Roy Suryo & Supersemar

Pagi ini saya senyum-senyum sendiri menonton berita di ANTV. Roy Suryo diberitakan tampil lagi membeberkan bukti sejarah. Dalam sebuah acara di Solo, RS mengungkapkan bahwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) bukan merupakan perintah pemindahahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada LetJend Soeharto. Dalam upaya pembuktiannya RS memperdengarkan rekaman suara pidato Pres. Soekarno. Rekaman pidato tersebut berisi pernyataan tegas bahwa Supersemar adalah surat perintah untuk mengamankan negara — bukan mengambil alih kekuasaaan.

Sensasi lain dari RS? Kita tunggu saja ;))

17 thoughts on “Roy Suryo & Supersemar

  1. @ Amir Karimuddin : otentik versinya siapa Pak? kalau versi dia sendiri pasti dibilang otentik banget :))

    @ Catshade : metadata lagi, jadi ingat waktu dia utak-atik foto-foto dulu =)) ahli gambar porno

  2. Masa sich baru tau ttg itu?
    Betul!Kaya bikin dagelan aja RS ini.
    Tanya dong ma anak2 mahasiswa jurusan Sejarah r Sejarawan, kayanya hal itu bukan hal baru dech.
    Mau coba sensasi lain nich?
    Gimana kalo sekalian aja cari keberadaan Supriyadi yang hilang pasca pemberontakan PETA di Blitar????
    Ternyata, bukan cuma artis aja yang suka bikin sensasi ya?

  3. NASKAH ASLI SUPERSEMAR DITEMUKAN ?

    Oleh Dasman Djamaluddin

    “Presiden Punya Informasi tentang Naskah Asli Supersemar,’ itulah salah satu lead berita yang saya baca.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono katanya memiliki informasi tentang keberadaan naskah asli Surat perintah 11 Maret yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Bahkan Presiden sudah meminta Arsip Nasional menindaklanjuti benar atau tidaknya informasi tersebut.

    Sejauh ini generasi muda bangsa masih mendambakan ditemukannya surat asli tersebut.Sejak 11 Maret 1966, naskah asli Supersemar hilang. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar berbagai versi Supersemar. Sudah tentu yang beredar itu naskah palsu, karena yang asli belum ditemukan. Membingungkan, karena naskah aslinya tidak juga ditemukan. Untunglah pencarian naskah asli Supersemar tetap dilaksanakan. Buktinya Presiden RI sekarang punya informasi tentang itu.

    Diakui bahwa sudah muncul rasa “bosan”, jika seseorang mendengar naskah asli Supersemar. Apa betul naskahnya bisa diperoleh ? Sebagai contoh, kebosanan itu telah merasuki pola berpikir para intelektual kita dalam Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif “Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar,” pada Selasa, 25 Maret 2008 di Fakultas Hukum Universitas YARSI, Jakarta.

    Selain saya sebagai pembicara (Penulis Buku:”Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar”/Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/LPSS), hadir pula Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Penulis buku:”Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit”) dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966). Terlihat sangat jelas ada ‘kebosanan’ berbicara tentang naskah asli Supersemar. Bahkan Anhar Gonggong dan Atmadji Sumarkidjo mengatakan, naskah asli adalah bagian masa lalu, oleh karena itu naskah asli Supersemar tidak perlu dicari). Tetapi saya di dalam makalah :”Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang,” tetap bertahan bahwa naskah asli Supersemar harus ditemukan, demi generasi pewaris bangsa ini ( makalah lengkap ada di http://dasmandj.blogspot.com).

Leave a Reply