Medan (part 3) – Bandara Polonia

Di postingan terdahulu saya tulis sepintas kalau bandara Polonia Medan jelek, sekarang saya mau membahas lebih banyak. Lihat dulu suasana di bandara Polonia dalam foto berikut ini :

Foto ini saya ambil sesaat setelah turun dari pesawat hari Rabu siang kemarin. Sejak dari dalam pesawat pun saya sudah heran, bandara kok jelek begitu. Nuansa yang saya tangkap adalah kekumuhan lingkungan dan bangunan bandara ini. Aneh juga padahal ini kan bandara internasional (eh benar kan ya Polonia itu bandara internasional?).

Nah kalau foto yang ini saya ambil tadi sore saat menunggu pesawat ke Jakarta. Anda mungkin ingat kejadian kebakaran bandara Polonia? Sampai sekarang bangunan yang terbakar belum sepenuhnya bisa digunakan kembali. Beberapa penerbangan domestik terpaksa nebeng di terminal penerbangan luar negeri, termasuk Garuda. Gambar di atas adalah suasana ruang tunggu sementara (kayanya bakal sementahun) untuk penumpang penerbangan dalam negeri. Bangunan ini berada di terminal internasional. Ruangan dadakan ini hanya disekat dengan tripleks. Kotor dan panas.

Penerbangan saya sore tadi jam 15.30. Saya sudah datang di bandara pukul 1 kurang. Setelah check in otomatis saya harus menghabiskan waktu menunggu di sana. Tidak ada kafe/rumah makan yang enak untuk duduk menghabiskan waktu menunggu. Saya pikir tidak layak kalau bandara Polonia tidak segera dibenahi. Masa kalah sama Pekanbaru atau Palembang bandaranya? Mau pakai alasan “lah kan baru kebakaran”...jangan dijadikan excuse lah; benahi donk secepatnya.

Medan (part 2) – Sekrup Terkutuk

Mengapa harus ada temuan ini…sekrup dengan kepala bintang 6 (bahasa kerennya = Torx screw). Tadi malam saya terpaksa terus-terusan mengumpat “terkutuk orang yang menciptakan sekrup dan obeng bintang 6 ini” X-(. Juga terkutuklah orang yang pakai sekrup model ini untuk membuat mesinnya.

Sekrup model seperti ini butuh obeng khusus pula untuk membukanya. Untuk membuka sekrup model begini kita harus pakai obeng khusus (Torx driver). Lihat gambar obeng khusus ini:

Sialnya juga saya membawa obeng kombinasi macam itu. Gagangnya yang cukup lebar membuat saya tidak leluasa (bahkan tidak bisa) membuka sekrup yang berada pada posisi yang sulit. Karena menggunakan obeng kombinasi, gagang obeng seringkali mentok di sisi tertentu sehingga sulit sekali memutar sekrup. Terpaksa diputar sedikit demi sedikit (milli demi milli).

Heran saya kenapa harus ada sekrup model begini, apa sih untungnya pakai sekrup model seperti ini? Lebih aman gitu? Ah…lebih nyusahin itu pasti X-(. Kenapa tidak pakai sekrup yang umum saja (dengan kepala min atau plus). Obeng min dan obeng plus kan lebih banyak dan gampang dijumpai di pasaran. Mau pinjam juga kan lebih gampang. Tulisan penuh kekesalan ini saya tulis setelah semalaman berkutat dengan mesin Fujitsu Siemens Scalar 100. Mesin ini adalah tape library seperti ini :



Anyway, thanks to
Pak Irwanto atas pinjaman obeng Torx-nya.

Medan (part 1)

Pagi ini saya berangkat dari rumah pukul 8.30 padahal saya akan naik pesawat pukul 10.30. Ini gara-gara kemarin Mbak Juli dari Dwidaya Travel menginfokan bahwa jalan tol menuju bandara dua hari terakhir macet karena ada perbaikan di ruas tol dekat Jembatan Dua. Hmm..gak mau ambil resiko saya berangkat 3 jam sebelum jadwal. Halah…ternyata lancar-lancar saja tuh. Jam 8.10 saya sudah sampai di Soekarno Hatta. Sarapan dulu di KFC di depan terminal 2F.

Eh ternyata saya bisa lolos membawa obeng dan aneka toolkit masuk ke dalam kabin :-p Tadinya saya kuatir akan disuruh mengeluarkan semua toolkit dari dalam tas. Saya sebenarnya malas memasukan tas ke dalam bagasi, saya hanya membawa 1 tas berisi laptop, toolkit, dan pakaian. Untuk alasan kepraktisan saya lebih senang membawa 1 tas masuk ke dalam kabin alias hand carry. Dua pemeriksaan dengan metal detector bisa saya lewati..ah aman kalau begitu. Mudah-mudahan ini berlaku pula ketika saya pulang nanti dari bandara Polonia Medan.

Cukup lama saya menunggu sampai waktu boarding. Jadwal boarding dan take off terlambat, dijanjikan boarding pukul 10.10 saya baru bisa masuk pesawat pukul 10.30; pesawat yang harusnya berangkat pukul 10.30 berangkat pukul 10.45. Masih bisa ditolerir :-p

Sampai di Medan jam 12.55. Bandara Polonia kok jelek ya? Dari sejak turun pesawat sampai keluar, saya tidak menemukan titik yang bagus. Suasana hiruk pikuk mirip terminal. Dari bandara saya naik taksi ke hotel Inna Dharma Deli. Hotel Inna Dharma Deli ada di jalan Balai Kota nomor 2. Hotel berbintang tiga ini dari luar keliatan sebagai hotel tua. Eh suasana di dalamnya juga…tapi bersih dan masih bisa menunjukan kelasnya sih. Kamar yang saya dapat pun cukup nyaman. Jauh lebih nyaman daripada hotel Victoria yang saya singgahi minggu lalu di Banjarmasin. Hanya sayang di hotel ini tidak ada akses internet. Tidak ada akses internet di hotel Inna Dharma Deli Medan. Wah payah juga nih hari gini belum ada fasilitas akses internet di hotel, berbayar maupun gratis tidak ada sama sekali. Saya kan jadi repot kalau mau kerja….eh salah…repot gak bisa ngeblog tepatnya =))

Berhubung akses internet yang terbatas mungkin saya harus menunda dulu tulisan ini untuk di-publish sampai memperoleh akses internet. Baru saya posting setelah saya pulang ke Jakarta nih. Ini saya ketik di kamar sambil sedih karena gak dapat akses internet…sialnya saya pun tidak bawa handphone CDMA. Kalau bawa kan bisa internetan dari dalam kamar.