Plat Nomor Cantik

Kalau di Jakarta baru ada heboh-heboh berita soal plat nomor cantik, di Wellington nomor plat cantik malah bisa dibeli secara legal. Dan pembelinya bisa mereka-reka sesuka hati. Misalnya plat nomor “2L GUY” ini :

IMG_0560

atau plat nomor “EYE CAR” ini :

IMG_0519

Unik kan? Kabarnya untuk mendapat plat nomor yang unik itu, pemilik mobil diharuskan membayar sekitar NZ$300/tahun. Nomor plat itu akan tetap melekat pada pemiliknya selama pemiliknya rutin membayar pajak tahunannya. Asiknya lagi, plat nomor ini bisa dipindahkan ke mobil lain bila si pemiliknya mengganti mobil.

Mesin Parkir

IMG_0537

Semua area parkir di tepi jalan di Wellington ini dilengkapi dengan mesin parkir otomatis. Mungkin istilah “mesin parkir” kurang pas juga, karena mesin ini tidak memarkirkan mobil dengan otomatis :-). Maksudnya mesin ini adalah cara retribusi parkir yang otomatis. Tidak ada tukang parkir yang memungut retribusi & membantu memarkirkan mobil. Cara pembayarannya bisa dengan koin, kartu kredit, dan bisa juga dengan mengirim SMS. Tarif parkir di Wellington adalah NZ $4/jam. Kalau dirupiahkan berarti sekitar Rp32.000,-/jam. Bandingkan dengan tarif parkir di Jakarta yang baru-baru ini naik mejadi Rp3000,-/jam. Tapi kabarnya tarif parkir di Wellington akan diubah menjadi NZ $1/jam. Tetap saja jauh lebih mahal daripada tarif parkir di Jakarta 🙂

Middle Earth

Beberapa waktu lalu teman saya Zaki sempat berkomentar soal Middle Earth. Ternyata di bandara internasional Wellington ada tulisan Middle of Middle Earth juga. Sayang kualitas fotonya kurang jelas. Foto di bawah ini adalah hasil crop dari foto yang lebih lebar.

IMG_0469

Saya makin penasaran apa sih artinya Middle Earth. Ternyata ini ada hubungannya dengan film The Lord Of The Ring & The Hobbit. Middle Earth adalah sebuah dunia fiksi yang menjadi latar cerita kedua film tersebut. Trilogi The Lord Of The Ring & film The Hobbit syutingnya dilakukan di New Zealand dan disutradarai oleh sutradara asal New Zealand juga, Peter Jackson. Pantas saja dipajang tulisan seperti itu di bandara Wellington ini, sepertinya The Lord of The Ring menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh penduduk New Zealand.

Menonton Taken 2

Dalam perjalanan menuju Sydney saya menonton Taken 2. Kebetulan dalam pesawat Qantas ini, Taken 2 tersedia di in-flight entertainment-nya. Film ini adalah sekuel dari film Taken (2008). Sekuel ini masih dibintangi oleh Liam Neeson (memerankan Bryan), Famke Janssen (memerankan Lenore istrinya Bryan), dan Maggie Grace (memerankan Kim sebagai anak perempuan Bryan) and. Sekuel ini sama tegangnya dengan film sebelumnya. Waktu menonton Taken beberapa waktu lalu, saya sebenarnya tidak sengaja menontonnya di HBO. Saya tidak sengaja memilih HBO dan secara kebetulan tertarik menonton sampai selesai. Taken 2 sebenarnya sudah ada dalam daftar film yang akan saya tonton. Saya sudah men-download-nya beberapa minggu lalu via Torrent. Hanya saja belum sempat menontonnya.

20130119-091656.jpg

Kali ini Taken 2 bercerita tentang penculikan terhadap Bryan dan istrinya saat mereka sekeluarga sedang berlibur di Istambul, Turki. Anak perempuannya berhasil lolos dari upaya penculikan karena memilih tinggal di hotel untuk berenang daripada pergi bersama kedua orang tuanya. Film ini memang bisa ditebak ujung ceritanya, Bryan sebagai mantan agen CIA akan mampu lolos dari penculikan, menghabisi semua penculiknya, dan menyelamatkan istrinya. Namun demikian sutradaranya mampu mengemas film ini sebagai film penuh ketegangan. Keseluruhan jalan cerita mampu dikemas menarik tanpa menimbulkan kesan lebay dari jagoannya.

Ada beberapa adegan keren dalam film ini. misalnya saat Kim dan ayahnya terlibat kejar-kejaran dengan para penculiknya. Mereka menggunakan taksi kuning (kalau tidak salah sepertinya mobil taksinya Mercedes Benz 300E). Adegan keren lain adalah bagaimana Bryan sebagai seorang mantan agen berhasil mengingat-ingat perjalanan dari tempat penculikan sampai ke tempat penyekapan, padahal kepalanya sudah ditutupi kain hitam. Dia mengenali jalur penculikannya dengan tetap menghitung dalam hati, sehingga dia tahu persis di detik ke berapa mobil berbelok. Dia juga berhasil menandai lokasi-lokasi penting dengan memperhatikan bunyi-bunyian sekeliling, misalnya mendengar suara adzan mesjid, peluit kapal, suara kicau burung, dsb.

Produk Apple turut muncul di dalam film ini. iPhone 4s dan iPad menjadi gadget yang dipakai para aktornya. iPhone 4s terus disorot saat Kim menerima instruksi dari ayahnya. Bryan dalam keadaan tersekap akhirnya bisa menelepon Kim dengan menggunakan telepon mata-mata yang terselip di sepatunya. iPad juga muncul saat Kim menggunakan iPad untuk melakukan video conference dengan pacarnya lewat Skype (suara khas login Skype dimunculkan juga).

Film yang menarik untuk ditonton, tapi saya sarankan Anda menonton dulu Taken sebelum menonton Taken 2. Secara keseluruhan menurut saya Taken 2 ini kalah serunya dengan Taken 1.

Berangkat Ke New Zealand

Setelah menembus banjir sampai ke bandara Soekarno Hatta, ternyata saya tidak bisa langsung check-in. Check-in counter-nya Qantas Airlines belum ada yang buka. Petugas bandara menginformasikan kalau Qantas check-in baru buka sekitar pukul 4 sore. Saya  mampir saja ke Old Town Coffee (di dekat terminal 2F). Baru sekitar pukul 4 sore saya bisa masuk ke ruang check-in. Ruang check-in sore ini cukup ramai. Sepertinya banyak rombongan haji/umroh yang akan berangkat. Banyak sekali rombongan yang menunggu di sepanjang counter check-in. Proses check-in juga berlangsung lambat. Petugas bandara sempat mengganti dulu PC yang dipakai untuk registrasi penumpang. Saya menghabiskan waktu 45 menit lebih padahal saya hanya ada di urutan ke 6. Antrian check-in menjadi sangat panjang.

IMG_0435

Sekitar pukul 5 sore saya baru selesai check-in. Saya punya waktu sekitar 2 jam lagi menunggu waktu boarding. Dari situ saya lanjut ke loket imigrasi, di sini antrian tidak begitu padat. Selepas imigrasi saya sempatkan membeli dolar di money changer (yang ada di samping imigrasi). Sayangnya tidak ada stok NewZealand dolar di money changer itu. Jadilah saya membeli USD dengan nilai tukar yang sepertinya lebih tinggi daripada money changer lain di area luar bandara (Rp10000,-/USD). Punya waktu 2 jam saya putuskan untuk menunggu saja di lounge.  Ada beberapa pilihan lounge di terminal 2D/2E ini, Emerald, Garuda, Mutiara. Saya pilih Mutiara Lounge dengan membayar Rp75.000,-. Sekitar pukul 7 saya bergegas menuju gate D6 untuk boarding pesawat. Ternyata agak meleset dari jadwal, boarding baru berlangsung pukul setengah 8.

IMG_0443

Foto di atas adalah pesawat Airbus A330-300 yang siap membawa saya ke Sydney, untuk transit sebentar sebelum terbang ke Wellington New Zealand. Pesawat mulai bergerak meninggalkan gate tepat pukul 8.30 malam.