Surabaya (part 5) – Cari DVD Dapat Buku

Malam ini saya yang masih bertahan (“ditanam”) di Surabaya. Tadi siang sudah check out dari hotel jam 1 siang. Jam setengah 3 sore saya check in lagi….lucu kan. Mungkin bagi Anda gak lucu, tapi bagi saya ini suatu yang lucu. Saking lucunya kerjaan kali ini di Surabaya, saya sudah kehilangan minat untuk tertawa. Malam tadi saya mampir ke Surabaya Plaza. Niatnya saya mau mencari keping DVD dual layer, yang kapasitasnya 8GB. Ada data log mesin Primepower 1500 yang harus saya kirim ke Jakarta. Datanya gak tanggung-tanggung 7GB. Makanya saya butuh keping DVD yang besar kapasitasnya.

Berhubung yang paling dekat dengan hotel saya adalah Surabaya Plaza, tadi sekitar jam 7 saya jalan kaki ke sana. Putar-putar mal ini saya tidak menemukan toko yang menjual DVD. Saya sih “nothing to loose” mampir ke sana, ya sekalian makan malam lah. Karena tidak menemui toko yang menjual DVD saya masuk ke Gramedia. Di sana ada counter yang menjual DVD. Tapi sayang tidak ada DVD dual layer 8GB, yang ada hanya DVD standar 4GB. Akhirnya saya beli 2 DVD-R seperti ini (@Rp9000,-) :

Beli DVD sih cuma sebentar, tapi saya putar-putar dulu di Gramedia melihat-lihat buku apa yang menarik hati. Akhirnya saya membeli buku novel terjemahan “Sang Penebus” seperti ini :

Bukunya tebal sekali, harganya pun “tebal” Rp89000,-. Sepertinya buku ini adalah novel yang menarik, lihat sendiri label “New York Times Bestseller” di bagian atasnya. Penting nih buat teman di perjalanan, berhubung sering pergi-pergi bawa buku sepertinya jadi hal yang pantang dilewatkan oleh saya.

Keluar dari Gramedia, saya naik ke lantai 4 Surabaya Plaza. Di sana ada food court. Berkeliling sebentar saya pilih makan steak di Miho (singkatan mie hotplate). Tenderloin steak-nya tidak terlalu mahal (Rp30000,- including tax), tapi rasanya lebih mirip semur daging daripada steak pada umumnya. Pelajaran bagi saya, kalau pergi ke restoran mie jangan beli steak…beli mie donk.

Surabaya (part 4) – Ledre Pisang

Kemarin saya cerita kalau saya mampir di Genteng Surabaya untuk beli ledre pisang. Ini cerita saya tentang apa sih ledre pisang itu. Lihat dulu gambar makanan yang kriuk-kriuk renyah ini :

Dulu pertama kali saya dikenalkan dengan yang namanya ledre oleh rekan saya Budy. Saya jadi suka makanan ringan ini. Ledre itu tipis dan kalau masih bagus kondisinya ledre renyah sekali kalau dimakan. Katanya dibuat dengan bahan pisang, entah apa bahan lengkapnya sepertinya sih dicampur tepung juga. Ada ledre yang berbentuk lempengan pipih seperti foto di atas, ada juga yang dibuat bulat panjang seperti semprong (Anda tahu kan apa itu semprong?). Katanya sih ledre itu makanan khas kota Bojonegoro; tapi ada juga yang dibuat di kota lain, Malang misalnya.

Dulu saya pernah membeli ledre waktu ke Surabaya bulan Oktober tahun lalu. Saya beli di toko oleh-oleh Panen Raya, di daerah Genteng Surabaya. Budy yang saya bawakan ledre waktu itu cocok dengan ledrenya yang bentuknya lempengan itu. Makanya Sabtu kemarin waktu tahu saya akan ke Surabaya dia titip ledre lagi. Saya sudah beli 3 dus ledre Minggu kemarin. Tapi karena sampai sekarang belum pulang ke Jakarta, 2 dus sudah habis saya makan kemarin malam :-p . Sisa 1 dus besar ledre seperti ini :

Sore ini saya batal lagi pulang ke Jakarta, bengong di hotel membuat saya gatal mencicipi ledre yang tinggal 1 dus itu (mereknya lain dengan yang saya makan kemarin 😀 ). Akhirnya saya buka juga dus titipan tadi…alamat besok sebelum pulang mampir Genteng lagi nih beli titipan yang terlanjur saya makan :)) .

Surabaya (part 3) – Menukar Dollar

Ternyata di Surabaya ada lembaran US Dollar yang mendapat perlakuan khusus. Dollar dengan nomor seri berawalan : FB,FC, dan FL tidak gampang ditukar di semua money changer di Surabaya. Kabarnya dollar dengan nomor seri berawalan tersebut paling sering dipalsukan. Kabarnya sejak akhir 2005, semua bank dan money chenger di Surabaya menolak untuk menerima penukaran dollar yang bernomor seri dengan awalan FB, FC, atau FL. Kalaupun menerima, mereka akan mengenakan potongan. Selain nomor seri dengan awalan FB, FC, dan FL, beberapa nomor seri dengan awalan A,B sampai H (kalau tidak salah ingat) juga sudah tidak diterima lagi di sana. Ada-ada saja aturan macam ini. Kalau karena kuatir uangnya palsu, pakai donk scanner yang canggih supaya bisa membedakan dollar asli atau palsu. Kata si mbak pegawai ABN Amro, kalau di Jakarta atau Bali mungkin menukar dollar dengan nomor seri seperti tadi tidak akan jadi masalah.

Tadi ABN Amro Bank mengenakan potongan 0,75% saat saya ingin menukarkan selembar seratus dollar Amerika. Sial…baru tahu saya kalau ada nomor seri tertentu yang dikenakan perlakuan khusus. Sudah kena potongan 0.75%, saya masih dikenakan potongan 0.5% karena lembaran dollar tadi dianggap tidak mulus (ada bekas lipatan karena kelamaan ditaruh di dalam dompet. Memang rate penukaran mata uang di bank lebih mahal daripada di money changer. Tapi kalau dihitung-hitung, untuk menukarkan uang sebesar US$100 bedanya tidak seberapa (mungkin kalau saya menukar ribuan dollar saya akan berpikir ulang). Saya tadi memutuskan untuk menukar di ABN Amro karena letaknya persis di seberang Garden Hotel tempat saya menginap. Saya pikir kalaupun saya pergi ke money changer dan mendapat rate lebih bagus, tetap saja saya kena potongan karena nomor seri dollarnya termasuk yang di-black list. Belum berapa ongkos taksi yang harus saya bayar untuk pergi ke money changer.

Surabaya (part 2) – Ditanam Dulu

Menyambung tulisan sebelumnya soal Surabaya, sampai saat ini saya masih di Surabaya. Kemarin seharusnya saya pulang dengan penerbangan jam 7 malam. Berhubung masih menunggu hasil investigasi dari Fujitsu Siemens Jerman, saya diminta bertahan dulu di Surabaya sampai ada perintah dari Fujitsu Siemens Jerman untuk mengganti spare part Primepower 1500-nya Telkomsel. Jadi sekarang judulnya bukan lagi “liburan gratis” tapi “ditanam dulu” di Surabaya.

Hari Minggu kemarin saya benar-benar jobless…gak ada kerjaan. Siang saya keluar dari hotel, niatnya mau cari tempat biliar. Saya naik Bluebird pergi cari tempat biliar. Menurut rekomendasi sopir taksi yang saya naiki dari bandara ke hotel Sabtu malam lalu, di mall AJBS ada tempat biliar yang besar. Saya nurut saja ke sana…eh sial sudah tutup. Untung sopir Bluebirdnya baik mencarikan informasi ke teman-temannya lewat radio. Akhirnya saya diantarkan ke tempat biliar yang namanya Nine Ball. Adanya di dekat Tunjungan Plasa. Kalau tidak salah Nine Ball ada di jalan Kombes Duriyat. Halah gara-gara salah informasi di awal, tarif taksinya saja sudah mahal hampir sama dengan biaya saya main biliar.

Tempat biliar ini bagus dan luas. Mejanya banyak tempatnya pun nyaman. Satu yang aneh adalah ini adalah tempat biliar pertama yang saya kunjungi yang bebas asap rokok khusus. Biasanya tempat biliar itu semuanya smoking area (kecuali yang saya kunjungi di Paderborn bulan lalu). Tapi Nine Ball itu hanya smoking free kalalu hari Minggu, itupun hanya sampai jam 5 sore.Tempat ini mematok harga Rp21000,-/jam. Cukup worthed. Satu kelemahan fatal adalah cue stick yang disediakan. Semua cue stick-nya berlapis fiber glass. Gila kan…masa cue stick dilapisi fiber glass. Kerasnya bukan main, serasa main biliar dengan break cue aja. Memang sih semua cue-nya relatif lurus tapi nyebelin lah main dengan stick model begitu. Pelajaran buat saya, kalau ke Surabaya lagi harus bawa cue stick sendiri. Main 2 jam saya lalu pulang.

Dari tempat biliar tadi saya pergi ke Genteng mau beli oleh-oleh. Sebenarnya bukan oleh-oleh sih, tapi titipan rekan saya. Rekan saya titip ledre. Ledre itu kurang lebihnya adalah keripik pisang. Nanti saya upload foto seperti apa ledre itu. Ya sudahlah segitu saja postingan kali ini, bertahan dulu di Surabaya sampai disuruh pulang sama si Bos.