’ tersebut berarti pedang yang menancap di hati. Huruf ‘ren’ tersebut terdiri dari 2 kata. Bagian yang atas (yang berbentuk seperti M, berarti pedang), sementara bagian yang bawah (yang terlihat seperti W, berarti hati). Kamus Mandarin online Zhongwen (dibaca “cung wen”) menjelaskan kata ‘ren‘ artinya “blade in the heart” 😮
Dalam konteks nasihat Joni pada saya, ‘ren’ diartikan sebagai menahan diri. Huruf-huruf atau kata dalam bahasa Mandarin memang penuh dengan filosofi. Sebuah kata dapat terbentuk dari gabungan beberapa kata, dengan gabungan tersebut terbentuk sebuah makna baru. Memang hebat kebudayaan China itu, pantas diacungi jempol kebudayaan mereka sudah maju sekian abad sebelum Masehi dan penuh dengan ajaran filosofi.
Ya kemarin Joni memang sedang menasihati saya soal “menahan diri”. Awalnya kita sedang bicara soal menabung. Orang yang boros seperti saya memang layak dinasihati untuk menabung ;)) . Pesan moral yang saya dapat mungkin artinya lebih baik menahan diri dulu untuk kebaikan saya di masa depan. Mulai belajar menabung (diikuti hidup hemat tentunya) memang tidak mudah. Apa yang dimaksud dalam kata ren tadi mungkin bisa menggambarkan bagaimana sulitnya mulai menabung. Mengekang keinginan, belajar bersabar, menahan diri tidak konsumtif, bukan sesuatu yang gampang bahkan bisa menyakitkan (tapi bukan sesuatu yang mustahil). Menurut kamus Zhongwen kata ‘ren’ juga dapat diartikan sebagai endure (sabar). Ah memang keren huruf Mandarin yang satu ini…dalam artinya. Tiap kali mulai tidak sabaran, tiap kali mulai tidak bisa menahan diri, tinggal ingat saja ada pedang yang menancap di hati…terasa sakit tapi harus tetap bertahan.
Nah tadi sempat mikir juga bagaimana cara mengetik aksara Mandarin di Ubuntu. Dulu saya sempat menulis tentang bagaimana menulis aksara kanji/Mandarin di Windows, tulisan itu ada di sini. Googling sebentar sampai bertemu dengan panduan ini. Saya ringkas langkahnya seperti berikut ini :
- Instal paket-paket berikut ini :
tedy-laptop:/# sudo apt-get install scim-qtimm im-switch scim-pinyin
- Atur cara input dengan perintah
im-switch:tedy-laptop:/ # im-switch -z all_ALL -s scim
- Logoff dulu dari Ubuntu, setelah login kembali Anda akan menjumpai icon bebentuk keyboard di bagian notification bar (di Ubuntu by default ada di bagian kanan atas layar).
- Klik icon tersebut lalu pilih Chinese Simplified untuk mulai mengetik aksara Mandarin. Untuk balik lagi ke mode teks biasa silakan pilih English Keyboard. Gambar huruf di atas saya ketik di OpenOffice.
Jangan terlalu percaya pada penjelasan saya soal huruf Mandarin & cara pengucapannya…lah wong saya gak bisa bahasa Mandarin kok ;)) Saya cuma terkesan saja dengan huruf Mandarin yang itu. Tapi Anda boleh percaya pada penjelasan saya tadi soal bagaimana mengetik aksara Mandarin di komputer berbasis Linux 😀 Tambahan informasi, di situs ini Anda bisa lihat bagaimana cara menulis karakter Mandarin (garis demi garis tidak boleh salah urutannya).
Thanks Pak Jon buat nasihatnya kemarin
Stay Away From The Water
Hmmm…. ini salah satu hasil utak-atik saya dengan GIMP. Crop fotonya, tambahkan frame, buat signature. Memang meniru apa yang rekan saya Jennifer lakukan dengan koleksi foto-fotonya. Tenang saya sudah ijin kok meniru gayanya 😀
(taken using Canon EOS 1000D + Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS; Exposure=1/320; Aperture=f/5.6; Focal Length=55 mm; ISO Speed=100)
Fotonya saya ambil di Singapura bulan Desember lalu. Lokasinya di dekat Esplanade. Si bule sedang menangkap anaknya yang mencoba mendekati air. Walaupun belum bisa berjalan, si anak sudah bisa merangkak. Untung bapaknya masih memperhatikan anaknya, kalau gak mungkin si bayi bisa tercebur ke sungai ;))
Yang Mengesalkan Dari Indovision
Sudah lama juga saya menggunakan layanan TV berbayar dari Indovision. Saya pasang Indovision akhir Juni tahun lalu. Sejauh ini saya belum bisa bilang puas dengan siaran Indovision, masih banyak siaran TV yang jelek tampilannya. Dulu waktu instalasi, teknisi Indovision bilang kalau daerah tempat saya tinggal termasuk daerah yang penuh frekuensinya. Katanya terlalu banyak interferensi dari pemancar lain. Interferensi maksudnya gangguan sinyal karena ada pemancar sinyal yang berdekatan. Nah loh, katanya Indovision selalu bagus di segala cuaca….tapi ternyata masih kalah kalau kena interferensi sinyal.
Hampir setiap hari siaran TV lokal yang saya dapat jelek sinyalnya. Yang bagus cuma RCTI, ANTV, Trans7, dan Indosiar. MetroTV, SCTV, dkk hampir setiap hari jelek. Jeleknya seperti apa, persis seperti Anda nonton VCD rusak. Brebet brebet gambar dan suaranya. Tidak bisa lihat dan dengar apa-apa. Fashion TV juga begitu….kalau SCTV dkk jelek tampilannya, dapat dipastikan Fashion TV juga. Jadi susah kalau mau lihat lingerie show di Fashion TV kalau siaran sedang jelek ;))
Di dekat kos saya ada kantor Telkom Jakarta Barat, entah apa mungkin radio-radionya Telkom yang jadi hambatan. Beberapa hari lalu saya sempat ngobrol juga dengan rekan saya, katanya markas TNI juga punya pemancar radio yang sangat mungkin mengganggu tangkapan sinyal Indovision. Ah pantas kalau begitu, tidak jauh dari tempat saya ada markas TNI (di dekat fly over Tomang). Tapi saya perhatikan di sekitar saya banyak juga antena Indovision, artinya banyak juga pelanggan Indovision. Apakah mereka juga mengalami hal yang sama seperti saya ya. Atau karena pemasangan antena di tempat saya saja yang kurang bagus. Saya pernah dengar katanya pemasangan antena TV berbayar seperti Indovision itu tidak butuh tempat yang tinggi. Yang penting katanya sudut dan elevasinya saja harus tepat.
Agak malas saya komplain ke Indovision, malas menunggui teknisinya datang dan troubleshooting. Nah kalau sudah begini saya yang salah ya?
Jumat malam kemarin juga ada yang mengesalkan lagi. Ceritanya saya lihat ada film The Warlords di Celestial Movies, sepertinya menarik karena ada Jet Li, Andi Lau di film itu. Waktu saya pindah saluran ke Celestial Movies secara tidak sengaja, film sudah mulai sekitar setengah jam. Beberapa menit menonton saya mulai kesal karena teks sering tidak muncul. Repot kan menonton film berbahasa Mandarin tanpa teks, mengingat saya tidak ngerti bahasa Mandarin ;)) Kalau filmnya berbahasa Inggris tentu tidak akan terlalu jadi masalah kalau teks hilang. Beberapa saat teks muncul lagi, lalu hilang lagi. Saya sempat curiga apa jangan-jangan saya menekan sesuatu di remote sehingga teksnya hilang. Tapi sepertinya tidak ada pengaturan macam itu di remote-nya Indovision. Ok saya sabar saja menunggu teks. Ketika teks sudah stabil muncul terus, saya heran kenapa teksnya tidak sinkron dengan adegannya. Meskipun tidak bisa bahasa Mandarin, saya bisa menerka dan yakin 100% kalau teksnya salah. Bukan salah tapi terlambat muncul, adegannya apa tulisan di teksnya apa….lucu & mengesalkan jadinya. Saya batalkan rencana menonton The Warlord sampai selesai.
Saya sendiri tidak tahu persis siapa yang mengatur teks film pada layanan TV berbayar seperti Indovision. Entah Indovisionnya atau memang stasiun TVnya yang menyediakan. Tapi kok bisa sampai terjadi demikian? Jadi seperti nonton DVD bajakan, teksnya bisa terlambat muncul atau kadang muncul kadang tidak.