Kalau biasanya saya yang menelepon Bluebird untuk memesan taksi, Selasa sore sepulang dari Makassar gantian saya ditelepon Bluebird. Si Mbak di ujung telepon bertanya tentang tulisan saya di blog tentang pengemudi Bluebird yang mengembalikan uang kembalian (karena waktu saya bayar dia tidak punya uang kembalian). Entah siapa si Mbak ini, customer service-nya Bluebird atau mungkin public relation-nya. Anda bisa baca tulisan lengkapnya di sini. Mbak tadi bertanya apakah saya ingat nama pengemudi Bluebird dan nomor mobilnya. Wah mana saya ingat, katanya sih si pengemudi tadi ingin dijadikan contoh bagi pengemudi Bluebird lainnya. Kok bisa ya si Mbak tadi mampir ke blog saya. Mungkin dia sedang iseng mencari artikel yang memuat kata Bluebird di Internet kali ya. Kasihan juga tuh si Bapak pengemudi, kalau saja saya ingat namanya/nomor taksinya dia pasti jadi ngetop di kalangan teman-temannya sesama pengemudi Bluebird π
Daily Archives: July 4, 2008
Indovision
Setelah beli TV hari Minggu lalu, saya memutuskan untuk berlangganan Indovision. Tidak repot proses pendaftarannya. Minggu malam saya telepon hotlinenya Indovision, bicara sebentar dengan salesnya, lalu dia mengirimi saya formulir pendaftaran lewat email. Senin pagi saya isi formulirnya, transfer biaya pemasangan & iuran bulan pertama, lalu saya fax formulir, KTP, lengkap dengan bukti pembayarannya. Biaya instalasinya Rp150.000,- sementara iuran berlanggannya tergantung paket siaran yang saya pilih. Saya pilih paket Prime Family seharga Rp149.000,- plus paket Movie seharga Rp85.000,-.
Siangnya pihak Indovision menelepon saya untuk mengatur jadwal pemasangan perangkat. Padahal Senin sore lalu saya harus pergi ke Makassar. Untung ada orang di rumah yang bisa dimintai tolong mengawasi teknisi Indovision melakukan instalasi. Saya sempat pulang ke rumah sebentar mengambil baju sebelum pergi ke bandara. Sempat juga foto-foto teknisi Indovision saat memasang antena parabola di loteng π :
Saya baru bisa mengetes siaran Indovision sepulang dari Makassar Selasa sore lalu. Waduh, gambarnya masih banyak yang jelek. Masih ada beberapa saluran televisi yang kurang bagus kualitas gambarnya. Dan repotnya itu terjadi pada saluran TV lokal (TPI, Metro TV, dll). Saya telepon teknisi yang kemarin memasang antena, dia bilang katanya di daerah Roxy-Tomang frekuensinya saling bertubrukan karena banyak pemancar radio amatir & BTS. Katanya untuk mengatasi masalah ini, saya perlu minta bantuan tim troubleshooter-nya Indovision untuk mengatur ulang antena dengan bantuan alat spectrum analyzer (supaya tahu persis frekuensi yang tidak kena interferensi). Rabu siang teknisinya datang mengatur ulang parabola. Siang kemarin sebelum berangkat ke Palembang, saya lihat masih ada channel TV yang belum sempurna gambarnya. Hmm memang harus diawasi sendiri nih tim instalasi dan tim troubleshooter-nya, supaya puas melihat hasilnya. Bosan juga telepon telepon terus ke customer service-nya Indovision.
Palembang (part 1) – Hotel Wisata Palembang
Siang ini saya berangkat dari Jakarta ke Palembang dengan Garuda pukul 14.50. Ternyata Garuda bisa delay juga, jadwalnya semula pukul 14.20. Hmm, tapi saya gak kesal tuh delay kali ini (gak seperti Senin malam kemarin waktu Lion delay :-p ). Tadi pagi sudah dikabari Mbak Julie (Dwidaya Travel), kalau dia tidak bisa menemukan hotel yang bisa di-booking di Palembang. Alhasil saya pusing juga saat datang ke Palembang. Semua hotel berbintang penuh semua. Permintaan Mbak Julie supaya cerita ini (gak bisa booking hotel) tidak dimasukkan ke blog terpaksa saya tolak π Rasanya tidak afdol menuliskan pengalaman saya tanpa mencantumkan Dwidaya Travel. Tapi tenang aja Mbak, Dwidaya tidak salah kok memang Palembang sedang ramai banyak agenda jadi wajar kalau hotel-hotel rekanan Anda penuh semua.
Katanya sedang ada 2 event besar di Palembang, kongres PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) & IDI (Ikatan Dokter Indonesia) makanya semua hotel dari yang berbintang sampai yang berkomet penuh. Dulu saya pernah menginap di Sandjaja & Sahid Imara Hotel, niat mau kembali ke sana tapi keduanya pun sudah penuh. Novotel, Aston pun penuh (meskipun gak masuk budget kantor saya sih π ). Dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II saya naik taksi ke kota. Untung supir taksinya baik, dia merekomendasikan hotel-hotel non bintang pada saya. Ada 4 hotel yang saya datangi dan semuanya penuh. Sampai hotel kelima barulah saya dapat kamar, hotel Wisata namanya. Di hotel ini pun ramai para peserta kongres PGRI.
Seperti biasa, memotret adalah rutinitas saya pertama kali masuk kamar untuk bahan cerita saya soal hote ini. Ini review hotel dalam komik :
Hotel Wisata ini berdiri tahun 1994 dan katanya sih merupakan hotel bintang 2. Dengan rate Rp295.000,- saya sudah bisa menempati kamar Superior Triniti…satu kelas di atas Superior (entah apa bedanya dengan kelas Superior biasa). Kata resepsionisnya kamar kelas Superior Triniti itu baru di-upgrade, lucu juga istilahnya (emangnya firmware bisa diupgrade =)) ) mungkin maksudnya baru direnovasi. Memang sih saya lihat kamar mandinya sepertinya masih baru, ACnya juga baru jadi masih dingin banget (iyalah saya set 16 derajat gitu loh). TVnya yang kurang OK, cuma ada saluran TV lokal plus ESPN tapi sayang rata-rata gambarnya jelek. Waktu buka-buka buku menu, saya cukup senang melihat daftar menunya murah-murah π . Akhirnya pesan sup asparagus, nasi, sapi lada hitam, plus Coca Cola. Mantap nih makanannya, biarpun hotelnya di bawah standar kantor saya (yang katanya selalu pakai standar hotel bintang 3) tapi makanannya bisa direkomendasikan (**mode menghibur diriΒ ON** =)) ).
Nah jadi kesimpulannya adalah hotel ini cukup bisa direkomendasikan untuk Anda yang cari hotel dengan rate sekitar Rp300.000,- Tapi saya jadi mikir, jangan-jangan gara-gara review ini minggu depan standar kantor diturunkan ke level hotel Wisata (alias dari standar hotel bintang 3 ke bintang 2) =)) .
Eh satu lagi yang ketinggalan : hotspot gratis. Saya buat komik di atas tadi malam dan sekarang baru posting dengan bantuan free wireless internet access di lobi. Ngeblog dulu sambil nunggu pesawat saya jam 4 sore nanti. Menyebalkan juga pulang ke Jakarta dengan pesawat sore, tapi berkurang tingkat sebelnya kalau menunggu ditemani akses internet seperti ini.

