Surabaya (part 2) – Executive Class

Sabtu siang saya pulang dari Surabaya. Berhubung hari Jumat malam saya lembur sampai pagi di Telkomsel Kebalen, saya baru pulang ke hotel Sabtu jam 7 pagi. Untungnya teman saya telepon jam 11.30, jadi wake up call buat saya. Cepat-cepat mandi,beres-beres, langsung check-out dari Garden Hotel.

Ceritanya saya agak terlambat datang ke bandara Juanda, setelah sebelumnya mampir dulu ke Genteng beli ledre dan mampir ke ATM BCA. Saya datang ke counter Garuda sekitar pukul 13.15, print tiket dulu lalu segera masuk. Antrian di counter GA319 masih sekitar 7 orang lagi. Enam orang di urutan paling depan rupanya 1 rombongan (2 diantaranya bule), jadi mereka check-in bersamaan. Sejak antri dari awal saya lihat tulisan di papan pengumuman di atas meja check-in, GA319 tutup check-in pukul 13.30…ah saya pikir aman lah; kan saya datang sebelum pukul 13.30 jadi aman donk untuk tetap bisa ikut GA319.

Saya mulai merasa tidak beres sejak pukul 13.30, antrian tidak maju-maju. Saya sudah sering kali datang ke Juanda tapi baru kali ini berdiri antri di counter check-in selama itu. Di depan saya tinggal 1 bapak lagi yang masih antri. Petugas counter masih sibuk melayani 2 bule dan 2 orang lokal yang check-in bersamaan. Lama sekali mereka di counter check-in. Pukul 13.40 saya mulai gelisah. Gelisah karena banyak faktor, pertama lapar belum makan (lapar jadi gampang emosi), kedua sudah lelah berdiri, ketiga gelisah karena sudah pengen cepat-cepat sampai Jakarta, keempat sebel melihat pelayanan yang begitu lambat.

Counter di sebelah saya adalah counter khusus Garuda Frequent Flyer untuk Gold & Platinum member. Dari tadi tidak banyak yang antri di situ, tapi karena saya cuma pegang kartu GFF Silver Member jadi saya tahu diri tidak datang ke sana. Pukul 14.45 saya datang ke sana setelah sebelumnya kontak mata dulu dengan petugas di counter GFF tadi. Bersamaan saat saya pindah ke counter sebelah, si Bapak di depan saya akhirnya dilayani juga di counter tadi. Si Mbak di counter check-in GFF bilang pada saya begini : “Pak, check-in GA319 sudah tutup, Bapak ikut GA321 saja ya pukul 15.00”. Meledaklah emosi saya, langsung saya jawab dengan suara keras : “Loh Mbak ini gimana, saya sudah antri sebelum 13.30…check in di counter sebelah lama sekali. Ga bisa gitu donk….”. Si Mbak tetap menjawab : “Iya Pak soalnya GA319 sudah penuh pesawatnya”. Mantap kan jawabannya, bikin saya tambah emosi…udah gak pake sopan-sopanan lagi saya jawab : “Pokoknya saya gak mau tahu, Garuda sudah confirm dari hari Jumat saya bisa naik GA319…saya gak mau tahu, saya harus naik GA319”.

Bingung si Mbak tadi, langsung bicara di walkie talkie dengan petugas di counter lain; sepertinya orang yang lebih tinggi jabatannya. Dia tanya apakah masih ada kursi di GA319. Saya tidak tahu apa jawaban yang diterima, si Mbak lalu bertanya apa saya bawa barang untuk dimasukkan di bagasi. Saya bilang tidak ada, padahal saya bawa dus isi ledre titipan teman saya. Segera si Mbak tadi memproses tiket saya dan saya dibuatkan boarding pass untuk masuk duduk di kelas bisnis 😀 Cuma tinggal 1 kursi kosong di dalam GA319…kursi 1B di bagian bisnis.

Sambil menunggu si Mbak selesai mengetik, saya lihat bapak yang tadi antri persis di depan saya rupanya nasibnya kurang beruntung. Dia nurut saja dipindah ke penerbangan selanjutnya GA321 pukul 15.00. Meskipun ngomel juga tapi ngomel-nya masih sopan. Dia diberi voucher masuk executive lounge sebagai kompensasinya.  Jam 13.50 saya lari-lari naik ke atas, bayar airport tax, lalu segera lari menuju ruang tunggu 8. Semua penumpang lain sudah masuk, di depan saya masih ada beberapa orang yang bersama-sama saya terlambat masuk ke pesawat. Begitu masuk ke pesawat, taruh tas, pintu pesawat ditutup. Sepertinya saya orang terakhir yang masuk ke pesawat siang kemarin. Ah nyobain juga akhirnya naik Garuda di kelas bisnis; kapan lagi engineer seperti saya diberi penerbangan kelas bisnis…katrok ya saya =))

Benar-benar pengalaman yang menyebalkan. Entah bagaimana Garuda memproses data calon penumpangnya sampai bisa kekurangan tempat duduk. Biasaya kalau pesawat sudah penuh, Garuda pasti pasang status fully booked atau waiting list. Awalnya memang saya pegang tiket pulang untuk hari Jumat, berhubung kerjaan belum selesai saya terpaksa ubah tiket saya ke hari Sabtu. Dwidaya Travel yang memprosesnya dan katanya masih ada available seat untuk hari Sabtu. Lucu kan sudah confirm tapi tidak ada tempat. Jangan-jangan ini juga karena ulah calo-calo tiket di bandara.