Soal Cuci Scan Film

Hasil Scan Dalam Bentuk CD

Saya baru tahu Adorama Lab Foto menyediakan jasa scan film juga. Daripada mencetak semua foto untuk menyortir yang jelek & yang bagus, lebih mudah bila hasilnya sudah dalam format digital (hasil scan-nya dalam format JPEG).

Sebelumnya saya selalu cetak semua film dalam format kecil (3R atau 4R), nanti tinggal diperbesar foto-foto yang menurut saya bagus. Cara ini tentu lebih boros, untuk cetak 3R atau 4R di Adorama saya harus membayar Rp 2300,-/lembar. Satu rol film ongkos cucinya sendiri Rp9.000,-, & jika semua film tidak ada yang gagal maka ada lebih kurang 36 berarti ada biaya cetak sebesar Rp82800m-. Totalnya sebesar Rp91.800,- dan belum tentu dari ketiga puluh enam foto itu saya suka dengan hasilnya. Ada saja yang perlu diseleksi karena salah eksposure, salah komposisi atau karena fotonya kabur/goyang. Dengan cara scanning, saya lebih fleksibel memilih frame mana yang akan dicetak. Ongkos scan sendiri dihitung per rol film, sebesar Rp55.000,- Jadi untuk 1 rol film saya perlu membayar Rp64.000,- termasuk ongkos cuci & mendapat 1 buah CD hasil scan-nya.

Hari Jumat lalu saya pergi ke Adorama (di Menteng) untuk ambil hasil cuci & scan 1 rol film Kodak BW400CN. Proses cuci & scan memakan waktu 1 hari, hari Selasa lalu harusnya sudah selesai tapi baru hari Jumat kemarin saya sempat mengambil hasilnya. Melihat hasil scannya sepertinya cukup baik, high resolution. Hanya sayang sepertinya teknisi Adorama melakukan digital editing terlebih dulu tanpa seizin saya. Mungkin karena beberapa frame dianggap terlalu gelap sehingga mereka melakukan olah digital yang berakibat bertambahnya noise di beberapa foto. Lain kali saya mungkin harus berpesan supaya filmnya di-scan apa adanya tanpa olah digital.

Rol film yang saya cuci scan kemarin sudah ada di dalam kamera Nikon FM2 sejak bulan September lalu (saya ingat memasang film itu di Belitung), sampai bulan Januari baru bisa saya habiskan 😀 Foto di bawah ini salah satu contoh hasilnya.

Clay Mine

Hasil scan foto tersebut saya olah lagi di Photoshop untuk menaikan kontras dan melakukan burning di beberapa area. Foto itu diambil di sekitar tambang kaolin Pulau Belitung saat saya mengunjungi Belitung bulan September lalu.

Disapa Orang Tak Dikenal

Morning Dew Kamis pagi kemarin saat saya sedang duduk-duduk minum kopi di Daily Bread Menara Rajawali bersama rekan kantor, seorang laki-laki menghampiri saya lalu menyapa : “mas Tedy ya?” sambil mengulurkan tangan mengajak saya bersalaman. Kontan saya kaget; siapa orang ini, apakah saya kenal dia. Sepersekian detik saya berpikir keras mengingat-ingat apakah saya pernah bertemu orang ini. Belum ingat siapa orang ini, si Mas tadi melanjutkan perkenalannya : “Saya Alan, Mas.” Kembali saya berpikir, Alan? Makin keras saya berpikir apakah saya kenal orang bernama Alan ini. Belum ingat siapa mas Alan ini, si Mas tadi lanjut bicara : “saya sering baca blognya Mas Tedy”

….Gubrak….

Ternyata memang saya tidak pernah mengenal orang ini sebelumnya, pantas tidak ada hasil berusaha keras mengingat-ingat =)) Dan ternyata Mas Alan (mudah-mudahan saya tidak salah dengar namanya tadi) tadi pernah membaca blog saya ini & mengenali muka saya (ada beberapa foto diri saya di blog ini). Ternyata ada juga orang yang menyempatkan diri membaca blog ini. Salut untuk keberanian Mas Alan ini menyapa orang asing di tempat umum, saya sendiri belum tentu berani menyapa orang yang pernah saya baca blognya & saya kenali wajahnya bilamana bertemu di tempat umum. Dua rekan saya terheran-heran melihat perkenalan singkat saya tadi 😀

Lalu apa hubungannya disapa orang asing dengan foto embun di atas? Hmmm tidak ada hubungannya sih, rasanya kurang sreg saja posting sesuatu tanpa foto  😀

Soal Pizza

Salah satu favorit saya kalau makan di Pizza Hut (atau pesan antar) adalah Deluxe Cheese Pizza, pizza polos tanpa daging, tanpa sayuran, tanpa topping apapun. Sebut saya aneh, tapi saya suka Pizza Hut yang sudah dingin dan agak keras :D.

Deluxe Cheese Pizza Hut

Tidak seperti pizza, saya lebih suka makan garlic bread saat masih hangat.

Garlic Bread Pizza Hut

Minuman yang paling cocok untuk menemani makan pizza? Coca cola tentunya 😀

Lampu Merah Mal Ambassador

Lampu merah untuk penyeberang jalan

Sudah cukup lama saya tidak melintas ke daerah Casablanca. Dulu kantor saya di Mega Kuningan, hampir setiap hari saya melintas di situ. Minggu ini saya ada sedikit kerjaan di daerah Mega Kuningan, saya baru tahu sekarang ada lampu merah persis di depan Mal Ambassador. Lampu merah ini dipasang untuk mengatur pejalan kaki yang akan menyeberang. Dari dulu penyeberangan jalan diatur oleh satpam Mal. Di jam-jam sibuk seperti jam makan siang, penyeberang jalan harus berebut jalan dengan kendaraan-kendaraan yang melintas. Hampir dapat dipastikan macet selalu terjadi di kawasan ini. Kombinasi yang buruk, volume kendaraan yang padat dengan jumlah penyeberang jalan yang tidak sedikit dengan frekuensi yang cukup tinggi.

Lampu merah ini berfungsi dua arah. Satu untuk menyetop kendaraan yang melintas. Kedua, untuk mengatur penjalan kaki yang akan menyeberang jalan. Pejalan kaki yang akan menyeberang harus menekan tombol di tiang lampunya dulu. Tiap kali lampu untuk pejalan kaki menyala hijau, terdengar bunyi “bip…bip…bip” yang cukup keras. Cukup keras sampai bisa terdengar dari seputaran Hotel J.W. Marriot, yang jaraknya  lebih kurang 100-200 meter. Lampu untuk penyeberang jalan menyala hijau selama 10 detik, cukup singkat menurut saya untuk jumlah penyeberang jalan sebanyak itu. Mungkin bunyi itu dimaksudkan untuk membantu penyeberang jalan mengetahui berapa lama lagi hak mereka menyeberang…solusi yang agak aneh menurut saya. Agak mengganggu juga rasanya mendengar bunyi seperti itu terus-terusan. Terbayang betapa terganggunya mereka yang tinggal di dekat situ.

Penyeberang jalan di depan Mal Ambassador

Jumat kemarin saya makan siang di food court Mal Ambassador, jadi saya punya kesempatan untuk memotret situasi di sekitar lampu merah baru itu 😀 Selama makan siang saya perhatikan orang-orang yang menyeberang. Sepanjang yang saya lihat, sepertinya sekarang orang menjadi lebih tertib dengan adanya lampu merah tersebut.

Tapi tetap saja ada orang yang memaksa menyeberang meskipun lampunya sudah merah kembali. Untuk sekumpulan orang sebanyak itu (seperti terlihat di foto), waktu 10 detik tidak cukup untuk menyeberangkan mereka semua. Perlu 2 kali lampu hijau menyala untuk menyeberangkan mereka, dengan asumsi tidak ada lagi tambahan pejalan kaki dari seberang jalan. Paling tidak dengan adanya lampu lalu lintas baru ini, mobil motor dan kendaraan lain menjadi lebih tertib pula untuk berhenti & memberi kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang. Sebelumnya menyeberang dari dan menuju Mal Ambassador butuh sedikit nyali untuk nekat melintas & memaksa mobil/motor berhenti….biasanya motor yang lebih enggan untuk berhenti dan membiarkan orang menyeberang. Kalau tidak nekat, bisa-bisa kita diam saja tidak bisa menyeberang.

Dari dulu saya selalu berpikir mengapa pihak Pemprov DKI ataupun pengembang Mal Ambassador tidak berpikir untuk menyediakan jembatan penyeberangan. Mengingat ramainya volume orang yang menyebarang dan tidak sedikit dari mereka yang jadi pengunjung Mal. Rasanya Casablanca akan jauh lebih tertib dan lancar bila yang dipasang di sana adalah sebuah jembatan penyeberangan. Tapi saya acungi jempol juga untuk pihak yang memutuskan untuk memasang lampu merah itu sekarang. What took you so long? Mengapa baru sekarang? Apa karena sekarang ada proyek pembangunan jalan layang juga di kawasan itu?

Soal Terburu-Buru

Foto lift di Hotel Ibis Surabaya

Beberapa hari lalu saya lihat di sebuah gedung perkantoran di Senayan, seorang Bapak terburu-buru masuk lift. Dia hampir menabrak seseorang yang akan keluar lift. Orang yang hampir ditabraknya sepertinya orang Jepang, saya bisa menebak karena gara-gara hampir tertabrak dia mengomel-omel kecil dalam bahasa Jepang. Bukan berarti saya ngerti apa yang diomelkannya, tapi saya mencoba mengira-ngira dari mimik muka dan lirikannya yang kesal (pada si Bapak yang hampir menabraknya). Saya pun mungkin akan kesal bisa ada di situasi seperti itu.

Sering saya memperhatikan tidak sedikit orang yang terburu-buru masuk ke dalam lift sesaat setelah pintu lift membuka. Tidak menjadi soal kalau liftnya memang kosong. Tapi rasanya kurang pas bila ada orang di dalam lift yang hendak keluar di lantai tersebut. Saya sendiri biasanya akan menunggu sampai semua orang yang keluar dari dalam lift, baru kemudian masuk ke dalam lift tersebut.

Perilaku orang menunggu lift juga kadang bisa bikin sebal orang yang akan keluar lift. Salah satunya adalah berdiri (kadang bergerombol) tepat di depan lift sehingga acap kali menghalangi orang yang akan keluar dari lift. Mbok ya beri ruang sedikit supaya orang dari dalam lift bisa keluar dengan lancar. Mungkin karena mereka takut tidak dalam tempat di dalam lift, sehingga sebisa mungkin berusaha jadi yang pertama masuk…orang yang keluar jadi terhalang jalannya, itu bukan urusannya.

Dulu rekan saya pernah cerita katanya hal seperti itu memang sudah kultur masyarakat Indonesia. Katanya lagi, lain halnya dengan orang Amerika yang cenderung memilih untuk menjaga jarak dengan orang lain (jarak dalam arti harafiah). Dipikir-pikir ada benarnya juga dalam hubungannya dengan soal menunggu lift, bule cenderung untuk memberi ruang terlebih dulu bagi orang dari dalam lift untuk keluar sebelum dia sendiri masuk menggunakan lift. Rasanya tidak rugi dan tidak ada salahnya kalau hal demikian ditiru. Siapa yang tidak senang ketertiban kan?