Jerman (part 8) – Tentang Minuman

Minuman lain yang banyak saya temui di Jerman, jus botolan. Jus botolan seperti ini nih gambarnya (tutupnya mengingatkan saya pada kemasan sambal botol di Indonesia :-p ) :

Nah kalau yang ini saya lebih suka, jus buah. Granini sepertinya merek lokal produsen jus asli dalam kemasan; mungkin seperti Berry yang banyak dijual di supermarket di Indonesia. Ada yang berisi jus apel, jus jeruk, ada juga seperti yang ada di foto ini…jus campuran macam-macam buah. Yang terbuat dari campuran buah-buahan diberi label multivitamin. Saya minum jus seperti ini di hotel (saat sarapan), di ruang training (disuguhi banyak jus botolan ini), di kantin saat makan siang (tinggal pilih jus apa dari mesin minuman).

Setiap hari saya, Manggar, dan Pak Rully bisa menghabiskan lebih dari 2 macam minuman. Lihat nih botol-botol kosong setelah training selesai :

Gratis sih, jadi dengan gampang kita bisa minum…rasanya lebih lancar di tenggorokan; kalau di hotel sih air wastafel saja lah :))

Jerman (part 7) – Tentang Air Minum

Selama di Jerman, saya sering (atau mungkin selalu) menemukan air mineral dengan soda. Istilah kerennya mungkin “sparkling water“. Contohnya seperti ini :

Rasanya aneh bagi lidah saya. Walaupun saya pecinta minuman bersoda (semacam Coca Cola) tetap saja saya tidak bisa menikmati rasa air putih bersoda ini. Di hotel saya memilih minum air dari kran wastafel saja. Katanya sih air di sini yang keluar dari kran semuanya dapat diminum. Menurut teman saya, kalau kita membeli air mineral di toko secara default kita akan diberi sparkling water. Jadi kalau ingin membeli air mineral murni tanpa soda kita jangan lupa memintanya dulu (atau membaca teliti labelnya kalau di swalayan).

Jerman (part 6) – Tentang Cuaca

Kami bertiga datang ke Jerman pada akhir musim dingin (ini menurut Donny teman saya di Stutgart). Udara masih dingin untuk ukuran saya dan rekan-rekan yang notabene dari negara tropis. Suhu udara di Frankfurt dan Paderborn rata-rata 8 derajat Celcius di pagi hari (gak tahu kalau malam berapa derajat). Udara di sini dinginnya masih bisa saya tahan, kemana-mana hanya modal winter coat tanpa sarung tangan, syal, dan tanpa topi.

Yang paling gak enak adalah anginnya. Anginnya menurut saya lebih dingin, kalau jalan dan diterpa angin yang paling terasa dingin adalah tangan dan muka. Tangan ini rasanya seperti memegang es batu…ada rasa kaku dan ngilu-nya. Jadi jangan pernah gak bawa topi, sarung tangan dan syal kalau datang ke negara yang sedang musim dingin (walaupun sekarang sudah di akhir musim dingin). Nih lihat foto Manggar & my boss Rully sedang dalam mode kedinginan 😀 :

(foto diambil Minggu pagi jam 10.32 di salah satu taman di Frankfurt)

Sudah 2 hari bangun tidur saya bangun tidur pagi hari dengan tenggorokan kering sekali. Mungkin ini karena udara di sini cenderung kering jadi pagi hari tenggorokan kering sekali. Bibir juga terasa benar-benar kering kalau diterpa angin di luar. Ada benarnya saran Erny (teman saya di Jakarta) untuk bawa lips balm. Pinjaman lotions kulit dari Erny malah belum pernah saya pakai sejak datang di sini. Kulit tangan dan muka sih tidak terasa kering. Apa karena kulit saya termasuk kulit kering ya.

Jerman (part 5) – Internet di Hotel

Sudah lama saya tidak bermain-main dengan situs penghitung kecepatan akses internet seperti Speedtest.net. Tadi iseng menghitung berapa kecepatan akses internet gratis di hotel ini. Hasilnya lumayan, bagus malah kalau dibandingkan dengan akses Speedy di kamar saya di Jakarta 😀 . Saya coba beberapa kali dan nih lihat sendiri hasilnya :

speed test internet Aspethera Hotel

Mantap kan…gratis – kencang pula. Ini saya tes dengan kondisi wireless connections yang saya pakai hanya dapat sinyal dengan kualitas LOW, gak tau deh bakal berapa cepat kalau saya dapat sinyal WiFi yang lebih bagus.

Jerman (part 4) – Biliar di Paderborn

Akhirnya kesampaian juga main biliar di Jerman :D, barusan saya main biliar di Pader Bowling yang berada di dalam mal Libori-Galerie. Libori-Galerie itu salah satu mal di kota Paderborn. Pader Bowling sendiri adalah pusat permainan bowling, tapi mereka menyediakan 4 meja biliar 9 feet dan 1 meja snooker.

Main di sini tarifnya jauh lebih mahal daripada main biliar di Jakarta. Di sini sekali main dikenakan biaya 6.5 euro/jam. Gila kan…lebih mahal daripada main biliar di AfterHour Sarinah Jakarta (ya iya lah ini Jerman gitu loh =)) ). Tadi malam saya sudah datang ke sana bersama Pak Rully, cuma sayang 4 mejanya sudah dipakai semua. Malas menunggu makanya kami tinggal pulang. Hari ini saya penasaran ke sana. Jam 7.10 keluar hotel langsung ke sana. Tidak ada yang main biliar hari ini, hanya tempat bowlingnya saja yang ramai. Main deh kami bertiga (saya, Pak Rully, & Manggar). Mainnya gak tenang, bentar-bentar lihat jam…takut lebih dari 1 jam :))

Meja biliarnya bagus, seperti yang dipakai turnamen; tiap lubang dilengkapi kantung-kantung untuk menampung bola yang masuk. Kain lakennya juga licin sekali. Sayang tadi cue stick-nya kurang enak. Aneh juga cue stick ini ukurannya pendek, mungkin untuk biliar meja 7 feet. Di sini semuanya self service, kita datang ke kasir menyerahkan uang 10 euro untuk deposit lalu mereka menyerahkan 1 kotak bola (isi 16 bola) dan menyerahkan cue stick. Jadi kita main dan me-rack bola sendiri, tanpa pelayan sama sekali. Saya tidak tahu apakah memang begini typical tempat biliar di Jerman, harus coba beberapa tempat dulu baru bisa tarik kesimpulan.