Jam Ngaco

Ini cerita saya tentang jam tangan saya. Siang ini saya baru sadar kalau ada yang aneh dengan jam tangan saya. Sekitar pukul 3 sore saat keluar kantor, saya kaget melihat angka 6 dan angka 12 di jam saya terbalik posisinya. Jarum jam masih menunjukkan waktu yang benar, hanya saja letak angka 12 berada di bawah dan angka 6 ada di atas. Halah…rupanya background jam tangan ini bergeser. Saya tepuk-tepuk jam tangan saya dan background itu bisa berputar sendiri. Entah dari kapan posisinya terbalik seperti itu. Untuk sementara saya bisa mengembalikan posisi angka 12 di atas. Tadi sepulang kantor saya lihat posisinya sudah ngaco lagi. Lihat tuh posisinya jadi aneh seperti di gambar di bawah ini :

Gambar kiri adalah gambar arloji waktu masih waras, gambar kanan adalah gambar sore ini saat arloji saya ngaco.

Arloji ini saya dapat dari rekan saya Budy waktu dia lulus kuliah akhir tahun lalu. Aneh kan…harusnya saya yang beri dia hadiah karena sudah berhasil “keluar” dari kampusnya 😀 tapi malah saya yang diberi hadiah. Atau mungkin dia bagi-bagi hadiah sebagai ucapan syukur sudah bisa jadi sarjana setelah *(off the record)* tahun Yah biarin sajalah…orang kaya kan bebas, bebas ngapa-ngapain…..mau tukar anthurium sama Inova ya bisa, mau buka perkebunan di Thailand ya bisa, mau beli stik biliar ratusan dollar dari Amerika ya bisa, termasuk mau bagi-bagi hadiah ya bisa…pokoknya bebas lah :)) Saya sih senang-senang saja diberi hadiah ;)) Jam tangan ini unik bentuknya, sepintas terlihat sangat tipis kalau sedang dipakai. Dia juga tidak memiliki jarum detik, hanya jarum panjang dan pendek saja. Sekarang harus segera dibawa ke tempat servis nih kalau melihat “ngaco”-nya hari ini.

Surabaya Lagi??? – Pagi di Cengkareng

Pagi ini saya berangkat lagi ke Surabaya. Padahal Sabtu kemarin saya baru pulang ke Jakarta. Jadi di Jakarta seharian kemarin, saya hanya :
1. Panggil tukang AC untuk service AC kamar saya yang gak dingin lagi
2. Potong rambut.
3. Configure DHCP server di kantor teman saya.

Malam tadi sudah disms lagi untuk “diperintahkan” berangkat lagi ke Surabaya. Server yang lain lagi panic, reboot sendiri. Heran…kok lagi musim ya Primepower 1500 panic dan reboot. Saya baru dikabari sekitar setengah 11 malam, waktu itu saya masih di Kelapa Gading dari tempat teman saya. Katanya saya harus berangkat sepagi mungkin, kalau bisa berangkat jam 7 pagi. Halah…berarti saya harus sudah jalan dari rumah jam 5 pagi. Idealnya saya harus segera tidur supaya gak kesiangan. Tapi kali ini spesial gak bisa ideal, sampai pagi saya tetap terjaga. Ya sudahlah berangkat ke bandara saja.

Datang ke bandara saya langsung menuju counter Garuda di terminal 2F. Hmm..saya hanya diberi form untuk ikutan waiting list. Disuruh masuk ke counter check in dan mendaftar di loket yang bertuliskan “Penumpang Antrian”. Prinsipnya, setengah jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat, petugas di sana akan mengumumkan kursi yang tersisa untuk diperebutkan. Saya tunggu penerbangan berikutnya jam 07.00. Entah apakah ini sesuatu yang normal di bandara, bahwa hari Senin pagi adalah masa-masa yang sibuk. Antrian masuk ke ruang check in dari subuh sudah mengular sampai ke pintu keluar ruang tunggu. Gila. Jam setengah 7, makin banyak pula orang yang mengantri di loket menunggu sisa kursi yang ada. Nihil…kelas ekonomi maupun bisnis penuh semua. Kalau mau silakan tunggu lagi sampai jam setengah 8 untuk penerbangan jam 8 pagi ini.

Sepanjang malam tidak tidur membuat saya tidak sabaran. Saya keluar dari terminal 2F, naik shuttle bus menuju terminal 1 sambil berharap dapat tiket di maskapai lain. Lion Air, Wings Air, Air Asia penuh semua. Beberapa calo ngoceh pada saya katanya hanya tinggal Mandala yang available (lewat dia tentunya) seharga Rp750000,- berangkat pukul 07.45. Setelah lapor ke Bos, akhirnya saya putuskan beli tiket yang ditawarkan calo tadi. Tiket itu adalah tiket Mandala Airlines pukul 07.45 (tujuan Kupang yang transit dulu di Surabaya).

Dari terminal 1A saya diantar si calo naik motor ke terminal 1F (karena di sana Mandala beroperasi). Saya ikuti saja si calo yang langsung masuk ke counter check in. Sudah tahu sama tahu rupanya, jadi petugas penjaga pintu counter check in pun tidak tanya apa-apa. Saya dibuatkan boarding pass oleh petugas di counternya Mandala, rupanya dia teman si calo. Setelah boarding pass dan kuitansi diserahkan saya bayar ke si calo Rp750000,-. Wuih….berangkat juga akhirnya (cerita tentang berangkatnya menyusul ya 😀 silakan liat di komik saja ). Saya cukup terheran-heran dengan pengalaman pagi ini. Gila pagi-pagi dibantu mafia calo…baru pernah nih beli tiket pesawat langsung dari calo. Jangan-jangan tadi juga petugas di counter Garuda itu menutup-nutupi kursi yang masih tersedia; kongkalikong” sama calo di luar. Foto/comic menyusul….masih ngantuk belum fit untuk bikin comic :-p

DHCP Server On OpenSUSE 10.3

This post related to my last posting about configuring Open SUSE 10.3 as a DHCP server. For short & dummy explanation, DHCP (dynamic host configuration protocol) is one service that make the server can provide IP address for all the client which connected to the same network. Beside IP address, DHCP server can provide information to the host about netmask address, broadcast address, domain name, DNS server of that network.

For example : if one computer (let say “host”) -configured to used automatic IP configuration – connects to the network, it will search the server that provides IP address. That host will send request to the DHCP server to get IP address. If there is DHCP server laid on that network, the server will receive the request and will answer with give the host IP address (with additional information like netmask, DNS, and so on). If the host cannot find the DHCP server or it couldn’t receive the answer from the DHCP server, the host cannot connected to the network because there is no IP address configured to its network adapter. Remember, to connect to a computer network all the devices must have at least one IP address.

DHCP server on Linux controlled by a file that named /etc/dhcpd.conf. That file looks like this one :

tedy@file-server:~> more /etc/dhcpd.conf
ddns-update-style none;
default-lease-time 14400;
subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0
{
range 192.168.0.5 192.168.0.240;
option subnet-mask 255.255.255.0;
option broadcast-address 192.168.0.255;
option routers 192.168.0.4;
option domain-name "apt.co.id";
option domain-name-servers 202.134.0.155, 202.134.2.5;
}

That is a basic example of the DHCP configuration file. If you look to the example configuration above, there are several parameter that must be configured related to DHCP configuration :

  • default-lease-time
    using this parameter we can specify how long an IP address will be valid for each user.
  • subnet
    we must specify which subnet mask will be used for our network.
  • netmask
    the netmask parameter must correctly defined related to subnet mask that already define before.
  • range
    we must set a range of IP address that will put in the DHCP pool. User will accepted on of the IP address inside this pool. This part must be specify correctly (consider to the how many user will be connected to the network) to avoid some user cannot get IP address.
  • option routers
    if we must specify which IP address will be used as default gateway, we must define in this section.
  • option domain-name
    this part will define the domain name of our network. Leave it blank if we don’t use any domain name in the network.
  • option domain-name-servers
    using this parameter we can specify which server will be used as domain name server (DNS). We can list some DNS server’s address here, just separate them using comas.

Every parameter that already defined must be followed by a semicolon mark (as you can see on the example). After make some changes on the /etc/dhcpd.conf file, we must restart DHCP service in order to make the configuration works. In Linux, we can use the following command to restart the DHCP service :

file-server:/apt #/etc/init.d/smb restart
Shutting down Samba SMB daemon done
Starting Samba SMB daemon done

Ok that’s the dummy explanation about configuring DHCP server using Open SUSE 10.3.

Lambatnya Situs Garuda

Setelah saya perhatikan untuk beberapa waktu, situs resmi maskapai Garuda Indonesia relatif lambat dibandingkan beberapa maskapai penerbangan lainnya. Siang ini saja saya sulit sekali membuka halaman pencarian jadwal penerbangan. Internet saya yang lambat? Ah sepertinya bukan itu penyebabnya, buktinya saya dengan mudah membuka situsnya Lion Air, Air Asia, Singapore Airlines. Entah apa karena terlalu banyak orang yang mengakses situs Garuda atau memang web server-nya kurang powerfull. Sepertinya hal ini harus jadi bahan koreksi bagi web masternya Garuda Indonesia. Memalukan donk
masa maskapai nasional situsnya susah diakses. Lalu ngapain saya buka-buka situs Garuda Indonesia? Mau pergi ke mana? Gak mau ke mana-mana…cuma iseng aja sih :))

Safari 3.1.1

Dulu saya pernah menulis soal Safari web browser (di sini). Dulu saya menyesalkan kenapa menu pengaturan proxy di Safari itu masih disable. Pengaturan proxy-nya mengikuti apa yang digunakan oleh Internet Explorer. Tadi saya iseng mendownload versi baru Safari. Sekarang versi 3.1.1 yang tersedia di webnya Apple. Sekarang di versi 3.1.1 menu pengaturan proxy sudah bisa dipakai untuk mengatur proxy.

Tapi memang pengaturan yang dipakai masih pengaturan proxy-nya Internet Explorer (atau lebih tepatnya pengaturan proxy-nya Windows). Ya mending ajalah sudah ada perbaikan dari versi sebelumnya 😀