Berita Menarik Hari Ini

Pagi ini saya baca Detik.com ada berita menarik (sekaligus lucu) menurut saya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “sewot” ketika dia melihat ada bupati yang tidur saat dirinya menyampaikan pidato. Ada-ada saja ulah pejabat negeri ini. Berani-beraninya tidur di acara penting macam itu (acara pembekalan konsolidasi pemerintah daerah di Lemhanas) :D. Ini screenshot dari Detik :

sby marah

Simpati PeDe Gak PeDe Lagi

Dulu saya pernah menulis tentang Simpati Pede Telkomsel. Mulai April ini kalau tidak salah, tarif Simpati Pede tidak lagi seperti yang pernah saya tulis dulu. Sekarang tarif Simpati Pede untuk panggilan ke sesama Telkomsel, polanya berulang setiap 5 menit. Detilnya hitungan tarif per detik seperti ini :

menit 1 = Rp 25,- * 60 = Rp 1500,-
menit 2 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 3 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 4 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 5 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-

menit 6 = Rp 25,- * 60 = Rp 1500,-
menit 7 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 8 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 9 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 10 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-

….
….
….
dst

Tarif panggilan ke operator lain tetap sama seperti dulu, flat Rp25,-/detik. Baru saja saya menelepon ke nomor As Telkomsel selama 14 menit lebih 5 detik, pulsa saya langsung terpotong Rp 4833,- Hmm..enak tarif yang dulu euy menelepon 14:05 menit saya hanya membayar Rp 1895,- Aneh juga katanya semua operator selular diminta menurunkan tarif dasar telepon, ini kok malah jadi lebih mahal dari biasanya.

Buku Anti Marketing

Waktu akan berangkat ke Banjarmasin hari Rabu lalu, saya mampir di toko buku yang ada di bandara Soekarno Hatta. Toko bukunya namanya Parakmukti Slamet. Toko buku di terminal 2F ini tidak begitu besar. Koleksi buku yang dijual juga sedikit. Iseng mencari-cari buku untuk bahan bacaan di jalan, saya menemukan buku ini (dan akhirnya membelinya juga seharga Rp55000,-) :

Ini adalah bukunya Kafi Kurnia, judulnya “Anti Marketing”. Dulu saya pernah membeli buku Kafi Kurnia yang judulnya “Intrik – 7 Jurus Sukses”, seperti ini gambar covernya :

Sekilas membaca “Anti Marketing”, kurang lebih saya bisa menyimpulkan isinya adalah trik-trik/tips-tips pemasaran secara kreatif, keluar dari pakem pemasaran konvensional. Banyak tulisan dalam buku ini adalah tulisan-tulisan Kafi Kurnia yang pernah diterbitkan pada majalah Gatra. Tiap bab berisi cerita pendek tentang pemasaran produk/jasa. Cerita dilengkapi pula dengan pandangan-pandangan Kafi Kurnia tentang ilmu pemasaran. Tidak terlalu berat cara penyajiannya, sehingga saya pun yang bukan berlatar belakang ekonomi pemasaran bisa memahami maksud/pesan yang ingin disampaikan.

Saya baru baca sekitar 95 halaman selama perjalanan pergi pulang Jakarta – Banjarmasin. Dari banyak cerita yang disajikan dalam “Anti Marketing”, saya menemui setidaknya 5 tulisan yang pernah dimuat di buku “Intrik”. Hmm..kurang bahan kah Kafi Kurnia? Atau memang tulisan serupa diperlukan untuk menambah tebal isi buku? Atau sedemikian kuat dan hebatnya tulisan tersebut sampai dirasa perlu untuk dimuat berkali-kali. Sepertinya ini hal yang wajar di dunia tulis menulis buku. Seorang penulis mungkin saja lupa kalau bahan tulisan yang sama pernah dimuat di bukunya terdahulu. Dulu saya pun menjumpai hal yang sama di buku-buku karangan Hermawan Kertajaya. Tulisan dengan inti cerita yang sama dimuat beberapa kali di buku yang berbeda. Bahkan beberapa tulisan dimuat persis sama susunan kalimatnya.

Meskipun demikian tetap saja saya kagum dengan orang-orang yang bisa produktif menerbitkan buku. Terserah orang mau bilang apa, faktanya dia bisa menelurkan buku baru dan “memaksa” orang (seperti saya) penasaran lalu membelinya 🙂

Banjarmasin (part 3) – Lift Hotel

Ada tempelan di dalam lift hotel Victoria yang menarik perhatian saya untuk di foto :

Menurut saya kok sepertinya kurang pas kalau pihak hotel menempelkan peringatan semacam itu. Bayangkan kesan yang dapat ditimbulkan dari tempelan peringatan macam itu. Terkesan lift memang sering mati karena listrik padam. Aneh juga masa hotel bintang 3 tidak bisa menyediakan listrik cadangan. Mungkin saja sebenarnya ini adalah langkah preventif dan hotel ini sama sekali tidak pernah mengalami pemadaman listrik…tapi yang namanya kesan bisa timbul dengan paradigma yang beraneka ragam kan?

Ada lagi hal lain yang bisa dikritisi (penyakit terlalu kritis :-p ) : penulisan kata “di mohon” kan salah tuh. Bukannya seharusnya ditulis dengan cara disambungkan? Memangnya ada tempat namanya “mohon” =))