Supir Taksi Tanpa Telapak Tangan

Sore ini sepulang latihan biliar di Batavia Sport (Jl.Panjang – Green Garden) saya pulang dengan menggunakan taksi. Cukup lama saya menunggu taksi di Jalan Panjang itu. Lalu lintas cukup ramai, tapi taksi yang lewat jumlahnya sedikit. Beberapa taksi lewat tapi sudah ada penumpangnya. Biasanya saya selalu mencari taksi Blue Bird (fanatik merek 😀 ) tapi sayang tidak satupun Blue Bird yang kosong. Akhirnya saya putuskan taksi berikutnya yang lewat dan kosong apapun mereknya akan saya gunakan.

Lewat juga taksi berwarna biru, entah apa namanya. Langsung saya naik dan mengatakan tujuan saya, Tomang. Supirnya seorang bapak tua bertubuh kecil. Saat taksi berjalan saya cukup kaget saat melihat ternyata tangan kanan supir ini tidak ada telapak tangannya. Tangan kirinya hanya sampai lengan bawah (tepat di pergelangan tangan). Waduh, salah pilih taksi nih pikir saya. Apa bisa ya orang ini mengemudikan taksi dengan benar, bagaimana caranya dia memindahkan perseneling mobil. Apalagi ternyata bapak ini juga kurang pendengarannya. Saya harus mengulang-ulang tiap ucapan saya saat dia menanyakan rute yang saya mau.

Selang beberapa waktu si bapak bercerita kalau dirinya cacat dari lahir. Rupanya si bapak ini ingin sedikit membanggakan diri bahwa meskipun cacat tangannya dia masih bisa bekerja sebagai supir taksi. Ah saya makin kaget, rupanya tangan kanannya pun sama seperti tangan kirinya – tanpa telapak tangan. Lalu dia juga bercerita kalau telinga kirinya kurang pendengarannya karena jatuh dari pohon kelapa. Sebelum jadi supir taksi si bapak pernah juga jadi kuli bangunan. Salah satu proyek yang dia ikut di dalamnya adalah proyek jembatan Tomang. Hampir setahun saya tinggal di Tomang, hampir tiap hari melewati jembatan Tomang, saya baru tahu kalau jembatan itu dibuat antara tahun 1976-1977. Ini menurut cerita Pak Ali (nama si supir tadi)…nanti saya cross check lagi kebenaran cerita ini 😀 .

Awalnya saya yang deg-degan disupiri oleh supir yang “unik” ini, akhirnya jadi tertarik mendengar ocehan dia. Tentang bagaimana perjuangannya cari nafkah di Jakarta, dia sebenarnya orang Yogyakarta. Saya juga jadi dapat beberapa informasi tentang daerah Tomang dan sekitarnya. Hmm…kalau dihadapkan pada orang semacam ini saya cuma bisa menarik nafas panjang dan bersyukur pada Tuhan karena diberi tubuh yang lengkap dan kesempatan hidup yang jauh lebih baik daripada dia. Untuk hal bersyukur kita memang harus melihat ke bawah, melihat bahwa banyak orang yang kurang beruntung daripada kita. Loh kok malah kotbah… =))

Adang Vs. Fauzi Vs. Mr Bean

Malam ini di hotel Sahid berlangsung acara debat terbuka antara 2 calon gubernur DKI Jakarta (Adang Daradjatun dan Fauzi Bowo). Acara ini juga ditayangkan langsung oleh Metro TV dan JakTV. Awalnya saya tertarik untuk menyaksikan acara ini. Apalagi iklan tentang acara ini sering sekali muncul di Metro TV hari ini. Saat jam tayang acara tersebut (pk 21.00), saya malah asyik melihat kocaknya Mr. Bean di Trans TV. Versi layar lebar film Mr. Bean (berjudul BEAN; produksi tahun 1997) ini benar-benar lucu. Malas juga saya berganti saluran ke Metro TV. Tapi karena penasaran melihat debat kedua calon gubernur Jakarta iseng saat Trans TV menayangkan iklan saya pindah ke Metro TV. Tayangan langsung acara debat ini sudah berlangsung beberapa menit.

Tidak ada yang spesial dari pernyataan-pernyataan kedua pasangan calon gubernur ini. Hampir beberapa menit saya pindah-pindah saluran terus antara Trans TV dan Metro TV (pindahnya kalau Mr. Bean sedang break iklan 😀 ) . Lama-lama bosan juga, apalagi melihat debat ini tidak seperti yang saya bayangkan. Pemaparan visi, misi, program kerja keduanya di otak saya tak lebih cuma iming-iming belaka — saya akan begini, saya akan begitu, saya tidak akan begini, saya tidak akan begitu. Karena bosan saya akhirnya terus melihat Trans TV sampai film Mr. Bean berakhir.

Jadi kesimpulannya malam ini Mr. Bean yang mendapat “suara” dari saya membuat saya memilih menonton Mr. Bean daripada menonton acara debat kedua cagub dan cawagub tadi :)).