Sore Lebih Panjang

Sudah seminggu ini saya perhatikan Jakarta sorenya lebih panjang. Entah ini benar atau cuma perasaan saya saja. Jam 6 sore sampai hampir setengah 7 malam langit masih cerah. Jam 6 masih terasa cerah seperti jam 5 sore, jam setengah 7 baru terasa sorenya (mungkin rasa jam setengah 6an lah). Beberapa orang yang saya tanya juga mengiyakan kalau sore hari Jakarta sekarang rasanya lebih panjang. Lebih lama gelapnya gitu loh.

Sore ini pun sama. Tadi saya pulang ke rumah sekitar pukul 18.10 tapi kok masih cerah. Kalau tidak lihat jam mungkin saya akan menebak waktu baru pukul 17.00. Apa ya penjelasan logisnya? Apa gara-gara sudah seminggu ini tidak ada hujan di sore hari? Atau matahari sedang berada di titik terdekat dengan bumi?

Apa Anda merasakannya juga?

Kalau di Surabaya yang saya rasakan di sana pagi lebih cepat terang dan sore lebih cepat gelap. Tapi kalau itu sih saya punya analisis sendiri. Menurut saya itu karena Surabaya lebih cocok masuk ke Waktu Indonesia Bagian Tengah, jadi jam terasa lebih cepat beberapa menit. Surabaya harusnya lebih dekat ke Bali daripada ke Jakarta. Jadi lebih bisa dimaklumi kalau lebih cepat terang dan lebih cepat malam.

Tentang Simpati PeDe

Sejak awal bulan ini saya jadi pengguna Telkomsel. Sudah cukup lama juga saya tidak punya ponsel GSM. Dengan banyak pertimbangan akhirnya saya kembali menggunakan layanan GSM disamping Telkom Flexi yang sudah lama saya pakai. Kadang CDMA tidak bisa diandalkan, apalagi kalau sering bepergian. Terakhir saya pulang ke Cirebon, 10 hari Flexi Combo saya tidak bisa aktif. Praktis 10 hari itu saya kehilangan layanan. Jadi di Cirebon juga saya beli ponsel GSM plus kartunya. Saya pilih Telkomsel PeDe.

Simpati PeDe katanya tarifnya Rp0.5/detik, setelah 1 menit telepon ke sesama Telkomsel (Halo, Simpati, Kartu AS). Jika menelepon kurang dari 1 menit dikenakan tarif Rp25/detik. Untuk menelepon ke operator lain (termasuk ke PSTN) tarifnya flat Rp25/detik. Dari kemarin saya heran mengapa kalau saya menelepon ke nomor Kartu Halo selama lebih dari 1 menit, tetap saja pulsa saya terpotong lebih dari Rp1500,-. Loh katanya setelah 1 menit tarifnya jadi setengah rupiah per detik?

Ah rupanya saya yang salah konsep. Barusan saya bertanya ke customer service-nya Telkomsel (telepon ke 116) tentang hal ini. Saya baru ngerti sekarang. Tarif Rp0.5/detik itu adalah hitungan dimulai dari detik ke 61. Jadi misalnya saya menelepon ke nomor kartu AS selama 1,5 menit; maka tarif yang harus saya bayar adalah :

(60 detik x Rp25,-) + (30 detik x Rp0.5,-) = Rp1515,-

Entah ini karena iklan yang menyesatkan atau karena begonya saya sampai salah konsep begini. Sebenarnya saya bukan tertarik menggunakan Telkomsel karena tawaran murah ini. Memang saya pilih Telkomsel karena sudah terbukti kualitasnya. Tapi kan penasaran juga ada promo kok gak jelas.

Telkomsel Simpati sekarang menyediakan 2 pilihan, ada yang Simpati Ekstra ada Simpati PeDe. Simpati Ekstra teleponnya hitungan per setengah menit. Juga dapat bonus pulsa/bonus sms…katanya sms 6 kali dapat bonus 6. Pengguna Simpati PeDe tidak dapat bonus pulsa/sms tapi teleponnya hitungan detik. Kalau sering sms saya sarankan pakai Simpati Ekstra, kalau sering telepon lebih baik pilih Simpati PeDe. Dua layanan ini dapat dimanfaatkan oleh semua pengguna Simpati. Jadi yang sudah pakai Simpti PeDe bisa pindah ke layanan Ekstra, caranya silakan telepon ke *880# lalu ikuti petunjuk yang disediakan. Begitu pun sebaliknya, pengguna Ekstra bisa pindah ke layanan PeDe.

Loh kok malah ngiklanin Simpati? Kalau dibaca orang Telkomsel, saya dapat bonus pulsa gak ya? :-p

Libur-Libur Kerja

Kerja lagi di hari libur. Ini sudah kesekian kalinya saya pergi kerja di hari libur. Siang ini saya ada pekerjaan di Dirjen Perbendaharaan Negara – Departemen Keuangan Jakarta. Itu loh yang di Jalan Budi Utomo. Pekerjaan saya hari ini adalah menghubungkan banyak server ke switch. Tarik-tarik kabel gitu lah. Ada 6 server (5 Fujitsu Sparc Enterprise + 1 Fujitu Blade server), 2 SAN switch, 2 storage (Fujitsu Eternus 4000) yang harus saya “kabel-i”.

Sebenarnya semua server sudah punya kabel sendiri-sendiri. Karena sekarang letak panel berubah, terpaksa ganti semua kabelnya. Yang lebih membosankan, saya harus mengenali dulu mana saja kabel yang harus saya ganti. Maklum ini limpahan pekerjaan teman saya. Dulu teman saya yang menginstal semuanya. Jadi yang melelahkan campur membosankan adalah “beradaptasi” dulu dengan semua setting-an yang sudah ada. Setelah saya kenal semua environment-nya, baru lah kerja terasa lebih enak. Lelah tapi puas.

Besok saya balik lagi ke sana, tinggal set IP multipath di semua server. Padahal besok kan libur HarpitNas (hari kejepit nasional)…ya kerja lagi deh. Si Bos kemana ya? Enaknya jadi Bos, tinggal tunjuk anak buahnya. Tepatnya pilih & tunjuk anak buah yang selalu bisa bilang “OK Pak”.

Kemarin sore :
“Besok kamu masuk ya ke DepKeu…”

“Tapi besok saya mau pulang kampung Pak…”
“Gak bisa pulangnya Kamis sore aja?”
“Tapi saya sudah ada janji Pak…”
“Tapi ini harus sudah selesai sebelum Senin”

“OK lah kalo gitu Pak…”

Tadi malam :
“Lapor Pak kerjaannya diperpanjang sampai besok…”
“Kamu masih bisa kan besok datang lagi?”
“Bisa lah Pak…” ( udah gak kasih alasan lagi 😀 )
“Ok Thanks”

Anak buah gak jadi liburan? Ya gak masalah…namanya juga anak buah. Loh kok malah ngedumel….he..he..he…gak ngedumel kok cuma cerita. Saya iklas kok kerja di hari libur seperti ini ;)).

Ngomong-ngomong sepi ya Jakarta kalau libur begini. Pulang pergi kerja jadi lancar.

Who Am I

Postingan iseng :

Click to view my Personality Profile page

Mencoba mengenali bagaimana sih kepribadian saya ;)) Iseng buka http://mypersonality.info lalu ikut tes ini. Nah itu hasilnya. Ternyata benar, saya memang seorang yang linguis, pemerhati bahasa. Saya bisa sebel sekali kalau dengar orang bicara aneh : “secara” lah, “analisa” lah… Nah tapi kok saya termasuk visual ya? Padahal saya kayanya lebih ke auditory deh. Tapi kinestetik juga sih : buktinya kalau belajar sesuatu saya harus coba dulu. Percuma baca manual, lebih baik langsung praktek…gitu gampangnya.

Bagus juga nih tes…sekitar 80 pertanyaan di tes ini. Anda perlu coba juga…rekomendasi dari saya 😀

Minta Berapa? Seribu Saja

Saya buka kaca jendela taksi, saya tanya : “minta berapa?” Bocah tadi cengar-cengir bingung menjawab, dengan masih cengar-cengir akhirnya di jawab “terserah aja”. Saya jawab lagi “gak mau terserah sih, minta berapa?”. Eh dia ulangi lagi jawabannya, terserah lagi. Saya juga tidak mau kalah, saya ulangi lagi jawaban saya : “minta berapa?” Akhirnya dia bilang “seribu Om”. Saya rogoh saku kemeja, ambil selembar uang Rp1000,- dan saya berikan ke anak tadi. Wadow…langsung 4 orang anak lain berlarian ke arah taksi saya. “Om saya juga Om, saya juga Om…saya minta lima ribu Om….” ramai sekali jadinya. Langsung saya tutup kaca jendela. Traffic light tidak kunjung hijau, 4 orang anak tadi masih merapat di kaca jendela dan terus merengek…“saya aja Om saya aja Om…seribu aja Om.”

Ini cerita saya kemarin sore. Di Jalan Wahid Hasyim, saya mau pulang ke kantor dengan taksi. Di lampu merah (yang dekat Abuba Steak) seorang anak anak laki-laki, mungkin usia anak kelas 1 atau 2 SD, mendekati taksi saya lalu menadahkan tangan minta-minta. Menyebalkan memang melihat anak-anak jalanan dari kecil sudah belajar meminta-minta. Kemarin jiwa iseng saya muncul. Di saku kemeja saya ada uang seribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan, di dompet ada lima puluh ribuan. Keisengan kali ini sebenarnya terinspirasi cerita teman saya. Katanya mengapa pengemis susah kaya, karena dia tidak berani “mimpi” (Sepertinya saya tidak berkompeten untuk menulis tentang hal ini lagi, mungkin nanti tunggu teman saya saja yang menulis tentang hal ini). Ditanya minta berapa cuma berani minta Rp1000,-. Padahal emarin saya yang lagi iseng siap kalau dia minta lebih dari itu. Tapi ternyata teman saya benar, si anak tadi cuma berani minta Rp1000,-.

Pesan saya : hati-hati kalau mau memberi uang ke pengemis di seputaran Wahid Hasyim, bisa-bisa Anda dimintai Rp100.000 sama pengemis di sana =))