Truk Besar Di Jalan Biasa

Apa jadinya kalau truk besar dengan 20 ban (kalau tidak salah hitung) masuk ke jalan protokol (lewat jalur busway pula)? Macet X( Hmm mungkin saya yang terlalu lebay, toh tidak ada truk ini pun jalanan sudah macet.

Foto pagi ini di perempatan Tomang, truk besar melintas di Jl. Jend S Parman hendak masuk tol dalam kota lewat pintu tol Slipi. Aneh karena setahu saya kendaraan besar dilarang masuk jalan protokol di Jakarta. Banyak Polantas di sepanjang Slipi, tidak ada yang menindak truk ini. Supir truknya mungkin emosi karena tidak saya kasih jalan ketika mencoba menyalip dari kiri saya. Tidak lama dia menyalip saya dari sisi kanan dan langsung masuk jalur busway.

Soal Kamera Analog

FM2 #1Tiap kali saya bawa kamera analog (kamera film), pasti ada saja orang yang bertanya kenapa saya masih pakai kamera film di jaman digital. Sering saya bawa 2 kamera, satu Canon 1000D dan satunya kamera Nikon FM2. Mungkin ada 2 alasan kenapa saya putuskan untuk membeli sebuah kamera analog.

Alasan pertama adalah ingin tahu sebenarnya bagaimana hasil foto hitam putih yang sebenarnya. Banyak yang bilang foto hitam putih (B/W) dari kamera digital tidak bisa menyamai bagusnya hasil dari kamera analog dengan film B/W. Katanya gradasi dan tonal foto hitam putih yang dihasilkan kamera digital masih kalah jauh dibandingkan hasil dari film B/W.

Alasan kedua adalah saya ingin belajar disiplin motret. Disiplin maksudnya tidak asal jepret. Saya mungkin sama seperti pengguna DSLR lain yang baru tahap belajar, seringkali menggampangkan proses pengambilan gambar. Jepret jepret lalu intip hasilnya di LCD. Tidak salah memang karena memang untuk itulah LCD dibuat. Tidak jarang pulang foto-foto, memory card penuh dengan foto tapi hanya sedikit dari foto-foto tersebut yang benar-benar bagus. Tapi saya ingin bisa motret dengan benar, intip viewfinder, semua setting sudah benar (exposure, speed, aperture, komposisi) baru kemudian eksekusi menekan tombol rana.

Saya ingat banyak fotografer senior Indonesia memberi nasihat, buatlah foto itu benar saat masih di kamera…get it right on the camera. Bukan memotret untuk kemudian diperbaiki di komputer. Dengan kamera analog (dengan film terpasang maksudnya πŸ˜€ ), saya merasakan deg-degannya memotret. Maksudnya tegangΒ  takut fotonya gagal. Saya jadi ekstra hati-hati sebelum memotret, saya lihat lagi komposisinya apakah sudah benar, saya cek lagi shutter speed-nya apakah sudah tepat tidak akan blur, saya cek lagi apakah subjek sudah benar-benar fokus.

Kamera Nikon FM2 ini saya beli tahun lalu seharga 1,2juta dari seorang kolektor kamera antik di daerah Pejaten Jakarta Selatan. Nikon FM2 ini mungkin sudah berumur sama seperti saya, kalau tidak salah Nikon FM2 ini buatan tahun 1982-1983. Semuanya masih manual, pengaturan kecepatan (shutter speed), ISO film, aperture/diafragma, fokus semuanya dilakukan dengan manual. Demikian juga dengan tuas untuk memajukan film dari satu frame ke frame berikutnya. Tiap kali selesai jepret, saya harus tarik tuas ini untuk siap memotret kembali. Klasik ;)) Waktu beli kamera ini, saya tidak punya lensa Nikon. Jadi setelah beli Nikon FM2 ini saya beli lensa Nikon AF-D 50mm f/1.8. Cukup satu lensa normal untuk tahap coba-coba.

Gara-gara beli kamera ini saya jadi punya pengalaman pertama memasang film ke dalam sebuah kamera. Untungnya pertama kali test memotret dengan menggunakan kamera ini, semua filmnya (37 frame) berhasil merekam gambar. Tidak ada film yang terbakar karena salah motret πŸ˜€ Tujuan awal beli kamera ini untuk mencoba film hitam putih malah belum tercapai. Kendalanya adalah saya masih belum menemukan tempat cuci cetak film B/W. Tidak semua lab foto masih menyediakan jasa pencucian film B/W. Film B/W yang sebenarnya diproses dengan cairan kimia & diproses secara manual, bukan dengan mesin. Beda lama waktu mengocok film di dalam cairan kimia, beda pula hasil foto yang dihasilkan. Beda orang yang mencuci film, beda pula hasilnya. Pokoknya banyak aspek yang mempengaruhi. Katanya paling pas adalah motret sendiri, cuci sendiri, cetak sendiri.

Meskipun demikian saya sudah coba film B/W yang berkategori C41. Tahun lalu saya coba beli film Kodak BW400CN. Film ini kata penggemar fotografi hitam putih disebut sebagai film B/W “banci”. Mengapa disebut banci, karena film ini diproses menggunakan mesin cuci cetak film warna. Jadi saya dengan mudah bisa bawa film ini ke lab foto seperti Adorama, selama lab tersebut masih punya mesin cuci cetak film warna maka film Kodak BW400CN bisa diproses di sana. Hasilnya memang jauh berbeda dengan film B/W yang asli, hitamnya masih tidak maksimal masih ada warna kehijauan di hasilnya. Berikut contoh satu foto hasil film Kodak BW400CN (cuci cetak di Adorama Menteng), hasilnya saya scan dengan scanner biasa :

Hasil scan saya olah lagi di Photoshop (hayah tetap saja balik lagi ke komputer =)) ). Ya saya kurang suka dengan tone kehijauan yang dihasilkan….masa foto hitam putih terkesan kehijauan. Jadi untuk menghilangkan tone kehijauan itu, saya pakai Photoshop sekaligus untuk mengangkat sedikit kontrasnya.

Saya sudah beli film B/W merek Lucky (ISO 100) tapi belum pernah saya pakai. Nanti kalau sudah menemukan tempat cuci cetak film B/W baru saya berani coba. Alternatif lain adalah belajar mencuci film B/W sendiri, dengan kata lain belajar teknologi kamar gelap. Hmmm tantangan tersendiri sih, perlu usaha ekstra keras. Salah satu kenalan saya fotografer yang masih memotret dengan film pernah bilang pada saya untuk memikirkan kembali niat saya itu. Katanya lebih baik waktu & dana yang ada dipakai untuk mendalami fotografi digital saja. Jangan setengah-setengah katanya kalau ingin terjun belajar cuci cetak foto hitam putih. Hmmm nasihat yang sangat masuk akal, tapi tentu tidak ada salahnya mulai mencoba belajar sesuatu yang baru bukan?

Metropolitan Sore Hari

Sampoerna Strategic #2 Bagi saya, memotret gedung-gedung tinggi di Jakarta adalah salah satu pengalaman yang cukup menyenangkan. Tahun lalu saya dapat kesempatan memotret gedung Sampoerna Building dari atas atap Wisma Metropolitan II Jakarta. Temannya teman punya kenalan (ribet ya πŸ˜€ ) yang punya akses bisa naik ke atas Wisma Metropolitan.

Saya masih ingat sore itu Jakarta diguyur hujan lebat. Kami sudah datang di Wisma Metropolitan jam 5 sore, sambil menunggu di Dunkin Donuts tiba-tiba turun hujan lebat. Nyaris kecewa karena sampai jam 6 sore hujan masih turun meskipun tinggal gerimis. Jam 6 lebih hujan reda dan kami pun bergegas naik ke atap dengan ditemani petugas keamanan gedung. Masih beruntung kami bisa dapat foto blue hour sore-sore ini meskipun waktu sudah sekitar pukul setengah 7 malam.

Jakarta dengan segala glamour dan macetnya terekam di foto itu. Macetnya Casablanca tinggal terlihat seperti garis-garis cahaya karena foto ini diambil dengan long exposure (lebih dari 1 detik waktu pemotretannya). Wacana memindahkan Ibukota negara sepertinya mulai hangat dibicarakan. Entah kota apa berikutnya yang akan dipilih & berevolusi jadi semeriah Jakarta.

Bolpen Multifungsi

Tadi pagi saya dapat kiriman dari Citibank, sebuah kotak kaleng berukuran lebih kurang 11×9 cm. Kemasannya cukup menarik. Ternyata isinya adalah ballpoint multifungsi.Selain sebagai bolpen biasa, ada tambahan USB disk drive berukuran 2GB di dalamnya plus laser pointer. Ukurannya bolpennya agak gendut, di atas rata-rata bolpen biasa (setidaknya lebih besar bolpen yang sering saya pakai ;)) ).

USB disk drive-nya berada di tengah-tengah, jadi harus diputar lepas dulu sambungannya. Laser pointer-nya menggunakan 3 batere jam sebagai sumber tenaganya. Laser pointer ini biasa dipakai orang saat presentasi untuk membantu menujuk slide presentasi. Buat saya sendiri yang hampir tidak pernah presentasi entah apa ada gunanya laser ini. Bagi saya sekarang rasanya yang paling bermanfaat adalah USB disk drive-nya.

Saya baru ingat kalau ternyata beberapa waktu lalu saya pernah mengklaim poin reward kartu kredit Citibank saya dengan hadiah ini. Padahal saya juga klaim sebuah tas tapi entah mengapa baru bolpen ini yang datang.

Energy Saving Mode

Beberapa kali saya pernah melihat tampilan mode hemat energi di blognya Paman Tyo. Kalau saya tidak menggerakkan kursor, tidak menekan tombol apapun, sibuk browsing halaman lain, halaman blog itu akan menjadi hitam dengan tulisan “mode penyimpanan energi”. Begitu saya balik lagi ke halaman blog tadi dan mulai menggerakan kursor, halaman hitam itu menghilang.

Pagi ini saya baru tahu itu adalah plugin yang disediakan oleh OnlineLeaf.com. Saya pun tergerak untuk langsung mencobanya. Caranya mudah sekali, tinggal menyisipkan sepotong kode Javascript ke dalam header blog. Petunjuk instalasinya dijelaskan secara mudah di sini. Berikut tampilan blog saya jika tidak disentuh-sentuh selama 2 menit :

Tangkapan layar saat mode hemat energi

Tersedia beberapa opsi pada fitur ini, misalnya saya bisa memilih bahasanya bukan lagi bahasa Inggris. Ada 23 bahasa yang disediakan, termasuk Bahasa Indonesia. Blognya Paman Tyo menggunakan Bahasa Indonesia, saya masih suka dengan tampilan default-nya dalam bahasa Inggris. Opsi lain adalah saya bisa mengatur lamanya proses “time of inactivity” (lamanya waktu tidak ada aktivitas dalam halaman blog ini) menjadi beberapa detik atau menit, standarnya 2 menit.

Menurut websitenya menampilkan halaman hitam saat tidak dipakai itu cukup mengurangi konsumsi listrik. Entahlah saya juga tidak tahu seberapa hemat, sama seperti pernyataan mereka di blognya :

It might not seem like a lot of difference, but after all every little bit does count.

Lepas dari benar tidaknya hemat energi, cukup menyenangkan bagi saya memiliki blog dengan fitur seperti ini πŸ˜€