Palembang (part 5) – Jangan Bawa Pulang

Ada-ada saja pengumuman yang ditempal di dinding restoran Popeye ini. Tadi waktu saya makan di Popeye (di dalam Palembang Square) saya lihat ada peringatan seperti gambar berikut :

Tulisannya “mohon piring & gelas tidak dibawa pulang” . Biasanya aturan/peringatan muncul akibat dari kejadian pemicu sebelumnya. Pasti banyak juga pengunjung yang sudah pernah membawa pulang piring/gelas dari Popeye restoran ini. Kalau tidak ngapain juga Popeye memasang peringatan macam itu? Saya senyum-senyum sendiri melihat tulisan itu, segera saya ambil gambarnya. Karena memotret tanpa menggunakan blitz, gambarnya jadi sedikit kabur. Gak enak juga memotret di tempat umum seperti itu dengan blitz, pasti bisa memicu orang lain untuk berpikir “norak amat nih orang, makan di Popeye aja potret-potret” =))

Piring makan Popeye memang bagus sih, terbuat dari melamin dengan gambar-gambar kartun menarik. Piring yang bagus macam itu mungkin bisa menggoda anak kecil yang senang dengan gambar kartunnya untuk merengek pada ibunya minta piring itu, atau menggoda ibu rumah tangga yang kekurangan perkakas dapur untuk membawa pulang piringnya Popeye :)) Kalau piring yang dipakai Popeye restoran seperti yang dipakai KFC pasti jarang yang mau bawa pulang…piringnya KFC kan berat sekali. Mungkin ini ada hubungannya juga masalah mentalitas masyarakat……ah terlalu berat malam-malam bicara mentalitas masyarakat.

Palembang (part 4) – Biliar & Popeye

Sore ini saya keluar dari hotel sekitar pukul 6 naik ojek ke Palembang Square lagi. Niatnya saya mau main biliar di tempat kemarin, Tower Billiard & Cafe. Tapi saya malah menemukan tempat lain, namanya Sodox Billiard & Cafe (nama yang aneh :)) ). Lagi-lagi pool house yang saya datangi penu. Untung tepat saat saya datang ada orang yang selesai main jadi saya dapat meja.

Sodox Billiard & Cafe menurut saya lebih enak daripada Tower Billiard & Cafe. Kelemahannya satu, tempat ini agak gelap. Meja, cue sticknya lebih OK…O’riley kalau tidak salah meja & cue stcik-nya. Saya main sendiri selama lebih kurang 1 jam. Di menit-menit terakhir ada pegawai sana yang sedang free. Saya ajak dia sparing lawan saya. Cukup main dua rack dengan skor 1-1 😀

Tarif main di tempat ini memang sedikit lebih mahal, Rp25000,-/jam tapi saya lebih puas main di sini. Setelah 1 jam main saya sudah lapar, so saya pulang. Cari makan dulu di mal ini. Masuklah saya ke Popeye. Bingung juga mau makan apa. Akhirnya saya makan daging ayam goreng. Seperti ini gambarnya :

Dari dulu saya tidak pernah tertarik untuk mencoba makan di Popeye. Tapi malam ini saya iseng saja mencoba. Hasilnya negatif….daging dada ayam yang digoreng dengan tepung itu rasanya gak enak. Not recommended at all.

Palembang (part 3) – Biliar

Tadi malam sepulang dari Telkomsel, saya pergi main biliar dengan Pak Nana, rekan dari Siemens. Kami main biliar di Tower Billiard & Cafe yang ada di gedung Palembang Square. Kami datang sekitar pukul setengah 9 malam. Ramai sekali tempatnya. Tempatnya tidak terlalu besar, kira-kira hanya ada 14 meja biliar. Kami berada di waiting list tamu yang akan main. Untung pelayannya baik jadi begitu ada meja yang kosong, kami dipersilakan untuk main duluan 😀

Kesan yang saya dapat main biliar di sini adalah tempatnya terlalu bising. Saya main di meja yang berada tepat di bawah pengeras suara. Musik disetel sedemikian keras sampai saya benar-benar terganggu. Mau bagaimana lagi, semua meja penuh jadi tidak mungkin pindah meja. Mejanya cukup bagus, cue stick-nya juga cukup bagus…tidak terlalu parah bengkok-bengkok. Hanya sayang tempat ini terlalu bising.

Di sini tarif per jamnya tidak terlalu mahal. Sampai jam 10an saya hanya membayar Rp 25100 setelah main 1.5 jam lebih. Per jamnya hanya Rp16000,-. Saya cukup heran jam 10 Tower Billiard & Cafe ini sudah tutup. Kami diberitahu pelayannya bahwa jam 10 tiap hari tempat ini tutup, hanya hari Sabtu tempat ini buka sampai pukul 11 malam. Payah…masa jam 10 sudah tutup. Mungkin hari ini saya akan kembali lagi ke sana daripada bengong di hotel. Tapi tempat ini hebat juga, katanya jam setengah 10 pagi sudah buka loh.

Gambar di atas adalah gambar saya saat main biliar di Paderborn Jerman. Tadi malam tidak ambil foto sih jadi biar lengkap ceritanya pakai saja gambar di atas :D. Gambar di atas diambil tanggal 12 Maret 2008 waktu kami bertiga main biliar untuk mengisi waktu sebelum berangkat ke Perancis.

Palembang (part 2) – Batal Pulang

Biasanya kalau saya ditugaskan pergi keluar kota oleh kantor, saya dibekali tiket pesawat pergi pulang. Dengan begitu saya jadi merasa tenang karena sudah punya tiket pulang. Hari Selasa kemarin saya disuruh bos berangkat ke Palembang tapi hanya dibekali tiket berangkat saja. Penyebabnya adalah rencana keberangkatan saya tiba-tiba dan akibatnya travel agent yang biasa mengurusi tiket tidak bisa mendapatkan tiket pesawat Palembang Jakarta.

Hari ini saya harusnya sudah bisa santai pulang di Jakarta. Tadi siang setelah keluar dari hotel saya langsung menuju bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang. Semua penerbangan hari ini sudah penuh. Memang sih saya pun sudah tahu hal ini karena kemarin saya cek semua website penerbangan dan semua jadwal penerbangan sudah full booking.

Tadi saya setengah gambling berangkat ke bandara. Yang tersedia adalah tiket Garuda untuk penerbangan Jumat besok. Halah….untung hotel Sandjaja tempat saya menginap masih tersedia kamarnya untuk malam ini. Niatnya di bandara selain mencari tiket saya juga ingin menukar uang di money changer, tapi tempatnya tutup. Ya sudah pulang lagi dari bandara dan kembali ke hotel Sandjaja. Seratus sepuluh ribu rupiah melayang ke dompet supir taksi.



(Foto di atas adalah gambar baliho selamat datang di jalan keluar bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang)

Semua orang ingin liburan…eh saya malah terdampar di Palembang 🙁 . Batal deh rencana pulang ke Cirebon akhir pekan ini. Kabarnya jalan tol dalam kota Jakarta sampai tol Cikampek dan Jagorawi juga padat sekali. Rekan saya katanya masuk ke tol dalam kota Jakarta sekitar pukul 9 pagi menuju Cirebon dan baru sampai ke Bekasi pada pukul 12 siang…..gila kan padatnya. Fenomena umum tiap kali ada libur akhir pekan yang cukup panjang. Hmmm…ngapain ya di Palembang?