Pekanbaru (part 2) – Pulang

Pekanbaru punya cerita sendiri bagi saya. Dulu saya dipanggil interview oleh Fujitsu Indonesia saat saya sedang bertugas di Pekanbaru. Bulan April 2007 lalu saya sedang presentasi tentang frame relay di kantor Telkom. Perusahaan tempat saya bekerja dulu adalah perusahaan telekomunikasi, khususnya frame relay. Setelah saya pulang dari Pekanbaru waktu itu, besoknya saya langsung interview di kantor saya sekarang 😀 . Sampai mati kayanya gak akan lupa pengalaman itu. Tapi kemarin di Pekanbaru tidak ada yang telepon saya untuk menawarkan interview kerja lagi :-p , padahal kan saya akan selesai kontrak kerja akhir bulan Mei ini.

Ah sudahlah jangan ngomongin interview terus (terlalu sensitif). Saya pulang dulu…hari ini lanjut ke Surabaya. Cuma transit doank di Jakarta.

Pekanbaru (part 1) – Hotel Pangeran

Selasa sore ini saya berangkat ke Pekanbaru. Pagi ini saya bangun benar-benar kesiangan. Jam 11.40 saya baru melek..gila. Niat pagi mau ke kantor dulu jadi batal. Memang sih tadi malam saya lembur sampai jam 2 pagi. Tapi rupanya badan benar-benar butuh tidur 😀 jadi alarm pun tidak terdengar sama sekali. Siap-siap, makan dulu, jam 2 saya berangkat ke airport. Padat juga tol Sedyatmo siang ini gara-gara ada proyek pelebaran jalan tol menuju ke bandara. Deg-degan telat juga saya, pesawat saya jam 15.30. Eh ternyata delay hampir 20 menit. Update foto di tol bandara :

Tidak ada yang lebih menyebalkan selama perjalanan, selain penumpang sekitar yang berisik melulu. Gak anak kecil yang rewel, gak orang gede ngomongin
bisnis…semuanya benar-benar mengganggu kenyamanan perjalanan. Saya paling sebel kalau bepergian dengan angkutan umum dan penumpang di sekitar saya berisik terus, baik di bus, travel, kereta, maupun pesawat seperti yang saya alami sore ini. Sore ini saja 3 orang penumpang di sekitar saya berisik terus mengobrol dengan volume yang cukup keras, cukup membuat saya senewen sepanjang penerbangan.

Sampai di Pekanbaru sekitar setengah 6 langsung naik taksi ke Hotel Pangeran. Hotel ini ada di Jl. Jend Sudirman kota Pekanbaru. Review hotelnya silakan lihat sendiri di komik di bawah ini; 1 gambar bercerita 1000 kata kan 😀 … (padahal males ngetik review lagi) :

Tumben euy dikasih nginap di hotel bintang 4 lagi (apa mungkin gara-gara mau abis kontrak jadi dibuat betah? :)) ) Sialnya malam ini saya masih di Telkomsel, mungkin pulang dini hari jadi kurang bisa menikmati hotel ini. Besok siang saya sudah harus pulang ke Jakarta karena sorenya saya akan berangkat ke Surabaya.

Balapan Liar Di Tanah Abang

Malam ini saya melintas di jalan KH Mas Mansyur (daerah Tanah Abang) menuju Casablanca naik taksi Blue Bird. Dari arah Cideng kami naik jalan layang Jati Bening Jati Baru, lalu turun masuk terowongan (underpass) Tanah Abang. Sopir Blue Bird dan saya kaget serempak saat ada 3 motor yang bergerak melawan arus tepat di “mulut” underpass Tanah Abang. Si sopir kaget sambil menginjak rem dalam dalam saat salah satu motor putar balik di ujung underpass, sementara saya kaget karena taksi direm mendadak. Taksi sempat goyang karena direm mendadak. Untung motor tadi selamat dan kami juga selamat tidak diseruduk mobil dari belakang.

Rupanya mereka akan melakukan balapan motor. Gila, di tengah lalu lintas yang masih cukup ramai, mereka sudah siap beraksi. Yang menonton pun banyak, semua memadati pinggir jalan Tanah Abang di sepanjang pagar pembatas underpass. Foto di atas memang bukan saya ambil tadi, tapi situasinya persis seperti itu : banyak orang nonton balapan liar dari atas underpass. Memprihatinkan mereka-mereka itu, baik yang balapan maupun yang nonton, sama-sama kurang hiburan.

Sampai tulisan ini diketik, saya masih bisa mendengar derum motor yang sedang balapan. Saya sedang di Telkomsel Karet Tengsin saat ini. Tadi sempat ngobrol sebentar dengan satpam Telkomsel, mereka membenarkan cerita saya kalau di Tanah Abang rutin diadakan balapan motor liar. Biasanya diadakan dari dekat layang Casablanca sampai dekat jalan layang Pejompongan. Kali ini lokasi balapan diubah karena kabarnya polisi sudah menandai area yang biasa mereka pakai balapan.

Tadi supir Blue Bird juga sempat bercerita kalau pernah ada rekannya yang dihajar massa karena tidak sengaja menabrak pembalap liar di Jl Panjang (daerah Kebon Jeruk Jakarta Barat). Lucu kan para pembalap liar ini, sudah salah eh malah lebih galak. Tidak hanya dihajar massa, taksi Blue Bird itu pun jadi sasaran amuk massa. Polisi lalu lintas harusnya segera turun tangan kalau ada laporan tentang balapan liar kan sudah termasuk tindakan merugikan kepentingan umum. Kalau tidak bakal ada banyak pihak yang bisa dirugikan, pengguna jalan lain tentunya. Kalau mereka yang mati tertabrak mobil sih memang sudah resiko mereka sendiri. Nah yang repot kan pengendara lain yang ikut kena getah balapan mereka.

Jadi hati-hati kalau melintas di jalan KH Mas Mansyur (daerah Tanah Abang) saat malam akhir pekan. Ini bukan HOAX, cuma sharing pengalaman saya untuk Anda.

Bandung (part 4) – Pulang

Komik di bawah ini adalah foto yang saya ambil Sabtu sore di stasiun Bandung dan foto dari dalam kereta api Argo Gede saat melintas di atas Cipularang. Dua foto di bagian bawah adalah foto jalan tol Cipularang. Keduanya seolah saling beradu cepat memberikan jalur Bandung Jakarta.

Dengan menggunakan kereta api sekelas Argo Gede, teorinya (seperti yang tercetak di tiket) jarak Bandung Jakarta ditempuh dalam waktu 2.5 jam…tapi faktanya sulit memperoleh waktu tempuh sependek itu. Seringnya Bandung Jakarta ditempuh dalam waktu 3 jam. Sore ini saja saya pulang dari Bandung dengan Argo Gede jam 14.30, teorinya saya sampai 17.13 tapi faktanya saya baru sampai Gambir pukul 18.05. Tiga setengah jam waktu perjalanan saya sore tadi.

Sama halnya seperti waktu saya berangkat dari Jakarta ke Bandung Rabu malam lalu. Rabu malam saya berangkat dari Jakarta pukul 19.30 dan baru sampai ke Bandung pukul 22.40…..3 jam 10 menit. Memang susah memperoleh kepastian waktu perjalanan dengan kereta api. Selama ini, saat bepergian menggunakan kereta api jarang sekali perjalanan saya tepat sesuai jadwal.

Setelah jalan tol Cipularang beroperasi, kereta api Bandung – Jakarta jadi sepi peminat. Argo Gede saja yang dulu mematok tarif Rp75000,- – Rp85000,- sekarang banting harga jadi Rp45000,-. Cukup jauh kan bedanya. Kebanyakan para pelanggan kereta api Bandung Jakarta akan memilih menggunakan travel/bus/mobil sendiri. Perjalanan Bandung Jakarta (dan sebaliknya) jauh lebih cepat ditempuh dengan menggunakan jalan tol Cipularang. Kalau lalu lintas normal, perjalanan Bandung Jakarta lewat Cipularang bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Pahit-pahitnya 3 jam kalau sedang padat lalu lintasnya.

Dari perbandingan waktu tempuh, tidak heran banyak orang yang beralih menggunakan travel/mobil pribadi untuk perjalanan Bandung Jakarta. Tidak heran pula, PT KAI banting harga tiket. Argo Gede yang dulu jauh lebih mahal daripada kereta api Parahyangan sekarang dibuat murah tiketnya. Dulu saya masih ingat, harga tiket Argo Gede lebih mahal daripada harga tiket kereta api Cirebon Express (kelas eksekutif seharga Rp65000). Sekarang malah terbalik situasinya, tiket kereta Argo Gede malah lebih murah daripada Cirebon Ekspress. Ongkos travel Bandung-Jakarta sekarang berkisar antara Rp45000,- sampai Rp60000,-. Entah apa lagi yang harus dilakukan oleh PT KAI untuk menarik kembali sebagian besar pelanggannya yang lari menggunakan travel/bis.

Bagi saya sendiri, perjalanan dengan menggunakan kereta api lebih menyenangkan daripada dengan menggunakan mobil (asumsi saya tidak punya mobil pribadi). Kalau masalahnya adalah waktu, kereta api memang bukan pilihan yang bijaksana. Tapi kalau saya punya waktu longgar, saya lebih pilih naik kereta api. Entah apa pilihan saya bisa berubah kalau sudah punya mobil sendiri 😀 Bagaimana dengan Anda, kalau ke Bandung dari Jakarta pilih mana kereta atau mobil?

Bandung (part 3) – Beli Bayi Tikus

Berhubung mouse saya yang dulu dipinjam untuk pengganti spare part mouse yang rusak untuk mesin Primepower 250 di Telkomsel, saya akhirnya beli mouse lagi di Bandung. Jumat siang saya beli mouse di Ganesha Stationary, jalan Taman Sari Bandung (dekat BNI 46 Taman Sari). Pilih-pilih akhirnya beli mouse model retractable (yang bisa digulung tuh).

Harganya cuma Rp55000,- lebih murah dari mouse yang dulu saya beli di Surabaya; tapi tanpa garansi. Lucu juga modelnya, kecil mungil. Ya gak apalah, kalau rusak nanti saya jadikan gantungan kunci saja 😀 (atau lempar saja ke got di depan kos). Biar murah keren juga tuh kemasannya.