Domain Expired

Tidak terasa sudah setahun berlalu sejak pertama saya menyewa https://blog.tedytirta.info. Siang tadi saya mendapati blog saya tidak bisa diakses. Saya lihat dari Speed Dial (plugin-nya Firefox), tampilan blog saya berubah. Saya tahu persis tampilan seperti ini adalah tampilan parking domain :

Sial, saya kesal sekali. Dulu saya beli domain ini dari Qwords.com. Kekesalan saya kenapa saya tidak dikirimi invoice dari kemarin-kemarin. Terakhir saya buka blog saya hari Jumat pagi di Surabaya. Sejak pulang dari Surabaya kemarin, saya memang tidak buka blog saya. Jangka waktu penyewaan domain saya berakhir tanggal 30 Mei 2008. Langsung siang tadi saya transfer Rp80000,- ke rekening BCA milik Qwords.com. Setelah itu saya kontak Qwords.com lewat Yahoo Messenger. Qwords.com menyediakan layanan chat dengan salesnya untuk memudahkan pelanggannya. Saya tanya kepada sales Qwords, apakah domain tedytirta.com dapat segera diaktifkan kembali. Bagaimana pun saya bertanya, jawabannya tetap sama : hari Senin baru bisa diurus Pak, bapak teleponnya setelah jam 12 siang jadi kami baru bisa mengurus nanti hari Senin. Halah.

Saya juga komplain kenapa saya tidak dikabari dan dikirim invoice sebelumnya. Katanya mereka sudah mencoba menghubungi saya lewat telepon beberapa hari lalu tapi mereka hanya bisa bertemu mailbox. Handphone saya hampir tidak pernah mati, kalaupun mati itu kalau saya sedang di pesawat. Tetap saja saya heran, kenapa tidak kirimi saya email. Ya sudah mau diapakan lagi, saya telepon pemilik Qwords.com juga tidak ngefek. Awalnya saya coba minta nomor HP Rendy Maulana Akbar (pemilik Qwords.com) pada salesnya, si sales tidak mau memberikan nomor HP bosnya. He..he..he..dia lupa kalau nomor HP Rendy tercantum juga di invoice lama. Jawaban Rendy senada dengan salesnya, baru bisa diurus Senin depan.

Ya sudah bisa apa saya kalau sudah begini, saya tidur saja. Bangun tidur jam 20.30 saya cek lagi blog saya, eh ternyata sudah bisa diakses 😀 . Kok bisa ya? Domain saya sudah tidak expired lagi.

Update 1 Juni 2008 : pagi ini beberapa teman saya melaporkan bahwa domain saya https://blog.tedytirta.info masih belum bisa dibuka. Masih parking domain…rupanya update DNS masih butuh waktu….

Surabaya (part 4) – Ke Pasuruan

Siang tadi saya keluar dari hotel Ibis sekitar pukul 1 kurang. Saya sudah dijemput driver dari PT Yamaha Electronic Manufacturing Indonesia (YEMI). Yamaha yang ini bukan pabrik motor, tapi produsen active speaker & amplifier. YEMI berkantor di Pasuruan, perjalanan dari Surabaya ke sana ditempuh dalam waktu 1 jam. Tadi sempat lewat di tepi tanggul lumpur Lapindo (daerah Porong). Lumpurnya gak terlihat, hanya asapnya saja yang kelihatan. Ini foto tanggulnya :

Jadi ceritanya ada server tua milik YEMI (Yamaha Electronic Manufacturing Indonesia) yang tidak mau hidup. Servernya adalah Fujitsu GP 7000 model 400. Ini adalah generasi Sparc-based server sebelum generasi server Fujitsu Primepower. Setelah migrasi ke Fujitsu Primepower 450 minggu lalu, server GP 7000nya malah tidak mau hidup lagi setelah dimatikan selama beberapa hari. Mungkin ngambek karena posisinya digantikan dengan server baru. Gambarnya seperti ini nih Fujitsu GP 7000 model 400 :

Di server ini diinstal Solaris 7, proses booting berhenti ketika sistem mencari hostname dari server tersebut. Jadi saya coba boot servernya dengan menggunakan CD instalasi Solaris 7 (masih pakai CDROM servernya). Saya coba boot dengan perintah :

obp boot cdrom -sw

lalu setelah masuk ke dalam sistem, saya mount semua partisi harddisk internal dengan perintah berikut ini :

# mount /dev/dsk/c0t0d0s0 /a

Setelah cek beberapa file di dalam harddisk, saya menemukan bahwa file /etc/nodename hilang dari dalam /dev/dsk/c0t0d0s0. Astaga…rupanya cuma ini penyebabnya. Jadi saya tulis ulang file /etc/nodename. Oh ya, untuk bisa menggunakan vi (editor teks) dalam lingkungan CDROM seperti itu, saya harus menjalankan perintah ini dulu :

# TERM=sun;
# export TERM;

Perintah di atas mendefinisikan environment yang saya pakai (pakai monitor & keyboard). Kalau saya akses servernya dengan menggunakan serial console, saya harus menggunakan perintah :

# TERM=vt100;
# export TERM;

File /etc/nodename isinya adalah hostname server, dia bisa dibilang sebagai identitas server itu sendiri. Selain /etc/nodename, beberapa file yang memegang peranan dalam menentukan hostname sebuah Solaris server adalah :

  • /etc/nodename
  • /etc/hosts
  • /etc/hostname.hme0 (ini tergantung network interface mana yang dipakai)
  • /etc/net/ticlts/hosts
  • /etc/net/ticots/hosts
  • /etc/net/ticotsord/hosts
  • /etc/inet/ipnodes

Troubleshootnya gak sampai setengah jam, lama di perjalanan doank…2 jam di jalan. Balik dari Pasuruan saya sampai di Surabaya pukul 5 sore. Saya diantar sampai hotel Garden…ganti hotel ceritanya.

Surabaya (part 3) – Ditempel Stiker

Dulu teman saya ada yang mengajari saya tentang minuman/makanan yang ada di mini bar kamar hotel. Mengingat harga minuman/makanan yang ada di mini bar kamar hotel itu harganya gila-gilaan, katanya beli saja minuman/makanan yang serupa di swalayan untuk gantinya. Jadi kita gak harus bayar semahal harga hotel. Cuma pinjam doank gitu…nanti diganti kalau sudah beli di swalayan.

He..he..he..rupanya Ibis punya cara jitu menangkalnya. Lihat foto ini :

Di tiap botol/kaleng minuman yang ada di mini bar, semuanya ditempeli stiker hotel Ibis. Jadi kalau orang minum dari mini bar, mereka harus berpikir ulang untuk beli gantinya di luar; ada stikernya tuh..nah stikernya kudu beli di mana? =)) Teori di atas hanya berlaku kalau hotelnya baik tidak tempel-tempel stiker pelindung macam itu.

Surabaya (part 2) – Tentang Bebek Goreng

Tadi malam saat baru masuk hotel Ibis, saya pesan makan lewat room service. Pilih-pilih menu saya coba pecel bebek..sepertinya menarik. Begitu datang pesanan saya, saya cukup kaget melihat porsinya yang cukup besar. Lengkap dengan tahu, tempe, lalapan dan sambal. Ini lihat sendiri fotonya :

Bebeknya empuk, kulit bebeknya juga terasa crispy. Sambalnya juga ok, pedas manis. Dengan ukuran bebek yang cukup besar, porsi nasi yang sedikit tidak terlalu menjadi masalah…tetep nendang di perut. Pokoknya highly recommended bagi pecinta bebek goreng. Soal harga, karena kena service charge 21% harganya jadi sekitar Rp78000,-. Bisa diulang beli nih kalau menginap di Ibis lagi. Memang benar kata orang Jawa, “rega nggawa rupa” (“harga berbanding lurus dengan kualitas”…dalam hal ini tentu berbanding lurus dengan rasa).

Surabaya (part 1) – Hotel Ibis Rajawali

Rabu siang saya pulang dari Pekanbaru dengan flight jam 13.50. Sampai di Jakarta sekitar pukul 15.30 sore. Kali ini saya tidak langsung pulang karena harus lanjut penerbangan ke Surabaya. Jadi cuma transit ceritanya…baru pertama kali nih transit di Jakarta. Harusnya saya naik Garuda pukul 17.00, tapi sore ini delay. Jam setengah 6 baru berangkat. Padat rupanya penerbangan sore ini ke Surabaya. Aneh nih 2x terbang (pertama kemarin ke Pekanbaru, dan tadi ke Surabaya) sebelah saya orang asuransi….ngoceh terus berisik mengganggu. Apa orang asuransi selalu banyak omong gitu ya? (Sori bagi yang bisnisnya asuransi, saya cuma gak suka aja ditawari asuransi sama orang yang baru juga kenalan di pesawat..dan saya lebih gak suka lagi ada yang berisik di perjalanan).

Saya sampai di Juanda Airport sekitar pukul setengah 7 malam. Begitu handphone aktif, SMS masuk katanya saya disuruh menginap di hotel Ibis.

Nah Anda sudah lihat sendiri kan review hotel dalam komik di atas. Hotel Ibis katanya termasuk hotel bintang 3 di kota Surabaya. Ada beberapa hal menarik di hotel ini. Salah satunya tentu akses internet gratis yang saya pakai posting tulisan ini 😀 . Ada meja biliar 7 feet juga di lobi. Sayang kali ini saya lagi gak mood main biliar, apalagi main di meja kecil (gak mood main…**sambil ngelirik partner sparing saya***). Yang unik lagi adalah breakfast yang diperpanjang sampai jam 12 siang. Memang resminya (makanan lengkap) dari jam 6 pagi sampai jam 10. Tapi dari jam 10 sampai jam 12 siang tetap disediakan minuman dan kue-kue. Jadi gak usah takut kesiangan & ketinggalan sarapan. Paling tidak itu yang saya tangkap dari poster di dalam lift (maaf kalau salah nerjemahain).

Gosipnya (ntah seberapa akurat kebenarannya), lokasi hotel Ibis ini termasuk daerah rawan kriminalitas. Tadi malam supir Bluebird kembali mengulang cerita yang sama. Rawan perampokan dan penodongan katanya, padahal lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Polwiltabes Surabaya. Memang sih lokasinya yang lumayan sepi kalau malam. Saya lebih prefer hotel Garden karena letaknya yang lebih dekat ke pusat kota. Mau ke mal juga dekat. Secara fasilitas dan pelayanan hotel, Ibis Rajawali ini cukup nyaman untuk disinggahi. Sayang juga tadi malam dapat kamar dengan twin bed, jadi kecil kan ranjangnya. Layout kamarnya mirip hotel Aspethera tempat saya menginap di Panderborn Maret lalu. Rabu kemarin memang padat sekali hotel-hotel di Surabaya. Menurut supir Bluebird sih ini gara-gara PAN (partainya Amien Rais) punya acara di Marriot. Jadi se-Indonesia, orang-orang partai itu kumpul di Surabaya….hmm masuk di akal kalau begitu.

Saya ketik postingan ini setelah makan pagi di restorannya Ibis. Tadi malam saya lembur, dan baru tidur setengah 4 pagi. Pagi-pagi sudah ada yang telepon jam 7 pagi…sialan jadi gak tidur lagi nih. Ya sudahlah..bangun sekalian, bikin komik, mandi, terus sarapan.