Batam (part 3) – Konektor Listrik

Tadi pagi di Puri Garden Hotel saya bingung juga sewaktu mau men-charge ponsel dan notebook saya. Di kamar saya semua soket listriknya menggunakan tipe 3 kaki yang pipih. Seperti ini bentuk soket listrik di kamar hotel tadi :

Untung hotel menyediakan adaptor seperti ini :

Karena penasaran, saya cari di Wikipedia tentang jenis-jenis konektor listrik. Ternyata yang dipakai di Puri Garden Hotel adalah tipe British Standard (BS1363). Aneh juga hotel ini kok pasang konektor listrik tipe ini. Ini Indonesia Bung….kok pasang konektornya yang gak umum dipakai di sini.

Informasi di Wikipedia tentang berbagai macam soket listrik cukup lengkap untuk dapat dijadikan referensi. Apalagi buat saya yang tidak familiar dengan dunia kelistrikan. Di Indonesia sepertinya tipe F yang dijadikan standar. Lihat saja soket listrik di rumah kita, 2 lubang dengan grounding di dua sisinya. Standar ini dipakai juga di beberapa negara Eropa seperti Jerman misalnya. Silakan baca sendiri referensi di Wikipedia tadi, cukup informatif tuh.

Batam (part 2) – Mie Goreng Berkuah

Kemarin malam saya pesan makan lewat room service hotel. Saya pesan Fried Hokkien Mee (gak tahu juga kenapa mie ditulis “mee”). Harganya menurut saya mahal S$6.5, gimana gak mahal harganya ditulis dalam Singapore dollar 🙁 Tidak sampai setengah jam pesanan saya datang. Aneh, pesan mie goreng kok dapatnya mie kuah. Room boy yang mengantarkan makanan menjelaskan kalau mie ini digoreng dulu baru dimasak dengan kuah. Saya tetap saja heran (campur kesal), dalam bayangan saya mie goreng ya seperti lazimnya mie goreng…lah ini kok malah pake kuah. Ini lihat gambarnya :

Isinya mie, ada jamur, ada udang, ada bakso ikan, dan sayuran juga. Kuahnya dicampur telur. Agak-agak mirip kalau saya bikin Indomie rebus pakai telur. Rasanya sih biasa saja, cuma karena malam kemarin saya lapar berat dan mie ini disajikan panas-panas rasanya jadi lebih enak 😀 Sorenya saya sudah makan di Solaria (yang ada di Nagoya Hill Batam), sekitar jam 5 sore saya makan. Tadinya saya gak niat makan malam, tapi sekitar setengah 12 malam saya lapar. Terpaksa deh buka-buka buku menu cari makanan yang kira-kira enak (dan gak terlalu mahal :-p ).

Batam (part 1) – Panasnya Batam

Siang ini saya berangkat ke Batam dengan Lion Air (JT378) pukul 13.30. Penerbangan yang tidak cukup nyaman. Entah pilotnya yang belum mahir atau memang pesawatnya yang terlalu tua…landing-nya cukup membuat saya deg-degan. Ini foto pesawat Lion Air yang akan saya naiki, difoto sesaat sebelum saya naik ke pesawat.

Saya pikir awalnya bisa mencoba pesawat baru Lion Air Boeing 737-900ER, eh balik lagi naik pesawat lama Lion.

Saya tiba di bandara Hang Nadim Batam sekitar pukul 15.15. Pertama kali menginjakkan kaki di Batam, kesan pertama yang saya dapat Batam tempat yang panas. Matahari benar-benar terik sore ini. Nuansanya mirip kalau datang ke Bali, begitu keluar bandara langsung disergap cuaca terik yang menyengat.

Kali ini saya menginap di hotel Puri Garden Hotel, letaknya persis di depan mal Nagoya Hill. Hotel Puri Garden ini memilih gaya Bali, nuansa Bali sudah terasa dari saya masuk ke halamannya. Setidaknya hotel ini sepertinya lebih bagus daripada hotel Sandjaja yang saya tempati minggu lalu di Palembang. Kamar yang saya tempati cukup nyaman. Seperti ini fotonya :

Awalnya saya senang karena receiptionist mengabarkan kalau di hotel ini terdapat hotspot gratis di setiap kamar. Tapi setelah masuk kamar, saya sama sekali tidak mendapat 1 sinyal wifi pun. Saya pun komplain ke receiptionist, katanya kamar 203 saya memang tidak berada dalam jangkauan sinyal access point…halah. Saya malah disuruh berinternet di lobi saja. Ya sudahlah, namanya juga gratisan, gak bisa komplain banyak-banyak :-p

Gatel saya kalau gak ngeblog dulu 😀 jadi cepet-cepet ke lobi, tulis postingan ini. Perut sudah lapar, setelah ini mungkin saya harus segera cari makan keluar. Ke Nagoya Hill saja ah…cari makan di mal.

Mari Main Biliar

Silakan lihat komik sederhana ini (Anda diijinkan tersenyum setelah melihatnya) :

Komik di atas adalah hasil keisengan saya sewaktu menunggu pesawat pulang dari Palembang hari Jumat kemarin. Foto-foto bahan komik diambil saat saya, Manggar, dan Pak Rully (bos saya) training ke Jerman awal bulan Maret ini. Bosan menunggu, lihat-lihat foto, isengnya keluar saat melihat beberapa foto sepertinya bercerita sesuatu. Segera saya tangkap ceritanya dan saya tuangkan ke dalam komik 😀

Konro Bakar Gratisan

Sabtu kemarin saya ditraktir makan Konro oleh Erny rekan saya di rumah makan Maranu di Boulevard Kelapa Gading. Dulu pun saya pernah buat review tentang rumah makan Marannu, review-nya saya tulis di sini. Ini foto konro bakarnya :

Gak sampai seperempat jam kemudian, konronya tinggal tulang saja 😀 :

Seminggu sebelumnya pun saya makan di sana. Sama halnya seperti Sabtu kemarin, saya kebagian konro yang cukup keras. Biasanya konro di sini selalu empuk, heran juga sudah dua kali ini konronya keras. Ketika dikonfirmasi, pelayan di sana menyalahkan supplier-nya. Katanya empuk tidaknya konro tergantung daging yang dikirimkan supplier. Lah kok malah cari kambing hitam, rebus lebih lama donk biar empuk. Tapi biarpun dagingnya agak keras, rasanya sih masih enak…gratisan sih – ditraktir gitu loh :))

Thanks to Erny untuk traktirannya.