Surabaya (part 7) – Menu Hotel Singgasana Surabaya

Sudah hampir satu minggu saya menginap di hotel Singgasana Surabaya ini. Cerita tentang hotel Singgasana sendiri, sudah saya tuliskan di sini. Sekarang saya ingin cerita tentang menu makan yang disediakan di hotel Singgasana. Sejak Jumat lalu saya sering kali makan di hotel karena malas keluar dari hotel untuk sekadar cari makan. Saya coba beberapa menu yang disajikan di buku menu yang ada di hotel. Daftar menu yang ada di kamar menurut saya kurang lengkap (menurut saya masih lebih lengkap buku menunya hotel Garden Surabaya). Beberapa menu masakan yang sudah saya cicipi, saya rangkum dalam komik di bawah ini :

Nomor-nomor yang ada di gambar di atas menunjukan tingkat “lezat”nya makanan versi saya sendiri πŸ˜€ , berikut sedikit catatan dan komentar tentang makanan-makanan tersebut :

  1. Ikan gurami sambal tomat
    Ini adalah menu favorit saya dari beberapa menu yang sudah saya cicipi. Ikan gurami yang disajikan kira-kira ukuran setengah kilo, cukup besar ukurannya untuk dimakan sendiri. Tapi habis juga tuh πŸ˜€ malah seringnya nasinya sudah kepalang habis dulu sementara daging ikannya masih banyak. Ikan bakar ini dilumuri bumbu kecap manis dan kacang, bumbu yang pas itu dipadukan dengan segarnya daging ikan plus hitung-hitung harganya membuat menu ini jadi menu favorit saya di hotel Singgasana. Dengan harga sekitar Rp50.000,- ikan gurami ini paling cocok untuk mengenyangkan perut. Sayang kali kedua saya pesan ikan gurami ini, ikannya terlalu gosong.
  2. Daging sapi lada hitam
    Sebenarnya di buku menu tidak ada menu sapi masak lada hitam. Saya iseng saja bertanya pada room service apakah ada menu sapi lada hitam, eh ternyata ada. Saya yakin restoran bisa menyediakan sapi lada hitam karena Minggu pagi kemarin, salah satu menu breakfast adalah daing sapi yang dimasak dengan bumbu lada hitam. Untuk harga sekitar Rp85.000,- porsi daging sapi masak lada hitam ini terlalu sedikit. Dagingnya memang empuk tapi rasanya kurang top. Selama jalan-jalan keliling beberapa kota, masakan sapi lada hitam yang menurut saya benar-benar enak adalah yang disajikan di hotel Wisata Palembang dan hotel Sagita Balikpapan. Biarpun masih kurang top, menu sapi lada hitam di Singgasana masih menarik bagi saya makanya saya beri peringkat 2 πŸ™‚ .
  3. Ayam kampung goreng kalasan
    Mungkin karena ayam goreng ini menggunakan daging ayam kampung jadi rasanya enak. Daging ayamnya yang empuk dan kulit ayamnya cukup garing. Bumbunya juga cukup meresap ke dalam daging. Sayang porsinya kekecilan buat saya. Bagi saya ada yang lucu, biasanya gurami bakar lebih mahal harganya daripada ayam goreng. Tapi di sini terbalik, ayam goreng malah lebih mahal harganya daripada gurami bakar. Bagi saya lebih untung pesan gurami bakar daripada ayam goreng….lebih ngejeduk di perut.
  4. Tongseng kambing
    Sewaktu memesan tongseng kambing saya membayangkan akan memperoleh sepiring nasi putih dan semangkuk tongseng kambing. Ketika makanan datang kaget juga ternyata tongseng kambingnya tanpa kuah, disajikan bersama nasi dalam 1 piring. Saya pesan tongseng pedas, daging kambingnya kurang empuk tapi masih bisa dimakan sih (bukan kambing binaragawan πŸ˜€ ). Ada untungnya saya pesan tongseng pedas, rasa yang biasa-biasa saja tertutupi oleh pedasnya rasa tongseng (banyak irisan cabe rawit di dalamnya).
  5. Buntut goreng
    Di buku menu tertulis sop buntut/buntut goreng, saya lebih tertarik untuk mencoba makan buntut goreng. Ternyata bedanya hanya daging buntut sapinya terpisah dari kuahnya. Daging buntutnya sudah digoreng dan disajikan terpisah dari kuah sop. Dagingnya tidak terlalu banyak, itupun tidak semuanya empuk.
  6. Bihun goreng
    Bihun goreng ini porsinya cukup besar, sebenarnya cocok untuk dimakan berdua. Butuh sedikit perjuangan bagi saya untuk menghabiskan sepiring bihun goreng ini. Rasanya standar saja, mungkin ini pengaruh porsinya yang terlalu banyak jadi agak eneg makannya. Ah tapi tidak, pertama mencicipi bihun goreng ini saya langsung tahu kalau rasanya biasa saja. Hmm kurang nikmat memang makan bihun goreng dengan menggunakan sendok garpu, lebih nikmat rasanya kalau makan mie atau bihun dengan sumpit.

Baru 6 jenis menu makanan yang saya coba di hotel ini. Eh bayarnya belakangan nanti kalau check-out, jadi tiap kali makanan datang saya cukup tandatangan di bonnya saja πŸ˜€ Ini gara-gara tiap kali mengantarkan makanan, bell boy-nya menyerahkan bon plus bolpen…ya sudah cukup tanda tangan saja kalau begitu :-p Overall, makanan di hotel Singgasana ini bisa dibilang enak dan cocok dengan selera saya. Jauh lebih baik daripada menu makanan di hotel Singgasana Makassar.

4 thoughts on “Surabaya (part 7) – Menu Hotel Singgasana Surabaya

  1. Ini elu bayar sendiri atau dibayarin kantor? πŸ˜€ jarang banget gw makan2an hotel kecuali breakfast, paling hobi ya keliling….terutama di semarang :d

Leave a Reply