Bentuk iseng pagi ini. Tadi membaca tentang blog readability (tingkat “kebacaan” blog?? :)) ) jadi ikutan iseng tes berapa sih tingkat kesulitan blog ini untuk dibaca. Tesnya ada di sini. Hasilnya “College” (mungkin maksudnya lulusan S1 yang cocok membaca tulisan-tulisan di blog ini). Ah ada-ada saja. Tenang saja…siapapun Anda, apapun pendidikan Anda bisa kok membaca tulisan-tulisan di blog saya ini. Entah bagaimana metode yang ada digunakan oleh situs tadi untuk menentukan blog readability tiap site. Mungkin benar-benar acak kali ya, jadi kebetulan saja saya diberi peringkat ini. Coba tes saja blog Anda..
Monthly Archives: January 2008
Kemana Republik Mimpi?
Hari Minggu ini sampai pukul 9 malam ini, Metro TV tidak menayangkan acara Republik Mimpi (RM). Apa kah memang benar ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpa salah satu pemain acara R, Jarwo Kwat? Katanya tokoh yang memerankan wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut terlibat kasus penipuan, membayar seseorang dengan cek kosong (kalau tidak salah nilainya sekitar 100 juta rupiah).
Minggu lalu saya masih melihat acara RM, Efendi Gazali (motornya RM) menyatakan kalau sampai benar Jarwo bersalah dalam kasus cek kosong tersebut, Republik Mimpi akan berhenti tayang. Apakah kalau sekarang RM tidak tayang, berarti kita bisa menyimpulkan bahwa Jarwo memang bersalah? Kalaupun benar Jarwo memang bersalah, saya masih salut dengan acara ini. Mengapa salut? Sudah salah ya mundur. Di Indonesia? Gak mungkin banget. Tapi kalau RM bubar karena salah satu tokohnya tersandung kasus kriminal, mengapa RM yang harus bubar? Ganti saja tokoh wapres dengan tokoh lain. Ini mungkin lebih membawa pesan bagi masyarakat, bagaimana seorang pejabat (walaupun cuma di negeri dongeng) bisa berjiwa besar, mundur demi nama baik dan kelangsungan pemerintahan yang bersih.
Ada apa sebenarnya dengan kasus ini? Kejadian ini tentu mengundang orang untuk berspekulasi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin menjegal RM. Masuk akal memang kalau ada pihak-pihak yang ingin menjegal acara ini. Republik Mimpi dari awal penayangannya sudah “berseberangan” dengan pemerintah. Mulai dari tokoh-tokohnya yang merupakah parodi dari pada tokoh di Indonesia, sampai sindiran-sindirannya yang tajam menyinggung banyak hal di Indonesia. Saya yang jadi salah satu penonton setia acara ini tentu akan merasa kehilangan jika sampai RM tidak ditayangkan lagi.
Di tengah tayangan sinetron dan berbagai acara gak mutu di televisi kita, RM bisa menjadi pilihan tontonan yang cukup menarik untuk diikuti. Kritiknya kepada berbagai kebijakan pemerintah saya sah-sah saja kalau ditayangkan. Dengan begitu RM kan bisa jadi kontrol sosial bagi pemerintah. Masalah tersinggung atau tidak itu urusan personal. Tapi yang jelas ada beberapa hal yang sudah disampaikan RM yang merupakan suara rakyat sendiri. Saya masih ingat bagaimana mereka mengunjungi tempat pengungsian korban lumpur Lapindo. Tentu bukan porsi saya untuk menjudge bahwa RM itu benar-benar “suci” tapi setidaknya mengapa pemerintah tidak belajar dari bermacam hal (kritikan) yang sudah diangkat dan disampaikan oleh mereka?
Apa ini tandanya bangsa Indonesia (pemerintah khususnya) masih belum siap dengan kritik tajam? Tidak siap diledek dengan parodi politik macam ala Republik Mimpi? Mungkin ini adalah salah satu bentuk ad hominem menyerang pihak/orang tertentu ke hal-hal pribadi karena merasa sudah tersudutkan dalam perdebatan/argumen-argumen yang memang benar adanya. Sudah bawaan lahir manusia yang tidak pernah mau kalah, tidak pernah mau ditolak, sehingga kadang saat kita “diserang” pandangan/opininya yang muncul kita malah “menyerang” balik ke urusan pribadi – keluar dari topik utama perdebatan.
Ah semoga saja Metro TV sebagai penayang acara ini berpikir ulang dan kembali menayangkan kembali acara ini. Indonesia butuh tayangan yang mendidik, jangan sampai tayangan yang baik ini malah dihapuskan.
Pulang Lagi (part 2)
Siang ini saya pulang ke Jakarta. Numpang mobil teman, kami berangkat jam 2 siang. Sampai Cikampek hujan turun cukup deras. Sore ini tol Jakarta Cikampek padat. Dari arah Bandung terutama banyak sekali mobil yang masuk ke ruas tol Jakarta Cikampek. Akhir masa libur jadi maklum kalau tol padat. Sampai Bekasi hujan sudah berhenti. Jakarta cukup cerah sore ini. Sampai di rumah pukul 5.15.
Pulang Lagi
Pagi ini saya pulang ke Cirebon. Bangun pagi sekali, pukul 4.30 pagi teman saya sudah menelepon. Sudah minum kopi pun, saya masih ngantuk sekali. Semalam pulang jam 12 dari tempat biliar, dan saya baru tidur pukul 1 pagi karena masih sempat-sempatnya membaca Detik.com penasaran apakah mantan Presiden Soeharto sudah meninggal atau belum.
Stasiun Gambir pagi ini masih sepi, saya sampai di sana sekitar pukul 5.25. Saya sengaja berangkat pagi karena ingin naik kereta jam 6 pagi.Bergegas saya ke loket tiket kereta Cirebon Express. Loketnya pun cukup sepi, di depan saya cuma ada 2 orang calon penumpang. Ada yang lucu di loket ini, “tarif” dicetak “tarip”.
Duduk menunggu kereta datang saya pun terkantuk-kantuk. Kereta baru berangkat pukul 6.20 (terlambat 20 menit). Sepi penumpang, banyak bangku kosong sama seperti bangku di sebelah saya. Saya berharap bisa segera tidur, supaya sampai di Cirebon saya masih punya energi untuk meeting yang akan saya hadiri. Akhirnya setelah pemeriksaan karcis saya bisa tertidur. Itu pun dengan sedikit perjuangan karena 2 penumpang wanita di belakang saya terus “berkicau” dengan volume yang benar-benar membuat saya terganggu. Menyebalkan sekali. Tapi lumayan lah bisa tertidur juga sampai di Jatibarang. Total 2 jam saya tidur di kereta. Cukup membantu mengurangi kantuk saya. Sampai di Cirebon pukul 09.10, walaupun jam keberangkatannya terlambat 20 menit tapi total waktu tempuh tetap sama 2 jam 50 menit (sama seperti yang dicantumkan di tiket).
Besok saya pulang lagi ke Jakarta, belum tahu harus pulang jam berapa.
Berapa Gajimu?
Ini fenomena umum di lingkungan kerja. Gaji adalah hal yang tabu dibicarakan. Entah ini awalnya bagaimana sampai timbul norma seperti ini. Waktu pertama kali kerja saya jujur saja menjawab berapa besar gaji saya waktu teman saya tanya. Tiba-tiba seorang teman nyeletuk, “wah elo jangan bilang-bilang gaji lo berapa.”
Tapi memang selalu saja ada orang yang usil ingin tahu berapa gaji temannya. Termasuk teman-teman saya di SMA. Kalau bertemu banyak di antara mereka yang bertanya, “gaji lu berapa sekarang?” Saya sendiri kadang risih kalau ditanya hal ini. Kenapa ya orang mudah mengukur segalanya dari materi? Apa sih untungnya kalau tahu gaji temannya berapa besar? Apa itu sebagai tolak ukur/patokan mana yang lebih sukses, diriku atau dirinya? Gak senang ya lihat teman lebih sukses?
Mungkin karena banyak orang usil seperti teman-teman saya ini kali ya sampai muncul norma yang “mengharamkan” membeberkan gaji antar sesama teman (apalagi yang 1 kantor). Atau jangan-jangan itu sebagai langkah antisipasi untuk mencegah orang jadi pinjam uang :-p Biasanya kan kalau gajinya besar jadi gak enak kalau menolak, mau bohong “wah gua lagi gak ada duit” takut ditodong statement “kan gaji lu gede masa gak ada duit?” =))
Ditulis karena terinspirasi teman saya yang tiba-tiba menelepon kegirangan gara-gara merasa sudah bisa menebak berapa gaji saya.
